MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN

MISTERI DI RUANGAN PERPUSTAKAAN
chapter 33


__ADS_3

Bug!


Bug!


Tubuh Haryono babak belur di serang dengan tiba tiba, pria putih itu tidak bisa menghindari sama sekali kerena ia tidak menyadari bahaya yang ada di depannya. Orang orang yang memukulnya langsung berhenti saat melihat tubuh Haryono tidak bergerak sama sekali, mereka bertiga ketakutan melihat itu semuanya, tanpa menunggu waku lagi mereka akhirnya melarikan diri. Sejaka saat itu Yudha tidak pernah mengikhlaskan Widya wanita yang ia cintai menikah dan bahagia dengan Haryono dan ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk. mencelakan Haryono.


Dan malam ini Yudha berhasil menyakiti Haryono, dengan 3 orang anak buahnya ia berhasil membuat Haryono babak belur sampai hampir mati, tapi melihat Haryono yang tidak berdaya bukan merasa kasihan maupun iba sama sekali tapi Yudha merasa puas.


Plak


Plak!


Sebuah tamparan langsung menghantam pipi Yudha dengan beringas nya orang itu memukul badan Yudha dengan memba bi buta membuat Yudha sama sekali tidak bisa melawan.


"Kenapa kau nggak kau bunuh saja Haryono! " teriak mbah Banda keras.


"Dia belum mati mbah? "


"Kalau aku mati juga aku nggak akan datang menemui kamu! " teriak mbah Banda.


Yudha hanya diam ssja, ia mencerna apa yang dikatakan oleh mbah Banda, mbah Banda Banda benar benar mendidih darahnya saat tahu kalau Haryono belum mati, ia mempunyai dendam kesumat ingin membunuhnya tapi selalu gagal dan gagal saja. Haryono adalah satu anak buahnya yang mengikuti pemujaan pesugihan kera tapi mbah Banda sangat membencinya kerena Haryono berusaha melepaskan pesugihan itu! dan mbah Banda berusaha supaya Haryono tidak melepaskannya tapi mbah Banda harus menelan pil pahit kerena Haryono benar benar bisa melepaskan semuanya itu! Tanpa proses ritual panjang dan itu yang membuat mbah Banda berusaha membunuh Haryono!


Dan mbak Banda tertawa lepas saat tahu Yudha memeliki dendam kesumat dengan Haryono, jadi ia mengatur semuanya untuk membunih Haryono, sampai suatu malam ia mendengar kalau Yudha mengkerahkan anak buahnya untuk membunuh Haryono tapi gagal. Haryono belum tewas.


"Ritual kan anak gadisnya! " gelagar mbah Banda menatap wajah Yudha.

__ADS_1


"Maksud mbah? "


"Pria itukan punya anak gadis, ritual'kan salah satu anak gadisnya! " ulang mbah Banda tajam suara nya menggelegar.


"Iya mbah, tapi saya juga butuh bantuan mbah? " Yudha takut takut.


"Rio lah yang bakal melakukan itu sama kamu? " lirih mbah Banda menatap wajah Yudha.


"Rio? Jadi Rio masuk pesugihan? " tanya Yudha terkejut.


Mbah Banda mengangguk, ia maklum sekali kalau Yudha terkejutnya mendengar kalau Rio telah masuk ke siluman kera.


" Sejak kapan? "


"Sudah lama, tapi ingat kamu pura pura nggak tahu kalau Rio sudah masuk pada si lukman kera!"


Tapi sejak kematian Ani mbah Banda maupun Haryono mendapatkan teror dari siluman kera yang meminta sarah manusia dan bayi yang baru lahir, ini yang membuat mbah Banda menjadi kelimpungan harus mencari darah ibu nifas, dan daging bayi yang baru lahir! maupun darah perawan! Sedangkan kalau ritualnya sukses mereka hanya butuh darah perawan saja yang habis di perkosa oleh orang yang menjalani ritual itu!


Flashback off.


"Jadi bapak ingin bunuh aku? Sekarang bapak juga ingin bunuh ibu Mutiara dan Ririn, perlu bapak tahu kalau ibu Mutiara dan aku sama saja!" teriak Raya terkejut mendengar cerita dari gurunya.


