
"Silakan.."
Penjual sate tersebut membawahkan piring yang berisi sate kambing yang sudah dibakar "Untuk apa makan di rumah, makan sesuatu harus tergantung suasana."
Penjual sate kambing tersebut adalah seorang laki-laki gemuk berusia 35 tahun.
Dia memberikan isyarat kepada kami, kami pun mengikuti arah pandangan matanya.
Seorang perempuan cantik sedang berdiri di persimpangan jalan, dia mengenakan gaun putih, dengan bentuk badan yang tinggi dan paras yang indah.
Hanya saja perutnya terlihat besar, seperti sedang hamil.
Dia terus berkata "Siapa yang berbaik hati, bantulah aku menguburkan Ayah mertuaku"
Penjual sate itu memberikan kode-kode yang dimengerti oleh setiap laki-laki.
Pak Rio berkata "Ada apa ini?"
Penjual sate tersebut berkata "Suami dari perempuan itu adalah tukang judi, hingga rumah pun digadaikan agar bisa terus berjudi, hingga Ayahnya sendiri kesal hingga jantungan dan meninggal di tempat, suaminya pun langsung melarikan diri, meninggalkannya bersama anak dalam kandungan istrinya, tidak memiliki tempat untuk tinggal, siapapun yang ingin menerimanya, dia pasti bersedia."
Mungkin perempuan itu sadar kami sedang membicarakannya.
Perempuan itu pun langsung menghadap ke arah kami dan berkata "Siapa yang berbaik hati, bantulah aku menguburkan Ayah mertuaku."
Dia memang cantik, juga terlihat sangat lemah lembut.
Aku dan Pak Rio ikut bersedih.
Perempuan secantik itu kenapa bernasib begitu malang, sungguh tidak tega melihatnya.
Pak Rio adalah orang yang berperasaan, dia meraba saku celana dan menemukan beberapa lembar uang seratus ribu, meski tidak bisa menerima perempuan itu, tetapi setidaknya bisa membantunya dalam hal material.
Tetapi saat berjalan hingga setengah jalan dia malah berbalik.
Ekspresi wajahnya tidak enak untuk di pandang, mulai memucat.
Aku bertanya "Kenapa?"
Dia berkata "Kamu bilang hantu tidak berbayangan, apakah itu benar?"
Aku menganggukkan kepala.
Ekspresi wajahnya terlihat sangat takut, aku langsung sadar dan bertanya "Maksud kamu?"
Pak Rio menggelengkan kepala dengan cepat, mengisyaratkan aku untuk tidak melanjutkan perkataan.
Aku memejamkan kedua mata, hingga pandangan menjadi gelap.
Mengangkat tangan dan mengusap alis mata secara perlahan, terlihat cahaya merah pada kedua ujung kakinya.
Saat membuka mata, aku memperjelas penglihatan ke arah kakinya, barulah terlihat bahwa kakinya sedang terikat benang merah, pantas saya tidak bergerak sedikitpun.
Dia kembali berkata "Siapa yang berbaik hati, bantulah aku untuk menguburkan Ayah mertuaku."
Ada orang yang mengikat kedua kaki mayatnya agar arwahnya tidak bisa kemana-mana.
Ini adalah salah satu aturan di zaman kuno dulu.
Kebanyakan untuk menghukum istri yang telah selingkuh, saat meninggal, kedua kakinya akan diikat dengan benang merah, agar dia selalu menunggu di rumah, agar bisa menembus semua kesalahannya.
Perkembangan zaman sudah sampai saat ini, tetapi ada saja yang masih melakukan ini.
Sungguh tidak bermoral.
Aku menceritakan masalah ini pada Pak Rio, polisi yang tegas dan penegak keadilan ini langsung marah.
Pak Rio berkata "Apakah ada cara untuk menangkalnya?"
Aku berkata "Sederhana sekali, carilah mayat itu dan gunting benang merahnya."
Kami mendengar dari penjual sate bahwa perempuan itu bernama Ing, rumahnya terletak pada gedung nomor 1 di samping persimpangan tempat dia berdiri, soal lantai berapa kamar nomor berapa, kita semua jelas tidak tahu.
Suara lembut itu kembali terdengar "Siapa yang berbaik hati, bantulah aku untuk menguburkan Ayah mertuaku."
Aku bertanya pada Pak Rio "Bagaimana cara orang disini mengurusi mayat?"
Pak Rio berkata "Tentu saja kremasi."
Setelah mengatakan itu, Pak Rio terdiam beberpa saat, dan merasakan hal yang aneh "Memangnya mayat Ayah mertuanya tidak dilakukan kremasi? Rasanya tidak mungkin, sedikitupun tidak memiliki biaya yang cukup, ada organisasi khusus yang bergerak di bidang ini."
Aku bertanya "Mayatnya juga tidak dibakar."
Aku yakin soal ini, jika mayatnya dibakar habis, maka benang merah itu pasti akan ikut hangus, kaki dia pun tidak akan terikat seperti itu lagi.
Jadi, pasti mayatnya tidak dibakar.
Pak Rio melihat arah pandanganku sesekali tertuju pada pohon Pagoda, dia bertanya dengan cemas, "Ada apa?"
