
Dia menutup mulut dengan tangan dan berkata dengan suara pelan "Hari itu, saat terjadi masalah dengan Gurumu, bukankah ada orang yang datang kemari dan menelponnya untuk memberitahukan kabar itu? Nah, menurut kamu kenapa bisa, kenapa di Universitas tersebut sama sekali tidak ada yang bernama Angel."
Saat mendengarnya, aku pun terkejut.
Saat Angel masuk ke Universitas, Guru sengaja mengadakan pesta dan menjamu semua orang di kuil depan rumahnya.
Aku ingat dengan sangat jelas, Angel memang Kuliah di Universitas itu.
Bagaimana bisa begini, kenapa bisa tidak ada orang bernama Angel di Universitas itu.
Ini memang sangat aneh.
Biasanya orang yang berkuliah pasti akan pulang saat liburan musim panas, Angel tidak hanya pulang di liburan musim panas, bahkan saat tahun baru pun dia tidak pulang, selama 2 tahun berturut-turut.
Jika bukan karena Ayahnya meninggal, mungkin dia juga tidak akan pernah pulang.
Setelah memberikan barang belanjaan kepada Kakek Buta, Aku berencana pulang sebentar ke rumah.
Meskipun dikatakan bahwa hantu tidak bisa naik ke ranjang Ayah Ibu, tetapi sepatu yang aku letakkan dalam rumah itu terus membuatku tidak tenang.
Agar tidak tejadi hal yang tidak diinginkan lebih baik aku meminta Kakek Buta untuk segera mengambil tindakan.
Sesampainya dirumah, Ayah sudah keluar, Ibu sedang memegang sebuah foto lama dan melihatnya, sambil sesekali tersenyum.
Melihatku pulang, Ibu langsung melambaikan tangan "Ryung, cepat kemarih dan lihat ini."
Dalam hati aku juga penasaran foto apa yang sedang dilihat Ibu, hingga membuatnya begitu senang.
Itu adalah selembar foto tua, warnanya sudah menguning, terlihat 2 orang laki-laki sedang bersama.
Salah satunya adalah Ayahku.
Satunya lagi adalah seorang laki-laki berkacamata yang terlihat sangat berwibawa, dia berbadan kokoh yang sedang memeluk seorang anak kecil yang berusia sekitar 3 atau 4 tahun.
Anak kecil itu memiliki kulit yang sangat putih, terlihat sangat menggemaskan.
__ADS_1
Ibu berkata "Inilah Paman Thio yang dimaksud yang dia gendong adalah Tya anaknya, lucu sekali kan, dia mirip sekali dengan anak luar negeri, saat ini pasti sudah tumbuh hingga menjadi anak perempuan yang cantik.
Aku berkata "Bu, Ayah sudah berkata, saat itu mereka hanya bercanda jangan di anggap serius."
Ibuku melotot dan berkata "Aduh, anak bodoh, kenapa kamu bodoh seperti ini, Paman Thio orang seperti apa, keluarganya sekaya apa, jika kamu menikahi putrinya, maka?? maka pasti akan sangat luar biasa."
Aku sama sekali tidak minat mendengar ini semua, aku langsung mengyingkapkan tirai dan masuk ke dalam kamar.
Sepatu itu dimana?.
Sudut ruangan itu kosong dan tidak ada apa-apa, orang-orangan kertas di atas ranjang pun tidak ada lagi. aku spontan berteriak dengn panik" Ibu....Bu???.
Ibuku berjalan masuk "Apa yang kamu teriakkan "
Aku panik hingga langsung menggenggam lengan Ibu "Sepatu itu, sepatu itu, sepatu yang aku letakkan di depan ranjangku, dimana???.
Ibu bertanya dengan heran "Sepatu? Sepatu apa, aku tidak melihatnya kok."
Aku berkata "Sepatu yang berwarna merah dan berukuran kecil yang dipakai oleh perempuan zaman dulu."
Pembicaraan ibu terhenti sejenak dan lanjut berkata "Oh ia, Mylo datang mencarimu."
Mylo adalah adik sepupuku, dia berumur 6 tahun, anak kecil yang suka dekat denganku.
Aku langsung terbengong, apakah sepatu itu di ambil oleh anak ingusan itu.
Ini tidak bisa dimainkan karena berhubungan langsung dengan nyawa.
Aku harus segera mengambilnya kembali.
Dengan terburu-buru, aku pun berlari keluar dan pergi mencari Mylo.
Ibuku berteriak melihatku pergi "Anakku, kamu belum makan."
Disaat seperti ini aku sudah tidak nafsu makan lagi, semakin lama sepatu itu tidak diambil kembali, maka semakin besar juga bahaya yang akan ditimbulkan.
__ADS_1
Pertama-tama aku mencari ke rumah, tetapi dia tidak ada disana.
Aku pun pergi ke tempat biasa Mylo bermain dan aku tidak menemukannya sama sekali.
Semua tempat yang sering ia jadikan tempat bermain sudah ku datangi semua tapi sama sekali tidak ada.
Bocah ini tetap saja tidak kelihatan.
Sekolah !
Hanya sekolah yang belum aku datangi, aku pun langsung berlari ke arah sekolah.
Sekolah di desa kami sudah terlantar beberapa tahun, 3 ruangan kumuh dan sebuah lapangan bertanah liat, meskipun begitu, anak-anak tetap saja senang bermain disana.
Bendera disekolahan terus berkibar, suara tertawa anak-anak kecil tertiup angin dan membuatku bisa mendengar "Kakak, lebih tinggi lagi, lebih tinggi lagi, hahaha ??"
Sungguh ada orang !
Aku menpercepat lariku.
Seorang anak kecil sedang bermain ayunan di lapangan yang sangat luas.
Anak kecil itu memakai baju hitam dengan rambut yang digunting hingga hampir botak, ayunan itu perlahan semakin tinggi, anak kecil itu terus tertawa senang, siapa lagi kalau bukan adikku Mylo.
Aku pun laangsung memanggilnya " Mylo!"
Suara tawa anak itu langsung terhenti, lapangan yang luas pun kembali dilanda keheningan.
Tidak ada orang lain disana, Mylo bermain dengan siapa, dia turun dari ayunan, melihatku dengan tegang, aku pun bertanya " Kamu bawah sepatu kecilku kemana?"
Anak kecil itu berkata dengan gugup " Aku memberikannya pada kakak "
Kakak???.
Aku bertanya " Kakak yang mana???.
__ADS_1
Anak kecil itu berbalik badan dan menunjuk ke sebuah pohon di tepi lapangan dan berkata " Kakak yang itu."