MISTERI JALANAN MALAM

MISTERI JALANAN MALAM
Foto Itu


__ADS_3

Mungkin sepatu yang lain ini.


Dalam buku Kakek Buta tercatat, bahwa sepatu jenis ini sangat cocok untuk memelihara hantu, dan seringkali ditemukan di berbagai tempat angker.


Tetapi bagaimana jika memang benar?.


Semua ini harus di pastikan, aku pun berkata "Tidak bisa, sekarang juga kita masuk, mungkin kita tidak akan melihat apa-apa jika datang saat pagi."


Pak Rio tahu yang aku katakan memang benar, tetapi dalam hati dia masih merasa sangat takut.


Dengan suara gugup dan wajah merah dia berkata "Atau, aku tunggu kamu di luar hutan saja?"


Aku menatapnya dengan ekspresi meremehkan, lalu berjalan sendiri ke dalam hutan.


Suasana sekitar sepi dan menakutkan.


Gelap gulita.


Hanya terdengar suara langkah kaki dan nafasku.


Baru berjalan sampai depan hutan, terasa angin yang bertiup kencang, suhu sekitar mulai turun.


Tetapi saat ini masih musim panas, berdiri didepan hutan saja sudah merasa dingin, hawa dan energi gelap di tempat ini jauh lebih pekat dibandingkan lahan peti di belakang desa kami, sepertinya banyak orang meninggal di dalam.


Aku pun merasa semakin panik, telapak tangan terus berkeringat.


Kemudian beberapa saat aku mulai memberanikan diri untuk masuk, mayat perempuan yang bergantung di atas pohon sudah tidak terlihat lagi, sepatu kecil di atas tanah juga sudah tidak disana.


Terdengar suara Pak Rio memanggilku dengan ketakutan "Ryung Chen."


Aku langsung beralik  badan, terlihat seutas benang terjatuh dari atas pohon, sungguh mengejutkan, sebelum aku sadar, benang itu langsung melingkari leherku.


Kekuatan benang yang melingkari leherku sangat besar.


Setelah terikat kuat dileherku, benang itu mulai menarik ku ke atas, aku sama sekali tidak bisa melepaskan diri, dalam sekejap aku tergantung di atas pohon.


Sama seperti mayat perempuan tadi.


Pak Rio berlari menghampiri aku dan berusaha menarikku, tetapi benang itu jauh lebih cepat, hanya angin yang tertangkap olehnya.


Aku ditarik hingga sangat tinggi.


Aku kesusahan bernafas, takut dan gelisah.


Dengan sekuat tenaga aku menarik benang yang terikat pada leherku, karena kaki yang tidak berpijak pada tanah, aku tidak bisa mengeluarkan tenaga maksimal.


Aku melihat sepatu itu di tanah, dengan cepat aku berteriak "Sepatu !!! sepatu !!"


Pak Rio tepat di bawah kakiku, dia melompat berkali-kali tetapi tetap tidak berhasil menggapai kakiku, mendengarku berteriak "Sepatu!, dia pun menundukkan kepala, entah sejak kapan kakinya bertambah sepasang sepatu merah yang bersih dan rapi.


Aku berteriak "Tendang!!! tendang!!!"


Begitu sepatu itu ditendang,


Benang yang mengikat leherku langsung putus dan aku langsung terjatuh ke bawah.


Pak Rio masih berdiri dibawahku, saat mendengar aku berteriak, semua terlambat, badanku menimpa badannya dan kami terjatuh bersama-sama.


Untung saja ada dia yang menjadi alas bagiku, jika tidak, maka aku sudah pasti akan celaka.


Bersamaan saat terjatuh ke tanah, aku mengangkat kepala melihat ke atas, benang itu tidak berhenti tertarik ke bawah, dan pada akhirnya menghilang di ujung pohon, pandanganku langsung mengarah ke sepasang sepatu itu.


Sepatu yang ditendang Pak Rio itu sudah tidak terlihat lagi.


Kami langsung bangkit dan melarikan diri.


Sungguh menakutkan.


Untung saja tidak ada yang mengejar kami.


