
"Pak! " panggil Raya mengejar pak Handi ketika waktu istirahat.
Pria tinggi itu langsung menghentikan langkah kakinya yang akan masuk ruang guru ketika mendengar panggilan dari Raya. Gadis itu langsung berdiri di depan pak Handi dengan pertanyaan demi pertanyaan yang ingin disampaikan pada pria usia 30 tahun itu. Pak Handi menatap Raya dengan tajamnya saat melihat Raya hanya diam saja, malah gadis 14 tahun itu celingukan ke arah lain seperti takut ada orang yang melihatnya. Pak Handi hanya mengkerutkan wajahnya melihat Raya celinguk anak seperti takut ada orang yang melihatnya.
Awalnya pak Handi dengan potongan rambut ala Korea itu akan angkat bicara tapi tiba tiba, tanpa ia sadari Raya sudah menarik tangannya untuk menuju perpustakaan yang berada diata. Pria itu menarik tangannya untuk melepaskan tangan Raya yang menggenggam tanga ya tapi Raya tidak melepaskan tangan pak Handi. Terpaksa pak Handi tidak melepaskan tangannya ia lebih fokus pada Raya yang menuju ruangan perpustakaan.
Ruangan perpustakaan begitu rapi, bersih dan harum. Susunan buku bukunya juga rapi sekali, di punggung bukunya terdapat sticker di atasnya diberi nama intansi, dibawah nama intansi diberi tiga nomor ddc, tiga nama penulis harus depannya dan juga satu nama penulis. Sampai di perpustakaan Raya mengajak pak Handi untuk duduk di kursi yang telah tersedia di ruangan itu. Keduanya duduk berhadapan satu sama lain, hanya meja yang jadi penyekat mereka berdua.
"Ada apa sih tarik tangan orang? " tanya Pak Handi agak ketus.
"Sorry, pak tadi malam bapak dan yang lainnya kemana?" tanpa basa basi lagi Raya bertanya keberadaan pak Handi dan kedua teman lainnya.
Ya Raya masih ingat waktu ia akan pergi ke bawah menuju ruangan perpustakaan Raya dengan jelas mendengar teriakan dari atas. Ia langsung ke ata tapi ia tidak melihat pak Handi dan teman nya. Pak Handi yang mendengarkan pertanyaan Raya yang di lontarkan oleh Raya hanya membuang nafas kesal, di tatap wajahnya Raya dengan tajam sekali disana ia melihat keheranan di wajah gadis itu. Akhirnya pak Handi hanya bisa garuk kepala tidak gatal saja. Raya masih menunggu apa yang bakalan pak Hadi ceritakan pada dirinya, kerena peristiwa itu hampir saja ia celaka untung saja ada yang menolongnya.
Ia juga harus pulang sendirian dengan jalan kaki kerena motor yang seharusnya pulangnya dengan ibu Mutiara tapi wanita muda itu juga tidak ada sama sekali, akhirnya Raya menyangka kalau ibu Mutiara pulang bareng pak Handi dan Ririn. Waktu tadi mau bertanya pada ibu mutiara tapi katanya ibu Mutiara tidak sekolah tidak ada izin sama sekali. Ya terpaksa ia mencari pak Handi untungnya sekolah. Dan sekarang yang tidak sekolah bukan hanya ibu Mutiara saja tapi Ririn juga malah alpa.
"Aku bertemu dengan nenek! " kata pak Handi jelas.
"Nenek? " Raya mengulang pertanyaan nya.
__ADS_1
"Iya nenek. Wajahnya seram banget. Bola matanya hilang satu, tangannya juga kaya nggak bisa digerakan sama sekali." cerita pak Handi.
Raya melonggo saja mendengarkan cerita pak Handi. Pria ala Korea itu langsung cerita pada harus Raya memintanya, gadis itu mendengarkan saja apa yang di ceritanya kan oleh nya. Rita akhirnya mengangguk anggukkan kepala saat tahu apa yang terjadi pada pria yang ada di hadapannya. Raya hanya menghela nafas saat tahu kalau Mutiara dan Ririn sampai sekarang belum pulang sama sekali! Raya langsung menatap tajam kearah pak Handi saking terkejutnya.
