
Aku berencana pergi mencari Kakek Mutto.
Jelas-jelas jaketku diberikan kepada dia, tetapi mengapa pada akhirnya bisa Guruku yang memakainya?
Yang lebih aneh lagi sesuai dengan penyelidikan polisi, polisi mengatakan bahwa guru meninggal pada pukul 3.30, jelas-jelas saat ini aku masih bersama Guru diminibus.
Aku pun langsung ke minibus untuk mencari Kakek Mutto didesanya.
Terlihat beberapa Ibu-ibu didesa itu sedang bercanda ria di bawah pohon yang rindang yang sudah tua, saat mereka melihat aku anak muda yang masuk ke desa, mereka langsung tersenyum dan mulai berbicara sendiri.
Aku pun mulai mencari keberadaan Kakek Mutto "Permisi, apa didesa ini kakek tua yang bernama Kakek Mutto yang sering dijual kembang tahu?.
Seoraang Ibu yang sedang memakan kembang tahu tersenyum sambil berkata "Ada kok, ada masalah apa kamu dengan Kakek Mutto?
Aku langsung mengarang cerita agar Ibu-ibu bisa percaya dengan alasan "Aku menitipkan jaketku ke Kakek Mutto dan aku sudah janjian dengan dia untuk mengambil kembali jaketku hari ini."
Baru saja selesai berkata, tiba-tiba suasana menjadi hening, semua Ibu-ibu yang berada sekitar situ pun terdiam dan menatapku seperti melihat halus.
5 detik kemudian, ada seorang Ibu yang berkata "Anak muda ini pasti bercanda."
Kening mereka mulai berkeringat dengan ekspresi wajah yang tidak enak untuk dilihat ditambah kegelisahan dan ketakutan
Aku pun langsung bertanya dengan heran "Aku sungguh datang mencari Kakek Mutto"
Seoraang Ibu langsung berkata "Kamu tanyakan saja pada orang di dalam desa"
Setelah aku masuk ke desa dan bertanya pada warga sekitar aku akhirnya aku mendapatkan alamat Kakek Mutto.
Rumah Kakek Mutto ternyata jauh di bawah gunung, untuk mencapai tempat tinggalnya aku harus berjalan berjam-jam untuk tiba di rumahnya.
Aku saja sampai lelah berjalan di medan bebatuan seperti ini bagaimana seorang Kakek Tua seperti Kakek Mutto yang usianya kira-kira 85 tahun.
Dan jalan menuju rumah Kekek Mutto terlihat rumput-rumput yang tumbuh dan menjulang tinggi.
Dalam hati aku berpikir, apakah tidak ada pun seseorang yang pernah merawat tempat ini sehingga rumput- rumput ini tumbuh dimana-mana?
Akhirnya aku pun tiba dirumah Kakek Mutto, aku pun langsung mengetuk pintu Rumahnya.
"Apakah ada orang dalam?"
Aku memanggil dari luar
"Siapa?"
Kakek Mutto pun keluar dari Rumah.
"Kamu siapa, dan ada keperluan apa kamu dengan aku?
__ADS_1
Aku pun langsung berkata "Jadi begini Kek, tadi malam aku dan Guruku tersesat ditengah jalan dan Kakek yang menunjukkan kami jalan."
Kakek Mutto baru mengerti dan kepikiran tentang semuanya "Ternyata kamu, ayo masuk."
Entah karena di kaki gunung jadi rumah Kekek Mutto Jadi terasa sangat sejuk.
Saat masuk ke rumah Kakek Mutto, aku melihat sebuah meja persegi, diatasnya terletak sebuah foto orang yang telah meninggalkan dan sehelai kain putih menutupinya, di depan foto itu tertera sebuah minyak wangi dan terlihat 3 batang lilin merah.
Kakek Mutto mempersilakan aku duduk dikursi panjang didepan meja itu.
Saat aku ingin duduk tiba-tiba terdengar suara orang tertawa, aku pun langsung mengangkat kepala dan bertanya kepada Kakek Mutto "Apa Kakek mendengar suara orang tertawa?"
Kakek Mutto menggelengkan kepala "Tidak, Maksud kedatangan Kamu kesini untuk apa?"
Aku pun berkata "Waktu itu Guruku nemberimu jaket dan di dalam jaket itu adalah barang yang sangat penting yang aku lupa untuk keluarin saat itu."
Kakek Mutto berkata dengan canggung "Anak muda, sungguh aku minta maaf kepadamu, jaket itu telah hilang."
"Hilang! Bagaimana bisa?"
Kakek Mutto berkata "Tadi pagi saat aku menjual kembang tahu, aku sangat gerah, jadi aku melepaskannya begitu saja."
Dia menepuk kaki dengan kesal berkata "Tidak disangka, tidak disangka, jaket itu bisa hilang, biar aku ganti rugi saja atas kehilangan barang yang ada dijaket itu."
Aku langsung melambaikan tangan "Tidak apa-apa kek, kalau hilang ya sudah."
Tiba-tiba Kakek Mutto menatapku dan seolah-olah sedang membaca diriku.
Ekspresi wajah Kakek Mutto berubah menjadi tegas "Anak muda, dahimu terlihat sangat gelap, penuh dengan hawa buruk, apa kamu telah memacing sesuatu yang tidak bersih."
