
Bos pemilik toko berkata "Kamu seorang anak muda tidak mengerti apa-apa, ini namanya "Lampu Api Manusia", tidak ada gunanya menjelaskan padamu."
"Lampu Api Manusia?"
Aku pernah membacanya di buku Kakek Buta.
Katanya manusia memiliki tiga api, satu di atas kepala dan duanya lagi berada di sisi kiri dan kanan bahu manusia.
Iblis jahat akan sangat takut dengan lampu ini.
Aku berkata "Kamu pasti bohong, ini sungguh Lampu Api Manusia?"
Saat sadar aku tahu tentang Lampu Api Manusia, Bos pemilik toko pun mengubah pandangannya terhadapku, sambil berkata "Tak disangka kamu juga tahu soal "Lampu Api Manusia", kalau begitu harusnya kamu tahu betapa besar pengobanan untuk membuat lilin atau Lampu Api Manusia."
Dalam buku Kakek Buta hanya menyinggungnya sekilas, tidak menjelaskan cara pembuatannya.
Tetapi sesuai perkataan Bos pemilik toko, seharusnya memerlukan pengorbanan dan biaya yang sangat besar.
Aku berkata "Bos aku sungguh tidak sengaja."
Bos Pemilik toko berkata "Sudalah, yang tidak tahu tidak akan bersalah, aku juga salah, sudah mengagetkanmu."
Ada benda sebagus itu di tokonya, mana mungkin aku lepaskan begitu saja.
Aku pun memohon pada Bos pemilik toko untuk menjualkan sebatang untukku, tetapi dia bersikeras tidak mau menjualnya, aku pun memilih untuk terus di tokonya dan enggan untuk pergi.
Bos pemilik toko pun tidak berdaya dibuat olehku, pada akhirnya pun dia memberikaan lilin yang terjatuh tadi kepadaku.
Bos pemilik toko berkata "Lilin yang patah susah dinyalakan dari pada lilin yang biasa dan seperti yang kamu tahu, jika tidak perlu, maka jangan digunakan."
Aku pun mnegambil koran dan membungkus lilin itu, dan memasukkannya ke dalam saku celana.
Bos pemilik toko sungguh terganggu olehku, dan berkata "Ambil barangmu dan cepatlah pergi dari sini, cepat pergi."
Aku pun diusir keluar dari tokonya.
Tangan kiriku memegang peti kecil dan tangan kananku memegang lampion biru.
Peti kecil itu tidak menjadi masalah.
__ADS_1
Tetapi yang menjadi masalah adalah lampion biru karena susah untuk dibawah, dan lampion itu pun tidak berguna, lilin di dalamnya terbuat dari kayu, tidak mungkin bisa dinyalakan.
Aku pun melihat sebuah tong sampah yang tidak jauh dari sekitarku.
Aku menghampiri tong sampah tersebut dan melempar lampion biru yang sedang aku bawah, lampion itu terjatuh tepat di dalam tong sampah.
Aku pun pergi ke toko lilin untuk membeli lilin koin emas.
Sesuai dengan arahan Bos pemilik toko itu, aku pun berbelok ke arah kanan dan tidak lama kemudian aku melihat sebuah tangga menuju kuil.
Aku pun berjalan ke arah kuil, terlihat suasannya begitu ramai.
Terdapat banyak lapak-lapak yang menjual lilin koin emas dan lapak untuk meramal pun begitu banyak.
Aku membeli lilin, kertas kuning dan tali merah.
Selain itu, beras kentan, arak putih dan cermin yang harus aku beli di supermarket.
Setelah semuanya lengkap dan sampai dirumah, hari sudah siang, aku pun mengambil sebuah tempat dari dapur dan merendam arak putih dan beras ketan di dalamnya.
Kemudian aku menggambar icon YingYang di cermin dengan menggunakan cinnabar, dan menggantungkannya di atas pintu.
Saat ini terdengar dering telepon di ruang tamu, itu adalah panggilan dari Pak Rio.
Pak Rio berkata "Ryung bukankah kamu memintaku untuk memeriksa data Angel? Dia memang kuliah di Universitas X, tetapi setelah itu dia dikeluarkan."
Aku berkata dengan terkejut "Dikeluarkan, kenapa?"
Pak Rio berkata "Aku juga tidak tahu, setelah dikeluarkan dari Universitas, dia datang ke sebuah kota dan berkerja di perusahaan tenun."
Tentu saja, setelah dikeluarkan, dia tidak berani pulang ke kampung halaman karena malu, makanya dia mencari perkerjaan.
Setelah mendapatkan informasi mengenai Angel, Aku dan Pak Rio pun mendatangi pabrik tempat Angel berkerja.
Ini adalah sebuah pabrik besar milik negara.
Aku dan pak Rio pun bertemu dengan ketua lapangannya, Pak Rio pun menunjukkan bukti identitas polisi dan kami pun menanyakan data diri Angel, saat mendengar kami ingin bertanya mengenai data Angel yang sudah masuk bekerja selama 2 tahun yang lalu.
Ekspresi wajah ketua lapangan berubah.
__ADS_1
Dia berkata "Semua data lama ada di kantor lama, tempat itu sudah terlantar."
Pak Rio berkata "Yang penting datanya masih ada."
Ketua lapangan berkata dengan kesusahan "Bukannya aku tidak bersedia, tetapi...,tetapi kantor lama itu sudah sangat angker, ada hantu disana."
Aku dan Pak Rio saling bertatapan "Ada hantu?"
Setelah beberapa menit kemudian, kami memutuskan untuk pergi ke kantor lama tersebut.
Kantor itu terlihat sudah sangat tua dan terlantar selama bertahun-tahun.
Pak Rio berkata "Jadi ada hantu di gedung ini?"
Orang ini berkata dengan lidah yang kaku dan gemetaran.
Sejujurnya, dalam hati aku juga merasa takut.
Aku pun memejemkan mata, padanganku seketika menjadi gelap, aku mulai mengusap alis dengan jari tangan, dalam gedung yang gelap itu tidak terlihat apapun yang aneh, dan tidak ada energi buruk yang berkumpul disana.
Sebaliknya, energi buruk berkumpul dibalik belakang gedung.
Aku berkata "Ayo masuk."
Terasa hawa-hawa dan bau busuk yang menyengat, disertai dengan suara tikus yang yang terus berjalan di sudut-sudut ruangan, barang-barang di dalam kantor sangat berantakan dan di penuh dengan jaring laba-laba.
Sesuai arahan dari ketua lapangan, kami pun sampai di ruangan penyimpanan dokumen.
Karyawan pengurus dokumen waktu itu pasti orang yang sangat teliti, dia mengelompokkan semua dokumen dengan rapi sesuai dengan tahunya.
Tidak begitu lama, kami pun menemukan data Angel.
Halaman pertama adalah identitas dirinya, bagian kanan atas adalah fotonya, fotonya diambil disebuah tempat yang sangat gelap sehingga tidak telihat jelas wajahnya, hanya terlihat sebuah pancaran cahaya hijau secara samar-samar.
Aku pun terkejut, hari itu saat dirumah Kakek Mutto, foto peninggalannya juga memancarkan cahaya hijau.
Dalam hati timbul perasaan yang aneh.
Apa yang terjadi dengan Angel sebenarnya?.
__ADS_1