Mr. Cat

Mr. Cat
episode 18


__ADS_3


Sejak kejadian itu, Minami memutuskan untuk pindah ke bangunan yang berdekatan dengan apartemen lamanya.


Di sana, ia memilih menempati sebuah kamar berukuran sedang dengan ventilasi yang tidak terlalu besar.


Ia bertingkah seperti seorang buronan. Setiap selesai memasak, jendela dan beberapa celah sempit akan secepatnya di tutup, seakan cahaya mataharipun dilarang mengintip kegiatan pribadinya.


Jika terpaksa pulang malam, Minami dengan canggung menghubungi Yoshio untuk sekedar meminta diantar hingga ke depan pagar apartemen.


Meski itu hanya sebuah kesia-siaan karena Yamashita bukanlah manusia, sama sekali ia tidak peduli. Minami sering mengusir kucing di sekelilingnya hanya untuk menenangkan hatinya.


"Apa ada yang mengganggumu?" tanya Yoshio saat Minami untuk sekian kalinya menghubunginya malam itu.


Cuaca yang cukup lembab dan berangin menandakan musim panas akan segera berakhir.


Pria itu, reinkarnasi Hiroshi--menatap kekasih di kehidupan sebelumnya itu dengan tatapan menyelidik.


Minami menggeleng bingung, ia tidak mungkin menceritakan tentang kisah khas anime pada Yoshio. Bisa-bisa ia dianggap tidak waras. Lagipula di lingkungan tempatnya bekerja, Yoshio sudah dianggap oleh semua orang sebagai pacarnya.


"Baiklah, ayo aku akan mengantarmu. Setidaknya aku tidak butuh alasan untuk menemuimu." Senyum Yoshio yang tiba-tiba terbit, menandakan bahwa ia tidak ambil pusing. Berbeda dengan Minami yang salah tingkah, Yoshio dengan tenang, mengambil lengan gadis itu agar cepat mengikutinya menuju halte terdekat.


Motornya sedang rusak karena masalah rem yang sering tidak berfungsi dengan baik. Tapi karena merasa Minami tidak dalam kondisi yang baik secara emosi, Yoshio memutuskan tetap menjemput Minami meski hanya naik bus.


"Yoshio, terima kasih." Minami sedikit membungkukkan tubuhnya saat mereka sudah duduk di salah satu bangku bus yang tengah melaju.


"Tidak masalah. Aku hanya berharap kau tidak dalam masalah besar,"sahut Yoshio mengulurkan sebungkus permen mint dari saku jaketnya.


Minami terkejut. Itu

__ADS_1


adalah permen kesukaannya saat masih kecil dulu. Ia tidak menyangka Yoshio masih menyimpan ingatan yang bahkan ia sendiri sudah lama melupakannya.


"Kenapa? Kau tidak suka?"Yoshio menatap bingung, membuka bungkus permen dalam telapak tangannya itu ke depan mulut Minami.


"Kenapa cuma satu? Seharusnya kau memberiku dua sekaligus." Minami berusaha menata perasaannya, mengabaikan suaranya yang bercampur dengan bunyi pecahan permen dalam mulutnya. Entah kenapa ia sangat menyedihkan karena terharu oleh sebutir permen seharga 50¥.


"Maaf, aku pikir kau sudah tidak menyukainya. Kadang selera kita berubah saat menjadi dewasa."Yoshio menatap Minami, ia sungguh tidak tahu bagaimana bisa karena masalah sepele suasana mendadak mellow.


Suara deru mesin bus yang terdengar lebih keras dari biasanya bercampur dengan klakson kendaraan pribadi di sepanjang perjalanan mereka.


Baik Yoshio maupun Minami membisu, menikmati waktu dengan menjelajahi isi pikiran masing-masing.


Sepuluh menit kemudian, mereka turun, menyusuri jalan setapak yang di pagari puluhan pokok pohon Chery.


"Kau hanya pindah ke bangunan lain, itu sebenarnya tidak bisa dikatakan sedang menghindari seseorang. Tapi, apa kau sadar, Mina-san? Meski kau banyak berubah, aku tetap tahu kapan kau berbohong, berpura-pura atau sedang menyembunyikan sesuatu."Yoshio membuka suaranya setelah lama terdiam.


"Jangan berpikir terlalu jauh. Aku hanya takut dengan tindak kriminal yang sedang ramai di televisi. Maaf, sudah merepotkanmu."Minami mencoba untuk berbohong.


Pria itu serasa mengingatkannya pada hal yang terasa menyedihkan.


