MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN

MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN
chapter 22


__ADS_3

Dinginnya angin malam tidak dirasakan oleh Rio yang berjalan pulang menuju rumahnya, hatinya mulai was was kerena mbah Karun menyuruh pulang dan masih terdengar suaranya sampai ia meninggal akan rumah kecil itu! Setengah berlari ia tapi perjalanannya ke rumahnya seperti jauh sekali dibandingkan waktu ia berangkat menuju runah mbah Karun.


Lorongan anjing tidak ia hiraukan, banyak mahluk. mahluk yang tidak kasat mata melihat perjalanan Rio, seolah olah tidak tega untuk mengganggunya mereka hanya menatap sendiri seperti tahu apa yang di rasakan Rio. Ya biarpun pria itu tadak tahu apa yang terjadi tapi perjalanan itu terasa lambat dan hening sekali.


Para mahluk kasat mata hanya bisa menghela nafas seperti menyesali apa yang pria itu perbuat, mereka ingin cerita tapi tidak bisa cerita kerena ada satu kekuatan yang melindungi pria itu dari gangguan mahluk seperti meraka. Mahluk mahluk itu hanya bisa terdiam, menatap Rio.


Cahaya dewi malam yang bersinar sekarang mulai redum, kerena awan putih menghalangi pandangan dewi malam yang menutupi wajahnya. Kalau di perhatikan wajah dewi malam. pun seperti murung saat ia mentap Rio yang berjalan bergegas gegas.


Pria itu celingukan saat samapai rumah, saat matanya tidak bisa menemukan sosok Marni yang seharusnya ada di kamarnya. Tiba tiba ia merasa ada sesuatu yang hilang saat tidak menemukan istrinya yang tercinta. Matanya mencari kesana kemari mencari Marni, ke kamar, ke belakang, kamar tengah, kamar depan tapi sosok Marni belum juga ditemukan sama sekali.


keringat dingin mulai keluar, hatinya ketat ketir ia takut sekali kalau kalau Marni mengalami hal yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Tubuh pria itu langsung ingat kalau Marni sering sekali ke taman belakang ia langsung kesana ya biarpun dalam hatinya ragu kerena ini malam bukan siang. Tapi untuk. memastikan ia langsung bergegas menuju taman tapi tidak ada sosok Marni.


Akhirnya ia menjatuhkan diri di sana kerena orang yang dicarinya sama sekali tidak ditemukan sama sekali, tiba tiba tanpa sepengetahuan Rio si mbah muncul di belakang nya.


"Kenapa kau kembali sebelum mendapatkan jawaban dari mbah Karun? " tanya mbah itu menatap.


Sedangkan hatinya sudah tahu kalau Rio kembali atas suruhan dari mbah Karun sendiri. Ia nyakin kalau mbah Karun menyuruh Rio pulang kerena mbah Karun ingin Rio tahu apa yang terjadi malam ini, tapi itu semua telah terlambat sekali. Ya hanya 3 jam Rio meninggal akan Marni tapi dalam tentang waktu 3 jam itulah pria itu harus kehilangan orang yang dicintainya. Si mbah dalam hatinya tertawa puas kerena telah menjebak Rio di malam ini, dua kaki ia menjebak Rio dua kali pula Rio kalah dan bisa terkecoh oleh apa yang ia katakan.


"Aku mencari Marni,"

__ADS_1


Hahaha...


Tawa mbah Banda tertawa menyeramkan sekian kerena mendengar pertanyaan polos dari Rio. Sedangkan tanpa sepengetahuan mereka ada satu sosok yang memperhatikan keduanya, ya ia adalah Raya. Gadis itu mengikuti mbah Banda dari ruangan perpustakaan sampai rumah Rio. Untung si mbah itu tidak mengunakan kendaraan saat menuju rumah pak Rio kalau saja mengunakan kendaraan mungkin Raya tidak bakal mengikutinya.


Sedangkan Mutiara tidak menemukan Raya, ia masih di sekolahan sedangkan Raya sudah keluar dari sekolahan itu bersama mbah Banda. Hati gadis itu ketar ketir mendengar tawa mbah Banda yang mengelegar seperti ingin memecahkan kesunyian malam hari yang sudah larut sekali. Angin malam hari terasa dingin sekali apalagi ini musim kemarau yang panjang. Jadi wajar kalau udaranya dingin seperti puncak.


