MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN

MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN
chapter 31


__ADS_3

Pov Rio 


Plak! 


Aku sangat terkejutnya sekali melihat Marni menampar mukaku dengan keras, aku hanya bisa terdiam saja saat tangan Marni dengan keras sekali mencap tangannya ke pipiku, aku hanya menatap wajah Marni dengan rasa bersalah pada dirinya. Kulihat wajah itu merah padam dan aku melihat tubuh Marni naik turun seperti menahan marah yang tiba tiba memuncaknya. 


"Mas, aku nggak pernah menyangka kalau kamu melakukan itu! Aku minta cerai! " teriak Marni berang sekali menatap wajahku. 


Aku terkejut mendengar teriakan istriku, aku langsung memeluk tubuh istriku dengan erat. Tapi Marni menepiskan pelukan aku, tatapan wanita itu berbeda dengan tatapan yang dulu. 


"Marni maafkan mas, mas melakukan ini hanya ingin membahagiakan kamu. " tangisku. 


"Mas, itu bukan membahagiakan Marni tapi menjerumuskan Marni ke lubang hitam, mas, Marni ikhlas kita hidup seperti kemarin! " kata Marni ketus. 


Aku sama sekali tidak menyangka Marni bakal marah dan emosian, aku hanya diam saja tidak membalas apa yang ia lakukan padaku. Aku rasa aku salah jadi wajar kalau misalkan Marni marah dan menampar pipiku dengan emosi juga. 


Aku mengatakan kalau aku melakukan pesugihan kera kerena ingin sekali membuktikan bahwa aku  juga bisa membahagiakan istriku, melalui ekonomi. Tapi saat Marni tahu ia bukan mendukung aku malah meminta ceria padaku. 


"Mar, aku lakukan ini kerena aku ingin membahagiakan kamu!"


Ya apa yang aku katakan pada Marni memang benar sekali, aku ingin Marni hidup denganku bahagia. Dengan cara aku mengambil pesugihan yang akan di lakukan dengan mbah Banda yang telah memberikan aku uang dengan cepat sekali. 


Selama aku mengikuti pesugihan kera kehidupan aku dan Marni mulai meningkatkan pesat, itu yang membuat Marni selalu bertanya tanya padaku. Awalnya aku hanya diam dan tidak pernah menceritakan apa yang aku lakukan pada Marni. 


Entah dari mana Marni tahu kalau aku melakukan pesugihan itu! Aku berusaha mencari tahun tapi istriku sama sekalintjdak pernah menceritakan ia tahu darimana, ya sudah aku juga tidak pernah menanyakan kembali. 


"Membahagiakan aku bukan cara seperti ini? Aku nggak ikhlas! " sembur Marni. 

__ADS_1


"Mar, dengarkan aku! " 


Tapi wanita yang aku cintai malah meninggalkan aku yang  ingin jelaskan secara rinci tentang aku mengunakan pesugihan kera itu. Aku langsung berlari mengejar Marni tapi wanitaku itu langsung menutup pintu kamar rapat rapat dan menguncinya. 


"Mar, buka!"


"Mar, tolong jangan seperti ini! " 


"Kamu ada apa lagi? " gelagar suara Yudha dibelakangku. Aku terkejut mendengar suara bapak yang tiba tiba sekali.Aku langsung membalikan tubihku menghadapi bapak. 


"Plak! 


Awwww! 


Aku terpekik saat sebuah tamparan dengan cepat langsung mengenai pipiku, dua kali akun rasakan sakit di pipi kiriku. Akun tidak bisa melawan bapak kerena bagaimanapun juga mertuaku adalah bapakku juga, aku meringis kesakitan  saat tangan bapak mendarat dengan cepat. Aku langsung menundukan kepala dengan  perasaan marah dan kesalahan dihati melihat prilaku bapak padaku. 


" kamu apakan Marni? Kalau kamu nggak becus menjaga Marni lebih baik ceraikan Marni! " teriak bapak padaku. 


"Tapi kenyataannya seperti itu  Marni pasti tersiksa menikah dengan kamu! " sembur bapak menatap wajahku. 


"Marni nggak tersiksa kok pak menikah dengan Rio tapi, " kata Marni yang tiba tiba menghampiri aku dan bapak. 


"Tapi apa, Mar? " tanya bapak memandang wajah Marni. 


