MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN

MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN
chapter 16


__ADS_3

"Maksudmu? " tanya si mbah itu bertanya. 


"Ya malam itu seharusnya aku nggak bunuh Ani, yang harus aku bunuh itu Raya! " jelas Rio. 


"Jadi yang kau bunuh itu Ani, bukan Raya? " tanya mbak itu dengan nada tinggi. 


"Iya mbah, aku khilaf. " kata Rio gugup. 


Plak! 


Laki laki tua itu melayangkan tangannya ke arah pipi Rio, dengan kerasnya sampai pipi Rio terasa panas dan sakit. Pria itu hanya meringis, ia tidak membalas kelakuan laki laki tua itu kerena memang ia merasa bersalah telah melakukan kehilafan. Ia juga tidak menyangka kalau malam itu ada dua gadis yang sama dan ialah mengejar salah satunya yaitu Ani! 


Malam yang hening itu! Tidak membuat keduanya menyadari apa yang dibicarakan nya telah sampai ke telinga seorang gadis manis bernama Raya. Ya Raya dan Mutiara yang mendengarkan apa yang di percakapan oleh keduanya. 


"Bu, aku ingin ke perpustakaan. " kata Raya pada Mutiara. 


"Kamu mau ngapain ke perpustakaan? Wanita itu menatap wajah Raya dengan tajam. 


" Aku nyakin ada sesuatu yang terjadi di perpustakaan, aku ingin melihatnya. " ujar Raya. 


"Tapi apa nggak ada resiko kalau malam malam kita kesana? " tanya Mutiara. 


"Kalau ibu nggak mau ya sudah Raya saja. " 


"Nggak ibu ikut kamu, ibu takut kalau terjadi apa apa pada kamu! " tegas Mutiara. 


Raya mengangguk saja mendengar suara ibu Mutiara yang tegas. Akhirnya malam itu dimana saat Rio datang ke gedung itu, Raya dan Mutiara pun mendatangi tempat dimana Rio berada, malam yang dingin tidak membuat keduanya gentar sekali. Mutiara membawa senter kacil untuk penerangan di waktu gelap. Biarpun ada lampu juga tapi cahayanya tidak begitu terang jadi dengan senter bisa jadi penerang. 


"Bu, pak Rio. " bisik Raya ketika gadis ABC itu melihat Rio datang ke tempat dimana mereka datangi. 


Mutiara langsung memberi kode jari tangan twlunjuk diatas bibirnya, Raya hanya mengangguk saja tanda mengerti. Keduanya mengendap endap takut ketahuan oleh orang yang masuk tadi, hati gadis itu berdebar dengan sangat kencang sekali takut kalau orang itu melihatnya. 


"Bu, ada apakah pak Rio kesini? " bisik Raya. 


"Ibu juga nggak tahu Ray, mungkin ada kepentingan. " ujarnya. 

__ADS_1


"Malam malam begini? " tanya Raya. 


Mutiara hanya mengangguk saja. Ia juga tahu dia bisa menjelaskan apa yang dilakukan oleh pak Rio yang tiba tiba datang ke sekolah dengan gelagat mencurigakan sekali. 


"Ray, apa jangan jangan ada hubungan dengan kejadian minggu kemarin?" tanya Mutiara. 


"Kedatangan ayah ke sekolah? " tanya Raya. 


"Iya? " 


"Bisa jadi sih! " 


"Pak Rio yang bunuh Ani? " tebak Mutiara. 


Raya hanya menghela nafas panjang, ia belum bia menyimpulkan kalau pak Rio yang membunuh Ani, motif dan tujuan nya untuk apa sampai pria itu sampai membunuh Ani. 


"Ray, apa ada hubungannya dengan ayahmu? "


"Ayah sama pak Rio nggak ada hubungan apa apapun bu, memangnya ada bukti lain? " tanya Raya. 


Mutiara langsung menggelengkan kepala saja. Kedua gadis yang berpaut usia berbeda langsusng menuju ruangan dimana pak Rio berada dengan mata kepala mereka melihat membuka pintu. 


"Entah lah," Mutiara juga heran sekali dengan apa yang dilakukan Rio. Ya tidak heran bagaimana pria itu membuka pintu perpustakaan yang lama. 


"Apa pak Rio pustakawan dulunya? " tanya Raya. 