"Kamu nggak tahu apa yang mbah Karun lakukan pada kamu malam ini? Jadi wajar kalau ia ingin kamu lwkas pulang juga, " kata mbah Banda ketus.


"Maksud mbah? " tanya Rio polos.


"Mbah Karun telah mengambil Marni di sampingmu, kerena itu kamu di suruh pulang dan bayi kamu yang seharusnya lahir malam ini si jadikan santapan lezatnya! "


Raya yang mendengarkan itu terkejut, ia masih ingat kalau yang memakan bayi itu adalah laki laki yang ada dihadapan Rio bukan yang lain. Hatinya protes tapi ia tidak ada keberanian. untuk mendekati keduanya. Ia masih berpikir masih untung kalau pak Rio menolong dirinya kalau tidak? Bagaiamana nasib dirinya. Ia baru mengerti kalau malam ini adalah malam kematian bayi pak Rio. Tiba tiba bulu kuduk nya berdiri semuanya. ia bergidik sekali. Ya gadis itu mengingat kalau malam itu adalah malam dimana Ani meninggal dunia.


"Jangan jangan? " bisik nya dalam hati.


"Mbah yang dipanggil pak Rio itu ingin mengkambing hitamkan seseorang, dengan tujuan supaya dua orang itu bertengkar? " kata raya dalam hati.


"Wah nggak beres nih kalau begini, aku harus cari tahu semuanya. Apa ada hubungannya dengan Ani? " tanya Raya.

__ADS_1


Tapi semuanya tidak bisa dijawab sama sekali olehnya. Sedangkan Mutiara yang tidak. menemukan Raya si sekolah berniat pulang ia akan menceritakan pada tantenya hilangnya Raya ya biarpun ia akan cerita yang sebenarnya tujuan mereka ke sekolah itu! ia akan menanggung resiko yang besar dari tantenya itu!


Tapi belum sempat ia meninggal akan sekolah tiba tiba muncul satu sosok dihadapannya seorang nenek tua dengan panampilan lusuh serta renta sedang bersiri dihadapannya. Mutiara terkejut sekali saat melihat nenek tua yang tiba tiba muncul sambil memandangi wajahnya.


"Ah! Nenek kenapa menggagetkan aku sih! " celetuk Mutiara.


"Cu, maafkan teman teman nenek ya, banyak teman teman nenek yang datang hanya ingin menghancurkan keamanan manusia." kata si nenek.


Mutiara diam saja saat si nenek itu bicara.Intinya nenek itu hanya minta maaf pada dirinya kerena banyak bangsa dirinya yang selalu mengelambui bangsa manusia dengan iming iming keindahan duaniawi nya. Mutiara takjub sekali saat mendengar apa yang dikatakan nenek itu padanya, tidak takjub bagiamana si nenek hanya minta pada dirinya termasuk manusia supaya memperbanyak membaca al Quran.


"Kami butuh ssekal kehangatan yang benar benar hangat, kerena selama ini kami sangat jauh dari suara suara kalian untuk baca ayat suci al Quran. Tapi kenapa kalian meninggalkannya malah berlari pada kemusyrikan? " tanya Nenek itu.


"Nek, nenek sebenarnya siapa? "


"Akun hamba Allah yang hanya membutuhkan kehangatan dari kalian di malam selasa dan malam jumat, kami nggak butuh bau kemenyan yang selalu dinyalakan oleh manusia manusia yang tipis iman. " kata nenwk itu.


Tiba tiba Mutiara merasakan hawa dingin menyentuh tubuhnya, saat mendengar apa yang nenek bicarakan padanya. Tapi ia melihat nenek seperti manusia biasa saja. Ia bisa menapak di atas tanah seperti dirinya.


"Manusia sangat egois tidak pernah peduli sama dirinya sendiri hanya peduli sama nafsu yang ia punya."

__ADS_1


"Nenek dari dunia ghaib? Tapi kenapa kaki nenek? " tanya Mutiara tidak mempedulikan apa yang keluar dari mulut nenek.*


__ADS_2