
Brak!
Hahahahaha
Keempat orang kaget sekali saat mereka mengendap endap menghampiri ruangan perpustakaan, terdengar suara gebrakan benda keras dan tawa seseorang yang menyeramkan. Keempatnya sampai melotot saat telinganya mendengar suara, sedang meraka saat ini sedang berada di dekat pintu perpustakaan. Langkah mereka juga berhenti seketika juga, Raya yang ada di depan langsung ciut mendengar tawa dan gebrakan bersamaan seperti itu.
Ririn yang berada di belakang Raya langsung meloncat ke punggung Raya. Raya yang akan berteriak langsung dibekap oleh Ririn yang telah nangkring di belakang tubuh Raya, ibu Mutiara sampai memegangi tangan pak Handi saking terkejutnya. Keempat orang itu saling pandang satu sama lainnya menatap wajah teman temannya yang ada di depan.
Raya langsung menurunkan Ririn dan menuju ruangan yang gelap gulita hanya cahaya remang saja yang berasal dari ruangan lain, pintu perpustakaan hanya terbuka beberapa meter saja, Raya langsung membuka secara berlahan takut ada orang di dalam. Sekarang mata Raya benar benar terbelalak seketika juga saat ia melihat ada orang yang kemarin sedang menyantap sesuatu yang ada di tangannya.
Uek... uek!
Raya menahan mual yang tiba tiba muncul saat itup juga ketika matanya melihat seseorang dengan layaknya memakan potongan daging yang ada dihadapan pria itu.
Ya gadis itu melihat pemandangan yang seperti kemarin, hanya bedanya pria itu sekarang meminum cairan berwarna hitam pekat, biarpun keadaan ruangan itu agak gelap tapi sinar lampu menyerobot masuk kesela sela lubang ventilasi. Melihat Raya yang menahan mual bukanya pergi ketiga orang itu malah membuat ketiganya penasaran apa yang dilihat oleh Raya. Ketika mereka bertiga melihat tiba tiba perut mereka seperti diaduk aduk dan ketiganya berusahalah untuk menahan muntah. Mutiara langsung pergi dari sana sambil menahan perut ya dan mulut, ia memuntahkan isi perutnya begitu juga dengan Handi, Ririn dan Raya yang tidak tahan lagi.
Handi langsung menarik tangan Raya untuk pergi dari sana, melihat Handi pergi menarik tangan Raya Mutiara juga mengajak Ririn untuk mengikuti Raya dan Handi. Di depan ruangan gitu keempatnya malah duduk pandangan matanya menatap gelap yang pekat. Sinar lampu di ruang guru begitu temaram sekali, sinarnya tidak begitu terang.
"Apa jangan jangan? " tanya Handi tanpa mengalihkan pandangannya.
"Setan? Bukan, kemarin juga aku melihat ya pria itu memakan bayi mbak Marni! " kata Raya.
"Masa sih! Jadi mbak Marni di bunuh bukan sama setan? " tanya Handi menatap wajah Raya.
Ia penasaran sekali apa yang Raya katakan, kerena menurut ya tidak mungkin lah kalau manusia biasa memakan potongan daging mentah yang penuh dengan darah segar, dan ketika ia melihatnya juga darah itu meneteskan begitu banyak malah di seruput begitu saja.
__ADS_1
"Pria Itu bukan setan hanya menganut ilmu setan."
Pria, memangnya ada ya yang menganut ilmu tertentu harus makan daging mentah? " tanya Ririn.
"Bisa saja sih! Kerena ia juga tidak mau melepaskan ilmu itu jadi sudah terbiasa. "
"Apa kita hanya sampai disini saja menyelidikinya? " tanya Mutiara ketika melihat ketiganya hanya diam saja.
