Mr. Cat

Mr. Cat
Episode 2


__ADS_3


Mungkin, jika orang tua Minami masih hidup dan kebakaran itu tidak terjadi, pasti sekarang Minami masih bisa berteman dengan Yoshio tanpa harus sembunyi-sembunyi.


Pria itu memang ada di depannya sekarang, sesekali berteriak untuk mengalahkan suara bising kendaraan.


Meski tubuh Yoshio tidak lagi segendut dulu dan suaranya berubah, Minami masih bisa merasakan sisa-sisa sifat kekanakan dari mulut temannya itu.


"Kau tinggal di sini?" tanya Yoshio menghentikan laju motornya di mulut sebuah gang sempit.


Minami mengangguk, menatap sekeliling kompleks kumuh minim penerangan itu.


Beberapa meter ke utara, terlihat bangunan tingkat dua yang dindingnya mengelupas. Kamar Minami adalah salah satu di antaranya.


"Kau seharusnya menyewa yang lebih baik. Kudengar uang tunjanganmu cukup untuk membiayaimu hingga selesai SMA," kata Yoshio menerima helm yang dipakai Minami dengan tatapan sedih.


Gadis itu menghela nafasnya,"Ya, seharusnya seperti itu, tapi nyatanya tidak, Yoshio."


Tatapan aneh Minami membuat Yoshio terusik,"Apa ada sesuatu? Aku mendengar dari gosip yang beredar, Kotomi mengganggumu."


Minami terdiam, memainkan jemarinya gelisah,"hanya lelucon. Mereka tidak sejahat itu."


Yoshio menatap Minami tak percaya, gadis itu terlihat gemetar dan rapuh,"Apa yang bisa kulakukan untukmu, katakan. Aku akan melakukannya. Kita adalah teman, aku tidak bisa melihatmu seperti ini."


Yoshio terlihat cukup tulus, dulu Minami kecil yang menyemangatinya saat ia mengalami krisis percaya diri. Waktu SD, Yoshio menderita obesitas. Tidak ada yang mau berteman dengannya kecuali Minami. Ya, itu adalah masalah tersulit bagi anak kecil ketika seluruh temannya mengolok keadaannya.


Minami menghela nafasnya berat,"Yoshio, tolong tinggalkan aku. Biarkan aku menjalani kehidupanku sebagai Minami Muruka si yatim piatu. Kalau kau tidak berhenti, Kotomi tidak akan pernah melepasku."


Ditatapnya Minami dengan pandangan lama. Ia sebenarnya tahu jika Kotomi pasti tidak akan membiarkannya dekat dengan gadis manapun.


"Baiklah. Mari kita tidak saling mengenal selama dua tahun ke depan. Tapi, di hari kelulusanku, biarkan aku mencarimu. Minami, jaga dirimu baik-baik," ucap Yoshio mengambil sesuatu dari dalam tas punggungnya.


Itu adalah sebuah bingkisan warna coklat tua. Bentuknya mengingatkan Minami akan hadiah tahun baru yang dulu selalu ia temukan di bawah pohon Natal.


"Dari ibuku. Tadinya aku ingin kau berkunjung pekan depan. Tapi, sepertinya itu harus ditunda untuk waktu yang lama. Kau harus menerimanya."

__ADS_1


Yoshio mendesak Minami, menekan ujung bingkisan itu ke depan wajahnya.


"Bibi?" gumam Minami terdengar tak percaya. Ia mengambilnya lalu membungkuk kecil pada Yoshio.


"Aku pulang, jaga dirimu baik-baik. Kita bertemu dua tahun lagi. Di tempat ini. Kau setuju?"


Yoshio berdiri, menarik turun helmnya hingga menutupi seluruh wajah.


Minami mengangguk, mengambil jarak sedikit menjauh saat mesin motor pria itu mulai terdengar dihidupkan.


Itu mungkin sebuah omong kosong. Menunggu selama dua tahun hanya untuk pertemuan?


Ya, meski begitu Minami cukup senang dengan bingkisan juga waktu Yoshio yang dihabiskan untuk mengantarnya tadi.


Meski ini mungkin untuk yang terakhir.


Minami berbalik, melangkah menuju apartemennya setelah memastikan Yoshio benar-benar pergi.


Sesampainya di mulut kamar, tanpa mencuci tangannya di wastafel, Minami langsung membuka bingkisan itu.


Sebuah baju lapisan untuk seragam SMA. Sangat bagus dan terlihat dibuat secara manual. Minami ingat, bibi Dori, ibu Yoshio adalah penjahit handal yang mengandalkan sebuah mesin tua untuk menghasilkan gaun terbaik.


