
POV Mutiara
Ani
Aku mengulang nama Ani yang dimaksud oleh Raya, beberapa bulan ini Ani menghilang dan tidak terdengar lagi nama itu seperti di sengaja nama Ani tidak disebut lagi, ya sejak Raya mengalami keganjilan di SMP waktu LDKS.
Dan sekarang aku mendengar nama Ani disebut lagi tapi ekspresi wajah Raya biasa saja gadis itu seperti kebingungan saat menyebutkan nama Ani.
"Saya ketemu Ani, bu. Siapa Ani sebenarnya?" tanya Raya waktu itu.
Aku sudah mau bersorak saat Raya menyebut nama Ani tapi mendengar pertanyaan terakhir itu aku langsung terdiam sejenak. Aku hanya bisa menghembuskan nafas merasa kesal, disangka aku Raya mengingat sesuatu yang berhubungan dengan Ani tidak tahunya malah menanyakan siapa Ani.
"Ibu nggak tahu apa apa? " ketusku kesal.
"Ibu'kan baru di sekolah ini! " kata aku.
Raya yang ada didepanku hanya mengangguk, ya aku memang baru disini, aku datang setelah kejadian itu! Kejadian dimana Ani telah menghilang di telan bumi, jadi wajar kan kalau aku tidak menjawab pertanyaan itu untuk Raya.
Dalam pikiran Raya cuma ada Ani saja, entah kenapa bisa begitu. Aku juga tidak tahu sama sekali.
Dan yang paling terkejutnya ketika di sekolah yang aku tempati ada seorang pria datang mengaku nya guru baru tapi anehnya ia begitu hapal dengan sekolah yang aku tempati.
Rio
Nama guru itu! Aku juga menganggapnya wajar saja. Aku tidak curiga apapun pada Rio, kerena tidak ada gelagat apapun dari dirinya hanya yang heran ia tahu semua kelas serta ruangan perpustakaan yang tidak digunakan lagi. Seharusnya kan kalau memang guru baru tidak mungkin ia tahu kalau ada ruangan perpustakaan yang tidak pernah digunakan kembali oleh sekolah. Benar benar mencurigakan sih orangnya, tatapannya juga sinis, dingin banget.
"Jangan sentuh!"
Aku dengan jelas mendengar teriakan Raya yang melihat pria itu mendekati aku dan akan menyntuhbtubuhku, hatiku berdebar sangat keras saat matanya saling tatap denganku, ada rasa seram di sorot matanya yang menatap wajahku.
Aku terkejut sekali mendengar Raya yang tiba tiba ada di sisi kanan ku, tapi dalam hatiku bersyukur kerena gadis itu tepat waktu untuk menghentikan gerakan pria yang mendekati aku.
"Raya? Kenapa belum mati. "
__ADS_1
Gumam pria yang ada dihadapanku bergumam, aku sangat terkejut sekali mendengar gumamannya yang begitu jelas di telingaku, awalnya aku ingin bertanya tentang gumamnnya itu tapi tangan aku langsung ditariknya oleh Raya.
Ririn yang berada di belakang Raya juga mengejar, sebelum aku pergi aku melirik ke belakang melihat pria itu! Tatapannya terlihat tidak suka sekali kalau tanganku ditarik oleh Raya, aku nyakin kalau tatap pria itu sesungguhnya untuk Raya.
Ya aku nyakin kalau keduanya saling mengenal satu sama lainnya, tapi aku harus mulai dimana untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi? Tidak mungkin aku bertanya banyak pada Raya, masih untung kalau gadis itu tidak kenapa kenapa. Kalau misal terjadi apa apa bisa gawat.
"Raya kamu kenapa kok menarik tangan ibu?" tanyaku yang berusaha melepaskan tangannya.
"Bu, saya harap ibu jangan dekat dekat dengan laki laki itu nggak baik, " ujar Raya padaku.
"Kamu kenal dengan guru baru itu," tanyaku menyelidiki.
Aku melihat gelengan kepala Raya yang menandakan tidak tahu dan sekali. Aku hanya menarik nafas dalam dalam melihat itu semuanya.
