
Hujan sudah lama berakhir, rintiknya lenyap bersama pelangi tipis di balik gedung-gedung pabrik.
Minami masih ada di ujung jendela itu, menarik ujung handuk yang menempel di atas kepala Yamashita.
Tidak ada jawaban lain selain setuju kan? Apa itu hanya basa-basi?Batin Minami mengangguk kecil, menghindari tatapan Yamashita dengan rambut basahnya. Jantungnya sedikit berirama kecil saat pria itu seakan menyentuh apapun lewat tatapannya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau besok? Saya akan segera mempersiapkan segalanya. Kita tidak akan menikah di sini, tapi di tempat lain," kata Yamashita menunggu reaksi gadis itu. Mata coklat Minami membola kecil, mengisyaratkan kepanikan sekaligus rasa terkejut.
Ia masih berusia 16 tahun dan tubuhnya terlihat kurus. Tidak ada yang menarik dari tubuh gadis dengan wajah sesendu itu. Seandainya Yamashita tidak dihadapkan oleh kutukannya, sudah pasti ia akan memilih untuk menjelajahi pedesaan, menemukan calon istri terbaik. Sayangnya, takdir konyol itu bicara lain.
Ternyata, meski reinkarnasi seorang putri bulan dengan kecantikan yang melegenda, tetap saja itu hanya masa lalu pada kelahiran pertama. Kini, Yamashita tidak tahu Minami itu reinkarnasi keberapa. Mungkin yang keseribu? Sisa keanggunannya sebagai seorang putri bahkan tidak ada.
"Tempat lain, apa maksudmu di masa yang sudah terlewat?"bisik Minami mencari kebenaran dari garis mata Yamashita.
Sebuah anggukan ringan membuat Minami yakin, meskipun ia sekarang sedang bermimpi, untuk bangun mungkin masih terlalu jauh. Perjalanannya baru saja akan dimulai. Ia hanya perlu sebuah akhir yang indah untuk mimpinya.
"Pastikan Anda memakai Yukata dengan sebuah sanggul sederhana,"tutup Yamashita membungkuk dalam diam.
___
Malamnya, Minami tidak bisa tidur. Ia sesekali duduk, menikmati sinar bulan di penghujung musim panas lewat jendela apartemennya.
Suasana gang kumuh di bawah sana begitu lenggang dan remang. Walaupun jarang sekali terjadi kejahatan, tetap ada perasaan tidak aman saat berjalan di tempat itu sendirian.
Seperti itulah yang Minami rasakan saat ia terus berjalan melewati setiap detik dalam hidupnya tanpa siapapun. Sebenarnya, jika saja tidak ada kata bullying dalam hidupnya, Minami tidak akan semenderita ini.
Apa mungkin ia punya dosa di kehidupan yang lampau?
Minami terusik karena sebenarnya, saat ini pikirannya lebih dipenuhi tentang Yamashita. Entah pergi kemana jelmaan Nekomata itu hingga meski tengah malam hampir berlalu, sosoknya belum terlihat di manapun.
Perlu beberapa jam hingga akhirnya Minami yang lelah menunggu tanpa sadar tertidur dengan posisi duduk.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian, ia kembali terjaga karena matahari pagi yang menyentuh hangat wajahnya.
Ia berdiri dan terkejut saat mendapati sebuah Yukata sutra tergeletak di atas tempat tidurnya.
"Anda belum terlambat untuk bersiap." Tiba-tiba Yamashita bersuara. Berdiri dengan tatapan tajam tanpa kedipan. Dengan tenang, diangkatnya pakaian tradisional itu untuk disodorkan kembali pada Minami.
Gadis itu terpaku, sedikit terkejut. Apa ini semacam pembayaran yang harus ia lakukan untuk membalas kebaikannya? Entahlah. Minami sangat yakin ia tidak punya pilihan lain.
Gadis itu berdiri, menegakkan punggungnya untuk mengambil Yukata itu dengan lebih tenang,"Aku akan berusaha menyelesaikannya dengan cepat."
"Terima kasih,"kata Yamashita membungkuk, menggambarkan sopan santun zaman dulu.
