
Marni semakin was was saja kalau hari sudah mulai gelap, ia takut kejadian pada malam kemarin terulang lagi. Entah darimana datangnya, tiba tiba seorang nenek tua datang ke rumahnya dengan penampilan yang sangat menyedihkan. Baju compang camping, rambut hampir berwarna perak semuanya, jalannya ringkih, wanita itu datang saat suaminya sudah pergi meninggalkan dirinya.
"Ne-nenek! " suara Marni tercekat saat tiba tiba seorang nenek muncul tanpa di duga sama sekali.
Nenek itu muncul tepat di kamarnya, Marni yang tertegun saat hidungnya mencium aroma bunga melati yang menyengat saat sangat nenek berada di depan sambil matanya menatap lurus ke arah Marni.
"Haus!"
"Haus!"
"Haus!"
"Nenek haus? " tanya Marni gugup.
Nenek itu mengangguk.
"Ya sudah saya ambilkan air ya! " ujar Marni.
"Bukan air. Saya haus darah! Disini harum darah! Ada darah segar! "
Racaunya.
Marni yang mendengar nenek haus darah langsung terkejut sekali dan ia bergidik sekali. Ia yang berdiri akan pergi meninggalkan nenek tapi sebelum ia melangkah tanganya di pegang oleh si nenek.
"Nek! " teriak Marni terkejut sekali.
Marni spontan menepiskan tangan nenek dari tangannya. Kerena ia merasa tangan nenek digin sedingin es yang baru saja dikeluarkan dari kulkas.
"Nenek haus kan ya aku ambil air dulu, disini nggak ada darah nek! " ujar Marni agak ketakutan.
Sebenarnya hati Marni berdegup dengan kerasnya saat tangan nenek menyentuh tangannya, sampai ia terkejut saat tangan nenek menyentuh tanganya. Ia bergidik.
__ADS_1
Hatinya ketar ketir saat wajah nenek menatap perutnya, Marni buru buru mengusap perutnya. Apalagi melihat senyuman nenek saat menatap perut Marni yang besar sekali.
"Nenek hanya haus darah! Nenek ingin meminumnya.
"Nek, ta tapi di si-sini nggak ada darah!" suara Marni gugup. Marni ingin sekali keluar dari kamar dan meminta tolong ke tetangga tapi tubuhnya di pojokan, sedangkan nenek berada di depan nya.
"Ya aku haus darah, kamu bisa memberikan darah segar buat nenek? " tanya wanita itu tidak memperdulikan ketakutan yang dirasakan oleh Marni.
Marni menggelengkan kepalanya tanda ia benar benar tidak punya barang yang ditanyakan oleh nenek, tapi nenek seperti tidak memperdulikan gelengan kepala Marni. Wanita tua itu malah menghampiri Marni yang masih berdiri didepan lemari, nenek sepertinya hendak menyentuh perut Marni tapi Marni dengan cepat menutup perutnya dengan kedua tangan. Ia berusaha untuk melindungi perutnya dari tangan nenek, wanita hamil itu benar benar tidak bisa berbuat apa apa kecuali menggelengkan kepalanya.
"Jangan nek! " teriak Marni.
Tapi nenek tidak memperdulikan teriakan dari Marni, ia mendekati Marni yang tidak bisa mundur beberapa langkah dan wanita itu berhenti saat tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali. Mata nenek menatap dengan pandangan yang lain pada Marni, sedangkan Marni ketakutan saat tangan nenek menyentuh perutnya.
Wanita hamil itu hanya bisa menelan ludah, keringat dingin ke luar dengan derasnya.
"Tapi disini nggak ada darah nek! " gugup Marni saat melihat nenek mendekati dirinya. Ia langsung jongkok untuk menghindari tangan nenek yang semakin dekat dengan perut nya.
Ia benar benar syok. Melihat nenek hanya tersenyum sinis ke arahnya.
Nenek itu menatap Marni yang jongkok sambil memegang perut yan besar, bukannya si nenek pergi malah ia ikut ikutan jongkok bersama Marni dan mengulurkan tangannya ke perut Marni.
"Jangan di pegang nek! " teriak Marni menepiskan tangan nenek itu.
"Hihihi, kamu diam saja, biar aku yang membuat kandungan kamu lahir. " tawa menyeramkan sang nenek.