Aku menanyakan itu kerena misi aku ke sekolah itu hanya ingin tahu kejadian yang pernah terjadi di sekolah yang sekarang aku tempati.
"Tiara!" tangis tante Widya lima bulan yang lalu.
"Ani! Ani! Tangis tante dihadapanku.
" Ani kenapa tante! " teriak aku penasaran.
Ani adalah adik kembaran dari Raya saudara sepupu aku yang masih duduk di SMP. Aku terkejutnya sekali mendengar nama Ani disebut oleh tante Widya.
"Ani menghilang!"
"Menghilang bagaimana? "
Aku kanget mendengar Ani memghilang. Ada pikiran buruk yang muncul di dalam hatiku jangan jangan Ani di culik tapi penculiknya untuk apa melakukan penculikan pada anak SMP?
Sejak itu tante ingin aku masuk ke SMP yang ditwmpati oleh Raya untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi, dan melihat gerak gerik Raya seperti itu aku nyakin ada sesuatu yang terjadi pada Ani! Entah kejadian apa yang terjadi pada Ani.
"Ani bu, Ani minta tolong selamatkan dirinya. " katanya sambil memandang diriku tajam.
__ADS_1
"Selamatkan? Selamatkan kerena apa sih? " tanyaku heran atas apa yang dibicarakan oleh Raya.
Menurut pengakuan kalau Ani meminta tolong pada Raya untuk menolong seseorang, aku yang mendengar itu langsung ciut. Aku. Menduga duga kalau Ani sudah meninggal dan arwahnya meminta Raya untuk menemukan jasadnya. Ya sejak kejadian itu aku dan semuanya tidak pernah melihat Ani kembali, kalau memang Ani meninggal dimana jasadnya, tapi kalau belum meninggal kenapa Ani belum pulang ke rumah.
"Raya kamu sebenarnya kenapa? Kamu mengenal pria itu? " tanyaku.
Sebenarnya banyak pertanyaan pertanyaan yang aku ingin lontarkan pada Raya, tapi aku ragu untuk menanyakan nya. Jadi aku tahan untuk menanyakan apa yang pernah terjadi pada Raya.
Kenapa aku harus tanya Raya? Ya kerena ia dan Ani pernah mengikuti ldks di sekolah nya, dan aku punya kenyakinan kalau dalam kegiatan itu ada satu peristiwa yang terjadi pada Ani dan Raya, tapi kejadian itu lah yang merenggut ingatan Raya.
"Aku rasa pak itu nggak baik. Pak itu cuma ingin menfaatkan ibu saja, " ujarnya.
"Kok kamu bilang begitu sih! Ibu nggak ngerti apa yang kamu maksud, " ujarku tidak konek apa yang dibicarakan oleh Raya.
"Eh! Mmm… Aaaaa! " rintih Raya memegang kepalanya.
"Raya sudahlah jangan memikirkan apa yang seharusnya kamu nggak pikirkan! " ujarku sambil memegang tubuh Raya erat.
"Hai! Kamu apakan dia! " teriak pak Rio menarik tubuhku dan mendorong nya.
"Awwwh! " jeritku kesakitan saat tubuhku menimpah batu dan membuat kulit tanganku terluka.
"Ibu! Aku mendengar jeritan Ririn. Gadis itu langsung memburu tubuhku yang ambruk. Aku hanya tersenyum saat Ririn berusaha membangunkan aku.
"Kamu nggak apa? " tanya pak Rio sambil memegang tangan Raya, aku hanya bisa meliriknya.
"Lepaskan! Kamu ngapain kesini! Kamu jahat kamu jahat! " teriak Raya keras.
"Hai aku hanya menolongmu dari wanita itu! " jerit pak Rio sambil memegang kedua bahu Raya dan mengoyangkan.
"Lepaskan dia! " teriakku.
Aku berusaha melepaskan tangan pak Rio dari dua bahu Raya. Akun tidak memperdulikan tubuhku sakit dan tanganku terluka, aku lebih menyalamatkan Raya dari pada Raya oleh pak Rio. Aku masih ingat apa yang dikatakan Raya kalau pak Rio tidak baik aku nyakin Raya sebenarnya tahu apa yang dilakukan pak Rio pada dirinya dan Ani.*
__ADS_1