Seingat ia dulu pak Rio tidak pegang perpustakakan tapi sekarang ia mihat pak Rio bisa memegang kunci perpustakaan. Mutiara hanya menepuk bahu Mutiara seperti memberikan semangat buat Raya, kerena gadis itu merasa linglung atas apa yang dilakukan pak Rio pada ruangan itu? 


Raya langsung menuju ruangan perpustakaan  setelah melihat pak Rio masuk ke ruangan itu, keduanya berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun  supaya orang yang ada di perpustakaan tidak mendengar kalau ada dua orang yang datang. 


"Raya! Jangan masuk, " tiba tiba Ani datang. 


"Kamu, jangan berisik! " ujar Raya menyuruh Ani diam. 


"Raya suara kamu yang terdengaran! " ingat Mutiara saat matanya melihat Ani berdiri di hadapan Raya. 

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Raya pada mutiara heran. 


"Ani hantu! Cuma kita yang bisa lihat dirinya." 


"Hantu nggak ada serem seremnya. " protes Raya. Ani yang mendengar komentar dari Raya hanya menelan ludahnya sambil menatap wajah Raya dengan tajam, Mutiara hanya bisa mendengus mendengar apa yang Raya katakan, memang benar apa yang Raya katakan kalau Ani tidak ada seram seramnya. 


Gadis itu masih menganggap kalau Ani belum meninggal jadi ia memgangap Ani hanya sekedar kabur dari rumah saja. Ani dan Mutiara hanya saling pandang satu sama lain saat mendengar apa yang Raya katakan pada Ani. Gadis itu hanya menghela nafaa, ia datang cuma hanya mengingatkan kalau Raya jangan berisik mereka pak Rio sedang berada di tempat persembunyiannya. 


Raya langsung masuk ke perpus melihat apa yang dilakukan oleh pak Rio di ruangan itu bersama seorang mbah, mbah yang sedang membicarakan dirinya. 


"Ya harus ada darah yang harus diberikan pada penunggu perpustakaan ini supaya kamu dan semuanya aman, " terdengar suara mbah itu menasehati Rio. 


"Apa yang harus aku lakukan mbah? " 


"Kamu harus mendatangi sebuah tempat yang jauh dari sini, minta bantuan sama mbah Karun."


"Sekarang? Atau kapan? " 


"Kalau  bisa sekarang! " perintahnya. 


"Baik mbah apa yang mbah maksudkan aku bakal datang!" 


Rio akhirnya beranjak dari tempat itu sambil memegang arit dari tangannya. Pria tua itu menepuk nepuk bahu Rio dengan lembut serta senyuman penuh dengan misteri tergambar di wajahnya  


"Apapun yang terjadi jangan sampai kamu kembali sebelum apa yang kau cari didapatkan. " uang si mbah itu sambil mengangguk angguk kepala nya. 


Rio akhirnya bangkit dari duduk dan langsung meninggallan ruangan perpustakaan, sedangkan Raya dan Mutiara langsung sembunyi di ruangan sebelahnya supaya tidak kelihatan oleh pak Rio, Raya maupun Mutiara takut kalau sampai pak Rio melihat mereka berdua. 


Setelah pak Rio pergi, keduanya bernafas lega sekali. Tapi jantung keduanya berdetak keras saat sebuah suara ada di belakang mereka. 


"Bedebah! Kalian cari mati saja! " teriaknya gusar. 


Si mbah tadi yang bicara dengan Rio langsung menghampiri ke arah kedua gadis itu, sampai keduanya terkejut tidak menyangka kalau mereka ketahuan.


Aaaaaa

__ADS_1


Belum sempat Raya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh si mbah itu, tapi tiba tiba pria 80 tahun itu berteriak dengan keras sekali, sampai bola matanya hampir keluar semuanya. Raya sangat terkejut sekali mendengar teriakan pria itu, apalagi pria ringkih itu berlari tapi terjatuh kerena tegesa gesa. kaya anak kecil yang baru belajar lari.


Raya hanya memandang heran saja melihat kelakuan pria tua itu, bukan hanya Raya tapi Mutiara juga heran melihat kelakuan pria itu. Mutiara hanya mengangkat kedua bahunya dan Raya menepuk kepala.*


__ADS_2