Mr. Cat

Mr. Cat
episode 15


__ADS_3


Tahu apa kau tentang takdir? batin Minami Muruka berkata pada dirinya sendiri.


Ia menatap kepergian Yamashita Kasetsu dalam bentuk seekor kucing, melewati jendela kemudian lenyap bersama cahaya matahari.


Minami memejamkan separuh matanya, berharap apa yang ia rasakan bukanlah kebenaran.


Gadis itu sangat yakin, ia punya kebencian yang semakin lama terasa sangat nyata. Jika pada awalnya ia menganggap Yamashita tidak jauh berbeda dengan pria kebanyakan, Minami merasa pendapatnya salah sekarang.


Ia menyadari sesuatu--rahasia di kehidupan sebelumnya yang sama sekali masih terputus dalam ingatannya.


Jika diibaratkan, Minami dihadapkan pada potongan Puzzle kehidupan.


Kini setelah mengacuhkan ucapannya, Nekomata itu benar-benar menghilang seolah apa yang ia bicarakan adalah sebuah kebodohan.


Lalu? Kepada siapa ia harus bertanya? Walau mati sekalipun, di kehidupan berikutnya kemungkinan besar nasib Minami tidak jauh menderita.


Tidak ada cara lain untuk melarikan diri.


"Mina-san? Apa kau baik-baik saja?"seru Yoshio berlari mendekatinya. Pria itu tiba-tiba muncul dari balik lorong sepi yang menghubungkan kamar mandi. Wajahnya menggambarkan sebentuk kecemasan.


"Tidak, aku hanya terpeleset tadi, lihat sikuku berdarah, Yoshio."Minami buru-buru berdiri, menerima uluran tangan sahabatnya itu.


Walaupun tersenyum, Yoshio tahu, selepas berpisah dengannya di pintu loker, Kotomi mengikuti Minami bersama beberapa orang temannya.


Sempat ingin mengekor, seorang guru memanggilnya untuk tugas yang mendadak.


"Berhenti berbohong. Aku hanya bisa minta maaf karena sudah meninggalkanmu tadi,"kata Yoshio mengambil selembar plester luka dari dalam saku jas sekolahnya.


Minami meringis kecil saat benda lengket itu ditempelkan pada lukanya.


"Kau ingat? Dulu waktu kita masih kecil kau yang selalu memenuhi wajahku dengan plester bergambar hati. Sakumu seperti kantung doraemon, berisi setiap benda yang aku butuhkan."Yoshio tersenyum pahit lalu tak lama, ia kemudian berdiri memberi isyarat pada Minami agar mulai berjalan menuju arah kelas.


Di lorong itu, ketukan dari sepatu Yoshio terasa sangat berbeda-- seperti irama sihir yang dikendalikan oleh seseorang dari tempat lain.


Minami menoleh ke seluruh arah, tapi ia tidak menemukan apapun.

__ADS_1


Di saat yang sama, ia tanpa sadar menggerakkan jemarinya menuju tangan Yoshio.


Pria itupun anehnya melakukan gerakan serupa. Jemari panjangnya seketika membuka, menyambut tangan Minami untuk larut dalam sebuah genggaman kuat.


Aliran darah Minami berdesir keras, bercampur suara aneh dalam kepalanya.


Kau tahu? Aku merasa lebih baik. Batin Minami tersenyum tipis pada Yoshio. Pria tinggi itu entah kenapa membiaskan sebuah tatapan yang sangat berbeda. Begitu hangat seakan ada bunga mekar pada kelopak matanya.


Dalam diam, Nekomata mengintai dari balik tirai tua, memantau sihir kecil yang lagi-lagi diluar perjanjiannya dengan dewa kematian.


Lalu? Apa arti pernikahan ini? Selain kutukan masih menempeli Yamashita, Minami seakan dibiarkan mengulangi kesalahannya.


Sebuah perselingkuhan dengan reinkarnasi yang sama. Ajudan Hiroshi, saksi pernikahan sekaligus seseorang yang ambil bagian dari alasan berawalnya sebuah malapetaka.


Yoshio Takeda--sang reinkarnasi beraura putih yang kemungkinan besar masih memiliki jiwa dalam kehidupan sebelumnya.


Ini adalah takdirmu, putri. Tidak ada jalan untuk menghindarinya kecuali saat kau berada di ujung batas penyesalan, sebuah luka untuk kematian akan membebaskanmu dari belenggu masa lalu. Malaikat kematian tiba-tiba bernarasi. Tanpa wujud, ia hanya bersuara menatap pada sosok Nekomata milik Yamashita. Siluman peliharaan nya itu berjalan mengekori istrinya dengan pria lain.


