MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN

MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN
chapter 13


__ADS_3

POV Raya 


Satu tahun yang lalu. 


Aneh! Malam itu aku merasakan dingin cuacanya, terus aku juga mencium bau yang familiar di hidung aku. Malam itu benar benar menyiksa aku sekali, kerena apa yang dikatakan kyai itu bohong belaka! Kenapa aku bilang bohong, kerena kyai itu bilang begini dan aku dan masih aku ingat sampai sekarang juga. 


"Di usia 14 tahun mata batin Raya bakal terbuka kembali! " ujar laki laki yang mengunakan sorban itu di hadapan orang tuaku. 


Tapi aku merasakan kalau malam ini aku bakal menemukan sesuatu yang berbeda dengan malam lainnya, tapi aku masih belum mengerti atas perubahan cuaca yang tiba tiba terasa dingin sekali. 


Wuiiiss! 


Angin mengelus tubuhku dengan lembut sekali, membuat bulu kuduk aku merinding dan tiba tiba sebuah sosok muncul menghampiri aku yang berada di teras rumah. Ya malam itu sebenarnya cuacanya panas banget, dan aku sengaja ke teras untuk mencari udara yang sejuk. Tapi baru beberapa menit kemudian malah udara nya berubah menjadi dingin dan sejuk, dan mataku melihat satu sosok yang menghampiri aku. 


Aku benar benar shock sekali, tidak takut bagaimana sosok itu menampilkan wujud yang tidak lazim sekali, wajahnya hancur penuh belatung dan cairan yang berbau busuk. Tangannya buntung, tubuhnya koyak, darah mengalir begitu saja tanpa henti dan berbau amis. 


"De, haus haus.. " rintihnya. 


Aku tidak menjawab apa yang ia katakan tapi mataku menatap gelas yang bawa tadi bawa dari dalam berisikan air kulkas. 


"Bukan bukan itu, aku harus haus darah! " getar bibirnya. 

__ADS_1


Bibirku berat sekali untuk berteriak meminta tolong! Tubuhku juga tidak bisa aku gerakan sama sekali, apalagi sosok itu mendekati aku entah mau apa ia menghampiri aku yang sedang duduk anteng. 


"Atau kalau kamu nggak punya darah bagaimana kalau darah kamu  saja aku hisap, aku haus sudah nggak minum darah! " ujarnya menatapku. 


Entah apa yang sosok itu pikirkan, aku benar benar ingin berlari jauh tapi tubuhku hanya diam kaku saja kerena saking takutnya. Aku juga ingin berteriak tapi anehnya bibirku tidak bisa terbuka sama sekali hanya hatiku yang berteriak. Percuma ibu dan ayah tidak mungkin mendengar kan teriakan aku. 


"Kamu kamu mau apa sih datang ke ke sini ganggu aja! " teriak aku terbatas bata saking takutnya. Akhirnya aku berhasil mengucapkan itu! 


Hahahaha


"Kamu lucu dek. Kamu lucu banget pertanyaan kamu itu bikin aku ketawa. " 


Aku sebal ia malah  berkata begitu pada diriku yang benar benar tidak bisa menghuasai diriku sendiri. 


Aaaaa! 


Aku berteriak dengan kerasnya. Saat ada suara yang terjatuh tepat berada di sampingku, aku benar benar terkejut sekali kerena di hadapanku ada satu sosok yang terjengkang dan ambruk begitu saja. Darah langsung membanjiri lantai rumahku, ditambah lagi cairan merah itu menyengat sekali. Bukan itu saja di lantai juga terdapat belatung yang keluar dari seonggok daging yang jatuh dari atas. 


"Sialan! " umpat sosok yang berdiri dihadapanku. 


Sosok yang berdiri dihadapanku langsung menggalihkan pandangan ke sosok tubuh tanpa kepala, kepalanya malah ada di tangan kirinya di genggam sedangkan matanya menyala merah. Aku yang terkejut langsung menghindar dan berlari dengan kaki bergemetar saking takutnya melihat kejadian itu! Aku tidak peduli dengan gelas yang tadi aku bawa dari dalam. 

