Mr. Cat

Mr. Cat
episode 14


__ADS_3


Minami terlalu takut untuk mendongak, suaranya tertelan oleh kegaduhan dari mulut semua orang.


Kupingnya memanas dan ia bisa merasakan genggaman Yoshio makin menguat saat mereka melewati beberapa murid yang berdiri mematung, menatap terkejut pada interaksi mereka.


Minami ingat, di hari Yoshio mengenalinya sebagai teman masa kecil. Senyum pria itu, mengundang banyak keinginan yang telah tersembunyi sejak lama.


Cinta. Minami menginginkan kepedulian dari seseorang--lawan jenis yang memberinya kehangatan juga perlindungan.


Karisma yang dimiliki Yoshio menenggelamkan akal sehatnya saat itu. Mata hitam arang dengan senyum yang selalu terkulum hingga sudut bibir.


Pria itu, layaknya racun bagi lawan jenis.


Jika aku ditakdirkan untuk menikah, Yoshio adalah pilihan pertama. Batin Minami saat itu.


Tapi kini, ia menyesal pernah menganggapnya sebagai salah satu keinginan paling penting.


Tak jauh dari sana, beberapa meter dari atas pokok dahan Chery, Yamashita duduk, mengawasi keajaiban pertama yang telah ia buat hari ini.


Tidak sulit menarik keluar perasaan Yoshio untuk Minami. Hal itu memang sudah ada dan terpendam sejak lama.


Sering, manusia menganggap perasaannya sendiri tidak penting, menimbunnya hingga menjadi secuil penyesalan di kemudian hari.


Yoshio adalah salah satunya. Ia hanya butuh keberanian untuk membela perempuan yang ada dalam hatinya.


"Kau melanggarnya, memberi satu dari tiga kesempatan tanpa pikir panjang, merugikan putri Kaguya,"celetuk suara angin yang berkumpul di samping Yamashita.


Dahan yang berisi pucuk plum sedikit bergerak saat bentuk lain mulai mengambil wujud dari udara itu. Ia menjelma menjadi sosok dewa kematian lengkap dengan seekor Nekomata berbulu hitam.


Binatang itu mengeong, seakan menyapa Nekomata lain dalam diri Yamashita.


Hanya butuh sekian detik bagi sang Dewa untuk merubah wujud kucing Yamashita menjadi sosok manusia.

__ADS_1


Pangeran Kasetsu itu menggerutu, menatap kaki panjangnya yang mengambangi udara. Walaupun sosoknya tidak terlihat oleh manusia biasa, ia benci bertengger seperti binatang dalam wujud aslinya.


"Kau tidak berhak mengaturku, Dewa! Kutukanku bahkan belum kau cabut meski aku sudah mematuhi perintahmu. Nekomata ini--seharusnya kau tarik dari tubuhku. Aku bukan binatang peliharaan, jadi lepaskan aku."


Dewa kematian tersenyum licik, menarik ujung tangannya untuk merengkuh Nekomata yang ada dalam pelukannya. Binatang hitam itu kemudian menggeram, mengeratkan tiap ujung kukunya, seakan menyatakan kebencian.


Bukannya takut akan aura gelap itu, Yamashita malah berdecak kesal. Ini bukan kali pertama ia diancam. Awalnya ia merasa terintimidasi, tapi kemudian terbiasa.


Wajah pucat kosong yang dihiasi manik mata keabuan milik sang Dewa, tidak lagi mengerikan baginya.


Sudah puluhan tahun berlalu sejak ia ditetapkan menjadi pengganti sang Kaisar di usia 8 tahun. Hari itu adalah awal dimana Nekomata mulai mengambil tempat dalam tubuhnya.


Sampai sekarang, ia tidak tahu kenapa hal mengerikan itu bisa terjadi padanya.


Hubungan terlarang, aturan yang dilanggar dan penghinaan hanyalah kemungkinan yang terlintas di otaknya kenapa Minami Muruka juga diharuskan ikut membayar hutang masa lampau dengan menumbalkan dirinya untuk orang lain.


Nyatanya, keduanya mempunyai kesalahan besar yang mengakibatkan ribuan nyawa di kehidupan sebelumnya, saling membantai hanya untuk urusan pribadi.


Di masa itu, para dewa turun lalu berkumpul, memutuskan hukuman apa yang pantas untuk mereka berdua.


Hanya satu untuk menebusnya. Kehidupan yang berulang penuh penderitaan. Tapi tidak hanya itu. Karena di akhir hukuman, putri dari Dewa bulan, Kaguya Arashi, tidak sedikitpun merasa bersalah sudah melakukan hubungan gelap, ia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan kecuali ingatan masa lalunya pulih kemudian menyesalinya.


