
Jangankan bergerak, kaki Minami seakan terpaku pada tempatnya.
Jiwanya telah kosong sekarang dan tidak mampu berbuat sesuai apa yang diinginkan.
Namun, syukurlah itu hanya berlangsung sebentar. Segera setelah tetua memanggilnya untuk ketiga kali, Minami akhirnya maju dengan wajah tegang.
"Putri, apa kau sehat?" tanya Yamashita menyambut Minami di altar pernikahan mereka.
Tatapan pria itu meneduh begitu melihat betapa cantik wajah calon istrinya.
Minami berdehem, menetralisir rasa gugup sekaligus bingung yang belum juga hilang meski halusinasinya sudah pergi.
"Pangeran, apa di sini ada keluargamu? Aku belum melihat siapapun," kata Minami mengalihkan perhatian dari tatapan Yamashita.
Di tempat duduk para saksi, hanya ada beberapa pejabat istana dan sejumlah kecil bangsawan. Mereka menggunakan kain sutra emas dengan ujung yang disulam sedemikian rupa. Tidak ada kesan apapun yang Minami dapat wajah mereka, hanya tatapan datar dan kosong.
"Kau seharusnya tidak menanyakan hal itu. Kemarilah, duduk di sampingku." Suara Yamashita mendadak dingin dan malas.
Ia memutar tubuhnya, menghadap seorang pria berjubah hitam yang duduk di depan sebuah meja kayu. Pria itu melipat sesuatu dalam genggamannya.
Entah apa tugasnya dalam pernikahan ini. Minami hanya bingung karena pria itu sekilas mirip Yoshio. Namun, karena tampilannya yang lebih tua dan lusuh, pikirannya itu langsung terbuang jauh-jauh.
Gadis itu kemudian menata duduknya tepat di sebelah Yamashita. Berusaha tetap tenang walaupun pikirannya terus dipenuhi oleh banyak bayangan hitam.
Sudah terlambat untuk menolak. Kini apapun yang ia lakukan , tidak ada yang bisa mengubah takdirnya hari ini.
Pernikahan.
"Pangeran, Anda sudah siap?" tanya pria itu membuka halaman pertama gulungan warna coklat tua yang sedari tadi ia genggam.
Minami menghela nafasnya, melirik Yamashita yang kemudian mengangguk tenang.
Wajah pangeran itu, terlihat lebih bersih dari sebelumnya.
Minami bahkan bisa melihat dengan jelas sekarang bagaimana alis pria calon suaminya itu, sungguh lebat. dahinya lebar dan hidungnya sedikit lebih panjang dari orang kebanyakan. Mungkin, ia sempat mencuci wajahnya tadi. Atau terjatuh di kolam ikan? Entahlah. Yang jelas wajahnya terlihat jauh lebih baik.
"Putri Kaguya, bisakah Anda mengulurkan tangan? Biarkan saya melihat garis di telapak Anda," kata pria itu memasang tangannya dengan sopan di atas meja.
Yamashita memberi isyarat agar Minami menurut.
__ADS_1
"25 september, shio kucing. Apa tebakan saya salah?"
Minami menggeleng, menarik tangannya buru-buru. Jemarinya langsung terasa dingin saat ujung telunjuk pria itu menyusuri garis tangannya tadi.
"Baiklah, sekarang Anda cukup menjawab semua pertanyaan saya dengan jawaban ya, untuk setuju dan tidak untuk menolak," kata pria itu menatap serius pada mata Minami.
Gadis itu cepat-cepat mengiyakan.
"Dulu Putri Kaguya pernah melakukan ritual ini, dia bersikap tidak sopan di altar suci. Saya berharap, sebagai reinkarnasinya, kecantikan yang tidak diperlihatkan pada wajah, terpancar di hati."
Mungkin maksudnya, wajah Minami tidak secantik reinkarnasinya, tapi hatinya diharapkan lebih baik. Namun, Minami lebih tertarik dengan kalimat lain.
Dulu? Apa maksud dari ucapannya? batin gadis itu mulai berpikir ke arah lain. Di tatapnya gulungan warna coklat yang terbuat dari pelepah pohon itu penasaran. Terlalu jauh untuk dibaca dari sudut matanya.
Itu huruf kanji kuno. Minami yakin meski melihatnya dengan jelas, ia tidak akan bisa membacanya.
"Putri Kaguya, apakah Anda bersedia menjadi istri dari putra Kaisar Kasetsu, Yamashita Kasetsu, tanpa paksaan? Tekanan dan tujuan lain?"
Pertanyaan pertama itu, jelas jawabannya tidak. Tapi, sesuai perintah Yamashita, ia hanya akan mengatakan 'ya'. Tidak peduli dengan pertanyaannya.
"Ya," jawab Minami ragu.
