
Pak Hen sedang terbaring di ranjang, dengan kepala bercucuran keringat dan mulut yang terus mengigau.
Aku tidak tahan dan berkata "Seram sekali."
Seorang polisi pasti memiiki jiwa dan fisik yang kuat, apalagi seorang seperti Pak Hen, saat ini dia tidak kuat menahan sakit yang melanda dirinya, ini cukup membuktikan seberapa kuat dan galaknya makhluk malang itu.
Pak Rio membawah segelas darah ayam sambil berkata "Benaran, beri dia minum ini?"
Aku berkata "Iya, reaksi segar dan panas dari darah ayam sangatlah baik."
Energi pada tubuh ayam jantan sangat kuat, dan darah ayam juga bisa digunakan untuk mengusir makhluk jahat, seharusnya cukup mudah untuk mengusir hawa jahat yang mengikat dalam tubuh Pak Hen.
Pak Rio pun menekan hidung Pak Hen dan memasukkan semua darah ayam ke dalam mulutnya.
Aku bertanya "Apakah kamu sudah menyelidiki masalah Ing?"
Pak Rio berkata "Ada 4 yayasan pemakaman di daerah ini, aku sudah mengunjungi semuanya dan tidak ada yang pernah menangani mayat Ing, hingga mayat Ayah mertuanya pun belum pernah diurus oleh mereka."
Ini persis dengan perkiraanku, dan menurutku, masalah ini pasti berkaitan dengan pendekar itu.
Mengikat kedua kaki dengan benang merah, ini hanya bisa dilakukan oleh seorang pendekar.
Dan pendekar ternama di sekitar sini adalah Keluarga Ye.
Tuan Lee ???
Aku berkata "Nanti sore, kita periksa ke sekitar rumah Ing."
Pak Rio mengangguk dan berkata "Aku juga berpikir seperti itu."
Pak Rio melihatnya dari segi polisi yang sedang menyelidiki kasus, dan aku memutuskan semuanya berdasarkan teori yang pernah ku baca.
Dimana dia meninggal disitulah arwahnya menetap.
Kedua kaki Ing diikat dan dia tidak bisa kemana-mana, tempat dia berdiri kemarin malam mungkin titik kematiannya.
Suara Pak Hen yang mengigau perlahan mulai tidak terdengar, keadaannya pun hampir normal kembali.
Pak Rio berkata dengan senang "Sungguh berguna."
Sejujurnya, aku juga tidak terlalu pandai, hanya mengandalkan pemahaman diri sendiri, tak disangka sungguh berhasil.
Tetapi ekspresi Pak Rio saat memandangku mulai berubah.
Takutnya dia memang melihatku sebagai seorang ahli yang punya banyak kemampuan, sesungguhnya, aku hanyalah seorang yang biasa-biasa saja.
Kami pun datang ke tempat jajanan yang kami datangi semalam.
Sepanjang jalan terlihat kosong tanpa seorangpun, berbeda sekali dengan suasana yang sangat ramai semalam.
Aku berjalan ke posisi dimana Ing berdiri.
Mata mulai terpejam, pandangan gelap, mengusap alis dengan jari dan berusaha melihat, tetapi tidak ada apapun yang aneh disana.
Pak Rio bertanya "Apakah kamu melihat sesuatu?"
Aku menggelengkan kepala.
Pak Rio berkata "Aku sudah bertanya pada warga sekitar, 3 hari yang lalu rumah itu diambil paksa oleh orang, di hari itu juga, Ayah mertua Ing mengalami serangan jantung dan meninggal di tempat, bersamaan dengan itu, Ing juga menghilang."
Aku bertanya "Dimana rumahnya."
Pak Rio mengangkat kepala dan menunjuk sebuah rumah di lantai 3, "Yang itu."
Aku berkata "Ayo masuk daan periksa ke dalam."
Rumah Ing sangat berantakan, perabot rumahnya terjatuh kemana-mana, sepertinya terjadi perlawanan saat diusir paksa oleh orang-orang itu.
