Mr. Cat

Mr. Cat
episode 17


__ADS_3


Masa sekarang, Tokyo, 2017.


Tak banyak yang Minami lakukan sepanjang liburan musim panasnya kali ini. Ia memilih menjalani pekerjaan full time tanpa menghiraukan jam pelajaran tambahan sedikitpun.


Yoshio meneleponnya sehari sekali untuk menanyakan hal-hal sepele hingga terkadang saat akhir pekan tiba, ia ditawari untuk menghabiskan rencana akhir pekan di rumah orangtua Yoshio.


Meski pernah bertetangga, Minami tidak merasa sedekat itu untuk berkunjung. Lagipula pasti aneh karena mereka tidak punya hubungan sedikitpun. Setidaknya, sikap Yoshio masih terasa abu-abu. Kepeduliannya bisa diartikan berbeda.


Minami tidak mau salah paham.


"Hei, apa itu pacarmu?"tanya teman Minami di bagian gudang minimarket malam itu. Lewat kaca gedung yang mengelilingi mereka, ia menatap ke bagian luar, tepatnya di tepian jalan.


Tak menghiraukan arah telunjuk temannya, Minami menggeleng kesal. Itu pasti Yamashita yang akhir-akhir ini sering terlihat di mana-mana. Kadang menjelma menjadi seekor kucing malam-malam atau seorang pria penguntit mesum.


Apa yang sedang ia cari? Seharusnya hubungan di antara kami telah berakhir. Batin Minami berjalan menuju pintu keluar.


Hari ini ia tidak sedang lembur karena ada anak part time yang menghandle sisa pekerjaannya. Minami pada awalnya keberatan karena gajinya otomatis terpotong, tapi mau bagaimana lagi? Peraturan untuk pegawai honorer memang seperti itu.


"Kau ada di sana, kan? Jawab aku!"kata Minami melambatkan langkahnya di sebuah gang sempit dengan pencahayaan minim.


Tidak ada sahutan. Beberapa tumpukan sampah non organik terlihat terbengkalai seakan sudah seminggu lalu petugas kebersihan tidak mengangkutnya. Baunya sedikit busuk --bercampur aroma lembab angin malam.


Sebenarnya itu adalah jalan buntu. Minami sengaja memancing keberadaan Yamashita untuk muncul lalu menyelesaikan masalah yang tertunda. Hatinya gelisah karena dihantui banyak kenangan masa lalu yang sebenarnya sama sekali tidak ia ingat.


"Kaguya Arashi, bisakah kau tidak menghiraukanku? Aku sudah terikat oleh sumpah. Jadi, akan lebih baik jika kau tidak mengusikku."Yamashita muncul dari kegelapan, berjalan tenang sambil memasukkan tangannya di saku celana.


Pria zaman Heian itu, tak ubahnya seperti seorang laki-laki milenia. Tak ada sisa kesopanan milik pangeran Kasetsu yang dulu diperlihatkan saat mereka pertama kalinya bertemu.


Rambutnya dicat perak dengan potongan ala boyband korea. Minami terlihat menggeleng bingung karena merasa aneh bisa marah-marah dengan pria model seperti itu.


"Kenapa? Apa aku terlihat aneh?"

__ADS_1


Hampir seperti melucu, Yamashita mengamati perubahan ekspresi Minami kala menatap penampilan barunya.


Pandangannya yang menyiratkan ketidak percayaan, sangat kontras dengan hatinya sendiri. Minami harus mengakui jika di sandingkan dengan Yoshio, Yamashita jauh lebih unggul. Seharusnya seperti itu, tapi kenyataannya sungguh berbeda. Minami tiba-tiba muak untuk hal yang ia suka.


"Siapa yang peduli dengan penampilanmu? Hei, Pangeran? Apa kau tidak punya harga diri mengikutiku terus? Pergi dan urus hidupmu sendiri. Aku tidak butuh perlindungan dari siapapun."Minami tersenyum sinis, menunjuk beberapa lubang pada dinding gang,"Kau seharusnya bisa pergi ke masa lalu, kenapa mengganggu hidupku?"


Nada suaranya tanpa sadar meninggi, ia berharap akan ada lubang waktu yang tiba-tiba terbentuk lalu menarik Yamashita ke dalamnya.


Sayang sekali itu hanya omong kosong. Keadaan Minami-lah yang tak lebih dari seekor tikus dalam situasi sulit. Apapun alasan Yamashita, pria itu pasti tidak akan semudah itu pergi.


"Apa kau terganggu, Putri? Kau gugup dan bibirmu berusaha mengelak dengan memberi perkataan yang menyakitkan. Akui saja kau menyukaiku kan? Tapi sayangnya perasaanmu tidak cukup penting bagiku,"ucapnya membalas tatapan Minami dengan pongah.


