
Perbuatan Kakek Buta itu membuat hatiku mulai panik " Tuan, apakah anda tahu sesuatu?"
Kakek Buta itu menghentikan kerjaan ditangannya dan baru akan menjawab.
Seorang Kakek tua berbadan bungkuk yang sedang merapikan karangan bunga berkata dengan seram "Apakah kamu lupa bagaimana kamu bisa buta?.
Kakek Buta itu langsung terkejut, terlihat ekspresi wajah ketakutan pada wajahnya, dia langsung menunduk dan kembali melipat orang-orangan, tanpa berkata lagi.
Kakek berbadan bungku itu melihatku sekilas dengan tatapan yang mendalam, lalu berbalik dan berkerja kembali.
Setelah dia berjalan jauh, ku bertanya lagi pada Kakek Buta itu, tetapi di malah berpura-pura tidak mendengar, bagaimana pun tetap enggan untuk berbicara lagi.
Semakin dia tidak ingin berbicara, aku semakin merasa bahwa dia tahu tentang sesuatu, dia bisa menolongku.
Hanya saja jika dia menolongku, mungkin saja dia ikut terjerat dalam bahaya.
Melihat keadaan yang sudah seperti itu, aku pun langsung menyerah dengan hati yang iklas walaupun belum rela.
Tetapi saat aku berbalik dan akan berjalan pergi, Kakek Buta itu tersedak, aku kembali menghampirinya, tangannya menutup dimeja dan mendorong ke arahku, di bahwa tangan itu terdapat sebuah orang-orangan yang dibuat dari kertas.
Aku pun melihatnya dengan kebingungan.
Kakek Buta itu berkata dengan suara kecil " Bawah pulang dan simpan di ranjang, ini bisa membuatmu bertahan satu malam."
Hanya selembar orang-orangan yang digunting dari kertas bisa memperpanjang usiaku dalam satu malam?.
Sungguh sangat aneh dengan hal istimewah yang ada pada orang-orangan kertas ini, tetapi situasi sudah seperti ini, yang tidak percaya pun menjadi percaya.
Aku menjulurkan tangan dan mengambil orang-orangan itu dan memasukkannya ke saku sambil berkata" Terima kasih".
Aku tidak tahu apakah orang-orangan dari kertas ini sungguh bisa memperpanjang usiaku dalam satu malam seperti yang dikatakan kakek Buta itu, tetapi yang penting ada harapan dan ini membuatku merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Saat makan malam, aku kembali melihat Angel.
Dia melihatku sekilas, ekspresi wajahnya sangat cuek, bahkan bercampur rasa benci, membuatku merasa sangat sedih.
Aku harus menjelaskan semuanya.
Aku memanggil Angel dan mengajaknya untuk keluar.
Angel berkata " Ada apa? apa yang ingin kamu bicarakan?"
Sebelum mengajaknya keluar, aku punya beribu-ribu kata untuk dibicarakan, tetapi hingga sekarang malah aku tidak mampu untuk mengatakan semua itu, beberapa saat kemudian baru aku berkata " Aku sungguh tidak mencelakai Ayahmu."
Mata Angel yang hitam pekat melihatku dengan dingin "Kamu memanggilku kemari hanya untuk mengatakan ini?" dia berbalik dan langsung pergi.
Aku langsung menarik tangannya, terasa dingin sekali, "Angel, bagaimana mungkin aku mencelakai Ayahmu."
Angel melepaskan tangan dari genggamanku dan mengangkat secarik kertas dan bertanya" Aku tanya padamu, benda apa ini?"
Aku pun menggelengkan kepala karena sama sekali aku tak tahu benda itu.
Dengan kesal Angel melemparkan kertas hitam itu ke wajahku.
__ADS_1
Kertas itu terlihat seperti surat undangan yag mewah, sisi-sisinya dihiasi dengan kertas almunium , terasa sangat tebal dan berat saat memegangnya, dibagian depan tertulis kata, Surat Pernikahan.
Surat pernikahan?
Surat pernikahan biasanya menggunakan kertas yang terlihat terang dengan tulisan yang gelap, tetapi yang satu ini kenapa kebalikan.
Angel pun langsung berkata "Kamu buka dan baca sendiri."
Aku pun membuka dan membaca surat itu, tertulis "Dengan segala kerendahan diri dan ucapan syukur, ditetapkan pasang Suami : Ryung Chen...."
Melihat sampai disini aku pung langsung terkejut, ini aku?
Aku pun langsung lanjut membaca, Istri : Tya....
Penghulu : Anto Zee(Ayahnya Angel)
Aku pun langsung melihat Angel dan bertanya " Ini...ini apa apaan, kenapa di surat undangan ini tertulis namuku sebagai mempelai pria dan Ayahmu sebagai penghulu, dan lalu siapaa perempuan bernama Tya itu?"
Angel menatap mataku dan berkata :" Kamu benaran tidak tahu?"
Aku menggelengkan kepala.
Dalam mata Angel terlihat ekspresi takut dam berkata "Tiga hari yang lalu, aku mendapatkan sebuah surat dan di dalamnya ada surat pernikahan ini."
Aku berkata "Angel, aku sunggu tidak mengenal perempuan yang bernama Tya."
Angel berkata "Masih ingatkah kamu dengan teman baik Ayahmu yang bernama Paman Thio?"
Aku mengangguk, tetapi aku tidak pernah bertemu orang itu, hanya pernah mendengar namanya saja.