"Sebagai istri dari pangeran Yamashita, pewaris tahta kerajaan, apa Anda bersedia melahirkan putra mahkota untuk generasi berikutnya?"
Apa! melahirkan katanya? Minami mengerutkan alisnya tidak percaya. Ia melirik ke arah Yamashita, Pangeran itu melebarkan kelopak matanya, seolah mengingatkan perjanjian mereka.
Benar, bisa kacau kalau Minami sampai menggeleng di acara sakral.
"Ya," ucap Minami kesal. Sungguh di luar dugaan jika ini terjadi di abad modern, pasal kekerasan seksual pada anak di bawah umur bisa digunakan untuk menjerat Yamashita ke penjara.
Sayang sekali jaman dulu, pasca menstruasi pertama, seorang gadis sudah dianggap layak untuk menikah.
"Apakah Anda, putri Kaguya akan melayani, menuruti dan memenuhi apapun permintaan pangeran kami tanpa terkecuali?"
"Ya," kata Minami mulai tidak peduli.
Tak hanya sampai di situ. Masih ada puluhan pertanyaan yang isinya hampir sama, menuntut mempelai wanita mengabdikan seluruh hidupnya untuk mempelai pria.
Pantas saja, mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa Putri Kaguya 'dulu' membuat keributan di altar suci.
"Mendekatlah pada pangeran, Putri. Kalian akan menjalani sebuah ritual untuk dewa kebahagiaan sebelum masuk ke kamar pengantin."
__ADS_1
Ia merentangkan tangannya pada bahu Minami dan Yamashita.
Kamar pengantin? Itu terdengar luar biasa horor di telinga Minami.
Bergerak enggan menuju Yamashita, gadis itu akhirnya berjalan beriringan menuju kuil kecil di sudut taman. Lokasinya yang berada di luar altar pernikahan, membuat semua saksi dan seluruh anggota kerajaan di aula utama langsung berdiri, membungkukkan tubuhnya pada pangeran mereka.
Lalu? Dimana raja negeri ini? Atau ratu? Kemana pion penting yang seharusnya mengisi singgasana utama?
Pikiran Minami bercampur bersama hujan yang tiba-tiba turun dengan lebat memenuhi jalan tempat mereka berpijak.
Di sebuah area kecil, tempat menyalakan dupa untuk dewa kebahagiaan, Yamashita lebih dulu mengambil sebatang hio.
Rambut pria itu telah basah, menetesi leher hingga punggungnya. Sebenarnya, para pelayan sempat memayungi mereka, tapi angin membuat semuanya berantakan.
Minami diam-diam menatap wajah tegas Yamashita, ia sungguh terlihat berkilau aneh meski menggigil kecil. Mungkin, futon tiga lapis di kamar apartemennya di kota Tokyo mampu menghangatkan tubuh pria itu.
Mungkin.
"Sepertinya, sebentar lagi Nekomata akan menguasai tubuhku. Putri, maukah kau membawaku ke kamar pengantin? Sejak dikutuk, aku benci hujan."
Yamashita menoleh pada Minami yang telah selesai berdoa. Alis tebal pria itu menaut gelisah, mengungkapkan bagaimana perasaannya juga tengah kacau sekarang.
Minami yakin, malam ini akan terasa berat untuk mereka berdua.
Upacara pernikahan untuk hari pertama memang baru saja selesai. Tapi, ada hal lain yang akan mereka lakukan besok pagi dan besoknya lagi.
Melelahkan dan merepotkan. Entah untuk apa semua hal itu dilakukan. Minami yakin, akan banyak biaya yang dikeluarkan kerajaan hanya untuk pernikahan seorang putra mahkota.
Minami baru saja akan mengiyakan permintaan Yamashita, saat sebuah petir menggelegar, menghentikan butiran salju yang terselip bersama air dari atas langit.
Bersamaan dengan itu, para pelayan pergi, menyiapkan tenda khusus untuk membawa mereka menuju kamar pengantin.
Ekor Nekomata adalah yang pertama kali keluar, menyingkap bagian belakang hakama milik Yamashita.
Ini adalah pertama kalinya untuk Minami, membiarkan seekor kucing melompat ke pangkuannya.
"Pangeran, aku harap saat kau berubah menjadi sosok Yamashita Kasetsu, aku sudah menemukan pakaian untukmu," bisik Minami menatap helaian kosong hakama itu.
Dielusnya kepala Nekomata yang terus menggosok punggung tangannya itu dengan gumaman masam.
Aku juga berharap setidaknya menjelmalah menjadi seekor kucing hingga besok pagi. Itu akan terasa mudah bagiku daripada harus tidur bersama dengan wujud asli Yamashi Kasetsu. Batin Minami berjalan menuju kereta panggul yang telah disiapkan.
__ADS_1