
Hujan yang turun beberapa waktu lalu membuat jalanan rusak dan licin, sungguh sulit dilewati oleh mobil dan kendaraan lain, duduk di dalam mobil saja terasa tergoncang-goncang.
Setelah langit gelap, maka kesulitan akan semakin bertambah.
100 meter saja harus ditempuh dalam waktu hampir setengah jam.
Angin malam semakin bertiup kencang, ditambah dengan udara lembab dan awan langit pun semakin hitam, sungguh menyeramkan.
Terlihat seorang Nenek tua berlutut di tepi jalan, tangannya memegang sekumpulan uang kertas yang sedang terbakar dan di masukkan ke tong pembakaran di depannya.
Tidak beberapa lama, terlihat lagi seorang Ibu-ibu sedang membakar uang kertas.
Sepanjang jalan penuh dengan asap hitam dan aroma lilin terbakar.
Aku bertanya "Ini tanggal berapa ?"
Pak Hen bergumam dengan nada dingin tanpa menjawab pertanyaanku.
Polisi yang sedang menyetir berkata "Sepertinya tanggal 15 bulan 7", Namanya Pak Rio, aku tahu saat mendengar Pak Hen memanggilnya.
Aku berkata "Sesuai denga kelender China, tanggal 15 bulan 7 adalah hari hantu ini adalah hari dimana pintu kediaman hantu terbuka, arwah dan roh gentayangan akan keluar dan menerima persembahan dari orang-orang yang sudah menyiapkannya."
Pak Hen berkata dengan kesal "Tutup Mulutmu !!!"
Aku berkata "Aku rasa sebaiknya kita turun dan meminjam sedikit dupa dengan orang-orang di tepi jalan, lalu menancapnya di depan mobil."
Phaammm !!!
Tinjuan keras dari Pak Hen mendarat diwajahku, sakit yang tak terduga, dia menarik leher bajuku dengan kesal "Jika kamu berani berkata sembarangan lagi, maka aku akan sungkan lagi padamu."
Emosinya meledak.
Jika dulu, aku pasti sudah menentang dan berantem dengannya tanpa peduli dia polisi atau bukan.
Aku pun hanya tersenyum datar, kelihatan sangat santai.
Ekspresiku seperti ini semakin membuat Pak Hen kesal, seolah-olah aku seorang yang sok tahu.
Tiba-tiba terlihat asap tebal meniup ke arah mobil kami, sebuah tong pembakaran uang diletakkan tepat ditengah jalan.
Pak Rio yang melihatnya pun terkejut dan langsung mengerem mendadak.
Phaammm !!!
Terdengar benturan pada ban mobil.
Setir mobil pun mengubah arah dengan cepat dan hampir menghantam pembatas jalan.
Pak Rio berteriak dengan marah "Siapa yang sungguh tidak tahu aturan, tong pembakaran seperti ini pun diletakkan di tengah jalan.
Dia mengangkat kaki dan akan segera menendang tong itu.
Aku pun mendahului dan memindahkan tong itu, setelah menyelamatkan tong itu, aku pun meletakkanya dengan rapi di tepi jalan.
Pak Rio sangat emosi dan ingin menendangnya sekali lagi.
Tetapi aku menjulurkan tangan mencegatnya dan berkata "Sopanlah saat mengemudi, jika kamu menendangnya dan mereka tidak mendapatkan uang, maka kamulah yang akan dicari."
Baru saja selesai berkata.
Terdengar suara....Phaammm !!!
Tong pembakarn itu ditendang hingga terbang jauh.
Aku kaget dan langsung melihatnya, terlihat Pak Hen baru saja menarik kembali kakinya dan melototiku sembari berkata "Sembarangan."
Aku mengangkat alis dan tidak mampu berkata apa-apa lagi.
Setalah memperbaiki ban mobil, kami pun melanjutkan perjalanan.
