
Jangankan berdiri, Minami terlalu lemas untuk mengerakkan anggota tubuhnya. Gadis itu hanya bisa membeliakkan mata saat tiba-tiba dibangunkan oleh pukulan kasar yang di daratkan seseorang pada pipinya.
Ia melihat Kotomi telah berdiri--menggenggam sebuah pisau kecil dan runcing.
Dalam sekali lihat, aura kasar gadis penindas itu berubah panas, dipenuhi oleh kemarahan sekaligus kekosongan.
Tidak seperti sebelumnya, Minami terlihat lebih tenang. Seakan selusin keberanian yang telah lama terpendam, kini bermunculan.
Entah kemana dokter jaga itu pergi. Ruang kesehatan bisa menjadi tempat perkelahian berbahaya--melibatkan darah jika tidak ada seorangpun yang melerai mereka.
"Koto-san. Apa kau sudah hilang akal? Letakkan pisau itu." Minami mencoba membujuk, tapi terlihat sia-sia saja. Kotomi tak memberi reaksi apapun terhadap ucapannya.
"Aku sudah memperingatimu. Jangan sentuh Yoshio! Dia hanya milikku!"teriaknya sembari mengacungkan pisau dalam genggaman.
Minami mengendikkan bahunya tak percaya. Ia segera bangun, menantang pada mata Kotomi.
"Selama ini aku sudah membiarkan begitu banyak kejahatan yang kau lakukan padaku. Tapi kali ini tidak. Yoshio bukan benda mati. Ia punya hak untuk menentukan pilihannya sendiri!"Minami tak menyangka, ia mampu mengimbangi intonasi tinggi Kotomi.
Berteriak bukan gaya seorang Minami Muruka. Jadi? Darimana asal suara dari tenggorokannya?
Minami mengusapi dadanya berulang kali, memastikan bahwa tidak sedang bermimpi atau kerasukan arwah penasaran.
"Kau berani berteriak padaku?" Setengah menyeringai, Kotomi perlahan mendekat, mengarahkan ujung pisaunya pada wajah Minami.
Hanya butuh satu senti untuk membuat pisau itu tertanam pada daging di pipinya.
Minami berusaha tetap tenang, menghirup aroma stainless yang menusuki hidungnya.
Mendapati kesan berani dari Minami, nafas Kotomi kian memburu. Tidak pernah sekalipun ia menemui seseorang yang berani melawannya. Minami adalah pecundang lemah--barang olok-olok sekaligus penghiburnya di kala penat. Melihat penderitaan orang lain adalah oksigen baginya.
Jika si badut ini telah menjadi pemberontak, maka harga diri sebagai anak pemilik sekolah sudah pasti tengah dipertaruhkan. Kotomi berseru pada dirinya sendiri.
Dengan gemetar tapi tanpa keraguan, ia menerjang. Dihentakkannya seluruh kekuatan pada tangan.
Di kepala Kotomi sudah terbayang jelas darah Minami yang akan mengalir segar ke sela-sela jemarinya.
Namun, pisau itu tanpa di duga terhempas jatuh, membuat denting kencang di atas lantai ruang kesehatan.
__ADS_1
Seseorang menepisnya, memutar siku milik Kotomi ke samping. Gadis berwajah sangar itu berteriak, berbalik untuk melihat siapa biang kerok yang akan ia musnahkan setelah Minami.
"Yoshio-kun?" Seperti tersengat aliran listrik, suara Kotomi mendadak kecil, memucat pasi.
Ranjang dimana Minami berbaring ikut bersuara, memperdengarkan helaan napas lega dari mulutnya.
Ini adalah kali pertama ia melihat Kotomi selemah itu. Tubuh kecilnya beringsut mundur, terkepal jatuh saat Yoshio melepas cengkeraman pada sikunya.
"Maafkan aku Koto-san. Tapi kau keterlaluan. Bukan hanya Minami yang akan terkena masalah, kau bisa di penjara karena percobaan pembunuhan!"Yoshio berseru, memijit pelipisnya seakan seluruh isi kepalanya bisa meloncat keluar.
"Seharusnya kau sadar kenapa aku bisa berbuat sejauh ini. Kita belum selesai dan tidak akan pernah selesai." Teriakan Kotomi memecahkan keheningan. Ditendangnya pisau di bawah kakinya ke sudut ruangan. Lalu membawa kesal, Kotomi pergi, membuang tatapannya pada mata Minami.
Brak!
Suara pintu di banting membuat gadis itu lagi-lagi menghela napas. Ia melirik Yoshio yang kemudian duduk di tepian ranjang.
