Mr. Cat

Mr. Cat
Episode 8


__ADS_3


Minami yakin, ada yang tidak beres dalam hidupnya. Ia sudah terlalu menderita dan sekarang kenapa di saat semua akan berubah menjadi lebih baik, ia malah terlempar di jaman perang?


Di samping itu, ada yang lebih mengganggunya. Ternyata ini adalah musim dingin. Salju turun begitu lebat dan udara masih bisa menyusup masuk lewat setiap ventilasi kecil.


Jika ini adalah kualitas bangunan terbaik untuk para bangsawan di jamannya, lalu? Apa kabar dengan rakyat miskin? Pasti ada banyak kematian pada cuaca ekstrim.


Bagai mengulang sejarah di masa lalu yang telah terlupakan, kini Minami telah duduk, menghadap sebuah jendela kecil dimana anyaman bambu telah diturunkan untuk menghalau masuknya butiran salju.


Di sisinya, pria calon suaminya bergumam, menatap beberapa butir salju yang berlolosan, terbawa oleh angin lalu berbaur dengan nafasnya.


"Kau akan bersiap di altar pernikahan satu jam lagi. Putri Kaguya, aku akan menunggumu bersama para tetua klan untuk menyiapkan segalanya,"ucap Yamashita mengulurkan sebuah busana pengantin yang bersulamkan emas di setiap ujung lengan hingga kaki.


Minami mengangguk, mengusap kimono sutra itu takjub. Ia tidak pernah menyentuh kain sehalus itu. Harganya pasti tidak sebanding dengan seluruh pakaiannya di Tokyo.


Pria itu mengedarkan pandangannya, memastikan sesuatu sebelum berkata-kata.


"Dengarkan saja apa yang para ketua katakan. Aku berjanji selama menikah denganmu, tidak akan ada paksaan di antara kita. Kau hanya perlu mengangguk. Dengan begitu seluruh perjanjian saat pernikahan, bisa dikatakan sah. Mengerti kan?"bisiknya menarik lengan Minami ke sudut jendela.


Gadis itu mengangguk gugup, menatap garis wajah Yamashita yang menatap lurus padanya.


Minami merasa bodoh karena mengabaikan fakta bahwa pria di depannya itu adalah lelaki dewasa. Rahangnya terbentuk begitu kokoh dengan jambang tipis di sekitar dagu. Mungkin, umurnya telah melewati angka 20 karena tingginya terlalu proporsional untuk ukuran remaja.


Hanya saja, Yamashita terlihat tetap kotor meski ini adalah hari pernikahan mereka.


"Mandilah, sebentar lagi para pelayan akan datang untuk membantumu memakai ikatan obi dan sanggul pengantin. Jangan lupakan ucapanku. Mengangguk saja saat semua tetua menyuruhmu dan katakan 'ya' untuk setiap pertanyaan. Semua akan berakhir buruk saat kau tidak mematuhi ucapanku."


Yamashita akan melangkah keluar saat suara Minami menghentikan langkahnya di mulut pintu.


"Apa kau juga akan mandi, Pangeran? Maksudku, kau terlihat kotor bahkan sejak kita pertama kali bertemu."


Minami tidak percaya dengan ucapannya sendiri, tapi sudah terlanjur dan Yamashita telah mendengarnya.

__ADS_1


Kini pria berambut panjang itu berbalik, menyusupkan tangannya ke sela Hakama.


Ada sesuatu yang aneh saat itu, entah bagaimana tatapan kosong dari Yamashita, membuat hati Minami berdesir kecil.


Pangeran itu menghela nafasnya,"Tenang saja, Putri. Aku tidak menyentuh air karena punya alasan. Begitu ikrar pernikahan diucapkan, aku akan langsung mandi, membersihkan diriku dan menemuimu di atas ranjang pengantin."


Ranjang pengantin? Minami merasa bodoh begitu mendengar kalimat itu. Bahkan, ia melupakan kenyataan jika semua orang yang punya ikatan, pasti akan melakukannya.


Namun, tidak dengan mereka. Yamashita tahu benar, mana gadis yang menginginkan hal seperti itu dan yang gugup karena lugu. Minami tidak keduanya, tapi ia cukup yakin jika memang jiwa putri Kaguya ada dalam diri Minami, gadis itu akan menolaknya mentah-mentah.


"Seperti kataku, tidak akan ada pemaksaan atau hal tidak menyenangkan selama pernikahan kita. Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu. Kita menikah bukan karena saling mencintai, saat kutukan ini berakhir, kita akan berpisah, menempuh hidup masing-masing. Tapi meski begitu aku sudah berjanji akan melindungimu--seumur hidup."


Minami tak mampu berkata apapun lagi. Mata coklatnya berkedip, menatap kepergian Yamashita.


Pintu geser yang dipenuhi angin bersalju, menyapu rambut panjang pria itu ke belakang. Tak lama kemudian, bayangannya menghilang saat pintu kembali ditutup.


Minami terdiam untuk beberapa menit, menaruh gaun pengantin yang didekapnya sejak tadi ke atas meja.