Aku melihat lagi nama perempuan disurat pernikahan itu ternyata dia adalah anak dari Paman Thio.
Angel pun berkata "Kebetulan kalian berdua lahir ditahun,bulan dan hari yang sama."
Memangnya kamu cemburu?
Setelah tahu aku bertunangan, dia sengaja pulang dan secara kebetulan Ayahnya meninggal.
Berpikir seperti ini, hatiku terasa lebih tenang, kedua ujung bibirku pun perlahan terangkat.
Melihat senyuman diwajahku, alis Angel mengerut dan berkata dengan dingin "Apa yang kamu senangkan? Apa yang membuatmu senang, Ayahku telah meninggal, apakah kamu merasa senang?"
Aku langsung berhenti tersenyum " Nggak Kok."
Suasan hati Angel sudah tidak mampu dikendalikan, dia menunjukku sambil berkata dengan marah "Pasti iya kan, kamu pergi jauh-jauh." Nada bicaranya semakin lama semakin tinggi.
Dari dulu belum perna melihat ekspresinya seperti itu, spontan aku terkejut hingga bergerak mundur beberapa langkah, berbalik dan melarikan diri.
Malam hari, seharusnya aku menunggu dan menemani Guru, tetapi Angel malah membantah dan tidak bisa di ajak bicara.
Ibuku kesal dan menyeretku untuk pulang ke rumah.
Sesampainya dirumah, Ibu berteriak sambil berkata "Anak tidak berpendidikan, sia-sia dia sekolah tinggi, tetap saja masih bodoh."
__ADS_1
Ayahku pun berkata "Sudahlah, Pak Anto sudah meninggal, ini memberi tekanan berat pada Angel."
Ibu mendengar Ayah berkata seperti itu, perlahan emosinya mulai turun.
Aku pun masih kepikiran tentang undangan yang diberikan Angel, Aku pun langsung mengeluarkan dan memberikan pada ayah " Yah, apa maksudnya ini."
Melihatku mengeluarkkan secarik kertas hitam, Ayah pun langsung mengambilnya dengan heran, sebelum Ayah berbicara, Ibuku sudah berteriak mendahului "Apa-apaan ini, sejak kapan putra kita bertunangan dengan anaknya Pak Thio."
Ayah juga tidak mengerti keadaan yang terjadi sebenarnya "Tidak kok, Pak Thio memang punya seorang putri bernama Tya, kami sudah berjanji akan menikahkan keduanya, tetapi itu semua dikatakan saat mereka belum lahir, tidak bisa dianggap serius begitu saja."
Ibuku langsung merebut surat itu dan bertanya " Lalu ini kenapa bisa seperti ini?"
Ayahku menggelengkan kepala, aku juga tidak tahu, semenjak Pak Thio ditarik kembali ke kota, kami jarang bertukar kabar dan sudah 10 tahun terakhir tidak ada komunikasi sama sekali dengannya.
Ibu pun berkata "Lalu kenapa ada surat pernikahan ini, Ryung, dari mana ini?"
Aku menjawab "Angel yang memberikan padaku, katanya dia mendapatkan ini sejak 3 hari yang lalu."
Wajah Ibu menunjukkan senyuman dalam, dia melihat Ayah dengan Ujung mata dan berkata "Jika Keluarga Pak Thio ingin menikahkan anaknya pada kita, maka aku sama sekali tidak membatah."
Ayahku berkata "Ucapan 10 tahun yang lalu tidak bisa dianggap serius begitu saja."
Dia tahu betul perbedaan antara dua keluarga ini, keluarga kita adalah orang desa yang sederhana sedangkan Keluarga Pak Thio tidak hanya dari kota besar melainkan dari keluarga pejabat.
Bagai langit dan bumi.
Sekalipun Pak Thio ingin menepati janji tahun itu, Ayahku tetap tidak setuju.
Ayah menyingkapkam tirai kamar dan masuk kedalam kamar.
Ibu pun berkata "Ryung, kamu sudah capek seharian, tidurlah lebih awal." Selesai berkata, Ibu langsung bergegas masuk ke kamar.
Aku pun berjalan masuk ke kamar sendiri.
Sepatu yang menghadap ke arah ranjang sama sekali tidak bergerak, tetapi entah kenapa aku mulai tegang saat melihat sepasang sepatu itu, dalam hati muncul perasaan takut.
Sepatu menghadap ranjang, hantu naik ke atas ranjang.
Saat kepikiran kalimat ini, bulu kudukku mulai berdiri, bagaimana pun tidak berani tidur diatas ranjang.
Ada sebuah televisi didalam kamarku, itu adalah pemberian Nenek saat aku masih sekolah.
Televisi berukuran 15 inc.
Aku menyalakanya, semua acara sudah terhenti...
Aku melihat jam weker diatas meja, waktu sudah menunjukkan jam 23:30, pantas saja semua acara televisi sudah selesai, aku pun mulai gelisah dan tegang.
Kakek Mutto pernah berkata, kamu harus tidur sebelum jam 24.00, agar bisa menyelesaikan pernikahan arwah ini.
Jika tidak, hantu perempuan itu akan datang menghabisi nyawaku.
Bagaimana ini?
__ADS_1
Aku kepikiran orang-orangan kertas yang diberikan oleh kakek buta, segera ku mengeluarkannya dari saku celana, itu hanya sebuah orang-orangan yang digunting dari kertas, tidak ada hal istimewah disana, apakah meletakkan benda ini di kepala ranjang sungguh bisa memperpanjang hidupku satu malam lagi?.