Deg! Hatiku berdetak sangat kerasa sekali kerena takut kalau Marni akan menceritakan apa yang ia ketahuilah tentang diriku, aku langsung menatap wajah Marni sambil menggelengkan kepala aku tidak tahu apa ia mengerti gelangan kepala aku atau tidak. Aku melihat Marni menarik tangan bapak, hatiku ketar ketir melihatnya, aku takut kalau bapak tahu akan membuat murka lagi. Marni melirik wajahku tapi aku membuang wajahku ke kanan. 


Marni membawa bapak ke ruangan lain, dan mengalir lah apa yang aku takutkan dari Marni, aku harus memperhitungkan dengan. Marni kalau misal bapak sudah pulang. Aku rasakan darah didalam tubuhku mendidik dengan kuatnya. 

__ADS_1


Hahaha


Deg! Hatiku berdetak sangat keras. Mendengar suara bapak tertawa dengan renyahnya sekali saat Marni menceritakan apa yang ia tahu, aku hanya melonggo mendengar tawa bapak yang begitu riangnya. 


"Rio! Panggil bapak dengan kerasnya. 


" pak, bapak kenapa sih! Seharusnya bapak sedih mendengar apa yang aku ceritakan tapi malah sebaliknya? " teriak Marni emosi. 


Ketika mendengar tawa dan panggilan pada diriku, hatiku bergetar sekalinsaat suara bapak malah menyuruh aku datang ke dekatnya. Aku langsung menghampiri bapak dan Marni, tapi sebelum aku duduk Marni langsung pergi dengan wajah cemberut itu yang aku lihat. 


"Apa yang dikatakan Marni itu benarkah? " tanya bapak sambil tersenyum. 


Aku sedikit heran kenapa bapak berubah dan ia malah menyakan kebenaran apa yang diceritakan oleh istriku. Aku hanya mengangguk dan tiba tiba bapak merangkulku dengan erat sekali sambil mencium keningku. Aku terheran heran melihat bapak seperti ini. 


"Teruskan apa yang kau jalani bapak mendukung kamu. " 


"Benar pak? " tanyaku heran. 


Bapak malah mengangguk. Kutatap wajah bapak dengan herannya sekali, hatiku bertanya tanya dalam hati, kenapa bapak seperti ini? Tapi bapak malah tersenyum dengan hangatnya. 


"Lakukan ritual yang harus kamu lakukan jangan sampai ritualmu itu gagal. " ujar bapak tersenyum misteri. 


"Bapak nggak marah kalau Rio melakukan pesugihan kera? " tanyaku masih heran atas sikap bapak. 


"Kenapa marah? Kalau kamu bisa membahagiakan Marni bapak nggak akan melarang kamu melakukan apapun juga, " senyum bapak. 


Aku hanya mengangguk. Aku rasakan kalau bapak menyembunyikan sesuatu yang tidak pernah aku tahu, entah itu apa yang pasti bapak malah mendukung apa yang aku lakukan itu! Dan semuanya tidak pernah aku tahu tentang bapak mertuaku. Sejak saat itu aku tidak pernah meninggalkan ritual itu! Sampai Marni meninggal dunia dan aku juga baru tahu apa yang terjadi pada Marni adalah keserakahan bapak terhadap semuanya. 

__ADS_1


Ya bapak lah yang tanpa disadari kalau bapak yang telah membunuh Marni! Tanpa tangan digunakan, kerena itu semua dendam pada Haryono! Itu yang tidak pernah aku sadari selama ini, kerena aku tidak pernah tahu hubungan antara bapak dan om Haryono yang telah membuat semuanya menjadi seperti sekarang. Dan kalau sekarang aku melihat Raya, seperti Tuhan memang tidak ikhlas kalau Raya meninggal dunia kerena ketamakan bapak. Raya malah dilindungi dan malah Ani yang jadi korban ritual yang aku lakukan dan itu yang membuat bapak kabur dan tidak pernah tahu kalau Marni juga sudah meninggal. 


Kupeluk tubuh Raya yang masih bersimpuh  di perpustakaan, dan pak Handi entah kemana perginya pria itu sampai sekarang tidak balik lagi! Aku tidak mungkin meninggalkan Raya seorang diri di sekolah ini. Aku tidak nyakin kalau misal Raya bisa selamat akun takut raya kenapa kenapa kalau misal aku tinggalkan. *


__ADS_2