Aku diam-diam mengerluarkan selembar uang kertas yang kupungut dijalan, setelah melipat uang itu hingga 4 kali, aku pun menyobek keempat sisi kertas dengan rapi, lalu menyobek setengah pada bagian tengahnya, saat dibuka, terbentuklah sebuah orang-orangan kertas.
Aku mengigit jari sendiri hingga berdarah dan menulis nama Pak Hen mengunakan tetesan darah.
Saat mobil tiba di antara pegunungan, kabut tebal menutupi jalan, lampu mobil pun seolah tidak berfungsi lagi, hanya jarak 5 meter yang mampu terlihat oleh mata.
Kondisi seperti ini pun membuat Pak Rio memperlambat laju mobil.
Terdengar suara hentakan kaki yang rapi di tengah kabut tebal itu, bukan 1 atau 2 orang, tetapi puluhan hingga ratusan dan gerak kaki mereka terdengar sangat kompak.
Sama seperti sedang latihan militer.
Hatiku pun mulai tegang dengan pandangan mata tertuju pada kabut tebal di depan, seperti terlihat bayangan manusia disana, semakin jelas, yang pertama kali terlihat adalah seseorang laki-laki dengan seragam militer berwarna hijau tua.
Dengan bendera China di bagian topi dan bintang 3 pada bagian lengan, sepertinya dia seorang Pemimpin.
__ADS_1
Ratusan prajurit mengikutinya dari belakang.
Dengan pakaian yang bersih, langkah kaki yang rapi dan wibawa yang luar biasa.
Prajurit arwah !!!
Kelihatannya mereka sedang berangkat untuk melaksanakan tugas.
Tetapi mereka tidak tahu bahwa peperangan sudah berakhir sejak 100 tahun yang lalu dan hanya bisa selamanya berjalan terus ke depan untuk menyelesaikan tugasnya.
Selamanya !!!
Pandangan mataku tertuju pada pedang yang sedang digenggam dalam tangan ketua regudi barisan paling depan.
Pedang itu memancarkan cahaya hijau yang sangat terang.
Dia adalah seorang komandan yang menganggap kehormatan jauh lebih penting dari sebuah nyawa dan pedang kehormatan inilah yang membuat mereka untuk terus menjadi prajurit arwah.
Sama halnya dengan orang yang meninggal membawah dendam akan berubah menjadi hantu penasaran.
Pak Rio marah dan mengumpat "Cuaca sialan, kenapa kabutnya begitu tebal."
Semakin dekat pasukan itu, semakin tebal juga kabut yag terlihat.
Aku pun berkata "Di sekitar tempat ini banyak pegunungan dan hutan rindang, dulunya adalah medan perang yang paling bersejarah dan tentu saja banyak yang meninggal disini."
Belum selesai berkata, Pak Hen sudah memotong pembicaraan "Bicara sembarangan apa lagi kamu."
Aku pun memilih diam saja.
Setelah prajurit arwah itu pergi, kabut yag tadinya tebal pun mulai menghilang, jarak pandang kami pun menjadi lebih jauh.
Dengan tenang dan selamat, kami pun keluar dari kawasan pegunungan.
Pak Rio berkata "Hei, anak muda, aku beritahu kamu, Polisi-polisi seperti kami ini punya wibawa tinggi dan menakutkan, makhluk apapun yang melihat kami pasti akan bersembunyi dengan jauh."
Aku tertawa dengan nada datar, bertanya "Pak, kamu punya rokok ?"
Seorang perokok pasti tidak pelit untuk membagi-bagikan rokok.
Dia mengeluarkan sebungkus rokok dan menyodorkan padaku, aku pun mengambilnya.
Itu adalah sebungkus rokok sampurna.
Rokok dengan harga 25 ribu rupiah, tidak bagus, tidak buruk juga, cocok untuk kantong para polisi.
Bara api pada ujung rokok terlihat sangat merah karena ditiup angin.
Setelah itu aku menyalakan sebatang lagi dan menghisapnya dengan nikmat.
Pak polisi Rio berkata "Apa lagi maksudnya ini, menyembah hantu dan dewa ?" Setelah berkata, dia pun menggelengkan kepala dan tertawa.
