
Dalam foto itu, Rany sedang terjatuh ke pelukan seorang laki-laki muda, laki-laki ini sangat tampan, tak lain adalah Tuan Lee yang aku benci dari dulu.
Aku langsung merebut album foto itu sambil bertanya "Jadi orang ini pacar Rany?"
Nenek Wan menganggukkan kepala.
Aku lanjut bertanya "Apakah kamu tahu siapa namanya, dia tinggal dimana?"
Nenek Wan Menggelengkan kepala.
Aku berkata dengan panik "Nenek Wan, coba pikirkan baik-baik."
Nenek Wan tetap menggelengkan kepala.
Aku pun berkata dengan serius "Mungkin saja dia yang membunuh cucu perempuanmu, dia tidak hanya membunuhnya, dia juga membuatnya menjadi hantu gentayangan dan juga menjadikan anak dalam kandungan cucumu menjadi seorang hantu."
Nenek Wan membuka mata dengan lebar "Apa yang kamu katakan?"
Aku tidak seharusnya mengatakan ini, tetapi baru saja aku tidak mampu mengendalikan diri.
Karena takut menejutkan Nenek Wan, aku pun tidak melanjutkan bicara, hanya memilih untuk diam.
Tetapi Nenek Wan sudah mendengarnya, dengan hati teriris-iris dia berkata "Orang jahat, tidak berpersaan, sungguh mati dengan tidak pantas.'
Dia menggenggam tangan aku dan Pak Rio "Anak muda, Pak Rio, kalian harus menegaskan keadilan untuk cucuku."
Aku berkata "Tenang saja, aku pasti menemukan orang ini."
Pak Rio menambahkan "Nenek Wan, aku janji padamu, jika memang dia pelakunya, maka kami dari pihak kepolisian akan menangkapnya dan memberi hukuman sesuai aturan yang berlaku, memberikan keadilan bagi Rany yang sudah meninggal."
Mendengaar kami berkata seperti itu, Nenek Wan pun mulai tenang "Yang paling membuatku cemas adalah cucu perempuan, sekarang dia sudah meninggal, aku pun tidak punya hal yang bisa dicemaskan lagi."
Mendengarnya berkata seperti itu, aku merasa ikut sedih.
Pak Rio pun ikut sedih dan berkata "Nenek Wan, kamu masih memiliki tetangga seperti kami, dan akan banyak orang yang datang menanyakan jodoh, menanyakan masa depan padamu."
Nenek Wan datang sampai ke hadapan altar.
Dia membakar 3 batang dupa, setelah terbakar, dupa itu dikibaskan, lalu menyembah Dewa dan ditancapkan pada Hiolo di depannya.
Setelah dupa terbakar beberapa saat, dia berkata padaku "Anak muda, setelah Nenek Meninggal, apakah kamu bersedia terus mengundang Dewa pulang ke rumah?"
Aku terkejut dan berkata "Aku?"
Nenek Wan mengangguk "Ini adalah permintaan terakhirku, Nenek mohon padamu, jika ada kesempatan, Nenek pasti membalas kebaikanmu di kehidupan selanjutnya."
Mengundang Dewa memang gampang, tetapi mengantarnya susah.
Nenek Wan selalu mendapatkan perlindungan Dewa selama hidupnya, dia mengandalkan uang amal dan pembangunan altar untuk menghidupi anak cucunya, dan jika Nenek Wan meninggal , tidak mungkin dibiarkan saja tanpa terurus.
Tetapi juga bukan berarti diover ke aku.
Nenek Wan melihat ekspresi kesulitan pada wajahku, langsung berlutut.
Mana mungkin aku menerimanya, segera aku menarik tangannya dan berkata "Nenek Wan, cepat berdiri."
Nenek Wan mengatakan jika kamu tidak bersedia, maka aku tidak akan berdiri, aku pun berkata dengan tak berdaya "Aku...aku mau, aku bersedia, Nenek cepat berdiri."
Setelah itu Nenek Wan baru kembali berdiri.
Malam itu juga Nenek Wan meninggal.
Dia membersihkan diri hingga bersih, memakai pakian dengan rapi dan berbaring di atas ranjang.
Setelah keluar dari rumah Nenek Wan, kami pun pergi ke kantor polisi.
Sangat disayangkan, tidak ada data Tuan Lee di kantor polisi, dan hanya mengandalkan selembar foto itu kami tidak mungkin bisa memastikan bahwa Tuan Lee terlibat dalam kasus ini, tidak mungkin menyebarkan perintah penangkapan.
Hanya bisa menyelidiiki sendiri.
Kemarin malam aku hampir bertemu dengannya dalam hutan kecil.
Hampir saja.
Aku kepikiran sebuah kemungkinan, apakah saat itu dia melihatku, jika dia tahu aku tidak mati, maka??
Aku pun mulai merasa ketakutan.
Tuan Lee memang sangat sulit dihadapi, saat ini dia pasti menjadi semakin licik, mulai saat ini aku harus berhati-hati.
Pak Rio merasakan keteganganku dan berkata "Ryung Chenn, kamu kenapa, ekspresi wajahmu begitu buruk."
