
Marni yang berusaha mengejan berhenti ketika ada suaranya yang terdengar menyeramkan di balik pintu, mbok Minah dan Marni saling tatap satu sama lain. Wajah Marni terlihat pucat sekali, bibir bawahnya di gigit sedemikian rupanya, menahan rasa sakit. Tiba tiba tidak ada hujan maupun petir lampu padam seketika juga menambah kegerian di rumah itu apalagi suara asing masing terdengar jelas di telinga. Gedoran pintu semakin kuat saja di gedor! Awalnya mbok Minah akan bangkit untuk mencari korek untuk menghidupkan lampu templok tapi Marni langsung memegang tangan wanita tua itu. Mbok Minah langsung tidak bergerak saat Marni memegang tangannya, belum sempat mbok Minah bicara tiba tiba Marni merasakan satu desakan yang kuar biasa mengantam perutnya. Ia berusaha untuk mengejan dengan tidak bersuara.
Suara gedoran makin kuat saja, bukan hanya di pintu depan tapi jendela juga. Angin malam terdengar mengerikan, ditambah lolongan anjing yang membuat bulu nunduk merinding. Mbok Marni berusaha untuk memberikan aba aba pada Marni untuk mengejan satu kontraksi tiba. Wanita itu mengaduh dan merintih kesakitan tangannya mengapai pegangan.
Brak!
Jendela terbuka, terdengar angin masuk dengan matanya, mata mata merah terlihat dengan jelas bukan dua pasangan tapi banyak. Cahaya rembulan bersinar dengan cerianya, bintang bintang di langit pun bertebaran di langit yang memang indah kali.
"Mbok! " panggil Marni ketakutan.
Ia berusaha bangkit dari rebahan nya biarpun memang perutnya sakit tapi ia sangat ketakutan melihat beberapa mata yang menatap wajahnya. Sebenarnya sebelum Marni memangil nama mbok, wanita setengah baya langsung menarik tangan Marni dengan cepat si bawa lari karena ia juga merasakan kalau rumah itu tidak aman aman saja. Saat jendela terbuka mbok Minah langsung berlari, Marni yang terkejut langsung mengikuti mbok Minah ya biarpun ia meringis saat perutnya sakit.
"Mbok! "
Suara ya tertahan saat ia merasakan cairan yang mengalir di selangkangannya, dan yang terkejutnya ia merasakan ada yang keluar dari alat kelaminnya, ketika disentuh ia merasakan kalau kepala bayi telah menonjol keluar tapi belum seoenuhnya. Entah itu air ketuban atau darah tapi ada bau amis yang menyengat. Marni mencium tangannya yang terkena cairan, saat sampai si hidungnya tercium bau amis. Mbok Minah yang tahu Marni berhenti langsung menarik tangan Marni hanya untuk untuk menyelamatkan Marni dan bayi yang di kandungannya. Marni yang sudah tidak kuat hanya menangis menahan sakit yang menghujam perutnya. Ia akhirnya mengikuti mbok Minah, ya biarpun jalannya tertatih tatih menahan desakan demi desakan si perutnya.
Akhirnya Marni tidak kuat lagi menahan rasa sakit si pinggang, ************ dan perutnya ia berusaha mengeden sambil berdiri, kedua kakinya dibuka lebar lebar memberikan ruang untuk bayi yang akan keluar. Sekali mengedan bayi itu meluncur keluar dengan cepat nya, darah berbau amin menguar di teras rumah. Mata mata merah yang melihat Marni dan mbok Minah berlari langsung mengikutinya, dan saat Marni mengejan mata mata merah itu langsung menyerbu cairan yang keluar dari alat kelamin Marni mereka berpesta pora meminum. cairan berbau amis itu.
Sedangkan si mbok Minah langsung menjerit ketakutan saat melihat mata mata merah menyerbu Marni, keduanya pingsan begitu tapi ari arinya yang masih di dalam di hisap oleh mahluk itu! sampai Marni dan Mbok Minah menjerit ketakutan, sedangkan bayi dibiarkan menangis.
