Mr. Cat

Mr. Cat
episode 12


__ADS_3


Minami merasakan tubuhnya terlempar dalam sebuah putaran waktu yang ujungnya tidak terlihat.


Ia pikir, hidupnya telah berakhir, hingga saat matanya membuka, sebuah ruangan yang ia kenal terpampang di depan wajahnya.


Apartemen. Benar, ia telah kembali ke masa depan. Ataukah? Dugaannya salah?


Dahi gadis itu basah, nafasnya juga terasa sangat sesak. Bagaimana itu bisa terjadi? Semua peristiwa yang baru saja ia alami bagai sebuah mimpi.


Bahkan Yukata yang seharusnya masih ia pakai, kini telah berganti piyama lusuh--pakaian lamanya selama tiga tahun terakhir.


Mustahil, bisik Minami buru-buru menghampiri kalender di atas meja belajar. Memeriksa sesuatu.


Ini adalah hari dimana aku ditelanjangi oleh Kotomi. Lalu? Sekarang dengan apa aku bisa menghindari takdirku sendiri? Putri Kaguya? Persetan dengan itu semua! Minami mendengus kesal, melempar kalender meja itu ke bawah kakinya.


Tok. Tok. Tok.


Masih dilanda frustasi, mata Minami tiba-tiba bergerak, beralih ke arah pintu keluar. Itu hanya sebuah ketukan tapi seketika hatinya diliputi perasaan mencekam.


Siapa? Aku tidak pernah menemui seorangpun.


Minami membungkuk, mengintip lewat lubang di bawah kunci dengan perasaan takut.


Tidak terlalu jelas, tapi sepasang sepatu kulit cantik yang dipakai sang tamu, menjelaskan siapa si pemilik.


Hampir gadis itu berteriak histeris saat tahu siapa yang ada di luar sana. Ia membekap mulutnya dengan ekspresi tak percaya.


Kotomi? Bagaimana bisa ia datang dengan dua orang temannya? Ini bukan hari libur.


Tok. Tok. Tok.


Sekarang intonasi ketukannya terdengar sedikit kasar dan tinggi.


"Mina-san, kau ada di dalam kan? Kami dengar hari ini kau tidak masuk. Biarkan kami menjengukmu,"kata Kotomi di sela ketukannya.


Jika saja topeng di wajah Kotomi bisa di lepas, mungkin akan terlihat seringai tajam di bawah mulutnya.


Tentu saja, itu tidak lebih hanya omong kosong. Kotomi tidak mungkin menganggap siapapun sebagai temannya.


Gadis culas itu tahu benar, saat memperlakukan para penjilat dengan baik, ia sama saja dengan memberi mereka harga yang tidak pantas.

__ADS_1


Senyum Kotomi bahkan hanya bisa mengembang penuh saat menyiksa orang lain. Ia adalah Psikopat yang bersembunyi dari balik wajah sinis seorang siswi.


Ya, sekarang Minami hanya perlu diam dan tidak membukakan pintu. Mereka akan segera pergi kalau ada tetangganya yang mengeluh berisik. Di apartemen seharga hanya ribuan yen untuk satu bulan sewa, bukan lagi rahasia jika di setiap sekat kamarnya sangat tipis.


Tapi, nyatanya tidak semudah itu menghindari takdir. Sekeras apapun seseorang berusaha, hasil akhir hanya ditentukan oleh Tuhan.


Selama lima menit Minami menutupi telinganya dari suara berisik dari luar, di menit berikut, tiba-tiba hening--lalu berganti suara lain.


"Ada apa? Kalian belum masuk juga?"


Suara pemilik apartemen menguasai jeda kecil di balik pintu.


Minami beringsut mendekat, menempelkan telinganya dengan waspada.


Bisa berakhir buruk kalau pintu dibuka menggunakan kunci duplikat milik keamanan gedung. Apalagi kondisinya tidak sedang sakit.


"Jangan-jangan dia mati,"celetuk seorang teman Kotomi menatap temannya yang lain.


"Tidak mungkin. Baru tadi malam aku sendiri yang menemuinya untuk mengingatkan tentang teman prianya yang masuk tanpa seizinku,"kata pemilik apartemen menggeleng bingung.


"Teman pria? Bisa Anda beritahu? Seperti apa pria itu?"tanya Kotomi tertarik. Suaranya yang tadinya ia buat lembut, kini tanpa sadar berubah memaksa.


Minami mulai gelisah, merasakan hal buruk dari balik pertanyaan gadis itu. Dicengkeramnya kenop pintu apartemennya kuat-kuat, menahan perasaan gelisah dalam hatinya.


