MISTERI JALANAN MALAM

MISTERI JALANAN MALAM
Musibah Besar


__ADS_3

"Guru, Lihatlah ?"


Di tanjakan depan kita ada seseorang Kakek Tua yang sedang mengayun sepeda roda tiga dengan susah payah.


Terlihat satu drum besar diatas sepedanya, terlihat sangat berat dan dari drum itu mengeluarkan asap, tiba-tiba tercium aroma kacang dari arah depan.


Ternyata aroma itu berasal dari orang-orang yang menjual kembang tahu disekitar.


Guruku sangat senang ketika melihat kakek tua itu sambil berkata padaku " Lepaskan jaketmu."


Jaket yang sedangku pakai adalah hadia dari Ibuku.


Aku pun langsung bertanya"Kenapa."


Guruku mengatakan dengan nada yang cukup tinggi " Aku bilang lepaskan ya lepaskan ! jangan banyak tanya kamu."


Meskipun sangat berat hati untuk memberikan, tapi apa boleh buat aku harus mengikuti kata-kata Guru.


Guruku memerintahkanku agar tetap berada dalam minibus, dia turun dari minibus dan membantu Kakek Tua dengan mendorong sepedanya, dan kakek tua itu pun segera berterima kasih.


Aku mendengar guru bertanya kepada kakek tua dengan sopan " Kakek, aku ingin bertanya jalan padamu, bagaimana caranya untuk ke Desa itu."


Aku sempat sangat kebingungan " Guru adalah seorang yang sudah berkali-kali lewat sini tapi malah dia tidak tahu ke desa kami."


Kakek Tua itu tersenyum sambil berkata " Sebagai seorang supir kenapa kamu tidak tahu jalan, kamu salah jalan, Desa itu berada disebelah barat sedangkan sekarang kamu berada ditimur."


Terlihat ekspresi malu dari Guruku, dia berkata " Terima kasih banyak Kek, aku sudah mengelilingi tempat ini berjam-jam, untuk ada Kakek yang menunjukkan kami arah jalan ke desa itu, kalo boleh tahu siapa nama Kakek?'


Kakek Tua itu berkata " Namaku adalah kakek Mutto"


Guru berkata "Kakek Mutto, pagi ini sangat dingin kenapa kamu tidak memakai jaket, bagaimana jika kamu masuk angin, orang tua seperti kamu tidak boleh sakit, uang dari menjual kembang tahu mungkin saja tidak cukup untuk biaya berobat.


Sambil Guru memberikan jaketku ke Kakek Tua itu.


Kakek Mutto melihat jaket yang masih baru dan menjulurkan tangan dan tiba-tiba berhenti dan tersenyum tidak enak " Ini, Ini tidak baik."


Guruku meletatkan jaketku pada tangannya dan berkata " Kamu sudah memunjukkan jalan kepadaku dan ini aku berikan sebagai tanda terima kasih."


Guruku pun kembali ke mobil, tanpa mengatakan apapun langsung menghidupkan mobil, dia tidak berkeliling lagi langsung menuju desa yang kami tujuh yaitu desa kami.

__ADS_1


Tangan yang memegang setir terlihat terus bergetar.


Aku kira dia takut, tetapi malah kedinginan akibat cuaca dipagi itu sangat dingin.


Sekalipun suhu malam awal musim panas tapi akan terasa dingin, tetapi tidak sampai sedingin ini juga, Aku yang hanya memakai kaos saja tidak merasakan dingin, bagaimana dengan guru yang memakai jaket.


Ekspresi wajahnya tiba-tiba memucat seperti cat putih.


Jika dipikir-pikir aneh juga.


Tak terasa setelah beberapa jam lalu akhirnya kami pun tiba didesa, terdengar suara ayam mulai berkokok , kami pun menghela nafas dan bersandar lega di kursi minibus.


Akhirnya langit mulai terang.


Aku membuka pintu mobil dan turun ke bawah dan bertanya pada guruku " Guru, kenapaa kamu berikan jaketku kepada Kakek Tua yang asing itu?"


