MISTERI JALANAN MALAM

MISTERI JALANAN MALAM
Bertemu Sepatu 3 inci


__ADS_3

Ekapresi wajah Pak Rio terlihat berubah total, tangan kanannya mengepal kuat, pelaku sudah menenerima hukuman yang setimpal, tetapi anak itu sama sekali tidak bersalah.


Kepala Tangan Pak Rio terlalu kuat, hingga luka dilengannya kembali mengeluarkan darah.


Aku pergi ke gudang untuk mengambil kotak P3K, lalu mengobati lukannya dengan kapas yang sudah dibasahi dengan obat, warna darah itu terlihat aneh.


Merah kehitaman.


Seharusnya darah yang keluar berwarna merah segar.


Aku bertanya "Sakit tidak?"


Pak Rio menggelengkan kepala dan berkata "Sepertinya enak sekali."


Apa-apaan ini.


Perkataan selanjutnya membuatku mengerutkan kening, dia berkata "Aneh sekali, sungguh tidak terasa sakit, sama sekali tidak merasakan apa-apa."


Aku mencoba menekannya dengan kuat.


Tidak terlihat perubahan apapun pada wajah Pak Rio, seolah seperti luka itu tidak berada dilengannya.


Aku bertanya "Selain kamu, apakah ada rekan lainnya yang terluka juga?"


Pak Rio berkata "Semua terluka parah, hanya aku yang termasuk ringan, dua saudaraku diangkat dengan tinggi dan dihempaskan ke lantai, satunya lagi patah lengan dan satu lagi patah kaki, semua dibawah ke rumah sakit."


Aku berkata "Kamu pikir saja, seorang perempuan biasa dan sedang hamil, kenapa bisa memiliki kekuatan begitu beras?"


Ekspresi wajah Pak Rio berubah dan berkta "Maksud kamu dia kerasukan?"


Aku menggelengkan kepala "Kerasukan akan memberikan tenaga berlebih padanya, tetapi cakarannya tidak seharusnya meninggalkan virus mayat."


Pak Rio berkata dengan kaget "Apa ! virus mayat?"


Meskipun aku tidak yakin 100%, tetapi rasanya dugaan ini sungguh masuk akal, aku pun berkata "Darah kamu berwarna merah kehitaman, dan kamu tidak merasakan apapun di bekas lukamu itu, ini adalah gejala-gejala terjangkitnya virus mayat."


Mendengar penjelasanku, Pak Rio langsung menjulurkan tangan dan menekan luka itu, sama sekali tidak merasakan apa-apa, "Bagaimana bisa begini?"


Aku berkata "Apakah badan mayat bisa merasakan sakit?"


Wajah Pak Rio mulai pucat dan berkata "Kamu jangan menakut-nakuti."


Aku berkata "Percya atau tidak, semua terserah kamu."


Pak Rio menarik tanganku dengan panik "Percaya, aku percaya, kamu pasti punya solusinya kan."


Aku menjulurkan tangan menunjukkan bahasa tangan yang berat ??? Uang ??? "Solusinya ???"


Pak Rio pun berkata dengan kesal "Kali ini ingin berapa lagi?"


Aku menunjukkan 4 jari tangan "4 Juta."


Mata Pak Rio langsung melotot, dengan marah berkata "Ini namanya perampokan."


Aku pun menanggapinya "Tidak mau kasih ya sudah, kamu sendiri pikirkaan solusinya." Aku juga tidak ingin menipunya, hanya saja aku tidak punya kamar dan tempat tidur, tidak mungkin terus-terusan tidur dilantai.


Pak Rio pun memmbayar dengan patuh.


Aku menerima dan dan menghitungnya, jumlahmya tepat 4 juta, aku pun mengibaskan uang itu dan berkata dengn santai "Ayo jalan, malam ini aku traktir makan."


Pak Rio tidak pernah memasak dalam rumahnya, dia selalu membeli makanan dari luar atau makan dikantor."


