
Namaku adalah Ryung Tran, Tahun ini berumur 19 tahun, aku adalah seorang pelajar.
Malam ini aku datang ke sebuah desa
bersama Guruku dengan sebuah minibus, terlihat seorang perempuan berbaju merah sedang menghentikan mobil di pinggir jalan.
Aku merasa sangat aneh, karena saat ini sudah menunjukkan pukul 23.00.
Disaat seperti ini, kenapa masih ada orang
mencari tumpangan ? Meski terlihat aneh, tetapi bisa menghasilkan uang tambahan kenapa tidak?
Aku baru saja mau memberhentikan mobil,
guru yang duduk tepat disebelah ku terbangun tiba-tiba dan menyuruhku agar tetap lanjutkan perjalanan.
Aku akhirnya tidak memberhentikan minibus
tersebut, dan minibus yang kami kendarai
akhirnya melewati perempuan berbaju merah
tersebut, dan aku tidak sabar untuk melihatnya terus-menerus.
Dia sangat cantik dan sangat menawan untuk
lihat.
Dia tetap berdiri disana dengan tatapan mata
tertuju padaku, bola matanya sangat hitam, sangat terang dang berkilau.
Dia melihatku yang tidak memberhentikan mobil, dia membuka mulut, yang pada akhirnya tidak mengatakan satu kata pun, dengan mata yang menatapku penuh kekesalan membuatku tidak kuasa menahan rasa takut.
Aku pun tidak mampu menahan perkataanku
“ Guru biarkan dia naik saja, kasihan perempuan itu yang sendirian di tengah malam seperti ini.”
Guru aku pun langsung melihat ke arah aku dan berkata dengan nada yang tinggi “ Aku bilang jangan ya jangan! jangan terlalu banyak bicara kamu, jika kamu masih banyak bicara dan membantah, besok kamu tidak perlu datang lagi kesini.”
Melihat Guru mulai emosi, aku pun tidak berani lagi untuk mengatakan apapun.
Tetapi dalam hati aku msih terus memikirkan
perempuan itu, dimana tatapan kesal darinya masih melekat dibenakku.
Aku berusaha melihatnya melalai spion minibus, tak disangka dia masih saja terlihat, dia masih berdiri dibelakang dengan senyuman kecil yang terihat tegas.
Aku melihat sejenak kecepatan minibus diatas 65km/jam dan sudah melewati desa tadi kenapa perempuan itu masih dibelakang.
Dalam seketika badanku bergetar, seluruh bulu kudukku mulai merinding, dan berkata “ Ini tidak mungkin!”
Saat aku melihat melalui spion minibus tidak ada perempuan itu lagi.
Minibus pun melaju dengan biasanya, beberapa menit kemudian aku sesekali melihat spion minibus lagi.
Dengan spontan membuatku berteriak!
Perempuan itu muncul kembali, dia masih berdiri dan menunggu di tepi jalan.
Melihat ku ketakutan, Guru aku bertanya ”Ryung ada apa?”
Wajahku langsung memucat, berkata dengan
suara yang bergetar “ Aku? Aku melihat
perempuan itu lagi."
Saat mendengar ucapanku, ekspresi guruku
langsung berubah, dengan panik berkata ” Jangan menoleh dan jangan lihat ke belakang lagi, cepat injak gas.”
Semua orang akan merasakan hal yang sama
jika menghadapi suasana menyetir dimalam hari seperti ini.
Setelah beberapa menit guruku menyuruh untuk memberhentikan minibus di bawah pohon yang sangat rindang.
__ADS_1
Aku pun tak tahu apa yang akan dilalukan oleh guruku. Setelah mobil di berhentikan guru menyuruhku untuk mematikan minibus.
Guruku menarik laci mobil dan mengambil 3
lilin merah dan memberiku perintah, Kamu diam didalam mobil dan jangan berbicara atau berteriak.
Aku pun hanya bisa mengangguk.
Guruku pun berjalan ke arah tengah jalan sambil membawah 3 lilin merah tersebut.
Pandangan mataku tertujuh terus pada arah kami datang, untuk memastikan perempuan tersebut. Saat ini jatungku masih berdetak dengan cepat dan merasa panik.
Sesampainya ditengah jalan, guruku memutar
arah lilin seolah-olah mencari arah.
Dia meletekan ketiga batang lilin di tengah jalan dan menyalakan lilin tersebut.
Sungguh aneh di tengah malam seperti ini ada tiga batang lilin merah yang dinyalakan di tengah jalan.
Aku rasa semua orang pasti pernah melihat hal seperti ini ketika mengendarai kendaraan pada malam hari.
Selesai menyalahkan lilin, Guruku langsung
kembali ke mobil.
Dia berkata padaku “ Jika sering mengemudikan mobil pada malam hari, pastikan jika bertemu hal-hal aneh jangan merasa takut, orang lain tidak menganggu kita dan kita juga tidak mengganggu mereka, Kamu lihat lilin yang aku nyalakan, ini adalah lilin penunjuk arah, bukan untuk kita tetapi untuk mereka, intinya untuk menunjukkan arah yang salah untuk mereka."
