MISTERI JALANAN MALAM

MISTERI JALANAN MALAM
Menghilang


__ADS_3

Aku sungguh merindukkan rumah, aku merindukan Ayah dan Ibu.


Aku berlari ke arah rumah sambil berteriak " Ayah, Ibu, aku pulang, aku masih hidup, anak kalian masih hidup."


Aku berlari dengan cepat menuruni gunung.


Hanya terkunci di dalam peti 1 hari saja rasanya seperti sudah ribuan tahun lamanya.


Saat berlari hingga ke kaki gunung, aku melihat ke arah yang jauh.


Rumah yang akrab, jalanan yang akrab, desa ini tidak berubah sedkitpun.


Sama sekali tidak berubah !.


Desa ini sangat tenang hingga seperti kuburan dan anehnya tidak ada seorangpun yang menyalakan lampu rumahnya.


Sepanjang perjalanan, aku melewati sekolahan.


Atap ruang kelas terbang dan robek di tiup karena angin, bendera merah yang berkibar itu tidak lagi merah, terlihat sangat usang dan juga berlubang.


Entah hantu perempuan itu masih di dalam desa ini atau tidak.


Saat kepikiran dia menangis di atas kuburan, aku merasa panik dan langsung berlari memasuki hutan kecil dan memanggil.


Sayangnya tidak ada seorangpun yang menjawabku.


Dia tidak disana.


Katanya orang-orangan kertas dari Kakek Buta melukainya, membuatnya celaka, entah bagaimana keadaanya saat ini.


Aku meninggalkan hutan kecil itu dan terus berjalan ke depan.


Rumah-rumah di dua sisi jalan menjadi tua dan usang, pintu dan jendela pun terbuka lebar dan bergoyang ditiup angin.


Seperti sudah lama tidak dihuni orang.


Aku pun mulai merasa ada yang tidak beres, aku pun langsung mempercepat langkah kaki.


Di depan jalan adalah sebuaah minimarket.


Pintu minimarket itu pun terbuka, iklan yang tertempel di depan pintu sudah sangat tua dan berubah warna.


Bagaimana bisa begini ?.

__ADS_1


Dimana orang-orang desa ?.


Kenapa tidak seorangpun disini, aku merasa ketakutan dan dengan cepat berlari ke arah rumah.


"Ayah...Ibu..."


Pintu rumahku juga terbuka, keadaan di dalam rumah sangat berantakan, lantai rumah dipenuhi lapisan debu yang tebal dan dinding-dinding penuh dengan sarang laba-laba.


Rumahku juga seperti sudah lama tidak dihuni siapa-siapa.


Bagaimana bisa begini ?


Sebenarnya apa yang telah telah terjadi ?.


Tidak ada seorangpun di desa ini, seolah-olah seperti desa yang terbuang.


Aku pun perlahan merapikan barang-barang dalam rumah.


Dua lembar foto terjatuh di bawah meja makan, saat mengambilnya, foto itu sudah dipenuhi debu tebal.


Salah satunya adalah foto Ayah bersama dengan Paman Thio dan putrinya.


Satu lagi adalah foto Ayah bersama dua laki-laki yaitu Paman Thio dan seorang Kakek yang ramah.


Wajah Kakek itu kebetulan tertutup oleh sedikit noda yang membekas, sehingga sama sekali aku tidak bisa mengenalnya.


KTP-ku masih terletak di dalam laci.


Bahkan surat pernikahan yang Angel berikan padaku pun masih ada di kamar Ayah dan Ibu.


Semua barang penting masih ada di dalam rumah.


Kemana Ayah dan Ibu, kenapa semuaya menghilang ?


Aku pun kembai ke rumah Guru.


Juga tidak ada siapa-siapa disana, tetapi ada yang sedikit berbeda, rumah itu tertata dengan rapi, semua barang berharga sudah di bawah pergi dan pintu jendela tertutup rapat.


Kenapa hanya rumah Guru yang lebih istimewah.


Sebenarnya apa yag terjadi, kemana orang-orang desa yang banyak itu.


Aku merasa seperti anak yang dilantarkan, semua perasaan buruk menghampiri diriku, cemas, kehilangan akal dan yang terpenting adalah takut.

__ADS_1


Aku berbaring semalaman di sofa dengan hati yang tidak tenang.


Esok harinya, aku berjalan keluar dari desa.


Sampailah ke desa sebelah, ada sebuah gazebo di gerbang desa dan beberapa Kakek tua sedang bermain catur disana.


Saat melihat orang di desa sebelah aku pun merasa lega.


Aku mendekati mereka dan bertanya pada seorang Kakek yang sedang santai disana "Kakek, aku ingin bertanya sesuatu padamu."


Kakek itu membuang abu rokok aayang sedang dipegangnya dan berkata "Apa?"


Aku berkata "Kenapa tidak ada seorangpun di desa sebelah Kek?"


Mendengar desa yang tidak dihuni seorangpun, ekspresi wajah Kakek Tua langsung berubah "Anak muda, aku sarankan kamu kembali ke tempat asalmu saja, jangan kesana, ada masalah besar disana, saat ini desa tersebut sudah terlantar."


Aku berkata "Terlantar ?"


Kakek Tua berkata "Lebih baik jangan bertanya lagi, cepatlah pulang."


Aku berkata "Aku tidak punya arah lagi, makanya aku datang numpang di tempat ini."


Mendengarku berkata seperti itu, Kakek Tua itu menghela nafas "Aku tidak tahu jelas bagaimana masalah yang sebenarnya, tetapi dengar-dengar ada hantu disana."


Aku mengerutkan kening "Ada hantu ?"


Kakek Tua itu menunjukkan ekspresi ketakutan "Dalam semalam saja semua orang di desa tersebut menghilang."


Aku terkejut saat mendengarnya "Semuanya hilang?"


Kakek Tua berkata "Benar, semuanya hilang, 500-an orang di desa itu hilang dalam semalam."


Dia terdiam sejenak dan lalu berkata " Saat ini desa itu dinamakan Desa Terasing."


Desa Terasing, desa yag memisahkan diri dari dunia.


Tempat seperti ini selalu diiringi dengan cerita-cerita hantu yang menyeramkan.


Ada juga yang semua penghuninya hilang dalam semalam seperti di desaku ini dan ada juga yang kehilangan kemampuan untuk beranak cucu dan berujung pada kemusnahan.


Aku harus memperjelas semua ini.


Aku harus menemukan Ayah dan Ibu.

__ADS_1


Jika aku tahu siapa dalang semua ini, maka aku tidak akan melepaskannya begitu saja.


Saat ini semua orang telah menghilang, satu-satunya sumber informasi yang masih tersisa adalah Kakek Mutto.


__ADS_2