
Di tengah samar-samar ingatan,
Dewa kematian tiba-tiba saja mengulurkan salah satu tangannya pada Yamashita.
Sang pangeran menoleh, menatap kumpulan cahaya menyilaukan dalam genggaman pria pucat itu.
"Ambillah ingatanmu. Sudah ratusan kali pada ratusan kehidupan yang pernah kau jalani. Di akhir kebingunganmu, aku selalu memberimu setiap detil ingatan masa lalumu tentang Kaguya. Tapi, kau hanya mengedepankan emosi. Pangeran, ini adalah kesempatan terakhir. Jika kali ini gagal, aku tak bisa lagi membantu. Alam mungkin akan hancur karena kedua elemen dari tubuh kalian saling membentur. Jadi bersiaplah menemui takdirmu...,"
Bersamaan dengan itu, Nekomata meloncat naik ke bahu dewa kematian, memberi ruang agar tuannya bisa mengerahkan seluruh energinya.
Yamashita mematung, memejamkan matanya kuat-kuat. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Mendengar bahwa ingatannya ratusan kali pernah dikembalikan dan berakhir pada kegagalan, ada semacam ketakutan dalam dirinya. Ingatan macam apa yang membuatnya dibutakan oleh emosi?
Tak lama, terdengar suara angin yang bergemerisik, mengalahkan waktu yang kemudian kembali mati.
Di bangku taman menuju area sekolah, Minami yang tengah berjalan dengan tangan saling menggenggam, menoleh. Ia ikut merasakan sesuatu dari atas--tempat di mana Yamashita melayang bersama dewa kematian.
Minami tertegun, melihat kebekuan juga kekosongan dari lalu lalang manusia di sekelilingnya.
Yoshio yang ikut mematung juga tangan miliknya yang tiba-tiba terasa sangat kaku, seakan bicara bahwa kehidupan telah terlepas untuk sesaat dari diri semua orang--kecuali Minami Muruka.
"Ini adalah ingatan kalian. Separuhnya akan kulepaskan ke udara. Seiring berjalannya waktu, nanti di saat yang tepat, mereka akan kembali, berkumpul dalam ingatan lama."
Meski jarak mereka terpaut jauh, Minami dengan jelas mendengar bahwa ia terlibat dengan percakapan keduanya. Gadis itu berbalik, mengikuti instingnya untuk mendekat. Diraihnya ujung ranting pohon Maple yang berada tepat di bawah kedua pria itu.
Secara ajaib, Nekomata dalam diri Yamashita menggeram kesal, tapi tentu saja tidak bisa berbuat apapun.
Saat dewa kematian mengangkat tubuh Minami dengan sekumpulan angin dari mulutnya, gadis itu terlihat telah siap--tidak terkejut sedikitpun.
"Putri, apa ingatanmu terlihat samar-samar belakangan ini? Di usiamu yang genap 17 tahun pada perhitunganku, seharusnya itulah yang terjadi."Pria pucat itu masih menggegam ingatan keduanya dalam genggaman.
__ADS_1
Yamashita melirik tak suka, berharap ucapan Minami tidak memancingnya sama sekali.
"Aku hanya terkejut. Melihat hantu wanita dengan wajah yang sama sepertiku meneror dan membuat awal pagi yang buruk. Dewa, jika tanpa ingatanku saja kebencian mampu membuatku berpikir tidak rasional, tak bisakah kau membuatku tidak ingat saja? Ini adalah permintaanku. Jika kau mengabulkannya, di saat terakhir hidupku aku akan menjalani hukumanku atas perbuatan masa lalu. Tanpa mengeluh sedikitpun."
Minami menyatukan tangannya penuh harap, berusaha mengacuhkan tatapan Yamashita.
Terdengar suara Dewa kematian terkekeh kecil.
"Putri, berhenti memohon. Aku bukan dewa kebajikan yang akan tersentuh oleh ratapan manusia. Aku ditugaskan untuk mengawasi kematian kalian. Jadi, ambillah ingatanmu. Sebelum mereka terlepas lalu menyerang pertahananmu di saat terakhir. "
Baik Yamashita maupun Minami menghela napas masing-masing. Mengatur emosi lalu membuangnya lewat dengusan kecil. Percuma. Mereka sudah sama-sama marah untuk hal yang belum jelas.
Di saat yang sama, Ranting Maple kemudian bergerak, mengatur keseimbangannya dengan energi yang terpancar dari dalam genggaman sang dewa.