Malam itu, di atas tatami usang, di tengah ruang tamu yang listriknya padam, Minami merasakan kebahagiaan kecil dari sehelai kain.


Ia merindukan orang tuanya.


...


Pagi itu, seharusnya Minami tidak terlambat. Jam bekernya menyala kencang, air di wastafel yang terkadang tidak mengalir, bahkan sudah siap digunakan untuk mencuci rambut. Namun, entah kenapa hal baik itu malah menjadi pertanda buruk.


Menuju gerbang utama sekolahnya, Minami langsung berhadapan dengan Kotomi pagi-pagi. Kini, tidak tanggung-tanggung, ada sepuluh orang yang berdiri di belakang gadis penguasa sekolah itu.


Jemari Minami langsung menaut gelisah, keringat dinginnya keluar. Baru kemarin bekas memar di perutnya masih ada, sekarang apa lagi?


Berjalan dengan tangan dipelintir oleh tiga orang, Minami menjerit, melewati taman belakang kemudian berakhir di sebuah gedung kosong yang dijadikan gudang olahraga.

__ADS_1


Minami merasakan sebuah hal buruk. Kotomi tidak pernah menyekapnya di ruang tertutup. Setidaknya, ia akan memilih di ruang terbuka yang jauh dari sekolah. Itupun hanya ditemani oleh tiga orang. Lalu? Apa-apaan ini?


"Buat dua berlutut!"teriak Kotomi menendang salah satu paha Minami dengan sepatunya.


Gadis itu menjerit menerima tiga tendangan setelahnya. Bukan hanya berlutut, gadis itu tersungkur dan hampir mencium ujung kaki Kotomi.


"Aku tidak ingin basa-basi. Tadi malam Yoshio mengantarmu pulang kan? Bagaimana bisa kau melawan perintahku!" teriak Kotomi mengacungkan ujung kakinya untuk menyentuh dagu Minami.


Rasa nyeri menyengati kepalanya saat secara bersamaan dari arah belakang, para teman Kotomi menarik rambutnya secara kasar dan bersamaan.


Minami menangis, tapi tidak menjerit. Akan berakhir percuma jika ia melakukannya. Di lingkungan sekolah, bahkan guru sekalipun tak ubahnya karyawan ayah Kotomi. Mereka hanya bersikap masa bodoh dengan ulah anak pemilik sekolah itu.


Kali ini, Kotomi terlihat malas mendengar penjelasan dari mulut korbannya. Ia menilai Minami tidak konsekuen dengan janjinya yang terakhir. Ya, meski Yoshio sudah putus dengannya, ia tidak rela jika mantannya bersama gadis lain.


"Buka bajunya!"


Minami terkejut setengah mati. Air matanya langsung merebak, menutupi wajahnya yang berantakan.


"Tidak, Kotomi. Kau salah paham, aku mohon jangan lakukan ini padaku!"


Kelima teman Kotomi ikut tertawa saat bos mereka terkekeh geli mendengar puluhan kalimat permohonan dari mulut Minami.


Empat kancing seragam Minami terlepas, bukan dibuka, tapi ditarik secara paksa.


Gadis itu menjerit, tangan bahkan kakinya meronta begitu keras hingga sebuah tamparan melayang bertubi-tubi pada pipinya.


"Diam dasar jalang! Kau akan menjadi bintang terkenal setelah ini. Ayo buka semuanya!" perintah Kotomi mengambil ponselnya untuk mulai merekam bagian tubuh Minami.


Lagi-lagi mereka tertawa saat jeritan, makian dan kesakitan kembali keluar dari mulut gadis malang itu.


"Lihat, punyamu boleh juga. Seharusnya kau lelang saja perawanmu di situs dewasa," ucap Kotomi disambut gelak tawa temannya yang lain.


"Lepaskan aku, ini sudah diluar batasan. Kau melecehkanku!" jerit Minami masih meronta di saat seluruh tubuhnya di pegangi.


Ia tidak bisa bergerak sekarang. Kotomi sudah merencanakan ini secara matang. Seluruh teman bahkan dirinya ikut maju saat Tubuh Minami benar-benar akan ditelanjangi sebentar lagi.

__ADS_1


"Minami Muruka, aku akan membuatmu menyesal telah mengingkari janjimu padaku. Yoshio hanya milikku. Dia tidak akan mau dengan gadis yang memasang foto bugilnya di internet!"


Bersama dengan itu, Minami merasakan kepalanya dihantam dari arah belakang sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran.


__ADS_2