Mr. Cat

Mr. Cat
episode 29


__ADS_3


Malam itu adalah hari ke-17 bagi putri Kaguya sejak ia dikurung di dalam sebuah ruangan persegi berventilasi kecil. Tidak banyak gosip lain yang ia dengar selain kematian Hiroshi dan putri Yuka.


Mereka digantung dan dipertontonkan di tengah lapangan karena terbukti melakukan persengkokolan untuk melengserkan calon Kaisar. Kaguya yakin, itu hanyalah omong kosong. Berapapun banyak bukti nyata yang terpampang di hadapannya, baginya Hiroshi adalah pria baik-baik.


"Putri, sarapan anda,"seru seorang pelayan masuk dengan tubuh membungkuk. Jemarinya dengan lincah mengambil beberapa potongan buah dan telur rebus dalam wadah kayu yang berbeda. Sepiring kecil nasi diletakkan di atas meja bersama dengan siiris tebal ikan laut setengah matang.


"Apa kau juga mengantarkan sarapan untuk pangeran?"tanya Kaguya menatap tajam pada pelayan paruh baya itu. Yang ditanya terdiam kemudian mengangguk takut. Sejak kematian Hiroshi karena dihukum mati, para pelayan yang terlibat, ikut terkena imbasnya. Ia adalah salah satunya. Jarinya tidak utuh karena minggu lalu dipotong dan dagingnya diberikan pada anjing liar.


Hanya karena Kaguya, banyak yang tidak berdosa, dihukum kejam. Mengorbankan haknya untuk masalah pribadi orang lain.


"Maaf, biarkan saya pergi. Leher saya akan hilang jika menuruti keinginan anda, putri. Maafkan saya."Sembari membungkuk lebih dalam, ia segera bergegas mundur. Diabaikannya secarik kertas berisi pesan juga perhiasan emas yang sebenarnya adalah imbalan.


Kaguya berteriak kesal, melempar mangkuk-mangkuk berisi makanan. Tentu saja, karena perbuatannya sendiri, ia harus menahan lapar.


Kaguya terisak marah lalu berdiri, mengambil sebilah pisau kecil dalam lilitan obi, "baiklah, tidak ada cara lain. Aku harus pulang ke langit walaupun hanya sebentar." Kaguya memejamkan matanya, menggoreskan ujung pisau pada jarinya. Begitu tetesan darah pertama keluar, ia cepat-cepat menuju dinding kayu, menggambar sebuah lubang besar yang kemudian berubah menjadi pintu.


Selama lima tahun setelah memutuskan untuk menjalin hubungan palsu dengan Yamashita, Kaguya tidak lagi ingin menemui siapapun di rumah. Keinginan terakhirnya hanya menjadi seorang istri biasa bagi Hiroshi. Sayangnya, setelah kekasihnya itu mati, ia tidak lagi punya tujuan hidup selain membunuh suaminya sendiri.


Giok Nekomata. Perisai dewa kematian yang di simpan oleh ayahnya pasti bisa membantu masalahnya. Kali ini, Kaguya tidak ingin menunggu. Yamashita harus dibunuh dengan caranya sendiri.


Kaguya melompat ke dalam lorong yang terbentuk oleh darahnya itu. Tidak cukup besar, tapi ia berhasil masuk sebelum lubang itu kembali menutup.


"Putri, Anda kembali?"


Itu adalah pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut seorang dayang bergaun sutra di depan ruang pribadi sang dewa bulan--ayahnya.

__ADS_1


"Pergi! Jika mulutmu bicara satu kalimat saja tentang kedatanganku, aku akan membunuhmu!"geramnya menyuruh dayang itu menyingkir.


Sangat kontras dengan penampilan cantiknya, di masa itu, Kaguya adalah gambaran kekasaran juga keegoisan. Itu adalah salah satu alasan kenapa para dewa memutuskan untuk menanamkan elemen pada tubuh gadis itu sebagai hukuman. Tapi, kenyataan malah bertambah buruk. Berdampingan dengan Yamashita, Kaguya ditemukan berselingkuh. Harga dirinya sangat tinggi dan tidak pernah mengakui tentang perasaannya sendiri.