Ia tidak menyangka kalau gurunya menganut ilmu Kera. Pantas saja selama ini ia sering melihat siluman kera dimana mana tidak tahunya itu penyebabnya.


"Ray, bantu bapak untuk melepaskan semuanya, hanya kamu sebenarnya yang bisa melepaskan ritual ini dari tubuh bapak! " Rio memelas.

__ADS_1


Raya hanya menghindari saja, ia tidak mau membantu pak Rio kerena dengan adanya ritual itu Ani harus meninggalkan dunia! Itu yang membuat Raya tidak bisa membantu nya, ia tidak menyangka kalau semuanya ada hubungan dengan masalalu ayahnya Haryono. Tapi Raya tidak pernah membenci ayahnya, ia bersyukur kalau ayah ya lepas dari ilmu siluman kera yang jahat!


"Bapak akan bantu kamu kok! Bapak tahu dimana gubug mbah Banda kita bisa kesana mencarinya dan musnahkan mbah Banda! " kata Rio antusias.


Sejak kejadian Marni ia tahu kalau semuanya yang terjadi atas ulah mbah Banda dan dalam pencarian itulah ia tahu kalau ada Kyai yang bisa membantu memusnahkan semuanya yang berhubungan dengan ritual yang tidak masuk akal.


"Kalau aku nggak bisa? Lebih baik bapak cari orang lain yang bisa bapak minta bantuan, bukan saya! " tegas Raya menghindari.


"Ray, apa yang dikatakan pak Rio benar! Hanya kamu yang bisa menolong mereka! " kata Handi yang tiba tiba datang kembali.


Handi tidak datang sendirian tapi ia datang dengan pak Haryono dan ibu Widya, keduanya tidak menyadari kalau pak Haryono dan ibu Widya telah mendengarkan apa yang diceritakan oleh Rio pada Raya.


"Mama, ayah! " teriak Raya menghambur ke pelukan kedua orang tuanya.


Kedua orang tua itu langsung memeluk tubuh Raya dengan erat sekali, pak Haryono yang tidak menyangka kalau mata batin Raya terbuka hanya bisa menangis haru saja. Melihat pak Haryono datang dan memeluk tubuh Raya membuat pak Rio yang awalnya diam langsung beranjak dari duduknya.


"Pak, maafkan saya! " ujar pak Rio menatap pak Haryono.


Pak Haryono melirik Rio yang berada di sampingnya, ia langsung melepaskan pelukan dari tubuh putrinya, ia hanya menatap Rio dan mengangguk saja. Kerena tanpa Rio cerita juga ia sudah tahu apa yang menyebabkan Rio meminta maaf padanya, kerena pak Haryono tahu kalau Rio sudah kehilangan Marni. Tanpa canggung canggung pak Haryono langsung memeluk tubuh Rio dengan eratnya.


"Saya minta maaf juga kerena saya telah membuat kamu babak belur di sekolah! " kata pak Haryono lirih.


"Nggak saya yang minta maaf, wajar kalau bapak memukul saya, " koiah pak Rio terharu mendengar apa yang pak Haryono katakan.


"Pak! " gumam Rio sambil melepaskan pelukan pak Haryono ia langsung menatap wajah pak Haryono yang balik menatapnya tapi sebelum ia bicara matanya melirik Handi dan ibu Widya, sebenarnya pak Haryono tahu kalau pria hitam manis itu ingin bicara berdua saja.

__ADS_1


"Mereka sudah tahu semuanya. " kata pak Haryono mengerti apa yang dimaksud lirikan matanya Rio.


Mendengar itu Rio akhirnya mengerti apa yang dibicarakan oleh pak Haryono, kerena mereka akan bcara maka mereka mencari tempat yang nyaman. Akhirnya lima orang itu menuju teras ruangan guru yang ada lampunya, kelimanya akhirnya duduk di tempat masing masing, terlihat wajah Raya yang kusut sekali, begitu juga wajah Rio.*


__ADS_2