Menggebrak ke arah pintu, Ny. Maeda pergi, tanpa menghiraukan tatapan kesal dari ketiga gadis SMA itu. Selain tidak sopan saat berbicara dengannya, ia merasa Kotomi bukan gadis baik-baik. Ia memang tidak peduli dengan urusan Minami, tapi ia benci saat orang lain berbuat jahat, apalagi di apartemennya.


Dari balik pintu itu, Minami menghembuskan nafas lega. Ia terduduk pelan, memegang dadanya. Tapi, perasaan aman itu, lenyap dalam sekejap saat Kotomi menendang keras tepat di bagian pintu dimana ia bersandar.


"Hei, Minami! Aku tahu kau ada didalam! Lihat saja, meski hari ini kau bisa lolos, tidak untuk besok."


Walaupun tidak bertatapan langsung, Minami yakin gadis jahat itu tengah menyeringai samar seperti binatang yang tengah menandai buruannya.


Tak lama setelah kedua temannya ikut menendang di tempat yang sama, mereka pergi. Menyisakan suara langkah kaki di tangga lantai dua.


Untuk beberapa saat, Minami terdiam. Ia ingin benar-benar memastikan kepergian mereka.


Kenangan terakhir di dalam gudang olahraga, membentuk trauma dalam memorinya. Benar, kalau kejadian memuakkan itu telah dihapus, tapi itu hanya berlaku untuk aliran takdir. Ingatan Minami akan terus berdiri, menetap dan tidak lagi bisa dihapus oleh apapun.


Gadis itu masih meringkuk, menyesali banyak hal tentang segala keputusannya. Hingga sesuatu tiba-tiba bersuara--lembut, kecil dan melengking.


"Meong."

__ADS_1


Bagai tersengat listrik, Minami berjingklat, menegakkan wajahnya yang dipenuhi air mata ke segala arah. Tubuhnya reflek mencari suara yang sangat familiar di telinganya. Hingga akhirnya, matanya menangkap sosok binatang berbulu itu di atas sebuah karpet yang penuh dengan debu.


Ia akui, perasaan tidak nyaman adalah yang pertama ia rasakan.


Yamashita memanfaatkannya untuk kepentingan yang lebih besar dan berbahaya.


Pria itu sekarang tidak lebih dari peneror yang mengacaukan hatinya.


Kucing belang yang tengah menjilat kuku-kukunya itu, anehnya tidak memperdulikan Minami.


Penasaran dengan reaksi tidak wajar itu, secara perlahan dan sopan, Minami melipat kakinya untuk mendekati sang kucing.


Ia hanya berharap, keberadaan Yamashita semata-mata hanya untuk melindunginya seperti janji awal mereka.


Namun, Minami salah. Lebih tepatnya ia bingung dengan kucing jantan di hadapannya itu.


Bulunya dalam keadaan kering, matanya juga tidak terfokus pada keberadaan Minami.


Ia terlihat seperti kucing biasa. Jika itu Yamashita, wujudnya dalam keadaan kering adalah manusia.


"Meong."


Dengan satu loncatan, binatang itu menghindari uluran tangan Minami. Ia pergi, melewati jendela yang tertiup oleh udara musim panas.


Masih belum percaya dengan sosok si kucing, Minami berlari mengikuti jejak binatang itu hingga mengeluarkan kepalanya pada celah ventilasi.


Apartemennya ada di lantai tiga dengan bangunan datar tanpa beranda. Sungguh mustahil menemukan celah untuk meloncat--bahkan untuk seekor binatang yang pandai memanjat.


Benar saja, dugaan awalnya yang sempat pupus, menguat begitu cepat dalam waktu singkat.


Mata Minami membola, menatap keajaiban di depan matanya.


Apakah itu lagi-lagi ilusi? Tubuh kecil kucing yang mengabaikannya seperti seorang yang sakit hati, secara ajaib berubah--menguap bersama udara panas.


Tak perlu waktu lama hingga akhirnya angin membentuk kembali sosok lain dari sisa serpihan si kucing.


Kaki panjangnya menapak, mendongak dengan enggan pada jendela dimana Minami tengah memergoki perubahannya.


Itu jelas Yamashita. Sosoknya mungkin berpakaian


seperti layaknya pria di jaman modern, tapi tidak dengan tatapannya.

__ADS_1


Pria yang memangkas rambutnya menjadi pendek itu, masih mempunyai kharisma seorang pangeran yang sombong dan menyebalkan.


__ADS_2