Kami bersama-sama berlari hingga ke dalam mobil, perasaan tegang perlahan mulai mereda, kami saling bertatapan dengan wajah yang masing-masing sudah memucat.


Pak Rio berkata "Lalu sekarang harus bagaimana?"


Hutan itu terlalu menakutkan, aku hanya seseorang yang biasa, jika bukan karena Pak Rio mendatangiku, maka aku pasti sudah tergantung hingga mati di atas pohon.


Aku berkata "Kita pulang dulu saja."


Sesampainya di rumah, Pak Rio masih terlihat bengong, dia pergi ke kulkas dan mengambil dua kaleng bir dan menyodorkan satu kaleng kepadaku sambil berkata "Sungguh menakutkan, aku tidak pernah takut dengan peluru dari penjahat, tetapi baru saja aku keget hingga ingin pingsan."


Aku pun membuka tutup kaleng bir sambil memikirkan masalah sepatu itu.


Pak Rio berkata "Kenapa kamu tahu akan berguna jika sepatu itu ditendang?"


Sejujurnya aku juga tidak tahu, saat itu hanya merasa benang dan sepatu itu saling berkaitan.


Aku pun memaksa diri untuk tersenyum "Sungguh tidak menduga kamu adalah seorang yang baik hati", untung saja kamu ikut masuk, jika tidak, mungkin saat ini aku sudah menjadi hantu.


Pak Rio mengerutkan kening dan melihatku.

__ADS_1


Kami pun merundingkan rencana untuk kembali ke hutan besok pagi.


Saat tidur, aku terus membolak-balikkan badan di tikar tipis, bagaimanapun aku tidak bisa tertidur.


Teknik yang digunakan oleh ahli itu sungguh menakutkan, dengan kemampuan sepertiku saat ini, bisa saja dicelakai kapanpun dan dimanapun.


Aku harus menjadi lebih kuat.


Jika tidak, sekalipun menemukan Tuan Lee, maka sama saja dengan mencari mati.


Saat memikirkan ini, aku pun mengeluarkan buku dari Kakek Buta dan membacanya lagi.


Keesokkan harinya.


Pagi-pagi sekali telepon rumah berdering, itu adalah panggilan dari kantor polisi, yang mengatakan bahwa mayat perempuan yang ditembak Pak Rio kemarin telah dicuri oleh seseorang.


Aku pun langsung meminta Pak Rio untuk segera bergegas ke kantor.


Aku pun memeriksa luka di tangan Pak Rio, warna hitam di bekas luka itu sepertinya mulai pudar, aku berkata "Lumayan, mulai hari ini, kamu harus makan beras ketan 3 kali sehari."


Pak Rio pun hanya bisa mengangkukkan kepala.


Aku mengingatkan lagi "Minta rekanmu yaang terluka juga makan beras ketan."


Ini sedikit susah, belum tentu rekan-rekan Pak Rio mau memakannya, tetapi aku tidak bisa mengatur yang satu ini, biarkan Pak Rio saja yang memikirkan cara.


Pak Rio berkata "Ryung, ikutlah aku ke kantor polisi, aku berencana mengajak rekan-rekan ikut ke gunung barat, lebih ramai lebih baik, bisa saling menjaga."


Dua orang saja yang masuk memang terlalu berbahaya.


Sesampainya dikantor polisi, dengar-dengar Pak Hen sudah keluar dari rumah sakit, tetapi belum kelihatan datang kantor.


Pak Rio masuk ke dalam ruangan dan membawah sekelompok polisi untuk ikut berangkat, jumlahnya sekitar 10 orang.


Kami pun langsung masuk ke mobil polisi dan berangkat sambil membunyikan mobil sirene.


Sungguh terlihat bergengsi.


Aku duduk di paling depan sebelah setir, seketika aku merasa sangat hebat dan berwibawa.


Mobil polisi langsung melaju ke arah hutan rindang di Gunung Barat.


Pemandangan disini saat pagi hari berbeda sekali dengan saat malam hari, burung-burung berkicau dengan angin yang sepoi-sepoi bertiup pelan, sungguh membuat hati menjadi nyaman.