Setelah melewati pegunungan, ada sebuah tol menujuh arah sebuah desa.
Tol ini baru saja selesai dibangun, menembus sebuah goa sepanjang 3 km dan langsung menghubungkan dengan desa tersebut.
Aku bertanya "Apakah saat membuka tol ini, pemerintah pernah mengundang seorang ahli untuk meresmikannya ?"
Pak Rio menjawab "Tentu saja tidak pernah, apalagi yang kamu pikirkan?"
Aku berkata "Jika kamu baru pindah ke rumah baru atau menganti nomor telepon, apakah kamu akan memberitahu temanmu ?"
Pak Rio berkata "Tentu saja akan, kalau tidak bagaimana cara teman-temanku menemukanku." Setelah berbicara, dia seperti mengerti perkataanku.
Pak Hen pun memotong pembicaraan "Jangan sembarangan kalau bicara."
Sambil berkata, dia mengisyaratkan Pak Rio untuk memberhentikan mobil di tempat istirahat, sekalian untuk mengisi bensin dan mencari sedikit cemilan.
Kami memasuki sebuah minimarket dan mereka membeli tiga bungkus Pop Mie, satu diantaranya adalah jatahku.
Meskipun Pak Hen mudah emosi, sesungguhnya dia berhati baik, Dia tidak akan sengaja membiarkanku kelaparan, Pop Mie yang aku makan pun dibayar olehnya.
Aku bertanya pada Nyonya bos minimarket "Apakah disini ada liin merah?"
Tentu saja hari-hari biasa tidak menjual lilin merah, yang dijual adalah lilin putih, hanya saja hari ini sedikit lebih istimewah jadi lilin yang kamu cari ada.
Aku pun membeli 3 batang lilin.
Kami pun melanjutkan perjalanan, aku pun langsung berkata pada Pak polisi Rio "Jika sudah sampai di pintu masuk tol, tolong berhenti sebentar ya, ada yag mau kulakukan."
Saat membeli lilin di minimarket, Pak Hen dan Pak Rio melihatnya.
Pak Rio berkata "Tidak akan akan lama lagi."
Pak Hen pun berkata "Boleh-boleh saja jika ingin berhenti di depan pintu masuk tol, tetapi kamu harus menceritakan semua yang kamu tahu tentang desa kamu.
__ADS_1
Aku mengangguk dan menyetujuinya.
Mobil kami pun berhenti dengan jarak 15 meter dari pintu masuk tol.
Aku membawa 2 liin batang merah dan berjalan menuju ke arah goa pintu masuk tol.
Pak Hen dan Pak Rio juga ikut turun, mereka bersandar di badan mobil sambil menghisap rokok dan mengawasi gerak-gerikku.
Aku meletakkan masing-masing sebatang lilin di sisi kiri dan sisi kanan, kemudian menyalakan dengan korek dan membaca serangkaian mantra.
Mantra ini diajarkan oleh Kakek Buta.
Kejadian memanggil arwah di jembatan malam itu terasa seperti baru terjadi kemarin.
Sesuai dengan penjelasan Paman Sun, Kakek Buta dan tim pemakaman yang bersamanya datang ke rumah Guru untuk menawarkan diri, katanya mereka paling dekat dan ahli dalam bidang ini, dimana ada orang meninggal, disitu ada mereka.
Sekarang, jika dipikir-pikir rasanya aneh juga.
Setelah menyelesaikan itu semua, kami pun kembali masuk mobil.
Aku berkata lagi "Berhenti lagi setelah sampai di pintu keluar."
Pak Rio tidak kuat menahan rasa penasaran, dia pun bertanya "Apa maksudnya kamu menancapkan dua batang lilin di pintu masuk tol."
Aku menjawab "Cahaya penunjuk arah."
Pak Hen berkata dengan tidak senang "Ada-ada saja kamu."
