
Masalah itu telah berlalu selama 2 tahun, demi menghindari tanggung jawab, pemerintah sengaja mengarang sebuah cerita yang bertentangan.
Hanya Pak Hen tidak rela melepasnya.
Dia seolah tidak mendapatkan sumber dan informasi yanng berguna dariku, terlihat sangat kecewa.
Pak Hen berkata "Lalu apa rencanamu setelah ini?"
Aku menjawab "Berjalan sambil berencana".
Meskipun berkata begitu dalam hati aku sudah memikirkan, setelah ini aku akan pergi ke kota untuk menemui Paman Thio dan menanyakan surat pernikahan itu.
Dan tidak akan lupa untuk mencari orang yang bernama Tuan Lee.
Saat itu Tuan Lee sendiri mengakui dirinya sebagai seorang pendekar hebat dan menurut perkataan hantu perempuan, sebenarnya dia punya rencana buruk, dia sangatlah jahat.
Aku harus menemukan dia.
Pak Hen mengangguk "Sebelumnya, kamu harus menuju kantor polisi bersamaku untuk membuat pengakuan."
Orang ini sungguh bersih keras, dia sama sekali tidak menyerah untuk melakukan penyelidikan.
Penjaga kantor kepolisian didaerah tersebut sangatlah sedikit.
Suasana sangat sepi.
Hanya saja lampu diruangan menyala dengan terang, hingga seisi ruangan seolah seperti siang hari.
Aku pun dibawah masuk ke ruangan untuk di interogasi.
Ruangan interogasi malah sangat berbeda, di ruangan ini, penerangan sengaja dibuat kurang.
Aku duduk di sebuah kursi yang sangat dingin, tiba-tiba sebuah cahaya terang menyoroti wajahku, membuat mataku terasa tidak enak.
Dalam situasi ini, orang-orang pasti akan merasa gelisah dan panik.
Tatapi ini malah tidak berpengaruh besar terhadapku.
Pak Hen dan Pak Rio duduk didepanku, Pak Hen bertugas menginterogasi dan Pak Rio membuat catatan.
Ini adalah sebuah proses interogasi yang normal di kantor polisi.
Karena cahaya yang terang menyoroti terus wajahku, aku pun terus memejamkan mata, tetapi anehnya aku seperti melihat sebuah bayangan yang terus bergerak didepan sana.
Aku pun menjulurkan tangan dan berusaha menghalangi cahaya terang itu.
Saat melihat bayangan di belakang Pak Hen, bayangannya di dinding terus bergerak.
Tetapi sejak itu Pak Hen tidak bergerak sama sekali, hanya duduk terdiam.
Ini membuatku tiba-tiba tegang, ada apa ini?
Pak Hen pun memulai interogasi.
Semua yang perlu ditanyakan dan semua yaang perlu dijawab sudah katakan di sepanjang jalan, tetapi mereka tetap saja ingin mengulanginya, jika sampai aku memberi jawaban yang berbeda, maka masalah aku akan semakin besar.
Untung saja ingatanku cukup baik, dan yang aku ucapkan juga bukan sepenuhnya omong kosong.
Pak Hen mengulang semuanya selama tiga kali dengan sangat sabar, tetapi semua jawabanku sama persis seperti awal.
Dia pun mulai lelah, berdiri dan berjalan keluar ruangan.
Pak Rio menjulurkan tangan dan mematikan cahaya yang menyoroti wajahku, kemudian membuka sebuah lampu kecil di atas meja.
Aku pun berkata "Pak Rio, Pak Hen sedang bermasalah."
Pak Rio merapikan catatan sambil bertanya "Masalah apa?"
Aku berkaata "Ada masalah dengan bayangan."
Pak Rio tertawa dan berkata "Ada masalah dengan bayangan ! Lalu harus bagaimana, perlu kita panggil seorang ahli, apakah perlu dibayar?"
Aku tahu dia tidak akan percaya.
Aku pun berjalan keluar ruangan interogasi bersamanya, Pak Hen sedang berdiri di koridor sambil mengisap rokok.