Ingatan itu dengan frontal terpecah, separuh melompat ke atas kepala sang pemilik. Lalu separuhnya menyebar--bercampur dengan udara.
Awalnya, keduanya terlihat baik-baik saja. Minami hanya merasakan angin luar biasa dingin memaksa masuk ke dalam pori-pori kulit kepala. Tapi, sedetik setelah sensasi sejuk itu, satu-persatu dorongan kuat menyakiti seluruh sendi tubuhnya.
Bersamaan dengan itu, waktu kemudian kembali bergerak. Meninggalkan sosok Nekomata juga tuannya.
Setelah memastikan semua berjalan seperti seharusnya, sang dewa kemudian pergi--lenyap tanpa mengucapkan satu patah katapun.
"Mina-san! Apa yang terjadi?"teriak Yoshio berbalik, mendapati tubuh kekasihnya yang tergeletak begitu saja.
Dengan panik, ia mengangkat tubuh Minami menuju ruang kesehatan yang tidak seberapa jauh dari pintu masuk.
Tanpa menghiraukan tatapan seisi sekolah, Yoshio terus berlari menyusuri koridor. Bahkan saking paniknya, ia tanpa sadar menabrak Kotomi yang sedang minum sekotak jus.
Tidak ada yang pernah berani menabraknya tanpa minta maaf. Kotomi awalnya ingin berteriak kencang, tapi suara anak lain mengurungkan niatannya.
Tunggu! Yoshio dia bilang? Berani sekali dia menyentuh gadis lain di depanku! Geram Kotomi menatap seorang dari kerumunan yang sempat menggumamkan nama Yoshio dengan 'gadis sampah' yang selalu ia kerjai.
__ADS_1
"Benar Koto-san. Itu Yoshio dan Minami!"kata gadis itu ketakutan. Ia seketika mengerutkan tatapannya saat menunjuk tempat dimana Yoshio berbelok.
Dua teman di belakang Kotomi menepuk bahu bosnya selembut mungkin.
"Kenapa tidak ke sana saja? Kita bisa membuat perhitungan dengan gadis sampah itu,"kata salah satunya dari mereka mengusulkan.
"Diam, dasar bodoh! Mana mungkin aku mengotori tanganku di depan Yoshio? Bisa-bisa dia akan menghindariku seumur hidup!"teriak Kotomi mendorong keduanya kasar.
Tak ada yang terkejut dengan tingkahnya. Gadis kaya itu selalu memperlakukan semua orang layaknya bawahan yang bisa diinjak sesuka hati.
Saat ini tak ada yang bisa diperbuat. Saat Yoshio pergi, aku akan memastikan gadis sampah itu tidak lagi bisa bernapas tanpa seijinku. Batin Kotomi berbalik menuju arah yang berlawanan.
Sepanjang jalan menuju kelasnya, tak terhitung berapa banyak kekacauan yang ia perbuat. Dari menendang tempat sampah hingga mendorong setiap orang yang menghalangi jalan. Tak ada teguran--lebih baik menghindar dari si biang masalah.
Sementara itu, di ruang kesehatan, dokter umum yang sedang bertugas yakin bahwa Minami hanya tertidur.
Meski Yoshio menyangsikanya, tapi ia lega karena Minami baik-baik saja.
"Yoshio, pastikan pacarmu mengkonsumsi vitamin setiap harinya. Kadang orang yang sedang dilanda masalah bisa kehilangan kesadarannya."
Yoshio melirik sang dokter,penasaran.
"Masalah?"gumam Yoshio menekan pelipisnya kesal. Isi kepalanya telah dipenuhi oleh bayangan Kotomi. Bagaimana gadis itu akan menguliti kehidupannya sampai mati.
Barulah Yoshio sadar dengan membawa Minami di hadapan semua orang, justru itu bisa membuat ancaman paling buruk.
"Hei, kenapa masih di sini? Kelas hampir di mulai. Ayo keluar!"gerutu dokter jaga itu mendorong bahu Yoshio yang bermaksud duduk di tepian ranjang.
Pria itu mengeluh keras. Mana mungkin ia meninggalkan Minami dalam keadaan belum sadar?
Keluarlah, aku akan membuatnya tidur untuk selamanya. Bisik Kotomi pada dirinya sendiri. Gadis itu berdiri di bawah jendela ruang kesehatan--dengan senjata dalam genggaman.
__ADS_1