__ADS_1
Tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki bermain bola di bawah pohon itu.
Dia bermain dengan sangat gembira, sambil menghitung. Sesekali bola itu meleset dan mengelinding ke tengah jalan.
Bola yang sedang mengelinding itu pun memancarkan cahaya merah yang sangat menyeramkan.
Dia mengejar bola itu dengan mulut yang terus tertawa, sambil memanggil "Paman, bantu aku ambil bola itu."
Secara kebetulan bola itu mengelinding hingga kearah tepi meja kami.
Pak Rio tersenyum dan langsung membungkukkan badan dan ingin mengambil bola itu, aku segera menceghnya "Jangan diambil."
Pak Rio dibuat kebingungan oleh tindakanku, dengan wajah maaf tersenyum pada anak itu, Pak Rio lalu menoleh dan berbicara padaku "Apa-apaan, hanya bantu dia ambil bola saja."
Aku berkata "Jika kamu mengambilkan bolanya, maka selamanya kamu akan menemaninya bermain."
Pak Rio pun kaget.
Anak kecil itu pun mengambil bolanya dan kembali ke bawah pohon pagoda, dan bermain bola sambil menghitung.
Pak Rio berkata dengan panik "Bagaimana bisa?"
Aku berkata "Hari ini adalah hari hantu, hari dengan energi negatif dan hawa paling buruk, dimana energi dalam tubuh manusia akan menjadi lemah, sebaiknya kita cepat pergi saja, jika sedang sial dan terlibat masalah, maka menyesal pun tidak ada gunanya."
Pak Rio menganggukkan kepala dengan tegang, lalu memanggil penjual sate untuk menghitung harga makanan kami.
Aku sekalian bertanya pada penjual sate itu "Jam berapa tutup?"
Penjual sate menjawab "Sebentar lagi kok, biasanya jam 2 atau jam 3 subuh."
Aku berkata "Lebih baik hari ini tutup lebih awal."
Penjual sate itu tersenyum dan menganggukkan kepala.
Sesampainya di penginapan, waktu sudah menunjukkan pukul 3, setelah mandi, aku dan Pak Rio bersiap-siap untuk tidur.
Entah karena ketakutan atau terlalu banyak masalah yang di lewati hari ini, Pak Rio tidak kunjung tidur, dia terus berbicara denganku.
Aku pun sudah sangat mengantuk "Cepat kamu tidur, jangan lupa besok, cari mayat Ing."
Pak Rio berkata "Tenang saja, tidak perlu kamu katakan juga aku ingat."
Aku pun berkata "Tugas polisi terlalu banyak, aku takut kamu lupa."
Perkataan Pak Rio tadi juga terdengar oleh Ing, jika Pak Rio tidak melakukannya, maka sama saja dengan tidak bisa dipercaya, bagi Ing, itu adalah pembohongan terhadap dirinya.
Membohongi manusia boleh-boleh saja, tetapi jika sampai membohongi hantu.."
Esok harinya, kami di bangunkan oleh pelayan dari penginapan, saat melihat jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 09.00.
Kami mandi dengan terburu-buru dan keluar dari penginapan tersebut.
Masuklah kami ke sebuah restoran mie di samping penginapan untuk sarapan terlebih dahulu.
Hargaa untuk semangkok mie disini adalah 10 ribu.
Untung saja Pak Rio yang membayar.
Selesai makan, Pak Rio akan segera berangkat kerja, dia pun memberikan kunci rumahnya padaku dan menawarkan untuk menginap beberapa hari disana.
Sesuai dengan alamat yang diberikan, aku sampai di kawasan Taman Bunga.
Dia tinggal di sebuah gedung nomor 05 dan rumah nomor 250.
Arah gedung itu cukup baik, penerangannya kurang, dan beberapa lampu di lorong-lorong pun banyak yang tidak menyala.
Aku mengeluarkan kunci dan baru ingin membuka pintu.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang "Pak Rio, bagaimana perkembangan kasus cucu perempuanku?"
Aku kaget dan berbalik badan dengan cepat.
Seorang Nenek tua sedang berdiri disana, dia sangat kurus, kulit wajah mengerut, dengan bola yang hampir melompat keluar, sungguh mengagetkan.
Aku berkata "Nenek, kamu salah orang."
Nenek tua itu melihatku sejenak, lalu berkata "Jika dia sudah kembali, tolong tanyakan padanya, bagaimana perkembangan kasus cucu perempuanku."
Selesai berkata, Nenek itu berbalik badan dan berjalan ke arah rumahnya.
Di depan rumahnya terletak sebuah tong pembakaran dan bekas-bekas lelehan lilin.
Aku bertanya "Nenek, bagaimana cara aku memanggil Nenek?"
Dia seoah tidak mendengar, langsung membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Saat dia membuka pintu, terlihat cahaya merah yang terpancar dari dalam rumahnya, aku melihat sekilas, sepertinya Nenek itu menyembah dewa.
__ADS_1
Ini tidak jarang ditemui.
Banyak Nenek tua yang meminta sang ahli untuk memasangkan altar penyembah dewa di rumahnya.