Selain ruangan interogasi, setiap sudut ruangan lain di kantor polisi itu diterangi dengan bola lampu yang besar.
Bayangan Pak Hen terlihat sangat jelas di dinding bagian belakangnya.
Pak Rio tidak sengaja melirik bayangan Pak Hen, dan wajahnya seketika menunjukkan ekspresi kaget.
Saat melihat bayangan Pak Hen, aku juga merasakan hal yang sama, sungguh kaget setengah mati.
Bayangan itu, perlahan mulai menghilang, seolah-olah sedang digerogoti, dan dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Dan diperkirakan semua bayangan itu akan hilang dalam waktu tidak lebih dari setengah menit.
Hanya dalam sekejap saja.
Kaki dari bayangan itu pun sudah tidak terlihat lagi.
Pak Rio hanya bengong melihatnya.
__ADS_1
Kejadian ini sangat menakutkan, sungguh menyalahi aturan dan teori optik.
Diatas dinding koridor juga tergantung sebuah spanduk yang bertuliskan? Pembasmi kejahatan, sepertinya ini pemberian warga setempat kepada kepolisian.
Aku pun berlari secepat mungkin ke arah spanduk itu.
Dengan sekuat tenaga aku menyobek spanduk itu, lalu menarik sebuah benang merah ke arah Pak Hen.
Bersamaan dengan itu, aku pun menembuskan benang pada dada orang-orang yang sudah disiapkan, lalu membakarnya dengan korek api.
Setelah melakukan ini semua, aku tepat berada di hadapan Pak Hen, aku pun menarik tangannya dan melingkarkan benang pada jari telunjuknya.
Orang-orang terbakar dan diikuti dengan benang merah yang juga ikut terbakar, dengan cepat api itu menjalar ke arah jari telunjuk Pak Hen.
Saat melihat api itu, Pak Hen berencana lari, tetapi malah ditahan oleh diriku dengan kuat.
Aku pun mengeluarkan seluruh tenaga, mencubit jari tangannya dengan kuat hingga meneteskan darah.
Saat itu api sudah membakar jari dan bekas luka di tangannya.
Aaaaaa !!!
Bayangan pada dinding itu pun mengeluarkan suara teriakan suara yang menderita, suara itu terdengar sangat jelas di kantor polisi yang sepi dan sunyi, sungguh sangat menyeramkan.
Aku menggenggam korek api dengan kuat dan melemparnya ke arah dinding tersebut.
Buuummm !!!
Korek api itu pecah, saat minyak di dalam terkena api, terdengar suara ledakan, dalam sekejap api besar merayap di atas dinding.
Chhhhh, Chhhh, Chhhh !!!
Dinding terbakar, meninggalkan sebuah sosok badan seorang manusia dewasa.
Semuaa ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
Mendadak dan sangat mengejutkan.
Pak Hen terdiam melihat sosok badan yang tertinggal di dinding, saat ini masih terus mengeluarkan asap, serta bau gosong yang menyengat.
Tidak hanya warna gosong yang tertinggal di dinding.
Tetapi juga selapis material berwarna hitam.
Setelah tersadar dari bengongnya, wajah Pak Hen langsung marah, emosinya semakin memuncak, pada akhirnya sudah tidak tahan dan berkata "Sial, beraninya kamu menyerang polisi dan membakar kantor polisi, tahukah kamu hukuman apa yang akan di tanggung ?"
Hukumannya tentu sangat besar.
Aku berkata "Jika aku tidak melakukan ini, kamu akan terjebak dalam bahaya.
Aku tetap terdiam, dan hanya berkata dengan nada datar "Bagaimana kamu menjelaskan jeritan tadi"?
Ini juga yang membuat Pak Hen tidak mengerti.
Jika disuruh menarik benang, menyemburkan api, dan menyorotkan sebuah bayangan di dinding, ini bisa saja dilakukan oleh pesulap-pesulap profesional.
