Mr. Cat

Mr. Cat
episode 11


__ADS_3


Lima menit berselang, tak ada lagi suara.


Angin-angin yang menguasai hujan juga gerakan cahaya lentera, seakan membeku dari porosnya.


Minami tak mampu mendengar apapun. Ia hanya melihat semua benda di sekitarnya, dibekukan oleh kematian waktu.


Hal itu tidak terjadi begitu saja. Sesaat lalu setelah Yamashita mendorongnya jatuh ke atas tempat tidur, ia tanpa sengaja mengatakan permohonannya.


Aku ingin kembali ke masa depan. Hidup menderita memang menyakitkan. Tapi, melepas kehormatan, sama saja kematian.


Seperti menyahut permintaan Minami, sesaat kemudian, tiba-tiba saja entah darimana datangnya, segerombolan kucing hitam mengerumuni jendela berventilasi lebar di sebelah kanan tempat tidurnya.


Hati Minami merasakan getaran hebat, seakan sesuatu merasuki jiwanya saat itu.


Puluhan pasang mata hewan itu seketika menyala dalam cahaya musim dingin yang suram.


Bersamaan dengan suara berisik dari mulut belasan kucing, keajaiban lain terjadi. Tubuh Yamashita Kasetsu yang tengah menindihnya, menguap. Menjelma menjadi sosok Nekomata yang berselimutkan sebuah hakama panjang.


Air mata Minami yang sejak awal membanjiri pipinya, kembali menitikkan air mata ketidakpercayaan.


Ia sungguh tidak menyangka akan selamat dengan begitu mudah. Yamashita bukanlah penjahat, tapi ia terlalu takut dengan perubahan gejolaknya sendiri.


Minami masih 16 tahun. Ia belum siap untuk berhubungan dengan pria asing diatas tempat tidur.


Waktu masih tetap berhenti ketika Minami Muruka beringsut dari sana. Ia rapikan satu persatu yukatanya hingga akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


Lapisan tatami kuno di atas lantai kayu menyuarakan bunyi gesekan pada kaki gadis itu. Ia sempat berpaling dan tidak menemukan seekor kucingpun di balik pintu.

__ADS_1


Dunia mungkin juga sudah mati. Nekomata jelmaan Yamashita bahkan mirip boneka yang menatap kosong pada kepergian istrinya--reinkarnasi putri Kaguya, yang menarik pintu lalu meninggalkannya begitu saja.


Flasback dari masa lalu seakan terulang. Putri Kaguya di masa sebelumnya, berlari meninggalkan kamar pengantinnya untuk mengejar sesuatu.


Seperti sekarang, mengangkat ujung sempit Yukatanya, Minamipun menyusuri koridor demi koridor yang sama seperti reinkarnasinya. Anehnya, tidak ada seorangpun pelayan yang ia temukan.


Bagai istana kematian, hanya ada salju juga angin di setiap sudut bangunan kuno itu.


Sekencang apapun Minami berlari, ia hanya menemui papan-papan kayu yang menciptakan sebuah jalanan buntu.


Tak jelas apa yang terjadi selanjutnya. Minami hanya merasakan lututnya tiba-tiba gemetar kuat. Menahan sakit sekaligus dingin. Pakaiannya mungkin terlalu tipis hingga bibirnya ikut bergetar kacau.


Ia terlalu lemah untuk berpikir jernih hingga memory aneh merasukinya.


Saat itu juga, bayangan masa lalunya berputar. Minami syok saat melihat dirinya sendiri dengan balutan kimono kuno dan tebal, berdiri di tempat yang sama seperti saat sekarang.


Putri Kaguya dalam wujud Minami baru saja berlari dan terjatuh ke atas timbunan salju. Tapi tak lama, seseorang datang dari arah lain, meneriakkan sesuatu.


Tidak ada seorangpun selain raja juga para dayang perempuan yang berani menyentuh seorang putri. Tapi, pria itu tanpa canggung melakukannya. Padahal seharusnya ia memanggil orang lain untuk membantu.


Tapi tidak, ia ingin melakukannya sendiri. Membawa dia--dalam wujud masa lalu secara sembunyi-sembunyi.


