
Setelah pak Arya pulang, Raya langsung menuju ke sekolah. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Ani, ia penasaran apa yang terjadi pada Ani. Dan ia juga merasa heran pada ibunya, saat ditanya oleh Raya wanita hanya diam saja tidak memberitahukan siapa Ani. Raya benar benar penasaran siapa Ani, dan kenapa Ani bisa kenal dengan dirinya dan selalu menemuinya?
Sampai saat berita itu datang! Ia seperti tidak bisa menerima kalau Ani kenapa kenapa, saat ia berpikir terlalu jauh tentang Ani ia seperti punya kekuatan batin dengan Ani dan saat ia memikirkan Ani tiba tiba ia merasakankan kepalanya sakit luar biasa yang tiba tiba sekali. Sampai ia memegang kepalanya yang terasa mau pecah kerena ia berpikir tentang Ani.
Ibu Widya benar benar tidak bisa mencegah kepergian dari Raya putrinya. Hatinya was was melihat Raya pergi sendirian, ia mau saja menyusul Raya ke sekolah tapi sebentar lagi suaminya bakal pulang. Ia sebanrnya takut sekali kalau suaminya pulang ke rumah dan mendapati dirinya tidak ada pasti khawatir, ketika ia ingin mengejar Raya tapi pikirannya hanya ingat suaminya pak Haryono bakal mencarinya. Dan mungkin sang suami bakal mencari dirinya yang tidak ada di rumah, itu yang ia takutkan.
Ia akan mengikuti Raya dengan suaminya jadi ia ingin menunggu sang suami pulang dulu dari kantornya, ketika sedang kacau wanita itu beberapa kali menghubungi Tiara tapi Tiara tidak mengangkat panggilan yang dilakukan oleh ibu Widya.
"Kita kira kemana anak itu! Saat dibutuhkan malah seperti ini? " tanya ibu Widya.
"Tiara kamu tuh benar benar nggak berguna ya, kenpa saat tante butuh kamu kamunya nggak ada seperti ini!"
Beberapa kali wanita itu menelpon Tiara tapi Mutiara tidak mengangkat twlponnya dari ibu Widya tantenya. Wanita itu mengeluarkan uneg uneg dalam hatinya, kerena menurutnya memang Mutiara itu kalau dibutuhkan bantuan sering tidak mengangkat hpnya, entah ibu Widya tidak tahu apa yang di kerjakan oleh wanita 25 tahun itu di rumahnya. Kalau tidak kepepet ia juga tidak akan pernah menghubungi Mutiara.
Terpaksa wanita itu menghentikan panggilannya, dan ia mencoba menghubungi suaminya pak Haryano tapi tetap saja sama sekali tidak diangkat. Kerena kesal ia langsung melempar hpnya ke kursi yang ia duduki.
Argh!
Wanita itu benar benar emosi. Pikiran nya tiba tiba ingat Handi, ibu Widya langsung mengambil gawainya kembali, menghubungi Handi tapi sama saja ketiga orang itu tidak bisa dihubungi.
"Mutiara, Handi kamu kemana sih! Kalian sama saja kalau dibutuhkan bakal seperti ini?" gerutu wanita itu.
Ibu Widya bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju teras rumah, tapi orang yang ditunggu nya belum juga muncul. Itu menambah hatinya sangat kacau, pikirannya kemana mana.
__ADS_1
Disisi lain ingin mencari tahu tentang kematian Ani, ia tidak mungkin berfokus pada Raya saja kerena Raya tidak bisa diharapkan lagi keadaannya seperti itu.
"Ayah kemana sih! Kok nggak bisa dihubungi?" Gerutu wanita itu kesal. Pandangannya diedarkan ke halamanan rumah yang luas dan sejuk itu.
Wanita itu akhirnya balik lagi masuk kedalam rumah dengan perasaan yang tidak menentu. Wanita itu akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke kursi yang semula ia duduki. Beberapa kaki ia mengeluarkan nafasnya ke udara hanya ingin membebaskan hatinya yang seperti terhimpit baru yang sangat besar sekali.
