Mr. Cat

Mr. Cat
Episode 4


__ADS_3

Minami tidak lagi berpikir untuk bunuh diri. Jiwanya terbang, bersama suara gerimis yang kemudian berjatuhan membasahi sekujur tubuhnya.


"Pergi. Aku mohon, siapapun dirimu, kau telah salah mengenaliku," kata Minami berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sekarang ia malah ketakutan setengah mati.


Minami berharap pria itu tidak hilang kendali lalu menebas lehernya nanti.


Nyatanya, tidak terjadi apapun. Malah, yang Minami lihat justru kepanikan tidak wajar saat pria itu kebasahan.


"Putri, apa anda masih suka kucing?" tanyanya memberi tatapan berbinar polos yang seketika menghancurkan imagenya sendiri.


Minami melongo, menyatukan alisnya kebingungan. Ia menghindar? Atau hanya mengalihkan pembicaraan?


"Aku benci kucing karena mereka butuh makan, perawatan dan kasih sayang. Hidupku sudah menderita dan aku tidak punya apapun untuk memberikan semua itu,"ucapnya semakin kesal. Pria itu membuatnya bicara tanpa maksud yang jelas. Lagipula? Kenapa ia sedih hanya karena Minami tidak suka kucing?


Ia harus mengakhirinya. Benar, Minami berpikir mencari tempat lain untuk bunuh diri.


Tapi, itu bisa saja terjadi seandainya saja pria di depannya tidak membuat 'kegilaan' di menit berikut.


Minami Muruka, 16 tahun menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan halusinasi parah begitu menyaksikan pria


itu tiba-tiba lenyap di depan mata kepalanya.


Gadis itu menjerit, berpikir hantu tidak mungkin keluar sebelum tengah malam. Lalu? Sebenarnya siapa pria itu?


Hujan turun semakin deras dan Minami menggigil ketakutan. Ia akhirnya memutuskan untuk lari menuruni tangga darurat.


Hari sudah gelap. Petir bersuara dari kejauhan dan tidak ada siapapun dalam gedung tua itu.


Brak!


Dengan tubuh basah kuyupnya, Minami menabrak sesuatu di belokan terakhir ruang perpustakaan.


Suasana lorong itu remang dan ia hampir jatuh, menimpa tumpukan alas kaki.


Namun, alih-alih menjerit ketakutan, yang ada angin menahan lalu mendorong tubuh gadis itu ke posisi semula.


Keadaan itu, membuat Minami semakin panik dan gugup.


Hantu! Pasti pria itu adalah hantu! gumam Minami mengelus jantung juga bulu kuduknya di belakang leher.


Sialnya, belum sempat menenangkan pikiran, suara petir yang kembali bergema. Lalu seekor kucing tiba-tiba muncul dari deretan ruang loker yang terbuka.

__ADS_1


Minami terkesiap kaget, ditatapnya kucing belang itu dengan pandangan was-was.


"Pergi!"


Suara Minami bergema, memantul pada dinding-dinding lorong, tapi binatang kecil itu malah duduk, menjilati kakinya.


Bulu kucing itu terlihat halus meski berantakan dan kotor. Matanya kecokelatan, tajam dan sedikit dalam.


Melihat binatang itu, entah kenapa Minami ingat dengan pertanyaan pria di atas atap tadi.


"Meong."


Sang kucing bersuara. Kaki-kaki kecilnya mulai tegak, bersiap untuk mendekat.


Minami terpaku, membalas tatapan sang kucing berkali-kali menjilati bagian tubuhnya sendiri.


"Siapa kau? Tak bisakah kau membiarkanku untuk hari ini saja?"bisik Minami berusaha berdamai dengan rasa takutnya. Ia tahu, meski di luar logika, ada kemungkinan pria itu adalah makhluk jelmaan seekor kucing.


"Meong."


Kucing itu mungkin sedang menjawabnya sekarang, tapi Minami langsung sadar, hanya orang tidak waras yang berbicara dengan seekor kucing.


Kesal pada dirinya sendiri, Minami memutuskan untuk pergi.


Minami tidak tahu saat ia mengayuh sepedanya untuk menembus hujan, sang kucing berlari mengikutinya dari belakang.


Binatang itu terus mengekor hingga bayangan Minami lenyap di balik tikungan menuju apartemennya.


...