"Bapak juga nggak tahu apa yang terjadi! Asalnya ketemu nenek, tadinya setelah kamu pergi ibu Mutiara pergi juga. Dari sana kami bertemu nenek. " pak Handi mengakhiri ceritanya.
"Lebih baik kita ke perpustakaan di bawah sana, aku nyakin kalau mereka masih disana." kata Raya.
Laki laki itu hanya menggelengkan kepala saja mendengar ajakan dari Raya, kerena ia tadi juga kesana tapi tidak ada siapa siapa disana juga. Jadi waktu raya mengajaknya pak Handi hanya mengelangkan kepala saja, melihat gelengan kepala gurunya Raya hanya menghela nafas panjang.
"Kamu.pulang sama siapa? " tanya pak Handi.
"Sendirian. Aku juga ketemu nenek cuma nenek yang baik banget menolong aku, tapi ada mbah mbah yang jahat hampir saja mwncelakaan aku. " akhirnya Raya cerita tentang dirinya.
Sorenya Raya langsung ke sekolah tanpa pak Handi, kerena tadi siang diajak juga tidak mau. Ia ke sekolah hanya mengunakan sepeda saja kerena motor yang digunakan oleh ibu Mutiara juga tidak meninggalkan jejak sama sekali, sore suasanya mencekam sekali langit yang seharusnya cerah malah terlihat mendung. Awan di langit menghitam menandakan hujan akan turun, biarpun cuacanya tidak bersahabat tapi Raya tetap menjalankan semua yang telah disusuan oleh ibu Mutiara.
Saat sampai di gerbang sekolah Raya hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat pak Handi ada disana dengan senyuman khasnya. Raya yang melihat pak Handi hanya mendengus tapi hatinya berbunga bunga.
"Katanya nggak ke sekolah? " sindir Raya.
__ADS_1
"Kasihan sama sama kamu, aku tahu kalau bakal kesini sore ini apa lagi cuacanya seperti ini, " alasan pak Handi sambil meraih tangan Raya untuk masuk ke sekolah.
Tanpa bertanya lagi, Raya langsung mengikuti pak Handi memasuki lapangan sekolah. Keadaan sekolah benar benar sepi sekali hanya angin yang terdengar lirih tertiup. Belum juga sampai ke perpustakaan yangbada si bawah.
Brak!
Aaaaaa!
"Jangan!"
"Tidaaak!
Raya dan pak Handi saling tatap satu sama lainnya saat telinganya mendengar suara tolong dan teriakan yang berasal dari ruangan kosong itu! Raya langsung menduga kalau teriakan itu dari Ririn, tapi ia tidak sama sekali mendengar teriakan ibu Mutiara, tanpa menunggu lama lagi mereka berdua langsung ke perpustakaan yang ada di bawah. Keduanya berlari menuju tempat itu kerena keduanya mendengar teriakan minta tolong beberapa kali.
Bug!
Bug!
Suara pukulan juga terdengar dengan jelas, anehnya waktu sekolah mereka saat sekali tidak mendengar ada keributan di ruangan itu, ya Raya langsung menduga kalau sebenarnya ibu Mutiara dan Ririn pasti disekap di perpustakaan.
__ADS_1
" Buka! "
Raya berteriak sambil menggedor pintu dengan keras, kerena waktu akan membuka pintu. Pintu itu tidak bisa di buka ia nyakin kalau pintunya di kunci akhirnya Raya menggedor pintu dengan keras sekali supaya orang yang ada di dalam membukakan nya. Tapi ketika suara Raya berteriak memecahkan keramaian di dalam perpustakaan tiba tiba orang yang berteriak juga malah berhenti dan kesunyianpun terasa lagi.*