Mr. Cat

Mr. Cat
Burlb


__ADS_3

Minami Muruka, 16 tahun. Yatim piatu, bodoh, tidak menarik.


Ia menjalani 10 tahun hidupnya di panti sosial kemudian berpindah ke apartemen sewaan saat masuk SMA.


Sering ditindas dan mengalami penyiksaan secara fisik, membuat Minami mulai depresi.


Puncak stresnya dimulai ketika Yoshio Takeda tiba-tiba mendekatinya.


Ia menerima bullying yang di luar batas.


Saat Minami menyerah dan ingin mengakhiri hidupnya, seorang pria muncul, menjanjikannya banyak hal tak masuk akal.


"Aku akan melindungimu dan memberi apapun yang kau mau. Putri Kaguya, menikahlah denganku."


Mungkin, dunia terlalu kejam karena membiarkan pria setampan itu gila.



Episode 1


Di sebuah lahan kosong milik sekolah yang dikelilingi oleh gedung tua, terdengar jeritan, tamparan juga injakan. Keributan itu berhasil menenggelamkan suara bel masuk.


Minami Muruka tertunduk, menahan rasa sakit yang menyerang di beberapa bagian tubuhnya.


"Kau tahu, apa artinya? Ini hanyalah peringatan kecil, kau bisa saja mengalami patah tulang. Ingat tempatmu dasar, sampah!" seru seorang dari empat siswi yang tengah mengelilinginya.


Dengan kasar, ia meludah ke tanah, menyingsingkan lengan kecilnya lebih ke atas,"Murid miskin, seharusnya tidak bertingkah! Sekali lagi aku melihatmu bersama Yoshio, lihat saja, apa yang bisa kulakukan!" teriaknya menendang debu di samping sepatunya hingga membuat mata Minami kesakitan.


Gadis itu--Kotomi Asahima, adalah anak dari kepala sekolah Tokyo internasional high scholl. Ia jauh dari kata pintar dan kesopanan. Semua siswa ingin berteman dengannya hanya karena uang juga kekuasaan. Sedang Minami, selain murid dari hasil program beasiswa, tidak ada lagi yang bisa dikenal orang darinya. Ia bukan gadis menarik atau seseorang yang genius. Faktor kemiskinan adalah alasan pihak sekolah bersedia membebaskannya dari segala biaya.


Setelah puas melampiaskan setengah emosinya, Kotomi pergi begitu saja. Temannya mengikuti setelah memberi ancaman pada Minami agar merahasiakan pengeroyokan itu.


Selalu, ia berakhir sendirian seperti sekarang. Menyembuhkan lukanya dengan berdiam diri sejenak lalu muncul di kelas seperti orang bodoh.


"Kau terlambat lagi, Mina-san!" gerutu Sensei Watanabe menunjuk jam di pergelangan tangannya. Pria Osaka itu kemudian mengetuk ujung penggaris besinya ke lantai dengan kasar.


Minami menunduk, membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Yang ia inginkan, masalahnya tidak lagi diperpanjang.


Guru itu cukup mengerti, ia mempersilahkan Minami masuk untuk mengambil tempat duduk.


Saat itu juga, bisikan kecil terdengar dari samping, tepat di meja Kotomi. Tidak cukup jelas tapi Minami tahu benar, itu bukan ancaman yang bisa dianggap remeh.


Bagi Minami, Yoshio bekas tetangganya dulu, tidak lebih penting dari ketenangan batin. Pria populer memang berbeda. Mereka dilindungi seperti emas dari si buruk rupa.

__ADS_1


...


St. Mango, Tokyo Mall.


Restoran di mana Minami bekerja paruh waktu, lebih ramai daripada hari biasa.


Ini adalah minggu terakhir sebelum liburan musim panas. Akan ada banyak pekerjaan seperti tahun-tahun kemarin.


"Pastikan jangan ada aroma yang tertinggal," kata Mery, Koki bagian dessert. Ia sebenarnya baik, hanya saat bekerja, profesionalitas menjadi prioritas utamanya. Itulah jawaban kenapa ia bisa mempertahankan pekerjaannya selama bertahun-tahun.


Minami mengangguk, mengambil lebih banyak detergen pembersih yang masih baru dari sebuah rak penyimpanan khusus.


Sayangnya, kerja kerasnya hancur saat sikunya menyenggol tumpukan piring yang baru saja datang.


Prang!


Kekacauan terjadi dan merusak ritme pekerjaan yang telah dibangun dengan susah payah.


Minami langsung berjongok, memunguti pecahan piring di atas lantai. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Selain dipelototi oleh para pekerja lain, kali ini kemungkinan dipecat membayangi dirinya.