"Yoshio, pergilah. Kau seharusnya menyelesaikan hubunganmu dengan Kotomi. Dengan menyisakan masalah, aku akan terus dijadikan sasaran."Minami menatap lurus pada mata Yoshio. Barangkali ada semacam rahasia yang di sembunyikannya lewat gerakan tubuh. Tapi, Minami tidak menemukan apapun. Justru ketenangan tergambar begitu jelas--memaksa keraguan dalam hatinya lenyap.
"Aku sudah berjanji padamu. Kau ingat? Tidak akan ada yang berubah. Masa laluku dengan Kotomi hanyalah jejak yang belum terhapus. Mina-san, mulai sekarang aku akan melindungimu."
Pria itu--yang tersenyum selembut cahaya bulan, meraih jari-jari Minami. Sorot matanya meneduh seakan membujuk agar gadis di depannya itu luluh.
Bibir Minami masih terkatup kuat, lidahnya kemudian tergigit oleh gigi geraham. Sakit, tapi tak ada kerutan di wajah putihnya.
Di luar, kelopak sakura akan segera berjatuhan, luruh bersama ratusan daun Maple yang sedang berencana untuk menutupi setiap jalan.
Ia menyukai Yoshio, tapi juga sedih dalam waktu bersamaan.
"Mina-san. Apa aku bisa berkunjung ke apartemenmu? Besok atau besoknya lagi."
Minami berkedip. Terkejut sekaligus bingung.
"Mungkin lusa. Hari liburku."
Jika percakapan mereka adalah suara dari tape recorder, maka tombol replay sedang di tekan saat ini. Hanya saja saat kedua reinkarnasi mereka membuat janji di zaman zeihan, komunikasi ilegal selalu datang di bawah perlengkapan makan. Kaguya Arashi akan membalasnya selepas sarapan. Dengan tinta atau sisa saus kedelai hitam.
Ajudan Hiroshi adalah pria rendah hati di masanya yang digantung untuk sebuah pelanggaran paling ringan pada kekaisaran Jepang.
Sekalipun ini adalah kesempatan terakhir, ada kemungkinan kisah cinta terlarang mereka akan kembali terulang.
__ADS_1
...
Dua hari kemudian, toilet perempuan.
Byuurr!!
Dari atas sela toilet yang tengah Minami pakai, Seember penuh air kotor melayang seperti hujan.
Dalam sekejap, tubuhnya basah. Entah air apa yang dilemparkan padanya kali ini. Baunya lebih menyengat daripada yang terakhir.
Terdengar suara cekikikan dari luar kemudian langkah kaki yang berderap pergi.
Menggerutu kecil, Minami mendorong pintu itu. Ternyata dikunci. Bagaimana ini? Memanjat ke atas bukan persoalan mudah.
Lima menit bergumul dengan bau, tak lama terdengar langkah kaki seseorang masuk.
"Maaf, siapapun itu, bisakah kau buka pintu ini?"tanya Minami penuh harap. Di gedornya kenop pintu, berharap ia punya tenaga yang cukup untuk mendobrak. Sayang, pundaknya mendadak sakit karena memaksakan hal diluar kemampuan.
"Meong..,"
Darah Minami seketika berdesir tajam. Sudah lama ia tidak mendengar suara binatang berekor itu.
Jika setiap malam, mimpi buruk selalu mengganggunya, kini bagai potongan puzzle yang membingungkan, setiap binatang itu bersuara, ingatan baru akan bermunculan, menusuki kepalanya.
Minami ingin menjerit, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Klek...
Begitu pintu itu dibuka, rasa sesak yang semula mengikat paru-parunya kemudian berlepasan bebas. Minami mendongak dengan jantungnya yang berlompatan cepat.
"Tak bisakah kau berhenti bertingkah bodoh? Seharusnya kau lebih pintar dalam memilih selingkuhan! Priamu itu sama sekali tidak berguna!"
Yamashita Kasetsu menendang daun pintu di depannya. Keras seperti sebuah batu yang menghantam.
Alih-alih terkejut, Minami memandang penampilan Yamashita penasaran.
Setelan jas dengan setumpuk buku? Mau apa pangeran kasar itu berpenampilan rapi? Jika tidak hoddie, kadang Minami hanya mendapatinya dengan kaos dan jeans kusut.
Menyadari tatapan istrinya, Yamashita terkekeh, menarik bibir tipisnya memenuhi sudut.
__ADS_1
"Perkenalkan, Sensei Yamashita. Aku resmi mengajar di kelasmu hari ini," ucapnya terkekeh kecil,"ya...Kaguya Arashi, aku akan melakukan apapun untuk mengubah takdir kita. Kau adalah milikku. Milikku."
Sinting. Permainan apa lagi ini?