Aku hanya bisa mengangguk dengan wajah yang bengong.
Guruku mengangkat tangan dan melihat jamnya sambil bekata ” Dia akan berkelilin didekat lilin itu selama 10 menit, jika dia tidak menemukan arah dia akan pergi.“
Aku dan guruku dengan penasaran dan takut, tak hentinya melihat kearah lilin yang sedang dibakar itu.
Dalam hati aku berkata “ Jangan sampai lilin itu tertiup angin hingga padam.”
Jika benaran ditiup angin hingga padam, maka akibatnya sudah bisa dibayangkan.
Mungkin kali aku sedang beruntung karena
biasanya angin malam bertiup dengan kencang, entah kenapa hari ini ini tidak.
menerus
9 menit lagi.....
6 menit lagi.....
Sejauh ini perempuan itu belum kelihatan,
mungkin dia belum berhasil menemukan kami.
3 menit lagi.....
2 menit lagi.....
Akhirnya 10 menit pun berlalu.
Aku pun mendengar suara Guruku menghela nafas, hatiku yang panik dan jantungku yang berdebar kembali tenang dan sepertinya sudah aman.
Aku pun kembali menghidupkan mobil dan
melanjutkan perjalanan.
Meskipun Guruku bekata bahwa kami sudah
aman dan selamat dari perempuan itu, hatiku
tetap saja belum tenang, karena memikirkan
bagaiman jika dia muncul secara tiba-tiba.
Guruku saat itu berkata padaku “ Tugas ini
sungguh sangat sulit, ada pantangan yang harus kamu ingat, karena jika sampai salah maka menyesal bukanlah jalan terbaik. Ingat semua yang aku katakan padamu, jangan mengemudi pada tanggal 2 dan tanggal 10 saat musim sembayang dan hari hantu, Jika kamu melihat seseorang menyendiri di jalanan jangan berhenti, dan saat mengemudi jangan memanggil orang yang lagi bersamamu, Jika kedengaran akan ???"
Hatiku kembali tegang ” Bagaimana jika
__ADS_1
kedengaran ?
Guruku pun melihatku dan berkata dengan kesal padaku” Menurutmu ?
Jatungku berdetak dengan cepat, seingatku saat terbangun tadi dia langsung memanggil namaku. dengan wajah takut aku berkata “ Tadi guru memanggil namaku.”
Guruku tertawa dengan tidak percaya
“Bagaimana mungkin”
Dia memang memanggil namaku tadi, saat ini
ekspresi wajahnya berubah.
Mungkin dia perlahan kepikiran “Jika, jika aku benaran memanggil namamu?
Saat Guruku sedang berbicara, perempuan itu
tiba-tiba muncul di hadapan kami.
Saat itu mulutku sudah terbuka lebar dengan
keringat yang terus keluar dari dahi.
Guruku pun berkata” Jangan melihatnya, jangan lihat, anggap saja tidak melihat apa-apa, jangan kesana, jangan kesana!"
Aku langsung menginjak pedal gas
dengan secepat mungkin.
Mobil pun melaju hingga sangat jauh, saat itu
aku ketakutan hingga hampir menangis “Guru
bagaimana ini.”
Guruku tidak menjawab pertanyaanku sama
sekali dengan raut wajah yang tidak biasa dilihat.
Dia membuka laci dan mengambil sebatang
rokok dan menghisapnya, sambil berkata padaku “Bertahanlah hingga matahari muncul.”
Ini satu-satunya cara.
“Aku saja yang nyetir!”
Guruku langsung berpindah posisi denganku.
Aku ingin berkata, Guru kamu salah jaln tapi
tidak berani.
Dia sudah berpengalam, dia sudah melewati jalan ini berkali-kali jadi tidak mungkin salah. Dia terus mengemudikan mobil mengelilingi beberapa desa.
Ini lebih melelahkan dibandingkan dengan
berhenti di bawah pohon yang rindang itu, sambil memandang langit yang masih gelap.
Langit, cepatlah terang !
Asal mendengar suara ayam bekokok, maka kami sudah terselamatkan !
Tetapi saat ini masih menunjukkan puku 23:45, sekaliun langit terang dimusim panas, tapi bagaimanpun tetap harus menunggu hingga jam 4 atau 5.
Terhitung dari sekarang masih ada 4 jam lebih.
Setelah mobil berkeliling selama 2 jam lebih,
lampu indikator bahan bakar mulai menyala dan kami akan kehabisan bahan bakar.
Jantungku berdebar semakin kencang dan makin cepat.
Terlihat ekspresi kecewa di wajah Guruku,
habislah, saat ini waktu baru menunjukkan pukul 2:45, masih berjarak 1 jam lebih untuk
__ADS_1
menunggu hingga langit terang.