"Ayo masuk."


Hutan itu tidak terlalu besar, tidak berapa lama kami meriksa seisi hutan, kosong dan tidak ada apa-apa disana.


Pak Rio menghampiriku dan bertanya "Apakah sudah berpindah tempat?"


Aku mengangguk dan berkata "Mungkin saja."


Saat menembus masuk kemarin, sama dengan mengusik dan mengejutkan seisi hutan demi menghindari pemeriksaan, dalang di balik ini semua pasti sudah memindahkan hantu perempuan itu.


Tanah tempat kami menginjak terasa aneh.


Warnanya sangat hitam.


Aku mengambil sedikit tanah dan menciumnya, tidak tercium bauh tanah, sepertinya itu adalah karbon, aku mencoba menendangnya dengan kaki, terlihat kapur putih di bawahnya.


Aku dan Pak Rio spontan terkejut.


Kapur !!!


Aku berkata "Abu untuk menghindari kelembapan,kapur menghindari kebusukan, sepertinya ini digunakan untuk memelihara mayat."


Aku memejamkan mata, mengusap alis dengan jari tangan.


Terlihat cahaya hitam dari arah jauh, aku berjalan beberapa langkah dan kembali terlihat cahaya hitam terpancar dari dalam tanah.


Pak Rio bertanya "Bagaimana?"


Aku menunjuk posisi tempat yang memancarkan cahaya hitam "Disini, disini, dan disini, gali dan lihat ada apa di dalam sana."


Pak Rio menganggukkan kepala, sebelum berangkat kami sudah menduga orang itu menguburkan mayat disini, maka dari itu kami pun membawa beberapa cangkul dalam mobil.


Pak Rio dan polisi lainnya mulai menggali tempat itu.


Tanah itu tidak padat, mudah sekali digali, tiba-tiba cangkul Pak Rio seperti menabrak sesuatu, dia pun berjongkok dan menyingkirkan tanah-tanah untuk melihat benda apa itu.


Ternyata sebuah jari tangan yang hitam dan berongga, dilihat dari bentuknya, itu memeng sebuah jari tangan kecil !!!.


Pak Rio terkejut dan berteriak "Astaga!!!"


Dalam sekejap semua mata polisi tertuju pada Pak Rio, saat melihat jari tangan yang menonjol dari dalam tanah, semua tertawa lepas.


Bisa-bisanya seseorang Pak Rio yang pemberani kaget karena sebuah mayat.


Setelah digali semua.

__ADS_1


Terlihat sebuah mayat manusia yang sudah menghitam dan digerogoti, karena telah ditaburi karbon dan kapur, pihak rumah sakit pun kesulitan untuk  memeriksa lama waktu meninggal.


Dari bentuknya, itu kelihatan seperti badan seorang perempuan.


Dan bagian perut juga terlihat sedikit besar.


Sebelum meninggal, perempuan ini sedang mengandung.


Pak Rio ini pasti sedang mengandung.


Pak Rio sangat peka, dia langsung berkata padaku "Bagaimana ini, kenapa semua Ibu hamil, Ing mayat perempuan kemarin, dan yang satu ini."


Aku berkata "Gali juga dua titik yang kutunjuk tadi."


Sama seperti dugaan kami.


Juga ditemukan dua mayat di kedua titik yang lain, tingkat kebusukkannya tidak sama, keduannya sama-sama berjenis kelamin perempuan dan terlihat sedang mengandung.


Ini membuatku kepikiran dengan isi bab sebelumnya dalam buku itu.


Janin Hantu!!!


Jika memang benar, maka orang di balik ini sungguh tidak berperikemanusiaan, terbentuknya janin hantu biasanya pasti karena sebuah kecelakaan, tetapi dia malah sengaja membunuh ibu hamil untuk memelihara hantu.


Dipiki-pikir saja sudah merinding.


Tetapi, dilihat dari keadaan sementara, sepertinya dia belum berhasil sepenuhnya.


Pak Rio berkata "Bawah mayat-mayat ini pulang dan kita identifikadi identitasnya."


