
Minami tidak tahu apa yang terjadi selama ia tidak sadarkan diri. Begitu bangun, dirinya masih ada di gudang olahraga yang gelap itu.
Tidak ada siapapun dan hari sepertinya sudah beranjak sore.
Berdiri kepayahan karena merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya, Minami seketika menangis saat menyadari seragam sekolahnya rusak karena kejadian mengerikan yang tadi ia alami.
Beruntung ia membawa lapisan seragam hadiah dari ibu Yoshio.
Ditariknya helaian lembut kain itu dengan sisa tenaga. Bibirnya sedikit bengkak dan pasti puluhan memar menghiasi tubuhnya sekarang. Tapi, bukan itu yang membuat Minami menangis, tapi imbas dari seluruh kejadian hari ini.
Kotomi bukan gadis yang menyelesaikan ancamannya dengan omong kosong. Kali ini jika videonya benar-benar tersebar, hidup Minami pasti akan selesai hari itu juga.
Percuma melakukan pembelaan hukum. Tak ada satupun orang dewasa yang berdiri untuk melindunginya.
Minami terus berjalan, menyusuri koridor sekolahnya yang telah sepi.
Ini adalah minggu terakhir sebelum liburan musim panas dimulai. Seharusnya, Minami ikut ambil bagian dalam festival lampion yang akan diadakan sekolah besok pagi. Ya, seandainya saja Minami tidak berpenampilan seperti ini, sudah jelas harinya akan terlewat dengan lebih baik.
Gadis itu menghindar, berjalan ke samping celah lain saat beberapa siswa pria melewati jalan yang sama.
Itu dari perkumpulan klub Judo. Mereka memang sering pulang sore untuk kegiatan bela diri.
Tentu saja, Minami tidak sedikitpun tertarik dengan urusan mereka, jika saja salah seorang tidak menyeletuk tentang dirinya.
"Bukankah itu murid kelas satu yang mendapatkan beasiswa? Minami Muruka. Sekali lihat, kupikir dia gadis lugu, tapi lihatlah! Dia bahkan berani memasang tarif diatas rata-rata,"kata pria yang berjalan paling tengah.
Ia memegang ponselnya kemudian dinyalakan untuk membuktikan ucapannya pada dua temannya.
Tak jauh dari sana, Minami yang jelas tengah bersembunyi, membekap mulutnya sendiri. Ia menangis ketakutan sekaligus syok dengan pendengarannya barusan.
Kotomi, kau keterlaluan! Apa kau sengaja ingin mendorongku untuk melakukan bunuh diri? Jerit hati Minami. Bayangan gadis itu semakin menepi, bersembunyi di balik bayangan gelap sudut lain.
Tawa mesum dan terdengar cabul memantul sepanjang koridor itu, menusuki harga diri Minami hingga gadis itu yakin, kesedihannya tidak akan pernah habis sampai kapanpun.
Suara-suara cemooh bersama langkah kaki para siswa itu, berakhir. Mengganti kesunyian dengan suara isakan Minami yang semakin lama semakin memilukan.
__ADS_1
Gadis itu yang semenit lalu sempat meringkuk, tiba-tiba saja berdiri seakan memutuskan hal yang harus ia lakukan untuk mengakhiri seluruh penderitaannya.
Minami berlari, memaksakan kakinya menyusuri koridor menuju tangga darurat yang bersebelahan dengan ruang perpustakaan.
Butuh waktu sepuluh menit hingga akhirnya Minami sampai di tempat yang ia tuju.
Atap.
Nafas gadis itu tersengal sakit, ia masih mencoba berdiri dengan lutut terhuyung dan bibir yang memucat pasi.
"Apa akan sakit jika aku benar-benar jatuh dari sini?"bisik Minami berjalan pelan menuju tepian. Angin menerbangkan rambutnya saat ujung sepatu usangnya mencapai tumpuan terakhir.
Ini adalah lantai tiga. Lapangan basket yang berada tepat di bawah kaki Minami, terasa kecil seakan punya dunia sendiri. Beberapa titik berkumpul, berlari mengejar sesuatu.
