
Flashback on
Plak!
Sebuah tamparan melesat mengenaI pipi Rio dengan kerasnya. Sampai pemilik pipi itu hanya meringis saat merasakan sakit. Tatapan matanya hanya bisa menunduk tidak berani menatap pemilik tangan yang telah memberikan rasa sensasi panas.
"Kamu seharusnya kalau mau menikah dengan anak saya kamu harus punya segalanya! " teriak pak Yudha beringas.
Mata pak Yudha menatap kesekeliling rumah itu dengan geram dan kesal sekali, kerena Marni anaknya harus menikah dengan Rio yang hanya seorang honorer di sebuah intansi yang tidak jauh dari rumahnya.
"Maaf pak, Rio belum bisa memenuhi apa yang bapak inginkan, " suara Rio lirih.
"Bapak nggak mau kalau lihat anak bapak sampai sengsara sama kamu. Kamu kemarin sebelum nikah selalu bawa mobil mewah gonta ganti tapi sekarang malah sebaliknya!" damprat pak Yudha melotot.
Rio diam saja mendengar apa yang dikatakan pak Yudah mertuanya, apa yang dikatakan mertuanya memang benar sekali. ia lakukan itu kerena sudah tahu kalau pak Yudha matrelistik, akhirnya ia membohongi untuk menggaet Marni. Kerena Rio memilih Marni ia berusaha memenuhi tuntutan ayah Marni untuk bawa mobil mewah biarpun dengan menyewa. Miris kehidupan yang ia jalani, apalagi sekarang ia menempatkan rumah tidak layak huni ditambah Marni sedang hamil.
"Bapak nggak mau tahu, kamu harus punya rumah, mobil dan sebagainya kalau Marni mau sama kamu! " sembur laki laki 55 tahun. Itu dengan wajahnya kesal.
"Tapi pak bagaimana Rio beli rumah? " tanya Rio kaget mendengar tuntutan mertuanya.
"Bapak nggak peduli! Kalau kamu sampai nggak memenuhi apa yang bapak inginkan lebih baik kalian pisah saja! " teriak pak Yudah beringas.
Pria setengah baya itu langsung meninggalkan menantunya, setelah pak Yudha meninggalkan rumah itu. Rio menjatuhkan tubuhnya ke lantai, ia mengacak ngacak rambutnya dengan kasar. Bukannya ia tidak ingin memenuhi kebutuhan Marni, tapi keadaannya lah yang membuat ia seperti ini.
"Mas, kenapa? " tanya Marni ketika melihat suaminya malah duduk di lantai tanah.
"Bapak datang kesini, marah marah kerena aku nggak bisa memenuhi kebutuhan kita. " lirih Rio.
__ADS_1
Pria hitam manis itu benar benar frustasi, sebenarnya ia ingin sekali memenuhi kebutuhan ekonomi Marni tapi kehidupannya seperti ini. Bukannya ia tidak bersyukur pada Allah tapi memang Allah memberikan sesuai kebutuhan mungkin.
"Sudahlah kamu jangan pikirkan ya, mas akan pergi jemput rizki. " kata Rio langsung beranjak dari lantai tanah dan berdiri.
"Mas, cari rizki yang halal ya, aku bersyukur punya kamu biarpun kehidupan kita seperti ini tapi kamu tetap berjalan di jalan yang diridhoi oleh Allah. " kata Marni sambil mengusap tangan Rio lembut.
"Iya cantik!" Rio tersenyum. Dalam hati ia benar benar bersyukur punya istri yang tidak pernah menuntut dirinya harus apa, hanya satu yang Rio ingat adalah rizki halal dari istrinya. Itulah yang membuat Rio bertahan dengan Marni yang selalu menerima apa yang ia berikan, dan kadang kalau misal ia memberikan uang Marni selalu berkata;
"Mas, halal kan uang ini?" Rio hanya mengangguk saja saat mendengar apa yang Marni katakan. Ada keharuan yang menyeruak dalam hatinya ketika Marni mengatakan itu.