Beberapa menit kemudian, Minami keluar dari dalam kamar mandi. Ia bergerak kaku karena tidak terbiasa dengan pakaiannya. Tidak ada sanggul yang elegan hanya ikatan rambut dengan gaya cepol.
"Apa Anda tidak punya alat untuk melukis wajah?"tanya Yamashita terdengar kecewa dengan penampilan Minami.
Ia mengeryit, sedikit bingung. Apa maksudnya make up? Sudah lama sejak aku mengambil tester bedak di pusat perbelanjaan di awal tahun.
Minami menggeleng, melihat ke arah Yamashita dengan tatapan bersalah,"Tidak, maafkan aku."
Minami sebenarnya tidak begitu mengerti, tapi ia memilih untuk mengangguk kali ini.
Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi saat Yamashita mengulurkan satu tangannya pada Minami. Mulanya gadis itu tidak mengerti, hingga akhirnya ia sadar, waktunya telah tiba.
Di menit berikut, tiba-tiba sebuah cahaya kecil terpancar dari dalam jemari yang saling menggenggam itu, menembus dinding apartemen hingga seakan merambat naik menuju ke langit.
Mungkin keanehan itu tidak disadari oleh siapapun. Hanya Minami yang mencoba untuk tidak menjerit saat tubuhnya seolah tertarik menuju atas.
"Pejamkan matamu, Putri. Ini adalah lorong waktu istimewa yang dipersiapkan untuk kepulangan kita,"kata Yamashita menyingsingkan ujung hakamanya dengan satu tangan.
Tak ada sahutan dari bibir Minami. Angin yang tiba-tiba datang, malah menyapu sebagian besar pandangannya.
Semakin lama, gelombang gravitasi itu semakin kuat hingga Minami menarik tubuh Yamashita, memeluknya erat-erat.
__ADS_1
Calon suaminya itu terasa begitu hangat, kokoh dan pasti mampu memberikan perlindungan seumur hidup.
Benar, seumur hidup.
...
"Putri... putri Kaguya! Anda bisa mendengar saya?"suara seseorang terdengar begitu kecil. Minami pikir, itu hanyalah sebuah dejavu. Ia mengabaikannya beberapa kali hingga pada akhirnya ia sadar, mungkin itu adalah panggilan.
Apa aku pingsan? Sejak kapan? Minami membuka matanya hati-hati.
Ia menangkap bayangan lima orang yang berpakaian sama tengah mengelilinginya. Satu memeriksa nadi, memijit kaki dan--menatapnya.
"Putri, Anda bisa mendengar saya?"
Kembali pertanyaan yang sama dilontarkan, kali ini lebih gelisah. Jika dilihat sekilas, ada kemungkinan mereka tabib wanita.
"Ya, aku bisa mendengarnya,"kata Minami bergerak kecil untuk memegang sisi kepalanya. Ia tidak yakin pernah terjatuh, tapi kenapa kepalanya serasa terbentur?
Kelimanya menghela nafas lega kemudian saling tatap untuk sesaat.
Setelah berbincang singkat mengenai perkembangan baik dari Minami, satu-satu mereka pergi, meninggalkan Minami yang masih diliputi kebingungan.
Baginya, tempat itu sangat asing dan terlampau kuno. Pahatan kayu terukir pada tiang-tiang penyangga. Berbagai jimat juga di gantung di atas langit-langit dengan sebuah altar sembahyang yang berdiri tanpa sekat pemisah dengan ruangan lain.
Sayup-sayup, bahkan Minami menangkap suara nyanyian tradisional dengan iringan shamisen.
Pikiran Minami mulai tidak menentu. Hingga kemudian, terdengar suara pintu digeser kencang. Terlihat sebuah kaki panjang masuk, menginjak tatami.
"Apa kau sudah sadar, Putri?"
Benar, itu adalah Yamashita. Gaya formalnya kini sedikit lenyap. Auranya tidak sekaku seperti di awal pertemuan mereka dulu. Tapi, sungguh Minami tidak memperdulikan hal itu.
"Maaf bisakah kau memberitahuku? Ini tahun berapa?tanya Minami membiarkan pria itu duduk di tepian futonnya.
__ADS_1
"222 SM. Tidak ada apapun dalam tahun ini. Selain malapetaka akibat peperangan."