__ADS_1
Aku hanya menggelengkan kepala.
Kembali fokus dan bertanya "Saat menyelidiki kasus Desaku, apakah kalian pernah memeriksa seorang gadis perempuan bernama Angel, dia pernah bersekolah di universitas X, kemudian kata orang di Universitas X tidak ada orang yang bernama Angel."
Pak Rio berkata "Maksud kamu Angel, anak perempuan dari Gurumu itu?"
Aku menjawab "Benar, dialah yang kumaksud."
Meskipun aku sangat tidak ingin mengakuinya, tetapi banyak jejak dan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Angel tahu bahkan ikut dalam kejadian ini.
Saat pulang, dia langsung menyalahkan aku bahwa aku yang telah mencelakai Ayahnya.
Dan yang lebih anehnya lagi dia memberiku surat pernikahan.
Aku sebagai pengantin laki-laki, Guruku sebagai penghulu dan yang menjadi istriku adalah anak perempuan Paman Thio yang bernama Tya.
Dan yang membuatku yakin ada masalah padanya adalah, di dalam peti mati tidak ada mayat Guru, sebagai Putri Guru satu-satunya, dia pasti ada di lokasi kejadian dan mengetahuinya.
Tidak mungkin tindakan Tuan Lee terhindar dari pengawasannya.
Kecuali mereka bekerja sama.
Tuan Lee adalah orang yang dicari oleh Angel, dan saat memikirkan keduanya bisa sedekat itu, kemungkinan ini terasa semakin nyata.
Pak Rio berkata "Dia juga menghilang bersama orang desa."
Aku berkata "Tidak, dia berbeda dengan orang desa, dia meninggalkan desa selama 2 tahun, kita tidak tahu apa saja yang sudah dia lakukan, kita tidak tahu apa yang terjadi diluar sana."
Pak Rio berkata "Maksudmu aku perlu memeriksa data Angel selama 2 tahun yang lalu?"
Tidak diragukan sebagai polisi kriminal, begitu dengar langsung mengerti.
Malam harinya kami membereskan barang di rumah, terutama untuk mengatur posisi altar penyembah dewa.
Di desaku, setiap rumah pasti di lengkapi dengan Dewa Pintu dan Dewa Tanah, di depan semua gang pun dapat ditemukan batu penangkal arwah jahat.
Sebaliknya, orang perkotaan tidak mementingkan itu semua.
Apa tidak disiapkan.
Maka dari itu, sangatlah wajar jika ditemukan hantu-hantu dalam rumah tua yang tidak berpenghuni.
Malam itu hujan turun dengan lebat, pagi harinya udara terasa hangat segar.
Saat Pak Rio bangun, aku sudah pulang membeli nasi ketan, ini berfungsi sebagai obat dan harus dimakan secara rutin.
Sebelum Pak Rio berangkat kerja, aku memanggilnya "Sini, bakar dupa untuk Dewa."
Orang itu malah kelihatan tidak senang "Aku tidak perlu untuk membakar dupa itu."
Aku mengambil 3 batang dupa dan membakarnya dengan api lilin sambil berkata "Terserah kamu, ini adalah hal baik, bisa menangkal kejahatan."
Pak Rio masih tidak percaya dengan perkataanku "Benarkah?"
Setelah dupa terbakar, aku menyembah Dewa sebanyak 3 kali dan menancapkan dupa tersebut pada Hiolo.
3 batang dupa berarti mengusir kejahatan dan mendatangkan kebaikan.
Sebenarnya juga ada pengetahuan khusus dalam membakar dupa, sesuai logika, dupa yang dinyalahkan bersamaan akan terbakar dengan kecepatan yang tidak berbeda jauh, tetepi kadangkala malah terjadi perbedaan yang cukup menojol.
Dua panjang satu pendek atau dua pendek satu panjang.
Sama halnya dengan hidup manusia, membakar dupa juga banyak pantangan, terutama dua pendek satu panjang, jika dupa yang tebakar sungguh terlihat dua pendek satu panjang, maka harus berhati-hati, Dewa memberitahu bahwa bahaya akan segera mendatangimu.
Setiap harinya pihak kepolisian berurusan dengan para pelaku kejahatan, sangatlah berbahaya, mendengarku berkata seperti itu, Pak Rio pun langsung ikut membakar dupa dan menyembah Dewa, dan meminta Dewa untuk selalu melindunginya.
Aku berkata "Harus tulus saat menyembahnya."
Orang ini menancapkan dupa dan menunggu sebentar di samping, setelah melihat pergerakan dupa, dia pun langsung berangkat kerja.
Pengetahuan tentang membakar dupa sangatlah rumit.
Tiga dupa yang terbakar akan memiliki bentuk yang berbeda-beda.
Selain itu, abu dari dupa yang terbakar juga mengandung banyak makna.
Di dalam Hiolo, dupa yang di bakar Pak Rio tidak sedikitpun bermasalah, ketiganya sama panjang, tetapi keadaan dupa yang aku bakar bakar sedikit berbeda.
Kiri dan kanan pendek, kemudian tengahnya panjang.