Lagi, keduanya bertengkar untuk masalah yang tidak jelas. Minami diam-diam heran dengan situasi mereka. Sebelumnya, hatinya tidak pernah sepanas ini. Ia bukan tipe pemarah dan gampang terpancing emosi. Apalagi ia pernah menghadapi masalah yang jauh lebih buruk dan ia baik-baik saja.


"Apa kau membenciku gara-gara aku menolakmu saat malam pengantin?"tebak Minami serius. Ditatapnya mata pria di hadapannya itu tanpa takut.


Sejenak, raut wajah Yamashita berubah terkejut lalu tak lama, mata hitamnya memicing sinis pada pertanyaan Minami.


"Apa? Berhenti membual! Kau bahkan tidak pantas untuk menjadi seorang selir!"serunya kesal.


Menurut yang ia dengar Dewa kematian akan mengembalikan aura Kaguya Arashi pada tubuh Minami saat usianya genap 17 tahun.


"Kalau begitu, jangan teruskan! Kutukanmu bahkan tidak bisa pergi meski kita sudah menjalani pernikahan konyol kemarin. Dengar pangeran! Ini sia-sia."Minami menyela lalu menunjuk hidung Yamashita.


Terkejut karena diperlakukan kurang ajar oleh seorang gadis biasa, sang pangeran langsung mendelik kesal.


"Jangan pernah menyebut sebuah pernikahan yang sakral dengan kalimat penghinaan!"teriak Yamashita tiba-tiba berjalan lalu mencengkeram bahu Minami. Deru nafasnya tajam, membatasi ruang gerak gadis di depannya itu. Belum pernah ada seorangpun yang berani berteriak di depannya.


"Lepaskan, kau menyakitiku!"Minami yang tidak terima mendorong Yamashita ke belakang.


Seperti tersengat oleh kilatan masa lalu, begitu kulit mereka saling menyentuh,


Minami juga Yamashita terkejut. Secara bersamaan, mereka langsung bergerak mundur.

__ADS_1


"Kau melihatnya?"


Dalam suasana nyaris tanpa suara, Minami menunduk, menyembunyikan wajah ketakutan dari balik keremangan gang.


Yamashita membisu, menelan salivanya dalam-dalam. Ia tidak tahu harus bicara apa. Dikepalanya mendadak muncul kenangan mengerikan.


Apa Minami juga melihat hal yang sama? Atau justru berbeda? Dilihat dari caranya berekspresi penuh amarah, jawabannya sudah jelas.


"Kau pergi dari hidupku! Dasar laki-laki tidak tahu malu!"teriak Minami meringis kesal.


Ia kemudian berbalik pergi, menuju mulut gang tanpa bicara sepatah katapun.


Yamashita masih berdiri di sana, mengepalkan tangannya dalam kebisuan.


Begitu ia menggeram, lampu penerangan jalan tiba-tiba saja meledak--seakan udara di sekitarnya mendadak penuh tekanan.


Dalam suasana gelap itu, Yamashita kembali teringat tentang kenangannya yang tidak masuk akal di kehidupan sebelumnya.


"Putri, kau tidak akan kemana-mana. Hari ini, aku akan menjadi milikku!"


Sosok Yamashita Kasetsu dalam bingkai masa lalu bergerak begitu frontal, menerjang Minami--reinkarnasi Kaguya yang terus-menerus memberontak.


Di atas ranjang pengantin yang sama seperti saat mereka hampir bercinta. Yamashita **** istrinya tanpa ampun.


"Kau milikku, Kaguya! Beraninya kau memberikan tubuhmu pada pria rendahan!"teriakan Yamashita bergaung kencang, memenuhi koridor hingga sepanjang kediaman di istananya.


Kaguya menangis tak perdaya. Sekalipun ia mengigit lidahnya hingga berdarah, Yamashita tidak berhenti melucuti seluruh pakaiannya.


Dia adalah milikku--seseorang yang ditakdirkan untuk menghormati juga melayani. Jika Hiroshi si *** masih mengacaukan kami, lihat saja, Kaguya. Kau akan menyesal kalau menolakku lagi.


Tanpa mencoba mencari kebenaran dari potongan ingatannya, Yamashita tanpa sadar menyiram benih kebencian juga keegoisan di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak sadar, perbuatannya itu tidak benar.


Aku tidak akan pernah memaafkanmu...sekalipun dunia ini berakhir karena kebencian kita, Dewa bahkan tidak akan sanggup membalikkan perasaanku.

__ADS_1


Minami bernarasi, mengayunkan kakinya menyusuri jalan setapak dengan wajah dipenuhi air mata.


__ADS_2