Segaris masa lalu kembali terulang, dimana anak Kaisar Kasetsu membiarkan sebuah perselingkuhan di depan matanya.


Jika ini adalah awal, malaikat kematian berharap tidak ada lagi perang hanya karena merebutkan seorang Kaguya.


7 jam kemudian, apartemen Hiroshi.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam saat ponsel Minami bergetar dari sisi meja berisi tumpukan buku.


Gadis yang bersiap untuk tidur itu menoleh, meletakkan sisi tangannya untuk menjangkau ponselnya.


Sebuah nomor asing.


Sempat ragu untuk menerima panggilan itu, di detik terakhir, Minami berubah pikiran.


"Ya, halo? Siapa ini?"


Untuk sesaat, tak terdengar apapun dari seberang. Hanya ada suara angin juga bunyi seperti gemerisik dedaunan.


"Ini aku. Apa ini nomormu?"tanya si penelepon bersuara sedikit bingung.

__ADS_1


Minami mengernyit, merasa aneh dengan pertanyaan itu. Apa hanya orang iseng?


"Maaf, mungkin kau salah sambung."


Tut.


Minami mengakhiri panggilan itu dengan ragu. Ditatapnya ponsel miliknya, berpikir segala kemungkinan terburuk. Kotomi? Tidak mungkin, itu suara laki-laki. Atau nomorku disebar oleh gadis penindas itu ke situs dewasa?


Belum hilang rasa penasarannya, tiba-tiba ponsel itu kembali berdering dari nomor yang sama.


Kali ini Minami memilih untuk mengabaikannya, memasukkan alat komunikasi itu ke dalam sebuah laci paling bawah.


Kelas musim panas akan segera di mulai, bukan tidak mungkin itu hanya perilaku para salesman gila yang berniat menawarkan produk pelembap untuk para siswi. Ya, meski itu di jam tidak lazim.


Meninggalkan Minami yang berusaha untuk tidur, malam kemudian semakin larut, menampakkan bulan separuh yang menggantung di langit.


Tak seberapa jauh dari apartemen Minami, terlihat seorang pria duduk di bawah akar pohon Chery, ia menggerutu pada ponsel dalam genggamannya seakan benda mati itu adalah musuh bebuyutan.


"Apa-apaan dia?" Ia bergumam, mencoba menarik rambutnya yang telah dipangkas pendek.


Semakin jengkel mengingat penampilan barunya yang tidak sesuai dengan style seorang bangsawan, hampir emosinya meledak.


"Apa lihat-lihat!"


Sosok tinggi itu--Yamashita Kasetsu, berteriak kesal pada dua gadis yang menatapnya tanpa kedip. Pandangan seperti itu, adalah perilaku tidak sopan yang hanya dimiliki kaum budak di masanya.


Keduanya langsung ketakutan, memilih pergi setelah tadi, sempat berpikir untuk mendekati Yamashita.


"Dia galak sekali, apa pria setampan itu gila?" salah satu dari mereka berbisik ngeri. Mereka penasaran dan telah mengawasi Yamashita lebih dari sepuluh menit.


Jika orang kebanyakan memilih duduk di bangku, Yamashita dengan sikap biasa, bersandar di badan pohon layaknya gelandangan. Bahkan pangeran itu menggerutu dalam bahasa jepang kuno pada ponselnya.


Lebih dari 150 kali hingga batrei ponselnya habis, tapi Minami memilih mengabaikan panggilannya.


Bahkan jika aku ditakdirkan untuk memiliki ikatan dengan wanita itu, mustahil kalau harus menghapus kebencian yang telah mendarah daging. Batin Yamashita menyerah, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Ia bukanlah sosok pangeran pemarah, tapi semakin lama mengenal Minami, jejak kebencian membutakan segalanya.

__ADS_1


Seperti air dan api. Kedua elemen pembentuk dunia itu tak jauh berbeda dengan kesombongan Kaguya Arashi dan keegoisan pangeran Yamashita. Mereka ibarat karakter dasar dunia yang mengingkari takdir besar.


Aku akan menghunimu, sampai salah satu dari kalian sadar bahwa adalah kesalahan jika takdir kebencian dialamatkan pada kalian. Puluhan abad telah terlewat, aku sudah terlalu lama bersemayam dan--kelelahan. Nekomata dalam diri Yamashita mengeluh, menatap langit--sarang tempat tinggalnya. Mungkin ia sudah terlalu muak menghadapi segalanya.


__ADS_2