Saat mulut nenek mengucapkan itu, Marni seperti mencium bau bangkai dari mulut nenek tapi wanita tua itu tidak merasa. Marni terdesak oleh sang nenek, dengan kekuatan nya Marni dengan teganya mendorong tubuh renta itu.
Bruk!
Tubuh nenek langsung terjengkang dan mengenai ranjang tempat tidur, Marni dengan cepat berlari menuju pintu untuk keluar dari kamar tapi tangan nenek dengan cepat meraih kaki Marni. Wanita hamil itu tidak menduga kalau kaki nya bakal dipegang oleh nenek seketika juga Marni terjatuh untung perutnya tidak terbentur hanya bokongnya saja yang terbentur tapi biarpun begitu wanita hamil langsung menjerit kesakitan saat bokongnya mengenai lantai!
__ADS_1
Aaaa!
Rintihnya. Marni langsung memegang bawah perutnya yang terasa sakit sekali. Nenek yang melihat Marni terjatuh dan merintih langsung menghampirinya tapi Marni beringsut untuk menghindari dari nenek. Biarpun ia merasakan sakit yang luar biasa di area bawah perutnya tapi ia berusaha untuk menjauhi nenek itu! Ia nyakin kalau nenek itu bukan manusia biasa. Kalau memang manusia biasa tidak mungkin muncul tiba tiba sekali dan malah meminta minum darah dan ditambah datangnya malam hari bukan siang.
"Jangan nek, jangan! "
Lolong Marni ketika nenek secara lambat mendekati dirinya dengan berjalan merangkak menuju dirinya yang terkapar kesakitan. Marni langsung berdiri dengan memegang meja kecil yang ada kamarnya untuk ia berdiri, ia hanya bisa meringis dan menggigit bibir bagian bawah saat ia bangkit untuk berdiri. Perutnya sakit luar biasa ditambah punggungnya juga sepertinya mau patah. Ketika ia bisa berdiri, tangan kanan memegang bagian perut bagian bawah sedangkan tangan kirinya memegang pinggang.
Ia mau melarikan diri, tapi sang nenek dengan cepat meraih tangan kanannya, Marni langsung menepiskan nya tapi sia sia saja. Tangan nenek langsung memeluk tangan kanannya, tabuh nenek begitu dingin sekali ia bergidik.
"Lepaskan! "
"Nek!
"Lepaskan! "
Marni berontak sekuat tenaga supaya si nenek melepaskan tangannya, tapi si nenek tidak melepaskan tangan Marni, wanita muda itu berusaha berontak dan tidak mempedulikan perutnya yang terasa kram dan mulas.
"Boleh dong! "
Renggek nenek sambil cikikikan melihat Marni yang ketakutan setengah mati, bukannya melepaskan si nenek malah mempererat pegangannya dari tangan Marni.
Ketika si nenek lenggah dan pegangannya kendor, Marni langsung berlari keluar kamar, ingin menghindar dari si nenek, si nenek kaget saat tahu mangsanya terlepas. Ia mengejar Marni yang keluar dari kamar, untung kamar nya tidak di kunci kalau di kunci bisa bisa kacau sekali.
Marni hendak berlari menuju pintu luar, dan akan meminta tolong pada tetangga, tapi anehnya nenek malah bisa menangkap tangannya, ia berusaha melepaskan tangannya dari tangan nenek, tiba tiba si nenek tertawa. Tawa si nenek sangat menakutkan saat ia bisa memegang tangan Marni.
Di ruangan tengah tubuhnya di peluk dari belakang oleh si nenek dan nenek berhasil mengelus perutnya. Marni berusaha melepaskan tangan nenek dari perutnya tapi sang nenek malah tertawa dengan kerasnya seperti wanita tua itu senang sekali bisa memegang perut Marni.
Marni berontak. Marni berusaha berteriak tapi mulutnya tidak bisa berteriak dengan kerasnya, tangan nenek berusaha memegang mulutnya dengan cepat. Saat tangan nenek membekap mulutnya wanita muda itu seperti mencium bau mayat yang baru beberapa minggu.
Uek!
__ADS_1
Uek!
Marni merasakan perutnya mual, dan mau muntah. Ia berusaha melepaskan tangan nenek dari hidungnya.*