
Malam itu Raya dan Mutiara berniat untuk pulang kerena orang yang dicarinya juga sudah pulang, sebenarnya malam ini hanya ingin tau apa yang dilakukan oleh pria muda yang bernama Rio. Ya Raya mendengar kalau semuanya itu kerena pak Rio, tapi saat ia hendak menyelidik tapi orang itu telah pergi. Kerena ia sama sekali belum tahu apapun di lakukan oleh pak Rio datang ke perpustakaan tengah malam sangat mencurigakan sekali. Raya tidak tahu pak Rio pergi hanya untuk mengetahui kenapa harus Ani yang meninggal bukan Raya. Itu yang Raya tidak tahun sama sekali. Raya juga tidak tahu kalau malam ini Rio mendatangi mbah Karun, kalau misalkan Raya tahu pak Rio ke mbah Karun mungkin ia bakal mengikuti nya. Mungkin saja ia bakal tahu kalau bertemu dengan mbah Karun, tapi kerena tidak tahu maka Raya memutuskan untuk pulang dan melanjutkan pencarian nanti saja.
Ketika akan keluar gerbang sebelum ruangan guru, Mutiara yang mendengar suara yang terdengar keras di ruangan perpustakaan , seperti orang yang memukulkan benda keras ke benda keras yang menimbulkan suaranya sangat keras pula di telinganya, ia langsung berhenti untuk bisa memastikan kalau suara itu memang ada dan terdengar tapi Raya ragu kerena ibu Mutiara seperti tidak mendengarnya. Gadis itu langsung berlari menghampiri ibu Mutiara dan memegang tangannya.
"Kenapa?" tanya Ibu Mutiara heran.
"Ibu nggak mendengar? " ujar Raya bertanya pada ibu Mutiara. Wanita itu hanya mengelengkan kepalanya. Raya hanya menelan salivanya, melihat gelengan kepala ibu Mutiara.
Gadis itu langsung melepaskan tangan ibu Mutiara dari tangannya, tanpa banyak tanya ibu Mutiara melanjutkan jalanannya, sedangkan ia hanya berhenti menatap puggung ibu Mutiara yang berjalan menjauhi dirinya. Benar ia mendengar suara itu lagi yang sangat keras, seperti sebuah besi yang dipukulkan sama kayu atau yang lainnya. Raya langsung pergi meninggalkan tempat itu menuju bawah, tanpa sepengetahuan ibu Mutiara langsung berlari ke ruangan yang terdengar oleh dirinya. Ibu Mutiara yang tidak tahu Raya berlari, wanita itu melanjutkan jalanan menuju gerbang.
Raya langsung menuju ruang perpustakaan yang ada di bawah, suara terdengar saling saut menyaut ia takut terjadi sesuatu. Dan anehnya pintu perpustakaan terbuka lebar, Raya secara dia siam menyelusup masuk ke dalam perpustakaan yang gelap dan gulita hanya ada cahaya yang bias bias di luar. Biarpun gelap masih terlihat ada gerakan demi gerakan di depan matanya.
Disana ia melihat seorang pria tua yang sedang memotong sesuatu menjadi bongkahan kecil, ada cairan merah yang mengalir di lantai dekat pria itu, ia beberapa kali membuka matanya selebar lebarnya takut ia salah lihat yang ada di depan, tapi semuanya nyata dan bukan mimpi semata.
__ADS_1
Mata Raya terbelalak lebar sekali, melihat pemandangan yang tidak biasa. Ia beberapa kali. mengucek mata takut ada kesalahan matanya, tapi di hadapannya benar benar nyata sekali. Ia dengan jelas melihat seorang kakek tua yang sedang memakan beberapa bagian potongan tangan mungil yang masih terlihat jari jari kecilnya.
Darah segar mengalir dengan deras saat daging yang dimakan itu masuk ke mulut, tanpa rasa jijik sama sekali ia mwnjilat darah yang keluar dari mulutnya, decak nikmat terdengar dengan nikmatnya.