Tetapi sebuah suara yang sangat nyata terdengar dari dalam bayangan itu, kenapa bisa begini.
Dalam sekejap Pak Hen tidak mampu berkata-kata.
Dan Pak Rio malah kaget hingga mulut menganga lebar.
Dia hanyalah penonton.
Dia melihat semuanya lebih jelas dari Pak Hen yang mengalaminya langsung.
Beberapa saat kemudian Pak Rio tersadar dari lamunan, dan bertanya dengan panik "Bagaimana bisa begini !!!"
Aku menjawab "Tidak sehaarusnya Pak Hen menendang tong pembakaraan itu."
Pak Hen pun kembali marah "Sembarangan", tetapi saat ini nada bicaranya tidak setajam tadi."
Aku tertawa dengan ekspresi datar.
Pak Hen menekan amarah dan berkata "Lebih baik kamu menjauh dari sini, disini bukan tempat untuk berbual", Dan lalu berkata kepada Pak Rio "Uruskan penginapan 1 malam untuknya, belikan tiket kereta besok pagi dan suruh dia pergi."
Selesai berkata, dia langsung berjalan pergi dengan terburu-buru.
Aku terus melihatnya dan menatap sosoknya yang menjauh, saat ini bayangannya sudah kembali normal seperti biasa.
Sepertinya hantu itu sudah terbakar hingga tidak tersisa.
Pak Rio berkata "Ayo jalan, aku bawah kamu ke penginapan."
Penginapan di kantor polisi sangat baik, sungguh memenuhi syarat hotel bintang 3.
Ini pertama kalinya aku bermalam di penginapan mewah.
Rasanya sangat segar.
Pak Rio membukakan sebuah kamar untuk dua orang, dia pun tidak langsung pergi, tetapi menyeduh teh dan duduk di depanku.
Laalu bertanya "Apa yang terjadi barusan?"
__ADS_1
Aku berkata "Aku tidak melihat semuanya."
Saat itu dia melihat dengan jelas, bahwa bayangan itu sudah termakan hingga ke bagian kepala, jika aku terlambat satu menit, maka semuanya akan lenyap.
Dia pun bertanya "Apa yang akan terjadi jika semua bayangan hilang?"
Aku berbalik bertanya "Pernahkah kamu mendengar, bahwa hantu tidak memiliki bayangan."
Mendengar perkataanku, badan Pak Rio langsung bergetar, wajahnya memucat dan bertanya dengan takut "Apakah hantu itu akan kembali?"
Aku menggelengkan kepala "Sudah terbakar menjadi abu. Tetapi, badan Pak Hen akan sedikit bermasalah, tergantung dengan daya tahannya sendiri, jika baik maka hanya akan sakit ringan, dan jika buruk, mungkin akan terasa sakit parah, tetapi tidak sampai membahayakan nyawa."
Jika dipikir-pikir, kata-kataku cukup menusuk juga.
Tetapi disituasi seperti ini sungguh tidak ada cara lain untuk menyampaikannya lagi.
Dan semua ini memang terbukti, teknik yang diajarkan dalam tulisan emas di dalam buku itu memang ada benar dan berguna.
Ini memberiku rasa percaya diri yang sangat tinggi.
Pak Rio menyalakan rokok dan menghisapnya dan menghembuskan asap rokok, lalu berusaha menenangkan diri dan berkata "Apakah masalah di desamu berkaitan dengan ini?"
Aku menggelengkan kepala "Aku juga tidak tahu."
Dia menghembuskan asap rokok lagi, lalu berkata dengan nada berat "Tidak hanya 500 orang di desamu, seorang polisi juga menghilang."
Dia mengeluarkan selembar foto dari saku bajunya.
Didalam foto terlihat seorang laki-laki muda yang tersenyum ceria "Namaya Pak Enzo, dia adalah adik kandung Pak Hen, dia juga teman baikku semasa kuliah."
Aku tiba-tiba mengerti, ternyata seperti itu.
