
Ini bukan pertama kalinya bagi Yamashita melempar tubuhnya ke pusaran waktu yang begitu kuat. Tapi, ia belum terbiasa. Rotasi tanpa ujung itu selalu membuat sakit kepala.
Bruk!
Di menit berikut, pria itu sudah sampai di waktu dan tempat yang di maksud. Posisinya terjatuh ke bagian keras susunan batu bata pada sudut luar gudang sekolah.
Sedikit tertatih kecil, Yamashita merintih kemudian berdiri, menegakkan punggungnya untuk mengintip ke jendela kaca yang tidak begitu tinggi.
Benar saja, tak perlu pencahayaan terang untuk melihat seluruh kejadian mengerikan di depan matanya.
Yamashita menggeram, buru-buru berpaling saat tubuh kurus Minami ditarik secara frontal hingga seragamnya robek.
Jika menuruti naluri, sudah pasti ia akan mendobrak pintu gudang lalu membuat perhitungan dengan setiap gadis di dalam sana. Namun, logika Yamashita lebih dulu bicara.
Pria itu memilih menunggu hingga kejadian memuakkan itu selesai. Mengacaukan takdir akan menyeretnya ke sebuah masalah serius.
Yamashita berjongok, menekan katana yang tersarung rapi di balik hakama.
Sepuluh menit kemudian, tiba-tiba hening. Suara rintihan hilang, berganti tawa dan umpatan kotor.
Kotomi keluar, menghentak pintu gudang dengan kakinya. Gadis-gadis lain berpencar, meninggalkan gudang dengan arah berbeda.
Dari sisi lain, Yamashita mengendap, membuntuti Kotomi sambil menyembunyikan bayangan tubuhnya di balik pilar.
Ia hanya perlu melenyapkan benda itu. Ya, ponsel yang berisi rekaman Minami.
"Kotomi, apa kau benar-benar akan melakukannya?"tanya seorang temannya.
Lewat pintu toilet yang setengah terbuka, Yamashita bisa melihat bagaimana Kotomi tersenyum masam saat menanggapi ucapan gadis di sampingnya itu.
"Tentu saja, apa maksudmu? Setelah merekamnya dengan susah payah, bagaimana bisa aku menghapusnya?"kekeh Kotomi meletakkan ponselnya di samping wastafel. Ia kemudian masuk, meninggalkan ponselnya untuk beberapa saat.
Dalam jeda singkat itulah, Yamashita mengalihkan perhatian teman Kotomi dengan melempar sebuah botol air mineral dari tempat sampah di luar toilet ke tepi jendela bagian dalam.
"Suara apa itu?"teriak Kotomi dari dalam bilik.
"Sebentar, aku lihat,"sahut temannya berjalan menjauhi wastafel.
Yamashita cepat-cepat bergerak masuk, mengambil ponsel itu. Karena tidak tahu cara menghapus, ia akhirnya memutuskan menghancurkannya dalam sekali injak.
Tak lama setelah Yamashita meninggalkan ponsel itu di atas lantai, Kotomi keluar.
Mulanya ia tidak tahu, hingga ujung kakinya tanpa sengaja menendang benda pipih itu menjauh ke bagian bawah wastafel.
__ADS_1
Tak jelas apa yang terjadi selanjutnya, Yamashita hanya mendengar suara teriakan
amarah yang memenuhi ruang toilet.
Seorang penjahat selalu melampiaskan kekesalannya pada anak buah jika mengalami kekalahan. Mungkin, itulah yang terjadi.
Yamashita menghela nafas lega, berlari menuju tempat dimana lubang waktu berada.
Sesuai perjanjian, kesempatan Yamashi di masa lalu telah habis.
Belum setengah perjalanan, tanpa diduga, tubuhnya tiba-tiba saja tertarik masuk ke sebuah lubang hitam yang terbentuk di tembok koridor.
Pria itu berteriak, berharap saat pusaran itu menemui ujungnya, ia tak lagi jatuh menimpa apapun.
Benar saja, jika refleknya tidak bagus, ia pasti sudah masuk ke kubangan air kotor di sisi kiri tempat di mana ia jatuh.
Nyaris Yamashita membasahi tubuhnya dengan air hujan dan jika itu terjadi Nekomata akan menguasai wujudnya saat itu juga.
"Ah, ini tidak boleh. Kalau masuk ke tempat putri Kaguya dengan wujud seorang pria, pasti dia akan menemui masalah nanti."