"Mas, aku nggak mau ya dikasih makan makanan haram apa sama anak kita!" senyum Marni sambil mengelus perutnya yang baru menginjak usia 3 bulan.
Rio mengangguk, hatinya bergetar sekali saat Marni mengatakan itu. Ia memuji Marni sebagai wanita yang baik sekali, tapi dalam hatinya mungkin untuk sekarang ia tidak akan menepati janjinya pada wanita itu. Itu yang membuat ia merasa bersalah.
****
Pria 80 tahun itu keras memecahkan kesunyian malam yang tenang. Dengan informasi dari temannya ia berhasil menemukan gubug milik mbah Banda yang berada di tengah hutan yang jauh dari keramaian. Malam itu! Ia datang hanya ingin meminta bantuan dari mbah Banda yang menurut sebagian orang, dukun yang akan melepaskan diri dari kemiskinan yang melilit kehidupan.
"Mbah apa yang harus saya penuhi untuk ikut dengan aliran siluman Kera? " tanya Rio setelah mbah Banda berhenti tertawa nyaring.
"Sediakan tumbal seorang gadis yang masih perawan. Bunuh dia dan berikan sama mbah kesini, kamu harus membunuh salah satu anak kembar! " titahnya sambil tertawa lepas.
"Anak kembar? " Rio sangat terkejut sekali, kerena salah satu korbannya adalah anak kembar yang harus dibunuh.
"Ya anak kembar? Kamu sanggup tidak kalau kamu tidak sanggup saya nggak akan memberikan apa yang kamu inginkan? " tanya mbah Banda mengeram.
"Baiklah, saya akan mencari salah satu anak kembar itu! Adakah ciri lainnya dari anak kembar itu? " tanya Rio agak ciut mendengar permintaan aneh pria yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Tidak aneh bagaimana masa ada dukun tidak memiliki rambut sama sekali alias botak begitu saja. Seharusnya kan dukun itu berbaju hitam, ikat kepala dan rambut sepingang. Sedangkan yang ini baju memang hitam, ada ikat kepala juga tapi tidak ada rambut sama sekali. Rio hanya menghela nafas melihat profil dari mbah Banda yang baru saja ia temui malam ini.
"Harus yang tidak memiliki mata batin! Kalau sampai kamu bunuh yang memiliki mata batin maka hidupmu nggak bakalan tenang! " tegas mbah Banda tajam.
Dengan informasi yang didapatkan dari mbah Banda akhirnya Rio pulang dengan riang sekali hatinya, ia langsung meninggalkan tempat itu! Ya biarpun hatinya selalu was was takut bertemu dengan mahluk kasat mata lagi tapi pulangnya ia merasa lega kerena tidak ada yang menghalangi langkahnya.
Wuuussss.
Sebuah angin datang menerpa tubuh Rio, ia terkejut sekali kerena tiba tiba di hadapannya ada sosok lain yang menghampiri dirinya, sekarang laki laki dengan perawakan menyeramkan berdiri dengan tatapan mata yang menyala.
Rambutnya putih semuanya, kuliah dan jambang dipanjangkan, matanya hampir saja tidak kelihatan, ikat kepala hitam, bajunya juga hitam, sinar matanya menakutkan sekali.
"Darimana kamu anak muda? " gelegar suaranya terdengar dasyat!
"Aku ketemu dengan mbah Banda, mbah, ada apa ya? " polos Rio
Plak! Bukan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rio, pria berusia 75 tahun itu langsung menampar muka Rio dengan sekali ukul sampai pria hitam manis terkejut sekali menerima tamparan dari orang yang baru ketemu.
"Batalkan kerjasama dengan pria itu! "
"Nggak aku nggak akan batalkan! Mbah itu siapa tiba tiba datang dan malah menyuruh membatalkan semuanya, maksudnya apa? " tanya Rio heran.
"Batalkan. Kalau kamu nggak mau menyesal! Balik lagi ke tempat itu!
"Menyesal? Balik lagi? "
Rio tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh mbah berambut putih itu, ia malah berjalan menjauhi laki laki itu, sedangkan laki laki itu hanya diam menatap kepergian Rio.*
__ADS_1