Malam telah larut. Tidak ada satu pun warga yang tahu kejadian tentang Marni yang tergeletak tanpa daya di teras rumahnya bersama mbok Minah di sisi kanan. Sedangkan bayi yang dilahirkan Marni raib entah kemana meninggalkan ibunya.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain seorang kakek tua dan nenek tersenyum lebar saat mereka telah berhasil mengambil apa yang seharusnya ia miliki biarpun mengorbankan Rio dan Marni. Keduanya sangat bahagaia kerena malam ini adalah ritual yang paling ditunggu mengorbankan bayi yang baru lahir.
Ha ha ha
Tawa mereka berdua dengan menakutkan sekali. Rio kalau tahu pasti bakal kecewa sama orang yang ia percaya selama ini, kerena kakek tua itulah yang memberikan harapan pada dirinya tentang sebuah kebahagiaan yang hakiki.
👻
Rio akhirnya sampai ditempat ia tuju, biarpun lelah tapi hatinya riang sekali kerena ia telah sampai si kediaman mbah Karun. Rumah kecil sekali hanya muat satu orang, ya mbah karun tinggal seorang diri di sebuah hutan rimba yang jauh dari pemukiman orang. Tidak semua orang bisa menemui nya kerena harus melewati hutan yang maha luas.
Plak!
Mbak Karun menatap tajam ke arah wajah Rio, dengan geramnya laki laki itu melayangkan telapak tangannya langsung ke pipi Rio yang berdiri di hadapannya dengan pikiran yang heran dan terkejutnya sekali, mbah Karun tidak biasanya marah saat ia datang ke kediamannya. Tapi sekarang mbah Karun geram dan kabar pada Rion saat ia telah sampai di gubugnya.
Plak!
Bukannya menjawab tapi pria setengah baya itu melayangkan tangannya kembali ke pipi Rio sampai pria muda itu dua kali meringis dan dua kaki merintih kesakitan, matanya menatap tajam ke arah mbah Karun.
"Kamu goblog!" teriak mbah Karun dengan beringas nya.
Pria itu langsung menghantamkan rotan yang dipegang ke tubuh Rio, otomatis Rio melolong kesakitan, hatinya perih mendapatkan prilaku dari mbah Karun, ia kesini hanya ingin meminta tolong keluar dari masalah yang dihadapinya tapi melihat mbah karun seperti ini Rio hanya diam saja tidak bisa berbuat apa apa
__ADS_1
"Mbah cukup! Aku datang kesini hanya ingin minta tolong sama mbah bukan buat menyiksa aku! " teriak Rio geram.
Ia dengan kasarnya langsung meraih rotan dan menariknya supaya mbak Karun tidak memukul kembli.
"Kamun sadar apa yang kamu lakukan kalau kalau kesini, kamu bisa merintih kesakitan tapi kamu tidak pernah berpikir kesalamatan istri dan bayi kamu! "
Teriak pria itu mengeram pada Rio. Matanya berkilat kiat menahan marah yang sudah puncaknya, mbah Karun tidak bisa mengerti pada pikiran Rio pada saat ini lebih mementingkan ke pentingan orang lain dibandingkan kepentingan pribadinya sendiri.
"Mbah maksud mbah? " tanya Rio heran atas apa yang mbah Karun katakan.
"Sekarang kamu pulang!"
"Pulang? Mbah, aku kesini hanya ingin mendengar petuah dari mbah masalah kematian Ani? Kenapa harus Ani yang saya bunuh kenapa bukan Raya? " tanya Rio bertubi tubi.
"Pulanglah! " ujar mbah Karun.
Mbah Karun tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Rio, ia hanya menyuruh Rio pulang membuat pria itu heran sekali kerena mbah Karun tidak akan menyuruh dirinya pulang sebelum menceritakan apa yang terjadi, tapi sekarang ia datang malah disuruh pulang? Mbah Karun menatap Rio dengan tajamnya kerena melihat pria itu tidak bergerak sama sekali hanya menatap dirinya saja.
"Pulang lah, seminggu kemudian kamu datang kembali kesini tapi jangan ada penyesalan kalau kamu sampai datang kesini lagi. " lirih mbah Karun menatap wajah Rio.
"Mbah apa yang terjadi? " tanya Rio heran.
__ADS_1
"Pulang!" teriak mbah Karun kembali.
Pria itu langsung mengajungkan rotan untuk memukul Rio.*