Apalagi aku, aku juga tidak bisa memasak.


Semua pekerjaan dirumah dikerjakan sendiri oleh Ibuku.


Saat keluar dari rumahnya, aku melihat pintu rumah nenek itu dan berkata "Oh iya, Nenek yang tinggal di depan sana memintaku untuk menanyakan kasus cucu perempuannya kepadamu."


Pak Rio menghela nafas dan berkata "Cucu perempuannya sudah menghilang bertahun-tahun."


Kami memasuki sebuah restoran di salah satu kawasan itu dan langsung memesan 5 mangkok nasi ketan.


Pak Rio berkata "Kenapa pesan begitu banyak, memangnya kamu bisa habiskan?"


Aku berkata "Tidak ingin makan juga harus makan."


Dia berkata lagi "Hati-hati mati kekeyangan."


Saat bos restoran membawahkan makanan, aku langsung mendorongkan semua makanan ini ke hadapan Pak Rio, sembari berkata "Ketan ini bisa berfungsi menawar virus, tetapi virus dalam tubuh kamu sudah sangat mendalam, sudah masuk ke darah, maka dari itu harus makan beras ketan ini, meskipun khasiatnya sedikit berkurang, tetapi makan lebih banyak adalah solusinya."


Pak Rio berkata "Ryung Chen, kamu tidak sedang bercandakan."


Aku berkata "Cepat makan,, habiskan, dan nanti malam kita masih lanjut."


Sepertinya dia percaya padaku, demi menawarkan racun, dia langsung menghabiskan 5 mangkok beras ketan itu dengan cepat.


Masalah bagaimana khasiatnya, jujur saja aku tidak tahu, di dalam buku catatan Kakek Buta hanya tertulis bahwa beras ketan mentah bisa digunakan untuk menangkal virus mayat dan hal-hal kotor lainnya.

__ADS_1


Tetapi saat ini virus itu sudah masuk kedalam darah Pak Rio, tidak mungkin dimakan mentah-mentah.


Beras ketan memiliki kalori tinggi, beberapa orang yang memakannya akan mendapati bintik-bintik merah pada wajah, oleh karena itu lebih baik dimasak dulu baru dimakan, agar virus mayat itu juga ikut terbuang keluar.


Dengan beginilah logikanya, tetapi semua tetap tergantung kondisi nyata seperti apa.


Pak Rio meluruskan badan dan bersandar pada kursi, dan berkata dengan ekspresi wajah kesulitan "Kenyang sekali, apakah semua rekan yang terluka juga harus memakannya.?"


Aku mengangguk.


Pak Rio percaya dengan kata-kataku karena kami sudah mengalami banyak kejadian bersama, tetapi belum tentu rekan-rekannya akan percaya.


Ini adalah salah satu masalah besar.


Dan lebih parah adalah virus itu akan menyebar, begitu sampai ke jantung dan organ-organ tubuh lainnya, maka dewa pun tidak bisa berbuat apa-apa.


Pak Rio "Apakah perempuan yang aku tembak benaran sudah mati?"


Aku menggangguk lagi.


Selain sebuah mayat, aku sungguh tidak mengerti kenapa bekas cakaran yang dibuatnya membawah virus mayat.


Pak Rio berkata dengan tidak percya diri "Ini, ini ?? ini tidak mungkin."


Di buku yang Kakek Buta berikan tertulis bahwa ada banyak jenis mayat di dunia ini, yang berbadan kaku setelah mati dinamakan mayat kaku/vampir dan yang berbadan lunak dinamakan mayat berjalan.


Ada sekumpulan orang pengusir mayat yang terkenal di daerah Santonius.


Mereka hidup untuk membantu orang-orang mengusir mayat, sangat paham dengan cara mengendalikan sebuah mayat hidup, mereka memiliki banyak rahasia yang tidak bisa diungkapkan.


Aku berkata "Untuk membuat mayat bergerak tidaklah susah."