__ADS_1


Ya sejak kejadian itu aku bisa melihat kembali mahluk kasat mata, tapi aku sama sekali tidak pernah bilang sama ibu dan ayah, takut mereka tahu dan menutup nya kembali. Aku nyakin kalau ada sesuatu yang terjadi bakal terjadi pada aku dan Ani. Kalau misal aku mengatakan kembali pada ibu mungkin orang tuaku bakalan menutupnya kembali itu yang aku tidak inginkan, aku harus tahu kenpa sampai mata batin yang tertutup terbuka kembali sebelum aku berusia 14 tahun? 


Aku awalnya tidak mengerti apa yang kyai itu bilang ke kedua orang tuaku tentang diriku yang sebenarnya. Akhirnya aku mengerti saat itu usia ku menginjak 6 tahun, menurut orang banyak kalau anak kecil di usia 6 tahun masih bisa melihat hal hal aneh itu punya keistimewaan yang luar biasa. Dan aku mah sering bermain sama anak anak yang asing, malah sempat juga berkenalan dengan anak cina, katanya ia pindahan di sekolah itu dan telah meninggal dunia akibat jatuh. 


Tapi aku tidak takut kerena gadis itu tidak jahat malah baik banget, ya kalau dibandingkan dengan manusia lebih jahat manusia daripada setan. Itu yang aku rasakan sejak berteman dengan Lily. 


"Kamu enak bisa lihat mahluk aneh, banyak teman!" cerocos Ani. 


Oya Ani adalah kembaran aku, aku lebih tua beberapa menit. Ani tidak pernah memiliki apa yang miliki jadi wajar kalau ia mengatakan enak sama aku. Kalau dipikir sih aku lebih baik seperti Ani, jujur aku tersiksa harus lihat mahluk yang tanpa kasat mata apalagi kalau mahluk yang tanpa kepala, wajah hancur, kaki nggak ada, tubuh terkoyak dan sebagainya. 


"Aku ingin jadi manusia biasa saja! " getirku. 


Ya sejak kecil aku sering banget melihat mahluk mahluk yang kasar mata, kadang aku bermain di rumah dengan anak anak sebaya tapi saat ada ibu maupun ayah mereka malah pergi begitu saja. 


"Ani nggak bisa lihat kami Raya, hanya kamu saja jadi aku nggak suka sama Ani ujar mereka. " 


Waktu aku kecil aku merengek pada orang tuaku kalau aku melihat orang lain selain ibu dan ayah di rumah itu! Ya aku merengek terus kerena sering melihat hal aneh, maka ibu dan bapak membawa aku ke kyai, dan aku selalu bilang kalau aku selalu didatangi teman sebayaku pada malam harinya mengajak main. Mereka yang mendengarkan ceritaku tentang teman kasat mata, ibu dan bapak hanya melonggo mendengarkan aku menceritakan teman temanku. Dan, tanpa sepengetahuan aku, ibu malah setuju kalau aku di bawa ke kyai kerena mereka takut kalau aku kenapa kenapa. 


Akhirnya kyai itu menutup indra keenam yang aku miliki. Tapi apa yang kyai itu bilang nyatanya tidak benar, aku mulai melihat mereka kembali saat aku usia 13,5 tahun ya kejadian itu yang merengut Ani. 


Awalnya aku tidak sengaja bertemu dengan Lily di gedung kosong sekolahan, waktu itu aku sedang mencari kursi untuk kegiatan LDKS ( Latihan Dasar Keterampilan Siswa ) entah aku juga tidak tahu kenapa aku yang disuruh oleh pak Rio untuk mengambilnya. Sedangkan Lily itu teman baik aku di waktu SD. 

__ADS_1


"Raya! Jauhi pak Rio, dia bukan guru yang baik. Dan kamu bakalan jadi korban pesugihan nya, " ujar Lily padaku yang tiba tiba datang. *


__ADS_2