Aku mengeluarkan dua lembar kertas kuning dari saku.
Aku mengeluarkan pensil cinabar dan menggambarkan jimat penenang, di salah satu kertas.
Ini jimat pertama yang aku tulis, aku sudah banyak berlatih sebelumnya, pernah berlatih beberapa kali, meskipun terasa sedikit tidak terbiasa, tetapi tetap saja berhasil aku buat.
Pak Rio bertanya "Apa yang kamu gambar?"
Aku menjawab "Ini adalah jimat penenang mayat."
Jimat dengan tingkat paling rendah, khasiatnya tidak begitu besar, hanya untuk mengatasi mayat yang akan bangkit.
Satu lembar lagi tidak aku gambar.
dua lembar kertas itu aku genggam dalam tangan dan melemparnya ke atas.
Melihat kertas yang berterbangan, Pak Rio bertanya "Apa yang sedang kamu lakukan?"
__ADS_1
Aku tidak menjawab, pandangan mataku terus tertuju pada dua lembar kertas yang melayang di atas kepala.
Salah satu kertas terjatuh ke lantai, sedangkan kertas yang bergambar jimat penenang masih melayang di atas, lebih pelan dari pada kertas yang tidak bergambar.
Sesuai dengan logika, kertas yang telah berisi jimat itu harusnya lebih berat dan lebih cepat jatuh, karena ditulis dengan bubuk cinnabar.
Tetapi kenyataannya malah terbalik.
Aku berkata "Ada mayat yang pernah diletakkan disini."
Pak Rio berkata "Kenapa kamu yakin begitu."
Aku menganggukkan kepala.
Jimat penenang mayat bisa tertempel dengan kuat pada peti atau badan mayat tanpa bahan perekat, karena jimat ini memiliki sifat menarik seperti magnet.
Dan baru saja aku melemperkan jimat penenang mayat di ke atas, terlihat perbedaan jauh antara kertas itu dan kertas lain, hal ini menunjukkan bahwa dalam rumah ini memang ada hawa-hawa mayat.
Dan artinya di tempat ini pernah diletakkan mayat.
Mungkin hanya orang autodidak sepertiku yang bisa menggunakan jimat penenang mayat untuk mencari tahu apakah disini pernah diletakkan mayat.
Aneh juga kalau begitu.
Thomas Lin, Ayah mertua Ing mengalami serangan jantung karena di usir dari rumah, sedangkan berdasarkan penjelasan tetangga, dia meninggal di luar rumah.
Dan setelah diusir dari rumah, tetangga-tetangga tidak pernah melihatnya lagi.
Sesuai dengan logika, seharusnya rumah ini kosong, kenapa malah pernah diletakkan mayat.
Pak Rio pun berkata "Atau mungkin Ing mati disini?"
Aku berjalan ke arah balkon rumah, menunjuk simpang jalan di bawah gedung dan berkata "Sepertinya dia meninggal disini."
Pak Rio berkata "Maksud kamu dia terjatuh dari atas balkon dan mati disini?"
Aku menjawab "Sangat mungkin."
Dia pun melanjutkan perkataannya "Kemungkinan bunuh diri sangat kecil, sepertinya dia didorong oleh seseorang."
Aku menjawab "Benar, jika bunuh diri, tidak ada orang yang mengambil mayatnya, sebuah mayat tergeletak di tengah jalan mungkin akan terlihat orang-orang, kemungkinan besar dia didorong hingga terjatuh."
Pak Rio pun berkata "Menemukan pembunuh itu, maka pasti ada kemungkinan kita bisa menemukan mayat itu."
Demi membuktikan perkiraanku, Pak Rio kembali turun ke bawah gedung, dia memeriksa tempat Ing berdiri, terlihat bekas darah yang belum hilang total di jalan aspal.
Pak Rio berkata "Siapa yang mendorongnya hingga terjatuh?"