Aku memukulkan sumpit ke lutut Pak Rio, kakinya spontan mengejut.


Pak Rio seperti sedang memikirkan sesuatu.


Aku berkata "Inilah teori dasar dalam mengendalikan mayat, ilmu yang mempelajari tentang ini sangatlah dalam, tidak akan mengerti jika tidak ada yang mengajari."


Pak Rio bertanya "Apakah kamu bisa?"


Aku menggelengkan kepala, dalam buku yang Kakek Buta berikan hanya tertulis tentang pengalaman menangkap hantu dan semua tulisan-tulisan emas itu menceritakan tentang jimat penenang.


Sama sekali tidak memberitahukan cara mengendalikan sebuah mayat.


Sekitar pukul 10 malam, aku dan Pak Rio datang ke depan kamar mayat di samping kantor polisi.


Tetapi kami terus bersembunyi di dalam mobil.


Aku juga tidak terlalu yakin soal ini, jika mayat perempuan ini memang dikendalikan oleh seorang ahli, maka kemungkinan dia menariknya kembali.


Tentu saja ada kemungkinan seorang ahli itu merelakannya begitu saja.


Aku mengeluarkan buku dan membacanya.


Pak Rio berkata "Apakah kamu bisa membacanya di tempat segelap ini?"


Aku menjawab "Semakin gelap semakin jelas."


Beginilah teknik penghubung dunia arwah, bertolak belakang dengan mata manusia normal, semakin gelap pencahayan disekitar, maka tulisan emas itu akan terlihat dengan semakin jelas.


Pak Rio berkata "Sungguh orang aneh."


Saat ini aku masih sangat penasaran dengan ahli dan pengetahuan dalam bidang ini.


Aku terus merasa, semakin banyak pengetahuan yang aku kuasai, maka semakin dekat juga aku dengan terungkapnya kasus yang menimpa desaku.


Dan dengan cara ini aku bisa masuk ke dunia parah ahli untuk menemukan Tuan Lee.


Satu jam berlalu.


Tidak terlihat gerak gerik dari arah kamar mayat itu.


Pak Rio menunggu hingga mulai tidak sabar, jika disuruh menunggu pelaku kejahatan, maka dia pasti sangatlah bersabar dan semangat, tetapi malam ini kami datang untuk menunggu sebuah mayat perempuan, sungguh terdengar aneh.


Dan aku masih fokus dengan tulisan tulisan emas dalam buku.


Satu jam kembali berlalu.


Pak Rio berkata "Kita harus menunggu sampai kapan?"


Tiba-tiba terdengar suara....Phangggg!!!, kaca jendela lkamar mayat pecah.


Konsentrasi kami terpecah, dalam hati merasa sangat tegang, kami pun harus terus menatap kamar itu.


Pintu yang terbuka rapat terus bergoyang, seperti seseorang menarik dan ingin membukanya dari dalam.


Pheng...Pheng...Pheng...!!!

__ADS_1


Tarikan semakin kencang, pintu besar itu terus bergoyang, itu bukanlah pintu kayu biasa, melainkan sebuah pintu besi yang tebal, bagian tengahnya terlihat ditarik hingga cekung ke dalam.


Tenaga yang sungguh besar.


Semua bulu kuduk badanku berdiri, Pak Rio lebih parah dariku, dia menelan air liur dengan kedua rahang yang terus bergetar.


Pheng!!!


Pintu besi terbuka dengan tenaga yang kuat.


Di malam yang gelap itu, kami melihat sebuah bayangan orang terpantul ke dinding di samping pintu.


Secara perlahan, bayangan itu berjalan keluar.


Disaat ini juga, ketegangan dan kegelisahan memenuhi pikiranku, sungguh hampir pingsan rasanya.


Aku berusaha untuk tetap tenang, jika situasi seperti ini saja takut, bagaimana cara menghadapi Tuan Lee nanti, bagaimana cara menyelamatkqn Ayah, Ibu dan semua orang desa.