Pagi itu, di ujung tempat tidurnya, Minami terbangun dengan suara dering ponsel yang terus-menerus menyala.


Gadis itu merasakan tubuhnya demam dan memar sisa pengeroyokan kemarin, mungkin sedikit infeksi karena belum sempat diobati.


Minami belum sempat memeriksa isi pesannya karena terdengar suara ketukan dari luar.


Siapa pagi-pagi begini? Sudah lama Minami tidak berlangganan susu sapi.


"Selamat pagi,"sapa Minami pada pengurus apartemen yang berdiri di balik pintu.


Wanita itu berdecak, tak memperdulikan salam Minami. Matanya malah memeriksa keadaan di dalam dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Minami mengernyit bingung. Tidak bisanya pengurus memperdulikan dirinya apalagi ingin tahu isi apartemennya.


"Hei, kau. Aku tidak terlalu perduli dengan pergaulanmu. Tapi, kalau membawa seorang pria menginap, itu dilarang karena kau masih di bawah umur? Apartemen kami punya aturan untuk itu. Sebaiknya suruh pacarmu keluar atau aku akan melaporkannya pada polisi." Wanita itu hampir masuk tanpa permisi, tapi tangan Minami lebih dulu menghalangi.


"Tidak ada siapapun di dalam. Ini mungkin hanya salah paham,"kata Minami bingung. Kepalanya berdenyut sakit dan pandangannya mulai berkunang-kunang.


Pengurus apartemen itu terus mendesak, meminta akses masuk secara paksa. Namun, Minami tetap bersikeras dengan sisa tenaganya. Di dalam sungguh berantakan dan ia tidak yakin ijin tempatnya akan diperpanjang jika fasilitas apartemen terlihat tidak dijaga dengan baik olehnya.


"Apa kau sakit? Ya, Tuhan! Tubuhmu panas sekali." Suara wanita itu langsung melunak. Mungkin, ia iba karena Minami tinggal seorang diri.


"Aku sedang tidak enak badan,"gumam Minami menunduk lemas.


Mendapati keadaan yang tidak mendukung, wanita itu beringsut keluar dan berkata akan mengunjunginya sore nanti.


"Dengar, panggil layanan darurat jika kau merasa keadaanmu bertambah buruk, aku tidak mau mau mati di dalam hunian sewaan. Bisa-bisa bisnisku mati,"ucapnya menggeleng tidak yakin.


Minami terlalu lemah untuk mengiyakan. Pandangannya sudah mulai kabur.


Brught!


Kali ini bukan angin yang menopang, tapi sebuah lengan seorang pria.


"Putri, apa saya harus memanggil tabib untuk anda?"


Minami tersenyum, tak menduga halusinasinya semakin parah. Haruskah ia gila sebelum mati?


"Apa kau pangeran? Siapa namamu?" celoteh Minami saat pria itu meletakkannya di atas tempat tidur. Ia sudah tidak peduli dan mengikuti kemauan pikirannya.


Pria itu langsung menekuk kakinya dengan posisi hormat dan tatapan serius.


Suasana yang menyelimuti aura di sekitarnya, menimbulkan kesan tidak masuk akal.


"Saya pangeran Yamashita, penerus langsung dari klan kaisar Katetsu,"ucapnya semakin membungkuk, ia menatap Minami dengan sorot mata memelas,"Putri Kaguya, menikahlah denganku, karena hanya Anda yang mampu mematahkan kutukan ini."


"Kutukan?" beo Minami tertarik. Sudah lama sekali sejak terakhir ibunya menceritakan dongeng sebelum tidur.


"Nekomata, peliharaan dari dewa kematian telah lama merasuki saya. Dia hanya akan pergi jika saya menikahi salah satu reinkarnasi putri kerajaan bulan. Yaitu Anda, putri Kaguya."


Minami terdiam. Hatinya melonak untuk percaya, tapi saat pria berhakama kuno itu menggerakkan ekornya, barulah gadis itu sadar, kenapa pengurus apartemen itu benar.


Yamashita Kasetsu? Putri Kaguya? Dalam dongeng, mereka tidak pernah saling jatuh cinta.

__ADS_1


"Apa yang aku dapatkan jika kutukanmu berakhir?"Minami menekan pelipisnya yang kembali berdenyut sakit.


"Keinginanmu, harapan juga doamu akan terkabul."


__ADS_2