Hari rabu, pasti Yoshio ada diantara mereka, gumam Minami tertawa dalam tangisannya.
Memikirkan reaksi Yoshio jika melihat video memalukan itu, hati Minami meronta sakit.
Aku tiba-tiba lelah, bisik gadis itu tersenyum getir.
Tubuh Minami melemah, sudah siap untuk jatuh, mencium tanah.
Ya, seandainya saja itu berlangsung begitu mudah, Minami pasti kegirangan karena mengira telah mati tanpa kesakitan.
Sayangnya tidak. Sebuah tangan menariknya mundur, kekuatan itu terasa begitu kuat seakan menjatuhkan seluruh gravitasi pada gadis itu.
Seharusnya terasa sakit, tapi anehnya Minami tidak merasakan apapun. Angin seakan menahan beban tubuhnya saat terpelanting ke belakang.
Minami mengabaikan kejanggalan itu lalu berdiri.
"Siapa kau? Jangan halangi aku!"teriaknya menunjuk sosok tinggi di hadapannya. Tampilan pria itu cukup aneh.
Rambut panjangnya diikat sedemikian rupa seperti pemain kolosal jaman Edo. Sedang, hakama hitam lusuh terlihat menjuntai kotor hingga ke mata kaki pria itu.
Apa dia makhluk gaib? Auranya dingin sekali, Minami mencoba menebak segala kemungkinan konyol yang ada di otaknya.
__ADS_1
Tidak, dia hanya pria gila. Tapi? Bagaimana mungkin kedatangannya tidak terdengar?
Lama menatap Minami, pria itu tidak juga bergerak. Masih mematung dengan pandangan yang sulit diartikan.
Minami mulai ketakutan. Pikirannya langsung dipenuhi hal-hal berbahaya seperti penguntit cabul atau semacamnya.
Hingga kemudian pria itu menggerakkan bibirnya.
Bahasanya terlalu baku, formal dan terkesan kuno. Minami seolah mendengar guru sejarah sedang bicara bahasa jepang di masa lampau.
"Putri Kaguya, akhirnya saya menemukan Anda."
Fix. Dia gila!
"Tidak! Kau salah mengenali orang, aku putri... Hime! Benar. Bukan putri Kaguya. Mana mungkin gadis sejelek aku adalah putri bulan kan?" timpal Minami sekenanya.
Sungguh sial, tidak jadi bunuh diri malah harus bertingkah bodoh menghadapi kesintingan orang lain! gerutu Minami mengutuk tingkahnya sendiri.
"Tidak mungkin! Aku sudah membunuh putri Hime dengan pedangku!" teriaknya keras. Tiba-tiba saja tanpa di duga, ia mengambil sebilah besar pedang dari samping pinggang.
Minami menjerit, menatap gemetar pada senjata yang dihunuskan ke udara oleh pria itu.
Darimana dia punya pedang para samurai? Bisik Minami tak percaya.
Ia memang ingin mengakhiri kehidupannya, tapi bukan berarti dengan akhir yang terlalu sadis. Jika dipotong oleh psikopat di atas atap, Minami tidak yakin bisa beristirahat dengan tenang nanti.
"Putri, maafkan saya." Pria itu langsung membalikkan emosi Minami dengan tiba-tiba berlutut, setelah menyarungkan pedangnya dengan gerakan yang sangat cepat.
Kepala Minami berdenyut bingung. Apalagi, sesaat kemudian, pria itu mengatakan hal teraneh yang pernah ia dengar.
"Putri Kaguya, menikahlah denganku. Apapun yang Anda inginkan, akan saya turuti meski nyawa adalah taruhan dari semuanya."
Jika ini reality show, mana kamera yang sedang tersembunyi?
Ditepuknya kepalanya berkali-kali karena tersipu oleh ucapan pria gila, asing dan--kotor.
__ADS_1
Tapi, Minami menyadari satu hal, pria sinting itu tidak buruk. Ya, Tuhan terlalu kejam karena membiarkan pria setampan ini gila.