Tak lama berselang setelah Minami keluar dari kolam air panas, beberapa pelayan berkimono yang bermaksud membantunya berhias, mulai berdatangan. Seperti halnya para penata rias di abad modern, satu diantara mereka membawa sekantung penuh alat make up.


Minami duduk, menatap pantulan wajahnya dari sebuah cermin buram yang di letakkan di atas tatami. Entah cermin itu rusak atau memang Minami lupa akan wajahnya sendiri.


Wanita dalam cermin, terlihat sangat dewasa dan cantik. Minami terlalu bingung hingga menggerakkan tangannya untuk memastikan itu benar bayangan dirinya atau bukan.


"Putri, saya minta maaf, bisakah Anda berhenti bergerak? Sebentar lagi pekerjaan saya akan selesai." Teguran luar biasa halus itu justru membuat Minami salah tingkah. Buru-buru ia memperbaiki sikapnya, menekuk seluruh jemarinya dalam genggaman.


Dua puluh menit kemudian, Minami sudah siap dengan sebuah sanggul lumayan tinggi dengan hiasan emas di setiap sisi.


"Putri Kaguya, hamba rasa Pangeran Yamashita benar-benar bisa membangkitkan Anda dari makam suci. Alat lukisku selalu berhasil memunculkan aura setiap wanita sebelum pernikahan. Sebuah kehormatan bagiku saat kecantikan dewi bulan terpancar karena bakatku."Perias itu membungkuk takjub lalu diikuti yang lain.


Minami tak menyahut, ia juga tak kalah terkejut saat melihat betapa cantik dirinya sekarang.


Ia lalu berdiri untuk meraba hidung dan wajahnya. Benar, itu memang dia. Bukan orang lain.

__ADS_1


"Putri, panggilan untuk Anda dari para tetua. Harap segera menuju altar pernikahan."


Seseorang berseru dari balik pintu.


"Sampaikan kalau putri akan segera tiba. Kau boleh pergi." Penata rias menimpali, tersenyum lalu kembali menundukkan kepalanya pada Minami.


Rasanya terlalu cepat. Baru saja ia bertemu seekor kucing siluman dan dalam hitungan hari, mereka sudah memutuskan menikah. Ikatan yang didasari oleh keuntungan pribadi pasti akan berakhir dengan sesuatu yang tidak seimbang. Tapi sudah terlambat untuk mundur. Minami harus membayar untuk perlindungan selama hidupnya dengan hidupnya juga.


Melangkah hati-hati, Minami keluar sambil menyingsingkan ujung gaunnya. Kimono itu terasa berat dan melelahkan di bagian bahu, membuat pergerakannya sangat terbatas.


Di jalan setapak yang telah dibersihkan dari tumpukan salju itu, Minami merasakan kalau


suasana masa lalu, bagai sebuah dunia lain. Asing dan suram.


Dengan matanya, ia melihat betapa kuno dan artistiknya seluruh bagian bangunan kecil di pinggiran taman. Ornamen dan pahatan cantik itu, melempar ingatan Minami pada pelajaran sejarah tentang Musashi.


Salju masih turun dan Minami tetap berusaha untuk menjaga sikapnya. Ia terus berjalan dengan dandanan mencolok tanpa menghiraukan tatapan takjub dari semua orang.


Namun, langkah reinkarnasi putri Kaguya itu terhenti saat ia memasuki altar utama. Ujung kimononya terlepas dari tangannya, begitu ia melihat sosok Yamashita dalam balutan busana pengantin pria tradisional. Alih-alih terpesona, justru hal yang tidak terduga terjadi.


Ada yang salah dengan dirinya. Minami merasa aneh saat kepalanya mendadak berdenyut sakit, seolah ingatan lain memaksa masuk untuk menguasai pikiran.


Dalam bayangannya, sosok itu--Pangeran Yamashita, terlihat berdiri di altar yang sama namun di jaman yang jauh berbeda. Lalu tiba-tiba saja, kenangan lain kembali merusak suasana.


Minami melihat seekor kucing,


duduk di sebuah tepian danau dengan iringan suara shamisen. Entah apa itu karena tak lama kemudian ia malah dihadapkan kembali dengan sosok Yamashita yang berlari kencang menuju tepian danau dimana kucing itu duduk.


Tak butuh waktu lama, Minami menjerit. Yamashita ternyata berniat mati. Ia menyaksikan halusinasi di otaknya itu menggambarkan bagaimana pria yang akan menikahinya hari ini melempar tubuhnya ke dalam danau yang --secara ajaib membeku. Tak pelak saat Yamashita terjun, sebuah es setajam mata pisau langsung menyambut untuk menusuknya.


Jeritan pilu, sedih dan sakit keluar menyesaki dada Minami Muruka. Ia bingung dengan penglihatannya sendiri. Kenapa ada kucing yang menatap dendam padanya di saat terakhir ia melihat mayat Yamashita.


"Putri, Anda baik-baik saja?" suara penata rias, tidak membuat rasa sadar Minami kembali begitu saja. Ia berhenti untuk menata lututnya yang gemetar. Minami terlalu syok hingga bibirnya tak berhenti gemetar dan air matanya terus mengalir.

__ADS_1


"Putri, Anda sudah ditunggu. Masuklah sebelum waktu baik untuk pernikahan habis."


__ADS_2