Pantas saja mereka tetap tmenyelidiki kasus ini yang sudah berlalu 2 tahun ini.
Setelah wisuda, Pak Rio dan Pak Enzo langsung bergabung ke dalam tim polisi kriminal bersaama Pak Hen, dan kasus di desa kami adalah kasus pertama yang mereka tangani semenjak bergabung.
Dan kebetulan terjadi masalah yang tak terduga.
Kukira aku adalah satu-satunya korban dalam peristiwa ini, tetapi ternyata ada dua polisi yang juga bernasib malang sepertiku.
Ini membuatku merasa sangat akrab dengan Pak Rio.
Kruuu !!!
Perutku mulai memanggil lagi.
Hari ini aku hanya memasukkan semangkok mie telur ke dalam perut dan menambah sebungkus mie instan di malam harinya, saat ini rasa lapar pun kembali mengamuk dalam perut.
Tidak hanya aku, tetapi Pak Rio juga merasa lapar.
Dia berkata dengan sangat senang "Ayo jalan, aku bawah kamu makan di bawah gedung."
Jajanan malam memenuhi sepanjang jalan, lampu-lampu terang menghiasi jalan, jangan tanyakan seberapa ramai tempat ini, yang pasti sangat berisik, sama seperti saat mengadakan bazaar atau lapak cuci gudang di pedesaan.
Pak Rio membawahku duduk di sebuah pondok bakar.
Dia berkata "Hari hantu apanya, orang-orang disini tidak tertarik dengan yang seperti itu, sekalipun benar ada hantu, melihat orang sebanyak ini saja dia sudah kabur entah kemana."
Yang Pak Rio katakan benar, energi positif dari kerumunan orang banyak memang sangat kuat.
Tetapi, hari hantu tetap hari hantu.
Aku menunjuk sebuah gang kecil yang tidak jauh dari sana, di mulut gang yang gelap itu, seorang Kakek tua sedang memegang seikat dupa, dia menancapkan dupa di setiap sudut dengaan jarak beberapa meter.
Aku berkata "Semua yang datang adalah tamu, dan sudah seharusnya kita mengundangnya minum teh."
Lalu melihat langit di atas lampu yang terang.
Awan hitam menutupi langit.
Dan tepat di bawah awan hitam itu terdapat sebuah pohon pagoda yang besar, dengan batang pohon yang yang sangat besar.
Aku berbisik "Gawat."
Pak Rio berkata dengan wajah keheranan "Apa yang gawat?" Dia berkata sambil membuka sebotol bir dan menuangkan pada gelas.
Aku berkata "Disitu ada sebuah pohon pagoda."
Pak Rio semakin heran "Memangnya kenapa kalau ada pohon pagoda?"
Aku berkata "Tahukah kamu aksara China dari nama pohon pagoda?"
Pak Rio berkata "Tentu saja tahu, sebelah kiri adalah tulisan? Pohon? dan sebelah kanan adalah? Hantu?" Gerakan menuang bir itu terhenti.
Aku lanjut berkata "Pohon Pagoda menyimpan hantu, hawa dan energinya akan menarik banyak hantu dan iblis. Konon katanya banyak orang yang memilih pohon ini untuk menggantungkan diri, karena saat, meninggal nanti mereka akan dekat dengan hawa dan energi buruk, warga desa pun sering kali menanam poho pagoga di gerbang desa sebagai tempat peristirahatan arwah dan hantu, dengan cara yang lembut ini mencegah mereka masuk dan menganggu warga."
Pak Rio berkata "Apa maksud kamu semua ini?"
Aku berkata dengan cemas "Saat ini pohon pagoda tepat diantara orang-orang ramai, tidak masalah jika hari biasa, tetapi ini hari hantu."
Pak Rio berkata "Lalu harus bagaimana?"
Aku berkata "Cepat makan, atau kalau tidak kita bungkus saja."
__ADS_1
Paak Rio mengerutkan kening dan berkata dengan heran "Kenapa, akan ada masalah disini?"
Aku menganggukkan kepala.