"Aku hanya penasaran, apa yang lebih menyeramkan daripada Kotomi. Selama ini kau selalu menghindariku dengan alasan tidak mau kena masalah. Tapi, lihat, akhir-akhir ini kau mengabaikan semua itu." Yoshio terlihat penasaran. Tapi, Minami tidak punya alasan tepat untuk menggambarkan situasinya sekarang. Ia hanya mampu menunduk, merasa bersalah karena memanfaatkan Yoshio untuk melindungi dirinya sendiri.


"Yoshio, bisakah kau tidak menanyakan alasan itu sekarang? Aku belum bisa menjawabnya."


"Apa kau menyukaiku?"


Pertanyaan spontanitas dari bibir pria dihadapannya itu, membuat kepala Minami mendongak terkejut,"Apa?"


"Itu alasan paling masuk akal. Katakan saja, aku tidak mungkin menolakmu sekarang,"kata Yoshio mendekati Minami. Ia mengerutkan alisnya, menunggu jawaban dari pertanyaan yang muncul di otaknya begitu saja.

__ADS_1


Minami tergagap bingung,"Aku tentu saja menyukaimu, tapi...,"


"Tapi, apa? Aku sudah terlalu lama menunggumu. Kau pikir untuk apa aku datang jika aku tidak menyukaimu?"potong Yoshio tak sabar. Dulu, Minami menolak untuk mengenalnya karena Kotomi. Sekarang apa lagi? Apa yang membuat teman masa kecilnya itu terlihat misterius?


Seharusnya Minami terkejut layaknya gadis saat mendengar peryataan suka dari pria incarannya. Namun, apa yang dirasakannya sungguh berbeda. Minami seperti sudah mengetahui hal itu sejak lama. Entah saat mereka masih kecil atau saat Yoshio menyapanya lagi setelah 10 tahun tidak bertemu. Yang jelas, hatinya tidak bergerak sedikitpun.


"Ya, seharusnya seperti itu. Seharusnya aku menyukaimu, tapi sayangnya aku tidak yakin akan perasaanku." Minami buru-buru melepas pandangannya dari Yoshio. Menghindar mungkin lebih baik daripada mengatakan hal yang menggantung.


Malam semakin dingin dan angin berhembus kencang dari arah lain. Itu bukanlah udara biasa. Di balik ranting kering pepohonan Cherry, sosok Yamashita dalam wujud seekor kucing muncul, menggores cakar tajamnya pada sisi pohon di depannya.


Ia mulai menyadari darimana perasaan bencinya bermuara dan malam itu terasa ada yang siap meledak, menyiram lukanya.


Ingatan di kehidupan sebelumnya, bisa dikatakan belum membuktikan apapun, tapi Yamashita yakin Minami banyak melukainya dulu.


Kini setelah mengucap janji untuk melindungi sang putri, ia tidak lagi yakin mampu melakukannya. Mana mungkin Yamashita mau dipermainkan oleh takdir konyol yang sengaja dibuat untuk menyatukan mereka berdua? Bahkan meski mati sekalipun, Yamashita tidak sudi memenuhi kewajibannya untuk melindungi reinkarnasi Kaguya-- mantan istrinya yang tidak setia.


Tepat di bawah pohon Chery dimana Yamashita bertengger, Minami tersenyum kecil, seperti mendengar sesuatu yang menyenangkan dari mulut Yoshio.


Apa yang mereka bicarakan? Batin Yamashita menaruh kepalanya di ujung ranting paling rendah.


"Aku pikir memang sudah saatnya kita menjalin hubungan lebih dari teman. Kau bisa mengunjungi rumahku tanpa harus memberi alasan apapun. Sudah lama ibuku ingin kau berkunjung."Yoshio ikut menarik bibirnya ke sudut. Membentuk senyuman lebar yang serasa mendamaikan hati Minami.


Mereka kemudian sama-sama menunduk, mencoba menetralisir keadaan yang berubah gugup.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Minami di buntuti Yoshio berjalan satu-satu untuk melewati gang kumuh terakhir.


Yamashita mengikuti mereka sambil memasang wajah marah. Untung ia masih ada dalam wujud kucing, jika tidak pasti akan ada sihir spontanitas  yang membuat suasana menjadi kacau.


Mungkin dengan aku terus berada di dekat Yoshio, pangeran kasar itu akan sadar dan secepatnya kembali ke masa lalu. Minami bergumam dalam hati. Tak lama ia menoleh, membiarkan Yoshio meraih tangannya.

__ADS_1


__ADS_2