Mr. Cat

Mr. Cat
episode 25


__ADS_3


Puluhan ribu tahun lalu, Zaman Heian.


Malam belum berlalu, Kaguya Arashi menapakkan kaki pucatnya ke sela lantai kayu di balik kamar suaminya.


"Mau kemana?"Yamashita bersuara, menepikan selimut yang sempat menutupi tubuh mereka berdua.


Kaguya tak menyahut, mengambil helaian bulu binatang yang dijahit untuk menghalau dingin di zaman itu. Jika sudah selarut ini, sesuai perjanjian sebelum pernikahan. Putri bulan akan pergi setelah sehari penuh bersandiwara di depan para penghuni kerajaan.


"Jangan pergi. Sudah larut. Tidurlah dengan suamimu malam ini."Yamashita tiba-tiba berdiri, mengarahkan matanya pada wanita cantik itu. Kulit seputih salju dengan bibir merah merekah. Wangi rambutnya bahkan semerbak seperti pucuk plum yang belum bermekaran.


Entah bagaimana bisa wanita secantik itu, lepas dari tangannya selama ini. Pernikahan mereka memang dilakukan untuk kepentingan lain. Berpura-pura bahagia karena sejak awal, Kaguya Arashi sudah punya kekasih, Ajudan Hiroshi.


"Lepas! Kau tidak berhak mendapatkan apapun dariku."Kaguya menghempaskan cengkeraman Yamashita, beranjak keluar sambil merapatkan jaketnya.


Suara ketukan pada lantai kayu terdengar, mengiringi kepergian sang putri hingga lenyap di belokan pertama. Yamashita tidak dapat berbuat apapun. Ia hanya menggeram kecil, menendang secawan besar sari apel hingga isinya membasahi tatami kamarnya.


"Pergi! Tidak ada yang bisa kalian lakukan untukku!"teriak calon Kaisar itu menghardik dua pelayan wanita yang bergegas untuk membereskan kekacauan.


Kembali membanting secawan anggur, pria itu berdiri, merapikan hakama tidurnya dengan tangan sebelah kanan. Tanpa mempedulikan dua pelayannya yang ketakutan, ia meraih jaket bulu dombanya untuk menyusul Kaguya dalam gelap.


Persetan dengan perjanjian pernikahan, wanita itu adalah istrinya. Ia bahkan belum pernah menyentuh wanitanya sedikitpun. Bagaimana bisa Hiroshi si keparat itu mendahuluinya?


"Putri, kau datang lebih cepat dari perjanjian kita."Hiroshi membuka jubah hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Kaguya memeriksa sekeliling dengan mata, kalau-kalau Yamashita menyuruh seseorang mengikutinya.


Di sana, gelap. Hanya suara lolongan serigala di balik bukit yang membuat suasana semakin mencekam.


"Bagaimana kalau malam ini saja kita pergi?"tawar Hiroshi memegang bahu sang putri. Ia tiba-tiba teringat sesuatu yang mengganggunya akhir-akhir ini.


"Tapi, bukankah kita sudah membicarakannya? Aku tidak mungkin meninggalkan istana begitu saja. Ayahku pasti dihukum jika aku membuat kesalahan,"kata Minami menarik tangan Hiroshi.

__ADS_1


Ada kilat keterkejutan dari penolakan Kaguya, dimana dia mulai kebingungan harus mengambil sikap seperti apa. Perjodohannya dengan Yamashita, bukan diatur oleh manusia biasa. Tapi, takdir raja langit, sang penguasa dunia yang menaruh elemen saling mengait saat masih dalam kandungan.


Hiroshi terdiam, mulai mencurigai banyak hal. Tatapan Yamashita--calon Kaisarnya, tak ubahnya seperti elang kelaparan saat menatap Kaguya. Cantik, lembut dan wangi. Kaguya Arashi punya daya tarik dari seluruh wanita, menggoda lawan jenis sudah menjadi takdirnya. Hiroshi tidak tahu bagaimana salah satu garis keturunan dewi kecantikan bisa jatuh cinta padanya.


"Kau berubah,"bisik Hiroshi merangkul lengannya sendiri. Mendengarnya, Kaguya mendongak, terkejut sekali.


Mungkin benar, sang putri tanpa sadar membuka hatinya untuk Yamashita. Hiroshi sadar, kebencian layaknya debu, setebal apapun, akan pergi saat angin datang menyapunya.


Dari balik semak, mata elang sang calon Kaisar mengintip, menaruh jemarinya pada ranting -ranting kering. Dadanya bergemuruh kencang, menelan ludahnya sendiri.


Sialan, batin Yamashita mengeratkan giginya. Kaguya telah menjebakku dalam perjanjian bodoh dan membiarkannya berselingkuh di depan mataku. Lihat saja, tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian dari cengkeramanku.