Ketiga diam juga memikirkan apa yang harus mereka jalani sekarang, sebenarnya Raya hanya ingin mengungkapkan misteri Ani, tapi ia selalu. melihat kejadian seperti kemarin saja. Dalam hati hanya bisa bertanya tanya apa ada hubungannya dengan kematian Ani? Sedangkan Ririn masih blank kerena apa yang harus di kerjakan kalau belum menemukan titik temu yang pasti. Handi hanya bisa garuk garuk kepala dan Mutiara menghela nafas panjang. Awalnya Mutiara ingin menanyakan atau diskusi tentang pembicaraan yang di dengar oleh Raya tentang Haryono dan Rio yang satu perguruan tapi ia segan untuk bertanya kerena ia nyakin. kalau Raya belum cerita semuanya pada Handi, dan Ririn jadi Mutiara hanya diam saja tidak bicara apa apa.
Brak
Brak!
Keempatnya terdiam seketika juga, mendengar sebuah kayu yang dipukulkan oleh seseorang ke meja atau tembok suaranya terdekat sangat keras sekali. Raya langsung berdiri hendak berjalan tapi Mutiara langsung memegang tangan Raya dengan cepat sekali..
"Ray, jangan?"
"Nggak akau hanya ingin melihat kenapa mereka lakukan itu? Itu bukan setan! " ttekan Raya.
Handi hanya mengangguk, ia seperti mengizinkan kalau Raya pergi meninggalkan tempat itu! Mutiara sebenarnya was was melihat Raya meninggalkan mereka. Raya yang dapat izin dari Pak Handi langsung meninggal akan tempat itu sambil mengangguk setuju. Mutiara hanya menghela nafas panjang melihat anggukan pak Handi pada dirinya.
"Sudahlah, kamu jangan khawatir, aku nyakin kalau Raya bisa jaga diri kok! " Handi memberikan motivasi pada Mutiara. Wanita itu hanya cemberut saja mendengarkan apa yang Handi katakan. Sedangkan Ririn hanya diam saja ia ketar ketir takut sekali apa yang ia lihat, tangannya mencoba untuk memegang erat tangan pak Handi.
Raya berjalan ke arah suara yang terdengar sangat. memekakkan telinganya. ia langsung. menuruni tangga yang ada di depannya secara diam diam. langkahnya. menuju ruang perpustakaan yang pintunya masih terbuka seperti tadi. Belum sempat Raya mengintipp ke dalam tiba tiba ia terkejut kerena terdengar teriakan di atas, akhirnya ia kembali lagi ke atas untuk melihat apa yang terjadi! Tapi ia tidak melihat ketiga orang yang seharusnya ada di depan ruang guru. Tiba tiba bulu kuduk nya memeremang seketika juga, hatinya ketar ketir.
__ADS_1
"Raya! " panggilan lembut di telinga gadis itu.
Raya yang langsung membalikkan badan saat mendengar panggilan yang berasal dari belakangnya.
"Nenek? " tanya Raya tiba tiba ia sangat terkejut saat melihat Nenek berada di belakangnya
"Raya, bantu kami ya. "
"Bantu apa? " tanya gadis itu.
Belum sempat nenek menjawab tiba tiba kakek Banda datang dengan tatapan yang lain, matanya berkilat, suaranya menggeram seketika juga saat matanya melihat Raya.
Raya yang melihat itu mundur beberapa langkah ia merinding melihat mbah Banda yang berada adib depannya.
"Jangan sentuh anak itu! " teriak nenek yang ada di depan Raya.
"Jangan halangi apa yang aku inginkan! " balas kakek Banda berteriak.
"Nek! " suara Raya bergetar.
Gadis itu tubuhnya bergetar dengan hebatnya, mungkin kalau lampu sekolah terang wajah Raya terlihat dengan jelas pucat sekali, tapi kerena lampunya cahayanya kurang jadi sinenek tidak tahu kalau wajah Raya memucat.
"Iyem! Kamu jangan ikut campur apa yang aku inginkan? Seharusnya gadis ini sudah meninggal! " Teriak mbah Banda menatap wajah nenek itu!
"Jadi Ani dibunuh sama kamu? " tanya Raya berusaha normal tapi kenyataannya ia menahan ketakutnya.
__ADS_1
Ia tidak menyangka kalau malam itu Raya akan bertemu dengan mbah Banda yang ia lihat kemarin dengan pak Rio.