Tak menghiraukan luka di jarinya akibat tergores


pecahan, Minami bangkit, mulai mengerjakan pekerjaannya lagi.


Namun, dugaan Minami salah. Sang Manajer sudah ada di sana sejak tadi. Ia terlalu sering memarahi Minami dan cukup bersabar menghadapi apa saja yang gadis itu buat.


Dari memecahkan perabot, salah mengantar pesanan, mengotori pakaian tamu dan lupa mematikan kompor saat memasak air. Semuanya, lebih dari cukup untuk memberhentikan Minami.


"Carilah pekerjaan lain. Jangan menggunakan keadaanmu yang menyedihkan untuk mengacaukan restoranku." Pria paruh baya itu mengangsurkan sebuah amplop warna putih ke arah Minami tepat setelah sepuluh menit jam kerjanya habis.


Mery yang baru saja keluar dari ruang ganti, menatap suasana itu


dengan ekspresi sedih. Ia tidak begitu kenal dengan Minami, tapi tahu benar jika gadis itu tidak punya siapapun.


Setelah Manajer restoran itu pergi, ia mendekat, ikut bersender di antara dinding pintu keluar seperti yang Minami lakukan.


"Ini, ambil saja. Kau bisa membeli beberapa potong sandwich di kedai seberang jalan,"kata Mery memberi dua lembar yen pada Minami. Tatapan gadis 27 tahun itu meneduh, berharap bantuannya tidak ditolak. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Mery bukan berasal dari keluarga yang cukup, ia juga membutuhkan uang untuk biaya kuliahnya.


Nilainya cukup besar dibandingkan pesangon yang baru saja ia terima.


"Tapi, apa kau tidak membutuhkannya?"tanya Minami terlihat canggung.


Alis Mery menaut kesal,"Bukankah kau bilang, sewa apartemenmu sudah jatuh tempo? Anggap saja ini bekal untuk mencari pekerjaan baru."

__ADS_1


Benar, uang tunjangan dari sekolah untuk perlengkapan semester ini, harus diganti, batin Minami tersenyum pahit saat mengingat uang itu diambil kembali oleh Kotomi dan anggota gengnya.


Alasannya sungguh sederhana. Uang itu dari ayah Minami, donatur pendidikan. Jadi, tidak ada yang salah mengambil kembali uang ayahnya itu.


"Terima kasih. Aku tidak tahu kapan bisa mengembalikan uangmu,"kata Minami menunduk malu.


Ia hampir membungkuk untuk berterimakasih, tapi Mery lebih dulu menahan tubuh gadis itu.


"Tidak, jangan lakukan. Untuk uang sekecil itu, kau hanya perlu menghabiskannya dengan benar."


Mery menepuk punggung Minami, mengajak gadis itu untuk cepat pulang sebelum lewat tengah malam.


Sebentar lagi, bis terakhir akan segera datang. Bisa gawat jika mereka tertinggal. Minami sendiri pernah menghabiskan satu minggu gaji hanya karena ketinggalan bus dan terpaksa membayar sesuai argo taksi.


Selama lima menit perjalanan menuju halte itu, mereka sesekali bicara tentang banyak hal. Hingga tak lama, Mery meninggalkan Minami untuk menaiki bus jurusannya.


Akh, baiklah. Lagi-lagi aku mengacaukannya," gumam Minami mulai bingung dengan uang yang harus ia hasilkan dalam waktu seminggu ke depan.


Orang tuanya meninggal tidak menyisakan apapun, namun Minami sedikit beruntung karena masih bisa hidup sampai sekarang.


Setidaknya, ia harus menamatkan SMA nya untuk bisa bekerja di minimarket milik pemerintah.


"Hei, apa kau butuh tumpangan?" tiba-tiba seorang pria berteriak dari atas motornya.


Terdengar suara mesin dimatikan sebelum ia bergerak mendekat ke mulut halte untuk menghampiri Minami.


Wajahnya memang tertutup helm, tapi Minami langsung mengenalinya.


Itu Yoshio.


"Tidak, aku sedang menunggu bis, kau pergi saja. Lagipula rumahmu tidak searah denganku."


Minami mendadak gugup, melirik beberapa orang yang berbisik tentang sesuatu.


Halte itu terlalu kecil untuk bicara tanpa harus di dengar oleh orang lain.


Yoshio mendorong kaca helmnya ke atas, menatap Minami dengan pandangan tidak suka.


"Kenapa? Naiklah. Aku sedang ada urusan ke arah yang sama,"ucap Yoshio sedikit memaksa.


Minami ingin menolak, tapi meronta saat seorang pria menariknya sekencang ini, pasti akan berakhir sia-sia.


Ya, aku harus bicara tentang ancaman Kotomi. Agar ia tidak mendekatiku lagi.

__ADS_1


__ADS_2