MISTERI JALANAN MALAM

MISTERI JALANAN MALAM
Kucing Liar Dan Jimat


__ADS_3

Pheng !!!


Tiba-tiba terdengar suara yang sangat mendengung.


Semua mata berpindah dari badan kucing ke peti mati, suara itu berasal dari dalam peti.


Tidak mungkin.


Sekujur tubuhku merinding, semua bulu kudukku mulai berdiri.


Pheng !!! Pheng !!!


Suara itu terdengar lagi.


Seperti seseorang sedang memukul peti dan ingin membuka tutup peti itu.


Peti itu perlahan mulai bergoyang dan semakin lama semakin kuat, terdengar bunyi, Pheng !!! Pheng !!! Pheng !!! yang sangat menusuk telinga.


Semua orang kaget hingga terus berjalan mundur, semua mempertahankan jarak 5 meter dari peti itu.


Bersamaan dengan ini, angin pun bertiup semakin kencang, pohon-pohon melambai dengan kuat.


Suasana menjadi semakin menakutkan.


Tiba-tiba terdengar suara mantra, terlihat Tuan Lee melompat ke tengah dengan memegangi pedang kayu, dia berjalan mengelilingi peti sambil mengibaskan pedang itu dengan gerakan kaki yang unik dan mulut yang terus berkomat kamit.


Peti itu bergoyang dengan semakin hebat, seolah-olah sesuatu akan segera melompat keluar.


Saat Tuan Lee menghentikan pembacaan mantranya, dia tiba-tiba mengeluarkan selembar jimat berwarna merah dan menempelnya di atas peti.


Peti itu seperti anak kecil yang sedang memberontak dan tiba-tiba terdiam, sedikitpun tidak bergerak.


Tuan Lee berkata dengan suara keras "Ayo jalan, jangan buang waktu lagi."

__ADS_1


Tim pemakaman dan orang yang mengangkut peti pun kembali berjalan.


Dengan hati yang masih takut aku pun ikut dalam rombongan, Kakek Buta mencariku dan berkata "Mungkin Gurumu telah bagkit, dia tidak boleh dimakamkan atau masalah akan semakin besar."


Aku juga merasa ada yang tidak beres.


Sepertinya jimat milik Tuan Lee memang berhasil menghentikan dan membuat mayat Guru kembali tenang, tetapi ini semua hanya bersifat sementara.


Aku pernah membaca di buku Kakek Buta dan tahu jimat itu memiliki sebuah batas waktu.


Sehebat apapun orang yang mengeluarkan jimat, tetap saja efeknya akan berakhir pada waktu tertentu, tergantung dari amal dan keahliaannya.


Artinya, pelan atau cepat jimat ini akan kehilangan reaksinya, saat itu tiba, maka mayat akan memecahkan peti dan keluar, akibatnya sungguh tidak terbayang.


Saat ini Tuan Lee bersikeras memakamkan Guru, sama saja dengan menguburkan akar masalah untuk masa depan.


Aku tahu Kakek Buta mengatakan ini padaku agar aku bisa membicarakan semua ini ke Angel, lagipula Angel adalah Tuan rumah yang sesungguhnya, jika semua karena permintaan dia, maka Tuan Lee tidak bisa berkata-kata lagi.


Aku mencari Angel dan membicarakan masalah ini dengannya.


Aku mendapat serangan balik hingga aku tak mampu berkata-kata.


Tidak hanya diriku, Kakek Buta yang mendengar ucapan Tuan Lee juga mengalami hal yang sama denganku.


Tuan Lee melihat ke arah kami "Jika tidak bisa menjawab, maka jangan terlalu banyak bicara, ayo jalan."


Sesampainya dihutan kecil yang sudah ditetapkan oleh Tuan Lee, sebagian orang tidak berani masuk karena di dalam sana adalah lahan peti, mudah sekali membuat orang terkena penyakit apa lagi pada malam hari seperti ini.


Orang-oraang yang memikul peti saja harus masuk, diikuti Tuan Lee dan Keluarga inti.


Guru tidak memiliki seorang anak laki-laki, maka sebagai murid Guru yang dekat dengannya aku pun ikut masuk dan kali ini Angel tidak melarangku.


Baru saja memasuki hutan kecil itu, sebuah tenaga yang aneh menarikku dengan kuat, aku bisa merasakan sebuah tangan dingin menari bajuku hingga hampir robek.

__ADS_1


Shaaaa !!!


Benar sekali yang kukatakan, bajuku sungguh ditarik hingga berlubang, aku berbalik badan dan ingin segera berteriak, tetapi tidak seorangpun disana, aku pun terkejut dan berlari memasuki hutan kecil itu dengan cepat.


Hawa-hawa dingin itu tidak mengikutiku lagi, dia seperti takut dengan hutan kecil itu.


Aku terburu-buru berlari hingga ke samping Angel dan Tuan Lee.


Melihatku ketakutan, Tuan Lee langsung tersenyum sinis, hingga Angel pun menunjukkan ekspresi meremehkanku.


Semua itu sungguh membuatku tidak senang, ketakutan yang tadinya ada langsung berubah menjadi rasa kesal.


Aku berdiri tegak dan berpura-pura tetap tenang.


Aku melihat Tuan Lee dan Angel berdiri dengan jarak yang sangat dekat, hingga badan mereka saling bersentuhan.


Bisa dimaklumi jika Angel sepeti itu karena ketakutan, tetapi sesuai dengan pengamatanku, saat pagi hari mereka juga sering berdekatan, semua ini membuatku merasa bahwa hubungan keduanya sangat dekat, tidak terlihat seperti pelanggan.


Tuan Lee berkata "Jika kamu takut, maka keluarlah dan berdiri dengan mereka diluar."


Angel pun ikut berkata "Benar, Tidak ada yang memaksamu untuk tetap disini."


Aku sungguh sangat kesal.


Angel adalah teman mainku sejak kecil, hubungan kami sangat dekat, tetapi semenjak dia pergi ke kota selama 2 tahun ini, dia berubah total, tidak hanya menjauh dariku, bahkan seringkali menentangku, seolah-olah sangat meremehkanku.


Aku menegakkan dada dan berkata "Yang benar saja, aku takut ? Aku sudah pernah mengatakan untuk menemani dan mengatarkan Guru, maka aku harus menepati semua itu."


Tuan Lee tertawa dingin "Kalau begitu kamu ikut saja."


Gunung itu dipenuhi dengan banyak pohon dan rumput liar, hingga tempat untuk meletakkan peti Guru saja susah untuk ditemui.


Pada akhirnya peti Guru diletakkan dengan jarak 25 meter dari titik makamnya.

__ADS_1


Entah karena Tuan Lee sengaja atau tidak, aku disuruh menjaga peti seorang diri dan mereka pergi menggali liang kubur dengan membawa cangkul.


Pada dasarnya aku tentu tidak berani, tetapi ekspresi remeh pada mata Tuan Lee dan Angel membuatku sangat tidak nyaman, aku pun berkata dengan santai "Jaga ya jaga, apa susahnya."


__ADS_2