MISTERI JALANAN MALAM

MISTERI JALANAN MALAM
Memanggil Arwah


__ADS_3

Orang-orang desa yang mendengar kabar bahwa Guru akan dimakamkan lebih awal pun menutup pintu dan jendela dengan rapat, karena takut sesuatu yang buruk akan terjadi.


Langit baru saja gelap, desa itu sudah dipenuhi hawa menankutkan.


Aku dan Kakek Buta pun berjalan hingga sampai ke tepi sungai Musi.


Sungai itu tidaklah lebar, lebarnya hanya 7 hingga 8 meter dan jembatan yang melintang di atasnya terbuat dari bebatuan.


Aku membawah 4 lilin dan meletakkannya di 4 sudut, kemudian menyalakannya dengaan korek yang sudah disiapkan.


Api lilin menyala di tengah kegelapan malam itu, terlihat menyerupai 4 buah iblis jahat yang terus menari-nari.


Inilah lampu petunjuk jalan yang sesungguhnya.


Kakek Buta berkata "Lilin merah ya, jangan sampai salah ambil."


Warna merah dan putih saling bertentangan.


Aku berkata " Benar kok, ini lilin merah."


Selanjutnya, aku meletakkan sebuah tempat Dupa di tengah jembatan dan membakar sebatang dupa dan menancapkannya dengan penuh hormat.


Tanpa lupa membacakan mantra yang baru saja di ajarkan oleh Kakek Buta.


Setelah membacanya, aku pun lupa dengan apa yang telah ku pelajari dari kakek Buta tadi.


Karena takut salah membacakan mantra tersebut, aku pun bertanya pada Kakek Buta "Apakah sudah benar mantranya?"


Kakek Buta pun menunjukkan senyuman di wajah yang gelap itu "Masih ingat dengan apa yang kamu bacakaan?"


Aku menggelengkan kepala, sungguh tidak ingat apa-apa lagi.


Kakek Buta berkata "Lupa semuanya?"


Aku berusaha untuk memikirkannya kembali, saat Kakek Buta mengajariku, aku mengingatnya dengan sangat jelas, saat membacakannya, masih terbayang samar-samar dan saat ini malah sudah hilang semuanya.

__ADS_1


Sial, kenapa aku tidak ingat sedikitpun.


Aku berkata dengan kaget "Kenapa bisa begini."


Kakek Buta berkata " Lebih baik kamu bacakaan sekali lagi"


Aku bilang bahwa aku sudah melupakan semuanya, bagaimana mungkin aku bisa membacakan lagi. Tetapi aku harus tetap menuruti kata Kakek Buta.


Aneh juga rasanya, saat menghadap tempat Dupa, aku mampu mengucapakkannya dengan sangat lancar.


Saat mengucapkan mantra itu aku berpikir dengan tenang, jangan sampai aku lupa lagi dan hebatnya semua itu terlintas dengan jelas.


Tanpa sadar mantra itu pun aku mengucapkannya hingga selesai.


Baru saja selesai mengucapkan, aku bertanya dengan tidak percaya "Aku, aku berhasil mengucapkannya?"


Kakek Buta mengangguk dan berkata " Ternyata kamu sudah tersambung dengan dunia arwah."


Kakek Buta berlanjut berkata "Semua bidang ada ahlinya, menyanyi perlu pita suara yang bagus, olahraga perlu badan yang kuat dan untuk bidang seperti kami ini bisa terhubung ke dunia arwah adalah keahlian terbaik, selesaikan dulu tugasmu dan akan aku ceritakan jika ada waktu."


Jika bukan karena belakangan ini telah memancing hal-hal yang tidak bersih, aku pun malas menanyakannya, hingga terlihat seperti aku sangat penasaran.


Tadinya Kakek Buta juga memintaaku menyiapkan seekor kambing bakar, tetapi aku tidak memiliki uang untuk membeli kambing bakar, maka aku menggantinya dengan seekor ayam betina, konon katanya jika menggunakan ayam jantan di dalam tubuh ayam tersebut tersimpan energi yang menentang dan hanya ayam betina yaang diperbolehkan.


Ayam betina adalah sumber telur bagi orang-orang, harganya tidaklah murah.


Hingga pada akhirnya aku mencuri ayam betina dari rumah sendiri, jika sampai ketahuan Ibu, maka entah hukuman apa yang akan ku tanggung.


Aku meletakkan ayam betina yang sudah dibakar hingga memancarkan sinar yang berkilau di depan tempat Dupa.


Setelah semua selesai diselesaikan, aku pun berlari kembali ke samping Kakek Buta.


Dia berkata "Baiklah sekarang mulailah memanggilnya."


Aku bertanya" Bagaimana cara memanggilnya?"

__ADS_1


Kakek Buta pun menjawab "Kamu belum pernah mendengar orang memanggil arwah? Mayat yang tenggelam di sungai dan tidak ditemukan atau yang meninggal di luar daerah semua itu harus dilakukan dengan pemanggilan arwah."


Mendengaar perkataan Kakek Buta, aku seperti pernah mendengarnya, langsung aku mencoba memanggil "Kembalilah Guruku, kembalilah !!!.


Kakek Buta berkata "Harus panggil namanya, hanya panggil Guru saja dia tidak akan sadar."


Guruku bernama Anto Zee"


Aku pun memanggil lagi " Pulanglah, Anto Zee....!!!.


"Pulanglah !!!"


Anto Zee.....


Suara panggilan itu terdengar menggema dalam malam yang sunyi, meskipun itu suaraku sendiri, aku tetap saja merasa sedikit ketakutan.


"Kembalilah !!!"


"Anto Zee !!!"


Angin malam terus bertiup, hingga membuat lilin-lilin di keempat sisi itu terus bergoyang.


Kakek Buta berkata " Terbarkan sedikit uang logam."


Aku pun mengeluarkan segenggam uang logam dari kantong plastik dan menebarkannya dari ketinggian sambil memanggil "Pulanglah Anto Zee, Pulanglah Anto Zee !!!"


Bagi kami, ini hanyalah uang yang terbuat dari logam biasa, tetapi bagi orang yang telah meninggal, semua ini adalah uang asli yang sungguh bernilai.


Memanggil arwah memerlukan waktu selama 15 menit. Setelah lewat dari waktu itu, maka bisa dikatakan semuanya tidak berhasil, aku sudah memanggil selama 25 menit, tetap saja tidak melihat sosok Guru kembali.


Kakek Buta berkata "Sepertinya Guru kamu tidak mau kembali atau mungkin dia tidak bisa kembali."


Saat kepergian Guru akan menjadi hantu gentayangan dan hidup sengsara, aku pun merasa sangat gelisah "Kenapa bisa begini, kenapa Guruku tidak kembali"?


Kakek Buta berkata "Kemungkinan besar dia ingin kembali, tetapi tidak bisa."

__ADS_1


Saat ini terdengar suara alat musik Suona (Meyerupai terompet) dari dalam desa, kemudian diiringi dengan suara tangisan orang-orang.


__ADS_2