Dua pendek satu panjang!!!
__ADS_1
Hatiku mulai tidak tenang, aku pun merasakan ketakutan yang mendalam, bulu kudukku berdiri semua, kedua tangan pun tidak berhenti bergetar.
Iblis datang!!!
Tuan Lee, ini pasti Tuan Lee!!!
Kemarin malam dia pasti melihatku di dalam hutan kecil itu, dia pasti melihatku, apakah sekarang dia datang untuk membunuhku?
Bagaimana ini?
Aku kesal dengan ketakutan dalam diriku, aku terlalu lemah, aku sungguh tidak berpengalaman, menghadapi seorang Tuan Lee saja takut hingga seperti ini.
Aku memaksa diri untuk tetap berani.
Ayah dan Ibu sudah tidak ada, artinya aku harus mengandalkan diriku sendiri, aku harus berani.
Aku terus memaksa diri untuk kembali tenang.
Aku takut karena teknik dan keahlian yang dimiliki Tuan Lee, sungguh mematikan, dia bisa membuatku terkubur hidup-hidup selama 2 tahun.
Sampai saat ini aku belum tahu sebesar apa kemampuan yang dia miliki, tetapi yang pasti aku harus mempersiapkan diri.
Aku berencan pergi membeli sedikit perlengkapan di Jalan Kuil di daerah ini.
Jalan Kuil adalah tempat bersejarah, di sana ada sebuah kuil besar, yang katanya dibangun sejak Dinasti Song, dan saat ini menjadi tempat wisata.
Di depan kuil itulah ada sebuah jalan bernama Jalan Kuil.
Sepanjang jalan itu terdapat lapak-lapak yang menjual semua perlengkapan, mulai dari perlengkapan meramal, sembayang dan lainnya, bahkan ada sebuah toko yang khusus mengurusi pemakaman.
Saat tiba disana, aku melihat toko itu dan langsung tergerak untuk masuk.
Bos Pemilik toko adalah seorang laki-laki kurus yang berusia tidak terlalu tua.
Saat melihatnya, aku seperti melihat Kakek Buta, sama kurusnya, dengan wajah yang sama-sama hitam dan terlihat hidup tak lama lagi.
Ini adalah akibat dari terjangkit hawa buruk dan negatif.
Dari semua ini bisa dipastikan, bahwa bos pemilik toko ini memang memiliki keahlian.
Bos pemilik toko itu melihatku sekilas tanpa menyapa, dan bekata "Jika tidak ada masalah di rumah, maka jangan masuk ke toko ini, sungguh tidak tahu pantangan."
Aku kesal mendengar perkataan Bos pemilik toko itu "Bagaimana kamu tahu bahwa aku tidak akan membeli barang?"
Dia bekata "Aku tidak melihat ada ekspresi masalah sedikitpun diwajahmu.
Aku berkata "Memangnya tidak boleh beli jika di rumah tidak ada masalah?"
Bos pemilik toko berkata "Tentu saja boleh."
Dia tidak memperdulikanku lagi, aku melihat-lihat dan berkeliling sendiri di dalam toko, tergantung sebuah lampion di langit-langit toko.
Lampion kertas seperti ini sudah jarang di temui, dan yang pernah kulihat adalah lampion warna putih dan merah, sedangkan yang satu ini berwarna biru.
Lampion biru.
Seingatku dalam buku Kakek Buta tertulis, bahwa dalam bidang pemakaman, ada sebutan lain untuk sebuah lampion biru, yaitu lampu hantu.
Saat lampu hantu dinyalahkan, semua hantu dan arwah gentayangan di sekitar akan melihatnya, mereka pun akan berjalan mengikuti arah cahaya tersebut.
Untuk apa orang ini menggantungkan lampu hantu ini di dalam tokonya?
Bos pemilik toko itu seolah tidak peduli, akan tetapi sesekali dia memperhatikan gerak gerikku, saat menyadari pandanganku tertujuh pada lampion biru itu, ekspresi wajahnya langsung berubah.
Kemudian, sebuah peti kecil di dalam lemari kaca juga menarik perhatianku.
Peti mati itu hanya sebesar telapak tangan, terlihat murni sebagai tiruan peti asli, dibentuk dari papan 3 panjang dan 2 papan pendek.
Bagian depan dan belakangnya pun terukir tulisan "SEMBAH" berwarna keemasan dalam aksara China dan terlihat sangat unik.
Secara diam-diam aku melihatnya dengan teknik penghubung dunia arwah, terlihat peti ini sedang memancarkan cahaya hitam, hatiku sedikit bergetar, dapat dipastikan ini bukan replica peti biasa.
Aku bertanya "Berapa harga peti kecil ini?"
Bos pemilik toko itu melihatku dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu berkata "Kamu ingin membelinya?"
Aku menganggukkan kepala.
Bos pemilik toko itu pun berbalik badan dan mengambilkan peti kecil itu, kemudian meletakkanya dengan hormat di hadapanku.
Aku tahu bentuk penghormatannya ini bukan untukku, melainkan untuk peti kecil ini.
__ADS_1