Itu adalah laki-laki yang mirip Yoshio. Seorang yang ikut meresmikan pernikahan Minami dengan Yamashita Kasetsu.


Tapi, belum selesai rasa terkejutnya itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.


Saat ingin mengikuti,


Minami tiba-tiba terjatuh di sebuah timbunan salju. Memory pada akhirnya terpecah, membawanya kembali pada kenyataan.

__ADS_1


Rasanya sangat ganjil saat ia sendiri sadar, kejadiannya sama persis dengan apa yang baru saja ia lihat di memorynya.


Lain dengan reinkarnasinya yang benar-benar tidak sadarkan diri, Minami masih bisa mengatakan sesuatu. Menatap Yoshio yang berpenampilan seperti seorang pelayan.


Apa yang kau inginkan? Melihat Yoshio juga hidup di masa yang sama untuk beberapa dekade terakhir, menurutmu apakah mungkin ini juga sebuah garis takdir? Maka pilihlah. Hidup kembali ke takdir burukmu, atau tetap bertahan disini, menjadi permaisuri hingga aku menjemputmu. Kau berhak memilih, tapi hanya sekali ini.


Gadis itu terkejut, saat suara tak kasat mata itu kembali mencuri waktu dan membekukan segalanya.


Minami kembali menyaksikan sendiri bagaimana butiran salju berhenti bergerak, menutupi wajah patung Yoshio.


Tidak seperti di awal, kali ini hanya ada seekor kucing belang bermata hijau.


Menuruti insting, Minami mengikutinya hingga akhirnya, binatang itu kemudian melompat kedalam pelukan seorang pria berwajah pucat. Sosoknya sungguh tinggi dengan lipatan mata hitam yang bersinar dingin juga tajam.


Untuk sesaat gadis itu terpaku, menatap wujud seram pria di hadapannya.


Apa dia dewa kematian? Bisik Minami ragu. Jika benar, pasti dia adalah pusat dari semua keanehan dalam hidupku.


"Putri, bicaralah. Sebelum waktu bergerak dan menghabisi kesempatan terakhirmu. Aku bukan Tuhan yang bisa mengulur kematianmu seenak hatiku. Tapi aku berjanji akan tetap memberimu sebuah perlindungan lewat Yamashita Kasetsu. Jadi, katakan jawaban atas pertanyaan terakhirku. Di masa yang mana kau akan menghabiskan sisa hidupmu?" ucapnya menatap santai dan dingin pada Minami. Jemarinya mengelus lembut kepala hewan peliharaannya, Nekomata.


"Aku ingin hidup sebagai Minami Muruka. Tanpa ingatan tentang Yamashita Kasetsu juga pernikahan ini. Itu menyakitkan dan mungkin membuat hidupku terganggu." Minami menghela nafasnya keras kemudian membungkuk dengan siku juga lututnya yang kedinginan.


"Baiklah. Tapi, Pangeran Yamashita berhak atas dirimu. Kau sudah membuat perjanjian dengannya. Melayaninya adalah penukaran sederhana untuk jaminan seumur hidupmu saat menjadi seorang manusia biasa." Dewa kematian itu berbisik dengan penekanan tinggi. Seakan memaksa Minami untuk mengerti.


Merasa diabaikan, dewa kematian itu tersenyum sinis,"Baiklah, kau memang tidak berubah banyak, ya? Selain pandai memainkan perasaan para pria. Kau juga licik."


Seringaiannya membuat Minami menggidik kecil.


"Aku akan melemparmu ke masa depan. Kau bebas melakukan apapun--kecuali mengubah takdir. Saat kau melanggarnya, saat itu pula aku akan menarik rohmu keluar." Tangan yang semula mengelus kepala kucing, kini membuat gerakan merengkuh yang terlihat menyakitkan.

__ADS_1


"Aku Koji, dewa kematian generasi sebelas, mengizinkan penjaga waktu untuk membuka akses pulang pada seseorang. Reinkarnasi sekaligus titisan dewi bulan, Kaguya Asahi. Bawalah dia ke tiga minggu silam. "


Bukan dari atas langit, melainkan suara itu berasal dari sebuah pusaran waktu pada lubang kecil di dinding-dinding kayu.


__ADS_2