Mr. Cat

Mr. Cat
episode 26


__ADS_3


Bulan November akan segera berakhir. Di puncak musim gugur, akan ada banyak festival di Okinawa. Wisatawan asing sering berdatangan, memenuhi setiap ruas jalan menuju pantai hingga gedung-gedung tua bersejarah.


Minami pernah tinggal di salah satu pusat pulau, namanya pulau Miyako, tempat kakek dari ibunya yang bekerja sebagai nelayan. Penghasilannya tidak menentu, tapi tetap keras kepala hingga ia berakhir menghilang di tengah lautan.


Sejak saat itu, Minami tidak pernah mengunjungi pulau itu. Sang ibu hanya menggumamkan hal lain jika Minami kecil bertanya tentang kakeknya atau berusaha mengingat tentang keindahan pantai Okinawa.


"Minami, Yoshio memanggilmu,"seru teman sekelasnya sambil berlalu turun. Minami tersentak dari lamunan, memegang perut laparnya.


Setengah jam lalu, bus yang membawa mereka study wisata berhenti di rest area pertama. Butuh setidaknya setengah hari untuk mencapai pusat Okinawa. Pihak sekolah sengaja menggunakan bus agar para murid bisa mencatat segala hal selama perjalanan yang panjang itu.


"Kau sakit?"tanya pria itu naik, mendekati bangku Minami. Isi bus kosong karena seluruh anak menghabiskan waktu mereka di rest area terdekat. Minami tidak punya cukup uang dan kotak bekalnya sengaja dibuang lewat jendela oleh para pengganggu.


Minami mengutuk Yamashita yang ia anggap dalang dari ketusnya semua orang. Aksi terakhirnya menghardik Kotomi membuat semua yakin, Minami telah melanggar hak asasinya sebagai murid gratisan. Yang pantas di didapat Minami hanyalah perasaan hina.


"Aku baik-baik saja. Pergilah, kenapa kau di sini?" tanya Minami setengah panik. Ia memeriksa sekeliling dan mendapatkan Kotomi yang menatap mereka dari kejauhan.


Yoshio mengambil sesuatu dari balik jaketnya, sebuah obat anti mabuk. Tatapan pria itu menguat, tidak memberi ruang pada Minami untuk menolak pemberiannya.


"Apa kau butuh sesuatu? Aku bisa memberikannya. Katakan saja,"kata Yoshio menggosok-gosokkan jemarinya pada tangan mungil Minami.


Yoshio terkejut, mendapati kulit kekasihnya itu terasa halus dibanding terakhir kali ia menyentuh tangan gadis itu,"kau memakai lotion?"Yoshio mengernyit, bau harum berdesakan masuk ke dalam hidungnya.

__ADS_1


"Lotion?" beo Minami cepat-cepat menarik tangannya. Aliran darahnya berdesir tajam, menolak sentuhan sekecil apapun. Ingatan percintaannya dengan Yamashita, telah banyak melukai harga dirinya.


"Aku tidak apa-apa. Pergilah, sebentar lagi bus akan kembali berjalan." Minami memperingati lewat mata, bagaimana ia kini justru menjadi panik karena sikap ramah Yoshio. Bisa-bisa ia menjadi sasaran empuk lagi.


"Ambil ini, minumlah sesudah makan," kata Yoshio mengambil satu strip obat dari balik sakunya. Ia yakin, Minami tengah berbohong tentang keadaannya.


Setelah mengelus rambut panjang Minami, pria itu berlalu pergi. Menyisakan sebentuk kekhawatiran sebelum akhirnya lenyap, di atas langit orange Okinawa.


Minami baru akan mengambil sesuatu dari ranselnya ketika tiba-tiba saja Yamashita muncul, membawa sekantong kecil roti hangat. Ia melemparnya begitu saja ke atas pangkuan Minami sambil menggumamkan sesuatu yang sangat kasar.


"Makanlah. Kau tidak boleh mati konyol sebelum menyelesaikan urusan kita."Yamashita tersenyum hambar, melotot dan bersikeras kalau pemberiannya harus diterima. Sungguh kediktatoran yang nyata.


Mendengkus tak karuan, Minami menatap sosok Yamashita yang sesaat kemudian lenyap. Terlalu sulit diterima akal sehat, tapi anehnya, tak seorangpun yang melihat interaksi mereka. Besar kemungkinan Yamashita membekukan waktu untuk sesaat tadi.


