Mr. Cat

Mr. Cat
episode 13


__ADS_3


Pagi itu, matahari belum sepenuhnya muncul. Suara rombongan parkit yang sering bertengger di area pepohonan Cherry, terlambat memperdengarkan suaranya. Mungkin burung-burung kecil itu sudah pergi, mencari sarang baru untuk menghadapi puncak musim panas.


Dari kejauhan, diluar jendela kamar Minami, tanpa disadari siapapun, seekor kucing belang mengintip, mengambil cekungan sempit untuk memijakkan kakinya.


Mata tajamnya tidak berkedip sedikitpun meski sudah semalaman ia terus menatap aktivitas istrinya--Minami Muruka.


Sepanjang waktu hingga dini hari menjelang, gadis itu terus membuka matanya, menatap langit-langit kamar tanpa bicara.


Kini setelah 7 jam berlalu, Minami tiba-tiba duduk, beranjak untuk membereskan beberapa buku juga alat tulis ke dalam tasnya.


Apa ia berencana pergi sekolah? Batin Yamashita mengibaskan ekor panjangnya ke udara kosong di belakang tubuhnya.


Pertanyaan itu terjawab 15 menit kemudian. Segera setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, Minami yang sudah lengkap dengan seragam musim panasnya mengambil sisir juga ikatan rambut.


Terdiam cukup lama menatap pantulan wajahnya, diam-diam ia tahu dan tidak begitu terkejut saat memergoki ekor kucing ikut membayang dari pojok cermin itu.


Rupanya sejak awal, Minami tahu akan keberadaan Yamashita. Tirai tipis dengan cahaya bulan yang menyusup masuk, membuat sosok kucing itu membayang, menimpa selimut juga lantai kamar.


Itu adalah jawaban kenapa ia semalam tidak bisa tidur sama sekali. Kenangan buruk dengan Yamashita di atas tempat tidur, menimbulkan benteng trauma.


Masih melirik ekor sikucing, Minami menarik sepatu, menuju pintu keluar.


Terlalu berbahaya berangkat sekolah dengan kondisi emosi yang tidak stabil. Tapi, ia tidak punya pilihan lain. Menjadi penakut, membuat Yamashita semakin merasa dibutuhkan.


Entah kutukan apa yang dialami sang pangeran, Minami merasa dipaksa untuk menerima konsekuensi yang bahkan terlalu berat hanya untuk penghapusan sebuah video.


Sekarang, apapun yang terjadi ia akan menghadapi takdirnya sendiri.


"Kau sudah sehat rupanya,"sapa Ny. Maeda saat ia berpapasan dengan Minami di koridor terakhir menuju pintu gerbang.


Wanita itu tengah menenteng begitu banyak bahan makanan dan mulutnya sedang mengunyah sesuatu. Terlihat tidak sopan mengingat kelakuan itu terkadang dilakukan oleh anak kecil.


Bukannya menanggapi jawaban sopan atas pertanyaan basa-basinya, tiba-tiba Ny. Maeda mengoceh tentang ketidak sopanan Kotomi.

__ADS_1


Hal itu membuatnya sadar kalau bus jurusan menuju sekolah akan segera datang. Minami nekad membungkuk, berlari begitu saja sambil berteriak minta maaf. Tentu saja, ia harus menghadapi Ny. Maeda lagi sepulang sekolah. Wanita itu tipe orang yang tidak suka diabaikan.


Di menit terakhir waktu keberangkatan bus, Minami berlari menyusuri jalan sempit menuju halte terdekat. Beruntung baginya, kendaraan itu masih berhenti dalam keadaan pintu terbuka.


Beberapa detik kemudian, Minami sudah berbaur di antara sesak juga obrolan bising dari murid sekolah lain. Ia berdiri mematung dengan pandangan kosong ke sebuah jendela yang menampilkan deretan pohon Chery kering.


Minami baru saja masuk ke dalam lamunannya sendiri ketika tiba-tiba saja, seseorang yang berdiri dari arah belakang, menepuk punggungnya.


"Yoshio?" Minami memekik kecil, menampilkan ekspresi terkejut yang sedikit berlebihan.


Jika saja pria tinggi itu tidak menarik bahu Minami, pasti gadis itu sudah terjatuh menimpa penumpang lain karena bertingkah seperti orang bodoh.


Beberapa penumpang kemudian menggerutu, tapi berakhir diam begitu Yoshio minta maaf dengan membungkuk sopan.


Sedangkan Minami, ia bingung harus bicara apa. Selain malu, gadis itu tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Ia bisa langsung divonis gila jika mengaku bertemu Yoshio di kehidupan sebelumnya.