Goa sepanjang 3 km tidaklah pendek, tetapi jika melintasinya dengan mobil, maka akan terasa sangat cepat, baru saja Pak Hen berkata, kami pun sampai di pintu keluar tol.
Aku kembali turun dari mobil dan meletakkan 1 batang lilin lagi di pinggir jalan dan kemudian menyalakanya.
Lilin-lilin baru saja menyala.
Tiba-tiba angin meniup dengan kencang, terdengar banyak sekali suara orang berterima kasih, ada laki-laki dan perempuan, ada orang tua dan anak kecil, semuanya adalah arwah gentayangan yang tersesat pada jalan tol yang baru dibangun ini.
Jika tidak menunjukkan jalan, maka selamanya mereka akan terus terjebak di jalan baru ini.
Dan lama-kelamaan pasti akan timbul masalah besar bahkan kecelakaan di jalan tol ini.
Kami pun melanjutkan perjalanan.
Pak Hen berkata "Bagaimana, apakah sudah bisa di ceritakan?"
Aku mengangguk, setelah berpikir beberapa saat dan mulai berkata "Sejak kecil aku tinggal di desa itu, Ayah dan Ibu juga disana, sekarang desa kami itu terkena musibah besar dan sungguh membuat hatiku tertekan. Keluargaku hancur, Ayah dan Ibuku hilang."
Berbicara sampai disini, hatiku pun terasa seperti teriris-iris.
Pak Hen dan Pak Rio pun sedikit tersentuh, mereka menghisap rokok dengan perlahan.
Suasana dalam mobil terasa penuh tekanan.
Aku pun mengarang sebuah alasan yang bisa diterima olehnya "Guru meninggal karena tertabrak mobil digerbang desa, karena aku takut terlibat masalah, Ibuku pun mengantarkanku pergi saat tengah malam."
Pak Hen bertanya "Kenapa takut terlibat ?"
Aku berkata "Hari itu Ibuku berbohong, sebenarnya hari itu aku dan Guru pulang ke desa saat waktu menunjukkan pukul 04.00, tetapi kalian malah mengatakan bahwa Guru meninggal pada pukul 03.30."
Pak Hen menunjukkan ekspresi terkejut dan spontan berteriak "Tidak mungkin !!!"
Saat itu dia sendiri menyaksikan proses pemeriksaan perubahan suhu pada badan Guru.
Tentu saja tidak akan salah.
Aku berkata dengan ekspresi datar "Justru karena tidak mungkin, maka aku tidak berani berkata pada pihak kepolisian. Ibuku takut masalah ini melibatkanku, makanya ia mengantarkanku untuk pergi malam itu."
Pak Hen bertanya "Apakah kamu sudah jujur?"
Aku balik bertanya "Menurut kamu, disaat seperti ini aku masih perlu berbohong ?"
Kejadian ini seolah-olah seperti mimpi buruk yang terus mengusik kehidupan Pak Hen pada tahun sebelumnya.
Dia tidak pernah percaya dengan hal-hal takhayul, yang dia tahu, bahwa segala sesuatu adalah hasil perbuatan manusia.
Tetapi kasus ini malah menimbulkan kecurigaan terhadap kepercayaan dalam dirinya, hanya dalam semalam, 500-an orang di desa kami menghilang begitu saja, orang mana yang mampu melakukan itu.
Dia tidak berani lanjut memikirkannya.
Aku lanjut berkata "Aku jauh lebih penasaran dari pada kalian, sebenarnya apa yang terjadi ?"
Perkataan yang setengah asli dan setengah palsu, sungguh membingungkan.
Pak Hen berkata "Lalu beberapa tahun ini kamu kemana saja ?"
Aku berkata "Aku pergi berguru dengan seseorang yang ahli di bidang ini, beberapa waktu lalu dia meninggal, aku pun merasa kasus ini sudah lewat begitu lama, makanya aku memilih untuk pulang, tak di sangka ..."
__ADS_1
Pak Rio pun langsung memotong pembicaraanku " Pantas saja mulutmu penuh dengan hawa-hawa dewa dan iblis."