Berusaha abai, Minami meraih roti hangat dari dalam bungkusan karton warna krem.


"Enak,"bisik Minami menangisi sesuatu. Entah apa yang membuatnya terisak, seluruh dadanya bergemuruh, luar biasa sesak.


...


Dua jam kemudian, lepas pantai Okinawa.


Setengah jam berlalu sejak Minami turun dari bus untuk mewawancarai wisatawan asing di sepanjang pantai Kume. Tak seorangpun berhenti dan buku tugasnya masih bersih. Teman satu grubnya-- Kotomi, sejak awal memang sengaja membiarkan Minami memikirkan tugas itu sendirian. Berdiam diri dengan aktivitas pribadi, ia menyingkir. Sama sekali tidak menggubris kesulitan Minami.

__ADS_1


"Apa kau dilahirkan hanya untuk menjadi pecundang?"celetuk Yamashita tiba-tiba berdiri di samping Minami. Poninya menari di atas dahi, tertiup angin dari arah tengah lautan.


Minami berusaha abai, berjalan menjauh tanpa menatap Yamashita sedikitpun. Sayangnya, pria itu mengikutinya, melewati beberapa anak yang sibuk mencari target wawancara. Tiga dari mereka menoleh heran karena guru baru mereka mengekori si murid beasiswa.


Kini, Minami tahu kenapa Yamashita mau repot-repot menjadi seorang guru. Jika terus dikuti, bukan tidak mungkin ia akan dibully secara verbal. Itu adalah ancaman yang bagus mengingat Yamashita punya puluhan fans dadakan.


"Apa Anda butuh sesuatu, pak?" tiba-tiba saja, sosok tinggi Yoshio muncul, menarik lengan Minami ke arahnya. Ia harus mengakui keberadaan Yamashita sama persis seperti pria asing lusa kemarin. Hujan memang membuat matanya kabur, tapi itu memang makhluk aneh yang mengincar sesuatu dari diri Minami. Tatapan yang dipenuhi hasrat seorang laki-laki.


"Lepaskan dia,"gumam Yamashita emosi. Ia tidak suka melihat Minami disentuh meski itu hanya pada tangannya. Di tatapnya Yoshio. Pria itu sama sekali tidak berubah. Di matanya, selain pandai berbohong, Ajudan Hiroshi di masa lalu telah memperdaya istrinya---Kaguya Arashi untuk memusuhi suaminya sendiri. Sekarang, meski keadaan telah lama berubah, takdir Yoshio tetap sama, menghancurkan mereka berdua.


"Jangan mendikteku, pak. Dia pacarku, jadi tidak ada yang salah bahkan jika aku ingin bercinta dengannya sekalipun."Yoshio sedang terbakar hingga mengabaikan pendapat Minami.


Di ujung pantai yang mulai gelap, Yoshio menyuruh Minami agar mengikutinya. Percuma berdebat dengan seorang guru jika ujungnya nilainya akan dikurangi karena kepentingan pribadi.


"Hei, jangan mengabaikanku!"teriak Yamashita mengepalkan seluruh energinya pada jemari. Ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Minami adalah miliknya, istri sekaligus pelayan di atas ranjang seumur hidup.


Dengan sangat hati-hati Minami membujuk Yoshio agar bicara saja. Ia tidak mau berakhir buruk karena melawan Yamashita. Siluman itu pasti akan menemukan mereka meski pergi dalam radius ribuan kilometer sekalipun.


"Tinggalkan dia bersamaku. Kau tidak berhak mengatakan hak. Omong kosongmu terhadap Minami. Dia, adalah istriku. Dan kau tak lebih dari perusak sebuah hubungan."Yamashita menggaruk hidungnya, membalas tatapan Yoshio yang tiba-tiba tergelak geli.


Wajar, karena ucapan tak masuk akal itu adalah hal terbodoh yang pernah ia dengar. Minami menghela nafas kecil, ia merasa percuma saja jika harus jujur.


"Jangan ganggu kami. Carilah wanita yang lebih dewasa untuk kau rayu, tapi jangan Minami,"kata Yoshio kembali menarik Minami untuk meninggalkan tempat itu. Namun, Minami merasakan kekuatan lain yang menghentikan langkah mereka.

__ADS_1


"Melangkah sedikit saja, aku akan membakar kalian menjadi abu."


__ADS_2