Namun, itu bukanlah pekerjaan mudah. Di setiap kehidupan, seperti air dan api keduanya sudah ditakdirkan untuk saling membenci. Kutukan Nekomata sekalipun, rasanya mustahil membalikkan perasaan.


"Tidak seharusnya kau berkata seperti itu, Pangeran. Kalau kau tidak bisa memahami Kaguya, kutukanmu tidak akan pernah berakhir. Waktu telah kuhentikan untukmu. Jadi, jangan membuat kesabaranku menipis, membiarkan kerajaanmu hancur--sementara kau? Akan terus terkurung di tubuh seekor siluman hingga dunia ini berakhir."


Wajah pucat milik dewa kematian mengeras, mengingatkan setiap konsekuensi jika Yamashita melanggar perjanjian utama diantara mereka.


Pria itu akhirnya menunduk, menyapu sisa bulu Nekomata yang tertinggal di atas pangkuannya.


Ia merasa tidak berdaya. Jiwa dari seluruh anggota penting kerajaan ada di tangannya sekarang. Sejarah akan berubah jika ia tidak mampu menjalani masa kutukannya dengan baik.


Segera setelah Dewa kematian itu pergi, Yamashita meloncat turun, melesat lalu merubah dirinya di detik pertama kakinya menginjak tanah.

__ADS_1


Minami mungkin sedang berada di suatu tempat, disiksa atau semacamnya.


Seharusnya, reinkarnasi putri Kaguya tidak selemah ini. Jika di masa lalu, Yamashita menganggap putri cantik itu sebagai bentuk astral dari dewi kecantikan, sekarang entah bagaimana fisiknya terlihat sangat biasa. Karena itulah ia sangat terkejut begitu hasratnya pun sempat muncul di saat yang tidak terduga.


Kini, Nekomata itu melompat tenang, mencari sosok Minami yang menghilang dari jangkauan pandangannya tadi.


Tidak sulit karena dari jarak satu kilometer, Yamashita masih bisa merasakan aroma tubuh istrinya itu. Ya, seharusnya gadis itu tidak menolaknya disaat terakhir. Kini ia harus melayani seseorang yang pernah meninggalkannya dalam keadaan memalukan.


Tak lama, di ujung koridor yang berdekatan dengan toilet wanita, Yamashita akhirnya menemukan Minami.


Ia terduduk dengan sedikit luka memar di ujung bibirnya. Rambut berantakan dan suara rintihan yang bergetar.


Yamashita terpaku, terkejut hingga tanpa sadar menegakkan ekornya lalu menggeram kecil. Ia tidak menemukan Yoshio dimanapun. Seharusnya, sekarang pria itu tengah melindungi Minami.


Apa keajaiban itu sia-sia? Ataukah Yamashita salah menebak keinginan Minami? Apapun itu, kekuatan sihir milik Nekomata telah terbuang untuk hal yang percuma.


"Kau ada di sana kan, Pangeran?"Minami menyuara kecil, memantulkan isakankannya di tembok sempit koridor itu.


Gadis itu tiba-tiba berdiri, menatapnya tanpa kedipan.


Yamashita mengeong sinis. Memasang wajah kesal sekaligus marah pada saat bersamaan.


Ia benci pada air mata Minami. Melihat istrinya selalu kalah menghadapi situasi, membuatnya kesal dan ingin melenyapkan semua orang di sekelilingnya sekarang.


"Kau bilang akan melakukannya--semua hal yang aku pinta. Seorang pangeran tidak akan ingkar, itulah yang kudengar,"ucap Minami menatap Yamashita yang meloncat turun dari arah jendela.


Mata Nekomata dalam wujud binatangnya berkilat kecil, menampakkan gigi-gigi yang runcing.


Sebuah suara mengeong kembali terdengar seolah menanggapi perkataan Minami.


"Bunuh aku. Ayo akhiri saja segalanya hari ini. Kau pasti marah seperti aku. Kau juga pasti kesal seperti halnya perasaanku padamu. Pangeran, entah bagaimana aku tiba-tiba bisa membencimu. Kau juga membenciku kan? Karena itu, biarkan dewa kematian menjemputku sekarang."


Yamashita bergumam tak percaya. Mereka bahkan tidak akan pernah bisa mati dengan cara apapun.

__ADS_1


Kecuali jika urusan mereka di masa lampau telah dianggap selesai


__ADS_2