Yamashita mengeluh kencang karena lagi-lagi ia harus merasakan menjadi seekor kucing.
Setelah apa yang aku lakukan, semoga reinkarnasi putri Kaguya tidak mengingkari janjinya, batin Yamashita menerjang hujan, membiarkan tubuhnya semakin mengecil lalu berubah menjadi seekor kucing belang.
...
Ia menemukan videonya telah memenuhi dinding media sosial situs dewasa dengan ribuan komentar dan share yang terus meningkat setiap menit.
Air mata gadis itu merebak, melewati pipi lalu turun membasahi lehernya.
Mungkin, ini waktu paling tepat untuk bunuh diri.
Minami bisa belajar dari seorang siswi di prefektur Igarashi yang
meninggalkan sebuah video berisi tuduhan bullying. Bukan hal sulit dan ia tidak peduli videonya akan seviral gadis itu atau tidak. Namun, itu pilihan terakhir jika Minami menginginkan kebebasan.
Gadis itu memang nyaris putus asa, tapi tidak di menit berikutnya.
Videonya yang telah ditonton oleh jutaan mata, secara ajaib tiba-tiba hilang. Ia langsung berdiri. Bingung dengan seluruh kejadian di depan matanya.
Hacker? Tapi siapa yang kurang kegiatan hingga meretas situs dewasa?
Minami belum menemukan jawabannya, tapi langsung tahu saat terdengar gema suara kucing jantan.
__ADS_1
"Meong.. "
Ia menoleh, saat itu pula, bibirnya bergetar dan lututnya menekuk tak percaya.
Itu hackernya.
Kucing itu melompat masuk lewat jendela yang tidak terkunci. Bulunya basah dan ia menggigil kedinginan.
Setelah kematian orang tuanya, baru sekarang Minami merasakan sebuah kepedulian. Ya--meski dari seekor kucing.
"Kemarilah, aku akan mengeringkanmu." Minami beringsut mendekat sambil menggegam handuk kecil ke arah sang Nekomata.
Duduk begitu tenang seperti seorang pangeran yang berada di jiwa yang berbeda, Yamashita diam-diam mengeluh di dalam sana.
Sejak dikutuk, ia benci saat kucing peliharaan dewa kematian itu menguasai tubuhnya. Menjilat dan menggerakkan ekornya, sungguh benar-benar ciri khas kucing yang --membuat Yamashita tidak nyaman.
Ia merasa geli dan basah karena lidahnya sendiri.
"Apa kau kedinginan? Aku punya pengering rambut,"kata Minami mengelus helaian basah pada tubuh Yamashita.
"Meong."
Entah apa yang dikatakan oleh mulut kucingnya. Yamashita hanya ingin mengatakan jika ia setuju.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Bergerak menjangkau sebuah pengiring rambut tua, Minami tersenyum kecil.
Entah apa arti kebahagiaan yang menyesaki dadanya sekarang. Tapi, itu mungkin hanya perasaan lega luar biasa. Minami sampai tidak bisa mengenali perasaannya sendiri.
"Terima kasih, aku tidak sanggup mengungkapkan perasaan senangku saat melihat video itu tiba-tiba lenyap dari media sosial,"bisik Minami membelai ringan bulu kucing Yamashita dengan perasaan senang.
Sudah cukup kering sejak ia menghidupkan pengering rambut ke arah tubuh Yamashita.
Tapi, sepertinya Minami tidak tahu saat tubuh basah kuyup Nekomata menghilang, wujud pria milik Yamashita akan kembali seperti semula. Karena itulah ia cukup kaget dan reaktif saat bulu halus yang semula berwujud kucing, tiba-tiba menjelma menjadi poni panjang milik samurai.
Minami nyaris berteriak karena terkejut.
Seandainya saja tangan milik Yamashita tidak langsung menopang punggungnya, ia pasti sudah jatuh ke belakang, membentur tepian meja.
Kini, jarak keduanya begitu dekat hingga Minami juga Yamashita berpaling canggung satu sama lain.
Bukannya memperbaiki keadaan yang berubah aneh, Yamashita malah mengatakan hal yang menambah kekakuan.
__ADS_1
"Putri Kaguya, ayo kita menikah secepatnya."
Pria itu--Yamashita Kasetsu, orang pertama yang mau membantuku sekaligus melemparku ke masalah baru. Batin Minami Muruka berusaha mengenyahkan perasaan yang mengganggu hatinya.