Dengan begini, orang-orang pun tidak perlu repot-repot ke kuil lagi, jikaa ada yang ingin diramalkan, maka tinggal membakarkan dupa saja di rumahnya.
Ini juga berkaitan dengan sebuah hal.
Uang amal dan pembangunan.
Semuanya tahu bahwa uang amal dan pembangunan tidak boleh digunakan secara sembarang, jika banyak yang menyembah maka dana yang terkumpul juga akan semakin banyak, disisi lain Nenek ini juga tidak punya sumber penghasilan lain, otomatis uang ini akan digunakannya.
Digunakan untuk menghidupi anak dan cucunya.
Konon katanya jika menggunakan uang itu , keturunannya tidak akan maju dan berkembang, hanya akan terus sial dan sial.
Dan pada akhirnya dia sendiri akan menunai serta tidak punya sandaran.
Saat membuka pintu rumah Pak Rio, semua berbeda dengan yang yang ku bayangkan, di dalam sudah disapu hingga sangat bersih, semua perlengkapan rumah tersusun dengan rapi.
Ini sama sekali tidak seperti rumah seorang laki-laki yang masih bujangan.
Aku pun duduk di sofa dalam rumah dan menyalakan Televisi.
Jam segini tidak ada acara Tv yang seru, aku pun kepikiran buku pemberian Kakek Buta, di dalam buku tersebut tersembunyi tulisan-tulisan emas yang harus dipahami dengan baik, dan aku juga belum sempat membaca buku ini hingga selesai.
Aku pun mulai membacanya lagi.
Dalam buku itu tidak hanya menceritakan pengalaman saat dia menangkap hantu, diantaranya juga membahas tentang profesi orang yang ahli akan ini.
Orang-orang menyebut profesi ini sebagai Pendekar.
Saat dinasti Mo sedang berjaya, saat zaman pemerintahan sedang mencapi puncaknya, muncullah 9 keluarga pendekar yang ternama.
Salah satunya adalah keluarga Ye.
Keluarga Ye khusus mendalami bidang ini, Nenek moyang keluarganya pernah menjadi salah satu murid dari Dewa.
Dan Tuan Lee hanyalah sebuah sebutan bagi mereka.
Dari semua asal usul daan sejarah inilah Kakek Buta mengetahui kedudukan Tuan Lee, tetapi sesungguhnya Tuan Lee masih terlalu muda.
Apakah masih semuda itu bisa memimpin dan membawah orang dalam pengaruh energi buruk?"
Aku mulai curiga apakah Tuan Lee yang melakukannya.
Tetapi keahliannya terbukti, jadi kemungkinan memang dia orangnya.
Benar atau tidak, aku harus tetap menemukannya.
Triingg !!! Triingg !!!
Telepon di samping sofa tiba-tiba berdering.
Aku pun mengangkatnya, terdengar suara Pak Rio "Ryung, Pak Hen sedang sakit, sungguh sakit yang aneh, sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, dia terus mengigau dan tidak sadarkan diri."
Aku berkata "Cari dokter saja jika Pak Hen sakit."
Pak Rio berkata dengan panik "Dokter juga tidak akan mengerti keadanyanya saat ini, bukannya kamu paham, ayo pikiran bagaimana caranya."
Aku berkata "Bukannya tidak ada cara, tetapi, aku tidak bisa menyembuhkan penyakit itu begitu saja, harus bayar."
Pak Rio berkata "Ryung, aku sudah menganggapmu sebagai teman baik, kenapa kamu masih saja membicarakan uang denganku?"
Aku berkata "Saudara kandung pun tetap bayar."
Pak Rio menekan amarah dalam diri dan berkata "Katakan saja, mau berapa?"
Aku berkata "Sesuai dengan standar pembayaran mengusir setan dan sial seharga 2 juta, sebagai teman baik aku beri kamu diskon 500 ribu, jadi 1,5 juta saja."
Pak Rio langsung berteriak "1,5 juta !!! Kenapa kamu tidak pergi merampok bank saja."
Aku berkata "Kamu bisa mencari orang lain."
Pak Rio segera melanjutkan "Yasudah, 1,5 juta saja."
Pak Hen sudah diantar orang-orang ke rumah sakit terdekat dan Pak Rio pun langsung datang menjemputku dengan mobil polisi.
Aku langsung masuk ke dalam mobil dan bertanya "Mana uangnya?"
Pak Rio mengeluarkan setumpuk uang dari tas dengan ekspresi kesal.
Aku menerima uang itu dan menghitungnya, tepat 1,5 juta, setelah itu ku keluarkan 500 ribu dan memberikannya pada Pak Rio.
Dia melihatku dengan bingung dan berkata "Apa maksudnya ini ?"
Aku berkata "Baru saja aku melihat daftar harga sewa rumah di agen bawah gedung, dan aku tahu bahwa harga sewa untuk rumah adalah 1 juta, disini ada 500 ribu, hitung-hitung sebagai uang sewaku bulan ini."
__ADS_1
Pak Rio tertawa sambil menerima uang itu "Dasar!!!."
Aku pun langsung berkata "Ayo jalan, kita ke pasar dulu."