Selepas kepergian sang dayang penjaga, Kaguya masuk, mengobrak-abrik tumpukan buku, laci juga lemari berukir naga emas. Selama beberapa menit, ia tidak menemukan apa yang sedang ia cari. Hingga kemudian, saat Kaguya membungkuk, ia menyadari sesuatu.


Giok Nekomata, pembangkit roh kesatria perang, tertanam persis di bawah kakinya. Kaguya mundur, mengambil kembali pisaunya. Ia perlu paling tidak tiga tetes darah untuk membuat lubang dengan mudah.


Begitu uap pertama muncul setelah darahnya jatuh, Kaguya berlutut, memasukkan telapak tangannya untuk mengambil benda pusaka milik dewa kematian itu.


Seringai puas terbentuk di sudut bibirnya saat ia berhasil menggenggam sebongkah batu biru yang hanya ia pernah lihat sekali dulu. Hasil sitaan dewa bulan pada dewa kematian. Mereka bertukar benda pusaka setelah sepakat untuk berdamai tentang suatu hal.


Siapa sangka? Kaguya memanfaatkannya untuk tujuan yang berujung malapetaka?


Hari itu, adalah purnama ke-11. Di sebuah bilik bambu tanpa jendela, Yamashita termenung, menatap bulan separuh yang mengintip di sela anyaman atap. Tidak seorangpun tahu, bahkan Yamashita sering bingung kenapa ia begitu peka dengan keberadaan Kaguya. Instingnya kali ini mengatakan, istrinya telah pergi, ke atas langit.


Sial. Kenapa harus seekor kucing? Gerutunya melihat kembali ke atas langit. Ini bulan purnama ke-11. Kaguya, aku akan menyambutmu di medan perang.


Tak menunggu lama setelah itu. Seminggu kemudian, seluruh pasukan tak bernyawa dari pihak Kaguya dibangkitkan dari neraka.


Lubang api terbentuk dari perut bumi, menyebar seperti wabah penyakit. Di tengah medan perang yang tengah berkobar, seluruh dewa turun, mengambil keputusan. Bahwa baik Kaguya maupun Yamashita harus menjalani hukuman.


"Hingga kebencian kalian mampu membuat kelopak sakura bermekaran, aku--raja langit. Mengutuk kalian mendapatkan penderitaan atas dosa juga perbuatan kalian di masa lalu. Bereinkarnasilah ribuan kali. Dan-- menderitalah jutaan kali."


Di bawah langit gelap juga tetesan hujan berwarna hitam, Kaguya menjerit tak terima. Ia kembali bersumpah akan membunuh Yamashita di setiap kehidupan.


...

__ADS_1


Masa sekarang, 2018


Telinga Minami berdengung hebat, seakan menyisakan banyak suara tangisan yang pernah ia dengar sebelumnya.


Saat matanya terbuka, sungai kecil melintasi pipinya. Ada sisa rasa sakit sekaligus kegilaan karena kebencian. Dada Minami sesak, tapi tetap menemukan nafasnya baik-baik saja.


"Kupikir kau mati."Sebuah suara menyentak alam bawah sadarnya. Minami berpaling, menemukan wajah masam Yamashita di sisi kanan pembaringannya.


Ingatannya telah kembali dan ia sama sekali tidak terkejut saat mendapati dirinya menarik kerah pria tinggi itu kuat-kuat.


Yamashita melotot. Terlihat terkejut dengan reaksi kasar Minami padanya.


"Sayang sekali, aku tidak membawa pisau,"bisik Minami menyatukan nafas mereka dengan amarah lain.


Saat Yamashita menepis cengkeramannya, Minami mendengkus, hampir meludah untuk mengungkapkan rasa jijiknya.


Mereka hanya berdua di sebuah ruangan yang mirip rumah sakit kecil. Segalanya berwarna putih dengan jendela besar yang menampakkan warna mencolok musim gugur.


"Kau tahu? Apa yang membuatku sangat membencimu?"kata Yamashita menekan kedua pipi Minami dengan telapak tangannya. Sudah lama sekali ia tidak melihatnya, Kaguya Arashi yang membuat hatinya porak poranda.


Di hadapannya, untuk pertama kali, Minami Muruka menampakkan jati dirinya di masa lalu. Keegoisan juga kecantikan.


Cup.


Ciuman lapar dari mulut Yamashita tak lebih dari pelampiasan belaka.


Benarkah? Omong kosong!

__ADS_1


__ADS_2