Hari ini cukup menakutkan tetapi tak berbahaya, Pak Rio tidak pulang dengan tangan kosong, karena dia sudah berjanji pada pimpinan bahwa dia akan pulang membawah hasil.


Untung saja kami berhasil menggali dan mendapatkan mayat itu.


Sesampainya di kantor kepolisian, dilakukan tes DNA, dan salah satu mayat perempuan sudah dikenali dengan cepat.


Sungguh kebetulan jika dipikir-pikir, ternyata itu adalah cucu perempuan nenek yang tinggal di depan rumah Pak Rio, Namanya Rany.


Karena Nenek tua itu melapor polisi, di dalam bagian penyelidikan kantor polisi pun sudah ada DNA Rany, maka dari itu bisa dikenali dengan sangat cepat.


Pak Rio sangat kebingungan, dia tidak tahu harus memberitahu kabar ini kepada Nenek Wan atau tidak.


Takutnya Nenek yang sudah berusia lanjut itu tidak kuat mendengarnya.


Kami pun sampai di depan rumah Nenek Wan dan mengetuk pintu, begitu melihat kami datang, dia langsung mempersilakan kami masuk.


Ditengah-tengah ruang tamu ada sebuah altar penyembahan dewa.


Patung dewa itu sangat aneh, aku tidak mampu mengenali siapa patung dewa itu, dia mengenakan pakaian merah dengan mata merah melotot, sungguh mengejutkan.


Penerangan dalam rumah sangat buruk, semua pintu dan jendela tertutup rapat, hingga gorden pun tidak dibuka.


Rasanya pagi hari dan malam hari sama saja.


Nenek Wan mempersilakan kami duduk, sambil berkata "Apakah sudah ada kabar tentang cucu perempuanku."


Pak Rio bingung hingga beberapa saat, kemudia menggelengkan kepala.


Nenek Wan menunjukkan ekspresi wajah sedih, matanya langsung memerah, dan berkata "Jangan bohongi aku Pak Rio, biasanya saat melihatku kamu pasti menghindar, kenapa kali ini datang dengan sendirinya."


Tak disangka Nenek Wan begitu peka soal ini.


Pak Rio juga tidak bisa menyembunyikannya lagi, dia pun menceritakan yang sebenarnya terjadi.


Setelah mendengarnya, Nenek Wan hampir saja pingsan, dia terus  menangis sambil memukul diri dia sendiri, sambil berkata dengan sangat tersiksa "Cucu perempuanku mati sia-sia."


Pak Rio berkata "Kami datang untuk menyelidiki kasus, kami akan menangkap pembunuhnya.


Nenek Wan berusaha mengendalikan diri dan berkata "Pak Rio, apayang ingin kamu tanyakan, semua yang kutahu pasti akan aku beritahu."


Pak Rio berkata "Sebelum menghilang, Rany sering bermain dengan siapa?"


Nenek Wan berkata "Aku tidak tahu teman-temannya, oh iya, aku ingat, saat keluar, dia sangat senang, katanya dia baru berpacaran dengan seorang laki-laki, wajahnya di penuhi senyuman berseri."


Saat Rany meninggal, dalam perutnya ditemukan janin.


Pak Rio berkata "Apakah kamu tahu siapa pacarnya?"


Nenek Wan berkata "Kalian tunggu sebentar, seingatku Rany pernah memberiku selembar foto dia bersama pacarnya, saat itu dia memperlihatkan dengan gembira, kemudian meletakkan dalam kamarnya."


Nenek Wan pun berjalan memasuki kamar Rany.


Tidak lama kemudian, dia keluar dengan membawah sebuah album buku.


Semua foto Rany ada di dalam, sungguh seorang gadis yang ceria.


Saat membolak-balikkan setiap lembar dalam album foto, Nenek Wan menghentikan gerakan tangan dan menunjukkan seorang laki-laki yang sedang berfoto bersama Rany, sembari berkata "Ini dia, pacar Rany."


Aku melihatnya, spontang terkejut hingga mata terbelalak.

__ADS_1


__ADS_2