Aku pun kaget dengan apa yang disampaikan oleh Kakek Mutto.
Aku pun langsung menceritakan yang sebenarnya terjadi "Semalam tadi aku dan Guruku mendapatkan kejadian yang tidak pernah kami alami yaitu bertemu dengan hantu berbaju merah, dan kejadian yang paling menyedikan adalah kematian Guruku akibat ditabrak mobil."
Setelah mendengar ceritaku, Kakek Mutto berkata "Makanya sudah aku bilang, kenapa jaket itu bisa hilang tiba-tiba."
Dia menghela nafas dan berkata, "Anak muda, kamu harusnya tidak mengganggu hantu itu."
Aku merasa sangat bersalah, aku sama sekali tidak mengganggu hantu perempuan itu, hanya kebetulan bertemu dijalan, "Tidak, aku sama sekali tidak mengganggunya."
Kakek Mutto berkata "Tidak? Aku ingin bertanya, Apakah kamu memikirkanya?"
Wajahku langsung memerah.
Sejujurnya, saat pertama kali melihat perempuan itu, aku tertarik, tapi aku tahu jika dia hantu, maka aku pasti tidak tertarik.
Kakek Mutto pun berkata "Perempuan berbaju merah itu adalah hantu yang paling ditakuti semua orang, dia bisa saja menghabiskan semua warga di sini, salah satu contohnya adalah Guru kamu, mungkin hari ini kamu, nyawa kamu yang akan menjadi sasaran hantu itu."
__ADS_1
Mendengar kata nyawa! Aku pun kaget hingga jantungku ingin copot."
Kakek Mutto menepuk pundakku dan memberi isyarat kepadaku agar tidak gelisah, dia pun berkata "Target selanjutnya adalah dirimu dan Gurumu meninggal hanya karena terlibat denganmu."
Kata-kata Kakek Mutto membuatku semakin takut dan kakiku mulai terasaa dingin "Kakek Mutto bagaimana ini, Kamu harus membantuku."
Kakek Mutto memejamkan, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu
Setelah beberapa menit kemudian dia berkata "Hantu wanita berbaju merah itu mengikat dan mempersulitmu, jika kamu memikirkan dia terus-menerus, maka dia akan mencelakai kamu, jika kamu masih ingin tetap hidup, maka biarkan bahwa kamu tidak tertarik padanya."
Aku pun berkata dengan panik "Aku tidak tertarik dengannya sama sekali."
Kakek Mutto berkata "Tapi dia tidak tahu, kamu harus membuat dia tahu bahwa kamu tidak menyukai dia, aku tahu umur kamu belum dewasa dan sekarang kamu belum menikah."
Tentu saja aku belum menikah dan usiaku baru 19 tahun, bagaimana mungkin aku menikah.
Kakek Mutto berkata "Kalau begitu kamu harus menikah sebelum pukul 24.00 malam ini juga."
Aku terdiam sejenak, lalu berkata "Buru-buru sekali, kemana aku mencari perempuan untuk dinikahi."
Kakek Mutto tersenyum, senyumnya terlihat sangat aneh untuk dilihat, terlihat suram hingga membuatku takut, dia pun berkata "Bukan menikah seperti biasa, melainkan menikah dengah arwah."
"Apa arwah? Menikah dengan arwah?"
Kakek Mutto berkata "Benar menikah dengan arwah, kamu pikir-pikir saja, hantu berbaju merah adalah hantu, jika ingin membuat dia tahu apa kamu sudah menikah, maka kamu harus menikah dengan arwah."
Aku pikir-pikir apa yang dikatakan Kakek Mutto benar juga.
Tapi menikah dengan arwah itu sungguh terlihat sangat aneh.
Mendengarnya saja sudah membuatku kesulitan.
Kakek Mutto menatapku seperti menatap sebuah barang, dengan nada dingin dia berkata "Jika tidak menikah malam ini, maka kamu akan ditabrak mobil sampai meninggal."
Dalam benakku terbayang ekspressi wajah Guruku yang melihatku dengan seram, seketika itu aku kaget dan berkata "Menikah dengan arwah? Aku .... aku tidak tahu bagaimana caranya?.
Kakek Mutto melihat ke arah sudut yang tidak ada orang dan langsung berjalan kesebuah kamar.
Saat keluar, dia membahwa sepasang sepatu yang terlihat sangat unik.
Kakek Mutto berkata "Ini sepatu yang dipakai oleh wanita zaman dahulu, ini adalah barang yang sangat antik dan langka."
Kakek Mutto memberiku sepatu itu dan menyuruhku pulang, dengan nada yang halus dia berkata "Kamu harus pulang sekarang dan meletakkan sepatu ini menghadap ranjang, ingat ujung sepatu harus menghadap ranjang."
Aku bertanya dengan tidak mengerti apa maksud Kakek Mutto "Kenapa?"
__ADS_1
Kakek Mutto berkata dengan seram "Kamu belum pernah mendengarnya? Jika ujung sepatu menghadap ke ranjang, maka hantu akan naik ke atas ranjangmu."
Seketika itu sekujur tubuhku merinding dan merasakan ketakutan.