Aku menjawab "Aku juga bukan polisi, hanya bertugas untuk mencari mayat, dan bayaran untukku adalah 1 juta, aku berikkan diskon 10% untukmu."
Pak Rio berkata dengan kesal "Sial, Ternyata kamu begitu tamak dan gila harta."
Aku berkata dengan wajah tak berdaya "Jika orang desa sepertiku ingin bertahan hidup di kota besar, bukankah harus mencari uang lebih banyak?"
Pak Rio berkata "Baiklah, asalkan kasus ini bisa terungkap dan bisa menemukan mayat Ing, 500 ribu lebih akan aku bayar, lalu setelah ini kita harus berbuat apa?"
Aku berkata "Tentu saja mencari mayat itu."
Pak Rio bertanya lagi "Kemana kita harus mencarinya?"
Tentu saja aku tidak bisa langsung menjawab, tetapi jika aku mengatakan tidak tahu, maka kesan baik Pak Rio terhadapkupasti akan berubah drasti, aku pun berkata dengaan ekspresi yang sangat yakin "Cari dulu pembunuhnya."
Pak Rio bertanya "Kamu mau kemana?"
Aku berjalan ke arah simpang jalan sembari menjawab "Beli keperluan sehari-hari."
Setelah kembali ke mobil, terlihat sebuah panggilan tak terjawab di hanphone Pak Rio, dia pun menelpon kembali, ternyata itu panggilan dari kantor pollisi, dia meminta Pak Rio untuk segera kembali karena ada kasus baru.
Beginilah polisi penyelidik kriminal, kapanpun ada kasus, di saat itu juga kita harus langsung bergerak.
Pak Rio berkata "Aku tidak bisa menemanimu pergi, di depan sana ada supermarket , kamu pergi kesana dan satu lagi, jangan buat rumahku berantakan."
Aku pun turun dari mobil sejak mendengarnya telepon, kesal hingga tidak ingin mendengar lebih banyak lagi.
Aku pun berjalan masuki supermarket dan membeli keperluaan sehari-hari beserta beberapa helai pakaian murah, setelah itu langsung pulang menuju rumah.
Baru saja akan membuka pintu, Nenek itu kembali muncul dibelakangku, dan berkata "Pak Rio, bagaimana kasus cucu perempuanku."
Aku berbalik badan daan tersenyum padanya "Nenek, kamu salah orang, akun buka Pak Rio, aku ini temannya."
Nenek itu berkata "Jika Pak Rio sudah pulang, tolong tanyakan padanya, bagaimana kasus cucu perempuanku."
Aku menganggukkan kepala.
Melihat Nenek itu sudah masuk kedalam rumahnya, aku pun membuka kunci rumah dan masuk ke dalam.
__ADS_1
Setelah membereskan barang-barang, aku duduk di sofa sambil membaca buku catatan yang diberikan oleh Kakek Buta.
Soal buku ini, aku masih merasa sangat penasaran.
Kenapa hantu perempuan itu bisa tahu di dalam buku pemberian Kakek Buta ini tersimpan sebuah rahasia.
Banyak sekali tulisan didalam buku ini, dan tulisan berwarna emas ini hanya bisa terbaca saat sedang terhubung dengan dunia arwah, dan tidak semua orang bisa menguasai teknik ini.
Aku rasa, semua orang belum tentu tahu akan rahasia yang tersimpan ini.
Jika benar begini, maka lebih aneh lagi rasanya.
Kenapa hantu perempuan itu tahu, dan dia juga tahu bahwa tulisan-tulisan itu bisa mengatasi rasa dingin yang menusuk.
Apakah mereka saling kenal.
Jika memang saling kenal dari awal, saat Kakek Buta itu mengajakku berbicara, juga memberiku orang-orangan dari kertas, ada kemungkinan dia memang ini melawan hantu itu.
Dan saat hantu perempuan itu terluka, dia tidak berdaya untuk menolongku keluar dari kuburan waktu itu.