Pak Rio ketakutan hingga terus mencekik lenganku.


Terlalu sakit hingga aku tidak menaham dan berteriak.


Kelihatan jelas ini adalah reaksi pertamanya, sekalipun dia sering menghadapi peperangan peluru, tetapi saat melihat kejadian ini, tetap saja kaget setengah mati.


Seorang perempuan berbaju putih dengan rambut berantakan berjalan keluar.


Dia berjalan melewati serpihan kaca tanpa memakai sepatu, sepertinya dia tidak merasakan rasa sakit sedikitpun, Dia terus berjalan menuju tempat gelap yang tidak jauh dari sana.


Pak Rio berkata dengan mulut gemetaran "Sungguh, Sungguh??? Mayat perempuaan."


Aku juga baru pertama kalinya melihat ini, spontan aku ikut terkejut hingga bengong.


Pak Rio berkata "Kamu, Kamu cepat tangkap dia."


Bercanda saja.


Bagaimana menangkapnya, 5 polisi dengan fisik dan teknik terlatih saja.


kewalahan dibuatnya, orang biasa seperti aku mungkin hanya cukup


disentil dengan jaari kelingkingnya.


Aku berkata "Ikuti dia, kita lihat siapa dalang dari semua ini."


Mata Pak Rio terang bercahaya, benar juga.


Kami pun turun dari mobil, memberanikan diri berjalan mengikuti mayat perempuan itu dari belakang.


Setelah mengikuti  hingga belasan menit, mayat perempuan itu masuk ke sebuaah gang yang gelap.


Tidak ada lampu jalan di dalam gang itu, gelap hingga tidak terlihat apa-apa, terlihat mayat perempuan itu berjalan memasuki kegelapan.


Kami berdua pun menghentiakn langkah, tidak berani ikut masuk.


Takut?


Apa yang perlu ditakutkan, paling hanya mati, dan aku sama sekali tidak takut.


Aku memberanikan diri untuk masuk mengikutinya.


Melihatku masuk ke dalam gang, Pak Rio ragu beberapa saat, pada akhirnya dia pun ikut masuk.


Gang itu tidaklah panjang.


Tidak beberapa lama kami pun sampai diujung gang, terlihat hutan dan semak belukar disana, ternyata kami telah sampai di kaki gunung.


Pak Rio berbisik "Ternyata Gunung Barat."


Gunung di daerah ini tidaklah banyak, dan gunung yang tertinggi adalah Gunung Barat, karena letak dan pembangunan yang buruk di tempat ini, ditambah dengan ada sebuah yayasan pemakaman di sekitar tempat ini, kebanyakan orang tidak berani datang saat malam hari.


Mayat perempuan itu berjalan memasuki hutan yang gelap gulita.


Puluhan batang pohon besar seolah seperti bayangan hantu yang  sedang menampakkan gigi taringnya, angin kencang meniup daun hingga menyerupai suara cekikkan mereka, jangankan masuk, melihat dari jauh saja sudah membuat orang ketakutan.


Kali ini Pak Rio benaran terkejut dan berkata "Atau kita pulang dulu saja, besok pagi baru datang memeriksa tempat ini."


Mataku terpejam, lalu mengusap alis mata dengan jari.


Aku melihat sebuah mayat perempuan sedang bergantung di atas pohon, dengan kedua kaki yang pucat tak berdarah, aku pun kaget hingga badanku hampir saja terjatuh.


Astaga.


Ada sepasang sepatu kecil terletak di depannya.


Warnanya merah dan dihiasi dengan sebuah  bunga botan yang besar, ukuran sepatu itu hanya sebesar telapak tangan, itu dia sepatu 3 inci !!!


Jantungku mulai berdetak dengan cepat.

__ADS_1


Semua perasaan menerjangku seperti ombak, hilang kendali, panik, bingung, dan takut.


Benarkah itu dia?.


__ADS_2