"Maaf, apa kau takut Kotomi akan memergoki kita?"tanya Yoshio menarik Minami ke sebuah bangku kosong yang baru saja ditinggal turun oleh penumpang.


Minami mengangguk kikuk, berusaha menyembunyikan alasan sebenarnya.


Ya, semua murid perempuan tahu kalau Yoshio, si kapten basket punya tubuh tinggi dan bagus. Sebagian teman kelasnya, rela menghabiskan waktu makan siang mereka di gedung olahraga. Menghabiskan bekal sambil menonton pertandingan.


Minami masih ingat, bagaimana Yoshio menyapanya meski ia sendiri sudah melupakan masa kecil mereka.


Jika saja waktu itu, mereka tidak saling mengenal, sudah pasti Kotomi tidak akan pernah mengincarnya.


Hubungan macam apa yang pernah Kotomi jalin di masa lalu bersama Yoshio, Minami yakin ada yang belum terselesaikan.


"Aku dengar, kau tidak masuk dalam beberapa hari ini. Apapun yang terjadi padamu, entah kenapa aku merasa bersalah. Mina-san, bagaimana kalau aku tidak mau menuruti ucapanmu?"ucap Yoshio menatap lurus pada mata bulan sabit gadis itu.


Tangannya yang tiba-tiba saja digenggam, membuat Minami terkejut sekaligus risih.


"Yos-hio, apa maksudmu? Bukankah kau sudah tahu akar permasalahannya? Kumohon biarkan aku mengatasinya sendiri."


"Tidak! Mina-san. Aku sudah memutuskannya. Gara-gara aku kau dimusuhi oleh semua orang, jadi jangan biarkan aku menjadi pecundang,"Yoshio kembali menarik tangan Minami yang sempat menepis genggamannya.

__ADS_1


Tidak ada getaran apapun yang mengalir dalam dadanya. Namun, gadis itu merasakan sesuatu yang tulus, mengusik endapan keras di hatinya.


Akhirnya ia membiarkan kedua tangan Yoshio menyelimuti jemarinya. Terasa aneh karena dulu mereka sering berpelukan saat masih kecil.


Banyak hal yang telah mereka lakukan, hingga Minami merasa berat untuk mengatakannya.


"Aku punya keputusan sendiri atas hidupku. Aku akan keluar, mencari sekolah lain yang menerima sumbangan pemerintah."


Untuk sekian lama, akhirnya Minami membalas tatapan Yoshio, berharap menemukan anggukan kecil sebagai dukungan.


Sayangnya tidak. Raut kekecewaan adalah yang pertama kali muncul lalu disusul dengan genggamannya yang tiba-tiba terlepas.


"Mina-san, kau yakin?"


Minami mengangguk. Ia bingung saat melihat Yoshio memberikan reaksi. Daripada tidak setuju, ada hal lain yang tersirat dari sikap juga caranya menatap.


"Kau tidak akan pindah kemana-mana. Aku pastikan kau baik-baik saja di sekolah maupun di tempat tinggalmu."


"Tapi? Aku..,"


Dengan ekspresi tidak peduli, Yoshio bangkit, menarik tangan Minami menuju pintu keluar bus yang baru saja berhenti.


Beberapa langkah saja, mereka akan sampai di pintu gerbang sekolah.


Minami dilanda panik juga frustasi. Apa yang akan Yoshio lakukan? Sepanjang ia tahu, tidak pernah sekalipun ada perempuan selain Kotomi yang diperlakukan seperti ini.


Jalan bersama dengan tangan saling menggenggam. Jika ada hukuman pancung, sudah pasti kepala mereka akan segera menggelinding.


Keributan pertama terjadi. Minami yang sejak turun dari bus mencoba untuk meronta, berakhir pasrah, menunduk takut pada kumpulan penggosip di sepanjang jalan.


Tunggu! Kenapa sepertinya kejadian ini terasa tidak asing? Bukan karena aku pernah mengalaminya, tapi ini adalah satu dari sekian puluh keinginanku yang mungkin-- mulai dikabulkan satu-satu. Batin Minami tiba-tiba mengangkat kepalanya untuk mencari sesuatu--lebih tepatnya si pembuat masalah hari ini.


Minami tidak tahu, di dahan pohon Cherry, sosok yang dicarinya bertengger, menjuntaikan ekor panjangnya dengan posisi santai.


"Putri, nikmatilah hidupmu," bisik Yamashita mengeong kecil.

__ADS_1


__ADS_2