Apakah ini tujuan Kakek Buta?
Jika memang benar, apakah Kakek Buta itu bersekongkol dengan Tuan Lee?.
Aku harus memecahkan teka-teki ini, aku harus mencari Ayah Ibu dan semua orang desa.
Ada cara untuk menyelamatkan orang hidup, ada juga cara untuk menyelamatkan orang mati.
Aku harus menyelamatkan mereka.
Terdengar suara orang membuka pintu, aku pun langsung menutup buku itu.
Pak Rio masuk kedalam dengan wajah lelah, terlihat luka memar akibat perkelahian di lengannya, dan terdapat noda darah pada bajunya.
Aku bertanya "Kamu terluka ya?"
Pak Rio datang ke arahku dan menjatuhkan diri ke sofa, sambil berkata "Sudah biasa."
Dia berkata "Sialan, kenapa kekuatan perempuan itu besar sekali, 5 orang polisi pun tidak cukup kuat untuk menahannya, sungguh dia seperti monster."
Polisi kriminal adalah polisi yang sangat terlatih dari segi fisik, biasanya akan sangat mudah untuk menumbangkan beberapa hingga puluhan orang.
Dan sekarang, 5 orang polisi tidak bisa menandingi seorang perempuan.
Berarti orang itu bisa mengalahkan 5 hingga 10 orang dengan tangannya sendiri.
Dan ini adalah seorang perempuan !
Aku melihat bekas cakar berukuran 3cm di lengan Pak Rio, terlihat memar merah kehitaman, aku pun bertanya "Kasus apa yang melibatkan orang itu."
Pak Rio menjawab "Kasus pembunuhan."
Pak Rio berkata "Sudah mati tertembak dia, aku yang menembaknya, saat itu dia mencekik salah satu rekanku, tenaganya begitu kuat, aku takut rekanku mati di tangannya, makanya aku melepaskan tembakan."
Aku bertanya lagi "Dimana orangnya sekarang."
Pak Rio menjawab "Sudah dibawah ke kamar mayat."
Aku berkata "Aku ingin melihatnya."
Pak Rio melihatku dengan heran dan bertanya "Kenapa? Ada masalah? Kamu jangan terus-terusan misterius begitu ya."
Aku berkata "Ya sudah kalau begitu."
Pak Rio melihat ekspresiku seperti itu, kepikiran saat menghadapi kasus tadi, perempuan yang terlihat lemah lembut itu galak dan kuat seperti monster, dia pun berkata "Sudah, sudah ikut aku sekarang."
Pak Rio membuka pintu ruang kerjanya, ruangan itu terlihat kosong, terlihat sebuah tikar di sudut ruangan, dengan selimut dan bantal disana.
Dia berteriak "Dimana komputerku?"
Aku berkata "Oh, Tv di kamar rusak, tidak bisa dinyalakan, sudah aku pindahkan ke luar, mulai sekarang ini akan menjadi kamarku."
Pak Rio terdiam tanpa berkata-kata.
Dia mengeluarkan laptop dari gudang, menyambungkan kabel internet dan berkata dengan wajah sinis "Ini komputer, komputer! bukan TV."
Masuk ke alamat web kantor kepolisian.
Pak Rio berkata "Kamu tidak boleh masuk ke kamar mayat, aku punya beberapa foto mayat itu disini, kamu bisa melihatnya."
Terlihat wajah seorang perempuan muda itu difoto.
Dokter sudah memotret semua luka pada badannya, dan luka terbesar tentu saja adalah tembakan dari Pak Rio, dari punggung menembus jantung.
Terlihat bekas cakar di lengannya.
__ADS_1
Dokter juga memotret bagian perutnya, terlihat sedikit menonjol, sesuai laporan otopsi, perempuan itu sedang hamil 3 bulan.
Pak Rio berkata dengan kaget "Ternyata dia Ibu hamil.!"