MISTERI JALANAN MALAM

MISTERI JALANAN MALAM
Kebaikan


__ADS_3

Setelah meninggalkan rumah Kakek Mutto dan sesampainya di pohon rindang didepan desa, semua Ibu-ibu tadi sudah bubar dan sepanjang jalan terlihat sepi tanpa seorang pun.


 


Seolah-olah seperti seisi desa telah lenyap.


 Hanya saja, dirumah tua di samping gerbang desa, ada satu anak laki-laki kecil mengintip dan melihatku dari jendela dengan penuh penasaran, seolah-olah melihat yang hal aneh yang belum pernah ia lihat.


Aku tersenyum dan dia langsung terkejut lalu bersembunyi.


Sungguh menakutkan kah diriku ini?.


Sesampainya dirumah, Ayah dan Ibu tidak ada lagi, mereka sudah mengurusi persiapan pemakaman Guruku.


Sesuai dengan yang diungkapkan Kakek Mutto, aku harus meletakkan sepatu ini dengan mengarahkan ujung sepatu ini menghadap ranjang.


Tetapi aku malah tiba-tiba merasa gugup dan ragu.


Meskipun yang dikatakan Kakek Mutto masuk akal, tapi aku merasa ada yang tidak beres.


"Ryung"?


Terdengan suara Henry yang memanggilku, aku terkejut dan langsung meletakkan sepatu itu didepan ranjang dengan ujung sepatu tetap menghadap ranjang.


Herny pu berjalan masuk " Apa yang kamu lakukan"?


Aku segera menggunakan badanku untuk menutupi sepatu itu agar tidak terlihat.


Melihatku lemas dan wajah yang pucat, Henry bertanya dengan cemas " Kamu baik-baik saja kan"?


Aku kembali menggelengkan kepala.


Entah kenapa, aku sangat takut Henry melihat sepatu itu, Seolah-olah akan terjadi sesuatu yang menakutkan.


Henry tidak terlalu meperhatikan apa yang sedang aku lakukan, dia malah berkata dengan senang "Ryung, Angel sudah pulang."


Angel adalah Anak perempuan dari Guruku dan dia sedang kuliah di Kota Besar.


Dia adalah Bunga didesa kami, usianya 2 tahun lebih tua dariku, parasnya cantik, tubuhnya indah, sungguh membuat semua laki-laki tergiur.


Jika berhasil menikahi Angel, maka aku akan sangat senang.


Tetapi aku tahu ini terlalu berlebihan, merak indah yang sudah terbang ke kota besar seharusnya tidak akan kembali untuk hidup bersama-sama laki-laki miskin di desa.


Tetapi ada sesuatu yang membuatku sangat heran.


Meskipun aku belum pernah pergi ke Kota-kota besar yang jauh dari tempat tinggalku dan transportasi yang sangat sulit, harus naik kereta dan duduk hingga berjam-jam dan disambung lagi harus naik minibus.


Jika semuanya lancar, maka akan memakan waktu yang tidak lama untuk sampai.


Tapi kenapa baru pagi ini mendapatkan kabar bahwa Ayahnya telah meninggal, kenapa Angel sudah tiba sore ini?.

__ADS_1


Rumah Guruku yang sedang ada kedukaan, banyak orang yang mondar mandir, ditengah keramaian itu terdengar suara bertengkar, itu suara Angel, dan saat itu dia sedang bertengkar dengan kedua orang tua ku.


Dari jauh aku langsung berlari menghampiri dan berkata " Ada apa"?


Itu benaran Angel.


Dia sudah pulang !


Pertengkaran pun makin heboh, dia menunjukku dan berkata " Kebutulan kamu datang, katakanlah, apa kamu...apa kamu yang telah mencelakai Ayahku, kenapa Ayahku selama ini  baik-baik saja dan kenapa harus ada musibah setelah menerima kamu sebagai muridnya."


Aku spontan terbengong tanpa berkat-kata.


Kakek Mutto pernah berkata, semua ini karena aku telah memancing hantu perempuan itu dan Guruku pun terlibat, dengan kata lain, Guruku memang meninggal karena ulahku.


Paman Sun saat itu berada disana, dia adalah orang paling berkedudukan di desa ini, melihat situasi ini langsung berkata "Angel, kamu tenang dulu, meninggalnya Ayahmu murni karena sebuah kecelakan lalu lintas, bukan karena Ryung."


Wajah cantik Angel menjadi merah " Aku tahu, aku tahu, memang dia yang telah membuat Ayahku celaka."


Ibuku mulai panik " Hei anak muda, jangan memfitnah orang sembarangan, kamu bilang Ryung yang telah mencelakai Ayahmu,  apakah kamu punya bukti? jangan menuduh sembarangan tanpa bukti kamu!.


Angel berkata " Ada...., tentu saja ada " Tetapi dia tiba-tiba gugup dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya, dengan wajah merah " Yang penting Ayahku meninggal karena Dia !!!.


Paman Sun berkata " Masuklah, jangan buat keributan disini."


Ibuku memang mudah panik, mendengar Angel tidak henti menuduhku, emosinya langsung meluap " Anakku, ikut Ibu pulang.", Ibu menarik tanganku dan menyuruhku untuk pulang.


Paman Sun pun memanggil " Ibu Ryung."