Guru pun berkata " Ini adalah musibah besar, jangan ungkit soal ini, jangan ceritakan masalah ini ke siapapun dan yang terpenting jangan bicarakan soal jaket yang aku kasih ke Kakek Tua itu ke siapapun termasuk Ibu kamu.


Aku pun tidak mengerti kenapa Guruku mengatakan itu.


Dan aku pun bergegas pulang kerumah


Tiba-Tiba ada yang memanggilku.


Ryung !


Ryung !


Hari kedua (Tepatnya jam 4) aku terbangun dari tidur dengan setengah sadar, tiba-tiba temanku Henry  menarikku " Cepat bangun, ada musibah besar. "


Aku membalikkan badan dan berkata " Jangan ganggu aku, aku mau tidur sebentar lagi."


Henry berkata dengan panik "Sungguh ada musibah besar, Guru kamu meninggal akibat ditabrak mobil."


Otakku tiba-tiba ingin meledak, dengan cepat aku menarik kerah baju Henry "Apa yang kamu katakan barusan tentang guruku, guruku di tabrak mobil dan meninggal."


Henry mengangguk "Tepatnya di depan gerbang desa kita, Cepat ikut aku kesana."


Sungguh tidak masuk akal !

__ADS_1


Rumah Guruku terletak disudut desa, aku sendiri melihatnya selesai memarkikan mobil dang langsung berjalan ke arah rumahnya, bagaiman mungkin tiba-tiba tertabrak di depan gerbang desa.


Saat aku dan Henry tiba di puntu gerbang desa sudah dikerumuni banyak warga.


Terbaring sebuah mayat di depan jalan dengan darah yang masih segar yang terus mengalir.


Tercium bau darah disiang hari yang terik ini, dari bentuk badannya dan tingginya terlihat seperti Guruku, tapi kenapa malah Guruku mengenakan jaketku.


Apa jaketku !!!


Jelas-jelas tadi malam Guru memberikan jaketku kepada Kakek Tua itu, kenapa sekarang Guru yang memakainya.


Guruku meninggal dengan mengenaskan, kedua matanya melotot seperti baru saja melihat sesuatu.


Paman Sun berlajan ke arahnya dan menutup mata guruku dengan tangan " Anto, tenanglah dialam sana, orang desa akan membantu menjaga istri dan anak-anakmu."


Setelah Guruku meninggal, maka kekuatan keluarga mereka pasti akan goyah, semua orang tidak tega melihatnya.


Merasa Guru masih menatapku aku pun langsung berbalik dan melihatnya.


Saat aku melihatnya, aku pun kaget dan berteriak, mata Guru yang sudah tertutup tiba-tiba terbuka lagi.


Saat aku memberanikan diri untuk melihat lagi, ternyata mata Guru benar-benar sudah tertutup.


Paman Sun berkata " Mata terbuka saat meninggal berarti arwahnya belum tenang, Sepertinya Pak Anto punya masalah.


Pak Anto tidak mempunya anak laki-laki dan kamu Ryung sebagai murid kesayangannya kamu temani Gurumu sampai hari penguburan selesai.


Paman Sun pun menyuruh warga disekitar situ untuk mengambilkan kain putih untuk menutupi Guruku.


Ini adalah zaman hukum, masalah Pak Anto yang ditabrak hingga meninggal harus dilaporkan ke polisi, agar bisa terungkap semua masalah dari kejadian ini dan pelaku yang menabrak Pak Anto harus mempertanggung jawabkan semua ini.


Tidak lama kemudian polisi pun sampai, setelah melakukan penyelidikan, polisi menyatakan Pak Anto meninggal pada pukul 03.30.


Bagaimana mungkin !!!


Saat itu aku masih bersama Guru dan kami sampi didesa pukul 04.00 dan saat itu Guru masih sehat-sehat.


Kematian Guruku seperti kabut hitam tebal menyelimuti hatiku dan masih terbayang dalam benakku ini, seolah-olah mengingatkan sesuatu padaku, tetapi tidak mampu untuk dikatakan.

__ADS_1


__ADS_2