Raya benar benar bergidik kerena terdengar juga tulang tulang yang dimakan bersama daging yang penuh dengan darah, disana juga Raya melihat kepala bayi yang terpejam di lehernya terdapat banyak darah yang mengalir. Dan anehnya pria tua itu bukan merasakan kan jijik malah darah segar itu di minum seperti meminum air putih dari gelas.
Raya menahan mual yang ia rasakan di perutnya, melihat pemandangan yang tidak mestinya di depan matanya. Tanpa ragu pria itu dengan lahap memakan beberapa daging yang ada hadapannya.
Hahahaahaha
"Kek, kamu pinter telah mengelabui Rio, anak yang tidak tahu untung! " tiba-tiba seorang nenek tua muncul dari balik buku menghampiri kakek yang masih duduk diantara tumpukan buku. Tawa nenek itubsambil membawa sesuatu dintangnya, ketika Raya melihat itu ia merinding sebuah tubuh bayi yang terkulai lemas berada di tangan kiri si nenek sedangkan tangan kanan memegang kaki bayi tinggal sepotong
"Siapa lagi dong! Kakek Bada.
__ADS_1
Tawa keduanya begitu renyah sekali. Mereka tidak tahu kalau si balik salah satu rak buku ada Raya yang memperhatikannya, ia mendengar semuanya apa yang di bicarakan oleh kedua nya. Raya yang awalnya akan beranjak keluar dari perpustakaan akhirnya mwngurungkan dirinya dan berniat mengupingkan pembicaraan keduanya, Raya menyangka kalau keduanya adalah pasangan suami istri!
Dan gadis itu menyangka kalau nenek dan kakwk itu pasti ada hubungan dengan pak Rio, kerena ia tidak sengaja mendengar percakapan awal dari si nenek itu. ia berusaha tidak bergerak sama sekali hanya untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan tentang pak Rio. Sebenarnya hatinya ingat sama ibu Mutiara yang sama sekali tidak ia ajak untuk melihat yang ada di perpustakaan. Raya takut kalau ibu a Mutiara pasti mencarinya masih untuk kalau wanita itu tahu kalau Raya di perpustakaan .
Apa yang di khawatirkan oleh diri Raya memang benar, ketika ibu Mutiara sampai di pintu gerbang saat ia menoleh kebelakang wanita itu terkejutnya sekali tidak melihat Raya di belakangnya. Otomatis ia langsung ke dalam sekolah lagi untuk. mencari Raya yang menurutnya menghilang di sekitar lapangan. Ketika sampai disana ibu Mutiara menenggok kanan kiri, depan belakang tapi orang yang di carinya sama sekali belum di temukan.
"Ya Allah anak ini kemana sih! Maaa balik. lagi?" gerutu Mutiara agak kesal.
Mau tidak mau akhirnya ibi Mutiara langsung mencari Raya kemana mana, ia tidak menduga kalau Raya akan balik lagi. Tadi Raya mengajak pulang tapi sekarang anak itu malah menghilang? Sedangkan orang yang dicari oleh Mutiara hanya mendengarkan pembicara akan dari pasangan suami istri itu yang Raya duga untuk sementara.
Sedangkan Rio yang berada di rumah mbah Karun langsung meninggalkan gubug itu, dalam hatinya bertanya tanya apa maksud dari mbah Karun menyuruh dirinya pulang. Percuma ditanya juga pria tua itu tidak akan menjawab pertanyaannya. Pria muda itu bergegas berjalan menuju jalan yang tadi.
"Kamu harus pulang jangan sampai berhenti di tempat lain lagi, pulang! "
__ADS_1
Suara mbah Karun begitu jelas di telinga sampai membwkaa dalam hatinya. Malam yang terang benderang oleh cm cahaya dewi malam yang bersinar indah memberikan cahaya untuk di perjalanan Rio. *