Ibuku pun menghentikan langka kakinya.


Ibuku adalah orang yang berhati lembut, mendengar perkataan yag diucapkan Paman Sun, emosinya pun mulai redah.


Angel melihat kami dengan ekspresi yang tidak enak untuk dilihat langsung berbalik dan masuk kembali kerumah.


Angel adalah Seorang anak perempuan yang paling dewasa, dia bisa menerima keadaan dengan cepat, meskipun kematian Ayahnya memberi tekanan yang sangat besar, tetapi dia tidak mungkin terus menyalahkanku.


Setelah dibujuk oleh beberapa warga desa dan keluarganya, Ibuku baru membiarkan aku masuk kedalam rumah duka Guru.


Mereka sudah mencarikan orang-orang khusus untuk mengatur semua persiapan pemakaman, aku pun tidak perlu melakukan apapun.


Aku melihat seoraang Kakek yang buta tengah duduk dan sedang melipat orang-orangan dari kertas.


Orang yang melipat orang-orangan dari kertas ini selalu memanfaatkan kematian untuk mencari uang demi sesuap nasi.


Dan orang-orang seperti ini memiliki keharmonisan dalam keluarga, kebanyakaan dari mereka tidak memiliki keturunan, dan murid-murid yang dicarinya pun anak-anak jalanan yang sering berkeliaran.


Dan kebanyakan dari mereka memang memiliki keterbatasan.


Contohnya Kakek yang sedang Buta ini.


Pertama kali melihatnya, aku merasa orang-orangan yang dilipat dari kertas ini sangat sederhana dan sembarang, bahkan terlihat tidak memiliki ekspresi apapun, tetapi saat aku melihatnya lagi, perlahan terasa menakutkan, sungguh tidak berani melihatnya lagi.

__ADS_1


Aku panik hingga cepat berbalik badan.


Saat aku ingin pergi Kakek Buta itu berkata " Sudah berkerja begitu lama, apakah ada yang bisa dimakan?"


Sesuai dengan aturan dan tradisi, selain makan pagi, siang dam malam, perlu ditambahkan sekali lagi makanan saat sore hari, dan saat ini hari sudah mulai gelap, apakah keluarga duka melupkannya?.


Aku mengiyakan " Tunggu sebentar Kek, aku akan ambilkan makanan untukmu."


Kakek itu memerintah " Harus dua mangkok, 1 mangkok besar dan 1 mangkok kecil."


Keluarga Guruku mengundang juru masak dari desa kami, saat dia sedang mempersiapkan makan malam, aku pun bertanya, apakah orang-orang yang membantu disini belum makan sore?.


Juru masak berkata "Sudah."


Aku pun mengatakan bahwa Kakek itu memintah makanan yang satunya magkok besar, satunya lagi mangkok kecil.


Juru masak mengangguk, dia mengambilkan makanan dan memberi dua mangkok untukku, satunya berisi beras dan satunya lagi berisi ketan, keduanya masih mentah.


Aku melihatnya dengan kaget " Ini apa, semuanya masih mentah?"


Juru masak memintahku untuk mengantarkanya segera.


Aku berpikir dalam hati, memangnya ini yang orang itu maksud? Tanpa berpikir lama, aku pun langsung mengatarkan mangkok itu.


Kakek Buta itu tidak mengatakan apapun, dia menerima mangkok dariku dan meletakkanya di depan orang-orangan kertas itu, lalu mengambil beberapa batang dupa dari meja dan mengangkatnya di atas tempat menancap dupa.


Gerakan Kakek buta itu terlihat sangat cepat, sama sekali tidak menyerupai orang buta.


Setelah dupa itu berhasil dibakar, dia membagi dupa itu menjadi masing-masing tiga batang, lalu menancapkan pada mangkok yang berisi beras dan ketan, hingga terlihat sangat rapi.


Aku pernah melihat yang seperti ini.


Biasanya diletakkan disudut ruangan yang tidak mudah terlihat orang, selalu terlihat pada hari pertama dan diambil orang pada hari kedua.


Hanya saja aku tidak tahu apa tujuannya.


Setelah melakukan ini semua, dia pun kembali ke tempat duduknya dan lanjut berkerja.


Aku baru ingin balik badan, Kakek Buta itu bertanya " Tuan apakah kamu belum menikahkan?"


Aku pun menjawab "Belum Kek"


Kakek Buta itu pu berkata " Pantas saja kalo begitu."


Kakek Buta itu tidak bisa melihatku, jika dia bisa melihat maka dia akan tahu bahwa aku anak muda yang baru berusia 19 tahun, maka dia pasti tidak akan bertanya seperti itu, tetapi aku kepikiran kejadian dua hari lalu, sepertinya kata-kata Kakek Buta ini ingin menunjukkan sesuatu.


Aku pun langsung bertanya " Pantas apa?"


Kakek Buta tidak menjawab pertanyaanku, malah balik bertanya " Apakah keluarga ini percaya dengan namanya kebaikan?"


Aku mengangguk " Percaya."

__ADS_1


Kakek Buta itu berkata" Kalau begitu perbanyak kebaikan saja."


Memintaku untuk perbanyak kebaikan? Apa maksudnya, maksudnya hidupku tidak aka lama lagi?.


__ADS_2