Meninggalkan Kaguya yang masih gelisah dengan tuduhan Hiroshi, Yamashita berbalik, menyiapkan rencananya sendiri.


"Kau harus jujur, sebelum semuanya terlambat."Hiroshi mengelus pipi kekasihnya, hampir mengecup, tapi ditahan oleh tangan Kaguya.


"Aku yakin akan perasaanku sendiri. Jangan meragukannya."


Malam itu, mereka kembali berpisah, berbicara tentang rencana kepergian mereka sebelum perayaan ulang tahun dewa bulan --ayah Kaguya.


...


"Singkirkan tanganmu, pangeran! Atau aku akan...,"


"Atau apa!" Yamashita berdecak sebal, mendorong tubuh istrinya ke atas tempat peristirahatan. Putri cantik itu meronta,tapi sia-sia tenaganya kalah besar.


Bagai lelaki yang sudah lama sekali merencanakan sebuah tindakan kriminal, Yamashita menunduk mendekatkan mulutnya pada bibir wanitanya. Ia sangat yakin bahwa Kaguya tidak akan berani berteriak, jendela kamar mereka terlalu tipis. Saat siang seperti sekarang, banyak punggawa kerajaan.


"Jangan menangis, bukankah seharusnya kau senang, putri? Malam hari kau tidak perlu lagi keluar untuk mencari laki-laki lain. Aku akan memuaskanmu."Seringai kecil menghiasi wajah Yamashita. Ia tak peduli istrinya menangis ketakutan dalam kebisuan.


"Pangeran, jangan merendahkan martabatmu sendiri,"isak Kaguya menatap tajam pria yang menekan di atasnya itu,"aku tahu, kau lebih baik dari ini."

__ADS_1


Apa itu sebuah omong kosong? Bisik Yamashita merasakan hatinya berdesir kecil. Bahu lembut milik Kaguya yang gemetar karena takut, membungkam nyalinya. Itu mungkin bukanlah pujian, tapi tipu muslihat agar dia terlepas darinya.


"Kaguya, sampai kapan kau akan menguji batas kesabaranku?"Yamashita bangkit, bukan untuk pergi dari atas tubuh Kaguya, melainkan menarik ikatan obi pada hakamanya.


Kaguya akhirnya menjerit kecil, kembali meronta saat Yamashita menciumnya dengan kasar dan penuh gairah. Ditariknya paksa yukata itu, hingga tubuh polos wanitanya terpampang nyata pada matanya.


Nafas Yamashita memburu dibuatnya, ia sudah tidak bisa dihentikan oleh siapapun. Auranya mendadak dipenuhi nafsu yang mendidih.


Tidak ada yang sia- sia saat dewa memberi takdir pada jiwa anak manusia. Meski awalnya Kaguya menolak, elemen dalam tubuhnya bereaksi pada puluhan sentuhan dari tangan Yamashita. Kebencian juga rasa nikmat bercampur saat Yamashita mulai bergerak, menguasai tubuh bagian bawah.


Saat kebencian kalian mampu membuat sakura bermekaran, akan banyak kelahiran di jepang. Sebaliknya, kematian, bencana juga hujan tidak akan pernah berhenti sebelum kalian menyadari perasaan kalian masing-masing.


Kaguya menangis, tapi diam-diam menertawai dirinya sendiri. Ia begitu suka melihat Yamashita cemburu hingga menginginkannya setengah mati.


Di saat terakhir, sebelum pelepasan keluar dari mulut mereka, Kaguya untuk pertama kalinya membalas lumatan pada bibirnya. Lidah Yamashita terasa asam, mungkin sisa anggur yang sempat ia minum sebelum menyerang dirinya.


...


Mei, 2018.


Minami menjerit, terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh wajahnya. Dimana dia? Terakhir, ia berada di tengah hujan, berseteru dengan Yamashita dan Yoshio.


"Mina-san, kau mimpi buruk?"Seseorang bersuara, menyentuh pundak Minami. Masih menyisakan trauma kecil usai melihat percintaan dirinya sendiri, gadis itu menjerit kecil.


Hiroshi?akh-- bagaimana bisa? Dia Yoshio, bukan? Batin Minami mulai menyadari sesuatu.


"Jangan takut. Itu hanya sebuah mimpi, minumlah. Kau ada di tempatku."Yoshio mengulurkan segelas air pada kekasihnya itu. Tatapannya terlihat tenang, menekan lembut bahu Minami.


"Yoshio, maafkan aku,"bisik Minami merasakan air matanya berjatuhan, menetesi jemari. Rasa kotor memenuhi dadanya, memberinya rasa sakit yang luar biasa.


Diluar, hujan masih turun. Lebih lebat dan gelap.

__ADS_1


__ADS_2