"Diusia 14 tahun nanti Raya akan bisa melihat hal hal yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa, " kat kata dari kyai itu terhiang terdengar jelas sekali di telinganya.
"Apa benar apa yang dikatakan pak kyai itu, apa Raya bisa melihat hal hal diluar mata biasanya? " tanya ibu Widya membisik dalam hati.
"Ah! Nggak nggak mungkin Raya bisa melihat kembali hal gaib itu! Nggak mungkin! " jerit wanita itu histeris.
Ia tidak ingin anaknya berteman dengan mahluk mahluk kasat mata kembali, sudah kemarin kemarin ia melihat mahluk kasat mata masa harus melihat kembali, ia harus bagaimana coba kalau Raya bisa melihat kembali?
"Ani! "
Raya memangil nama Ani dengan keras sekali, sudah beberapa kali ia memanggilnya tapi Ani tidak muncul, ia semakin panik apa yang dikatakan pak Arya takut jadi kenyataan.
Tok tok tok
Raya memukul mukul pintu yang tertutup rapat, sambil mulutnya berteriak dengan keras memanggil nama Ani. Raya beberapa kali berusaha membuka pintu perpustakan yang memang di kunci.
"Raya kamu ngapain disini? " tanya pak Haryono sambil menghampiri Raya. Laki laki dewasa itu langsung memeluk tubuh putrinya dengan lembut, Raya yang berada dalam pelukan ayahnya hanya bisa menangis saja.
__ADS_1
Tidak lama setelah Raya pergi beberapa menit, pak Haryono datang ke rumah melihat sangat istri dengan raut wajah sedih. Pria itu langsung menghampiri istrinya dan hatinya mengatakan kalau istrinya lagi ada masalah.
"Bu, kenapa? " tanya Pak Haryono mendekati istrinya.
"Ayah, tadi pak Arya datang ke rumah bilang kalau Ani sudah meninggal. " ujar Ibu Widya terbata bata menceritakan tentang Ani.
Wanita itu mengatakan kalau tadi pak Arya datang menginformasikan kalau Ani bukan menghilang, tapi meninggal dan yang jadi pertanyaan sekarang Ani meninggal nya belum diketahui dimana tempatnya.
Pria 33 tahun itu hanya diam mendengarkan apa yang istrinya ceritakan tentang Ani. Setelah mendengarkan cerita istrinya pak Haryono terlihat terkejut dan tidak menyangka kalau anaknya, Ani meninggal terlihat wajahnya yang sangat kaget dan tidak menyangka sama sekali.
"Tapi Yah, Raya katanya sering ketemu Ani di perpustakaan sekolah, " jang ibu Widya melirik wajah suaminya.
"Ketemu maksudnya? "
"Entah! Menurut Raya ia sering ketemu sama Ani, nggak mungkinkan Ani meninggal, " tanya ibu Widya ragu.
Ia menanyakan itu pada suaminya, kerena berpikir tidak mungkin kalau Ani meninggal kalau meninggal mungkin Raya tidak akan bisa melihat Ani.
"Tapi, bu, kalau misal Ani sudah meninggal? " ragu pak Haryono.
"Berarti indra keenam raya terbuka, " gumam wanita itu pelan.
"Nggak nggak mungkin kalau indra raya harus terbuka kembali, kita harus ke Kyai meminta bantuan supaya menutup. Indra keenam Raya, " lanjut Ibu Widya terkejut saat ia mengucapkan kata kata pertamanya.
__ADS_1
Pria itu hanya bisa menghela nafas panjang, mendengar kata kata istrinya, hatinya ada perasaan bersalah pada dirinya kerena tidak bisa melindungi putri nya Ani. Dan sekarang Raya harus mempunyai indra keenam lagi, dan itu bakal membuat raya bisa melihat mahluk gaib.